
SEBUAH RAHASIA YANG KUTULIS DALAM SATU KALIMAT SINGKAT
aku ingin membunuhmu.
saat kita saling memasuki diri.
aku ingin di sana selamanya.
meski kau perlahan memudar,
kau harus mati dalam pelukanku.
2025
___________________
MELEPAS KEPERGIAN HUJAN
betapa kerasnya aku terhadap diri sendiri
sudah tahu tak lagi dicintai tapi masih
berpura-pura bahwa keadaan akan pulih
seperti dulu, saat kita saling berkirim
kata-kata manis menjelang tidur.
padahal nyatanya semua itu sudah tak ada
sudah jadi debu yang larut dalam hujan.
semakin aku mengatakan tidak mungkin
semakin sesuatu yang tak terlihat
tapi hangat memeluk jiwaku erat.
“kau harusnya pulang. lekaslah pulang.
sebentar lagi gelap. dan selamanya gelap.
pergilah ke sana, yang jauh. tempat di mana
sinar dengan layak mengecup harapanmu
yang mulai pupus itu. jangan menunggu lagi.
sebab hujan tak boleh turun lagi di sini.” bisiknya.
aku tak bisa berkata-kata.
hanya diam dan membiarkan
keikhlasan terus menepuk punggungku
ke dalam pelukannya.
ya, memang sudah tidak ada apa-apa lagi
waktunya tidur dan melanjutkan semua impian
dan kata-kata baik yang kemarin tertunda.
2025
___________________
NEGOISASI HARI SENIN
setidaknya kau harus menjadi kekasihku
sepanjang hari. karena perasaan ini sepenuhnya
masih tertinggal di kasur tidur beserta seluruh rindu
yang makin ganjil tiap kali aku makan sambil berpikir,
kenapa sulit sekali melepas pergi hal-hal atau
seseorang yang memang tak bisa kita miliki.
sepertinya dari minggu sampai senin aku selalu
ceroboh. terperangkap di mesin cetak bagai kertas lusuh
yang nekat menjadi pelampiasan hasrat pikiran para pekerja
padahal aku tahu akan berakhir di tempat sampah.
mau menyesal pun hanya akan tetap menjadi
barang buangan. diabaikan dan dilupakan.
atau kau bisa bilang perasaan ini mirip jas hujan
yang terjebak dalam bagasi karena aku seringkali
tidak peduli sementara cuaca di luar rintiknya saja
telah melolong sekuyup itu pada pukul delapan pagi.
menjadikan semua basah, semua gelisah. semua memandangi jendela.
tapi, ya, setidaknya kau harus menjadi kekasihku
sepanjang hari ini. agar aku punya alasan untuk
lebih cepat menyelesaikan pekerjaanku dan buru-buru
pulang menemuimu, mengecup keningmu sambil berkata,
terima kasih, kau telah menjadi hari senin terbaikku.
meski aku tahu betul, di sana cuma ada dinding hijau alpukat
yang kuberi nama puisi-puisi dengan darah yang mengalir
dari tubuh rinduku, dari tawar menawar kata-kata yang tak
bisa kuucapkan ketika dalam sepekan kenangan bergentayangan
seperti hantu risau yang bepergian pada akhir desember.
2025
___________________
SEBUAH RUANGAN
aku selalu menyediakan sebuah ruangan
untukmu kembali dari pengembaraan, setelah kau
menyadari tak ada rindu yang mampu menarikmu
pulang selain rindu yang kuselipkan di pusaran angin
dan dalam puisi-puisi yang menjelma ikan sailfish,
yang mahir berenang cepat ke arahmu.
meski aku tahu ini bodoh. tapi entah mengapa
aku mencintai kebodohan yang paling ahli
menghabiskan usiaku ini. sebab aku pun sebenarnya
tak pernah tahu kapan dia akan kembali.
meski aku tidak terlampau duka, namun tak pula
aku senantiasa baik-baik saja dalam penantian ini.
tapi, omong-omong, apakah kalian
pernah sebodoh ini
saat berjuang dalam sebuah
usaha mencintai?
2025
___________________
PERCAKAPAN SEPASANG DADA
apa kau merindukannya?
tentu saja. bagaimana mungkin
aku tidak merindukannya. dia rumah
bagi kenanganku.
apa dia juga merindukanmu?
aku tidak tahu. dan aku tidak akan pernah
menanyakan itu.
apa tidak masalah merindukan dengan cara seperti itu?
akan selalu begitu. jika dia tidak rindu kepadaku,
itu bukan masalah utamanya. sebab akulah yang
memutuskan. aku tidak bisa mencegah kepada siapa
dia akan rindu dan tubuh mana yang ingin dia peluk.
apa itu tidak menyakitimu?
kupikir itu akan sakit.
aku akan berpura-pura. berpura-pura tidak sakit.
berpura-pura tidak rindu. aku akan terlatih
untuk itu. kau tahu aku seorang penyintas.
lalu bagaimana jika aku nanti aku juga merindukanmu?
…………………………
dia hanya menatapmu. dia tidak pernah tahu.
kaulah orang yang merindukannya
setengah mati. setiap hari.
2025
___________________

M.Z. Billal. Lahir di Lirik, Indragiri Hulu, Riau. Seorang Guru Sekolah Dasar. Menulis cerpen, cerita anak, dan puisi. Bukubukunya yang telah terbit berupa novel remaja berjudul Fiasko (2018), kumpulan puisi berjudul Cara Kerja Perasaan (2022), dan kumpulan cerpen berjudul Sebuah Tempat di Tepi Lelap (2022). Karya-karyanya juga dimuat di berbagai media cetak dan digital seperti kompas.id, Jawa Pos, Suara Merdeka, Kedaulatan Rakyat, bacapetra.co, dll, serta sejumlah antologi nasional.
