Puisi

Puisi Yeni Kartikasari

kobar

; ummu jamil

kawanku ini muskil menguntitmu. cerita yang kaudengar bukanlah karangannya. kau sendiri yang membuat kisah itu, sejak suamimu mendustakan titah. “terputuslah dari rahmat tuhan,” kata lelaki pujaan hatimu itu kala dua genggam tahi unta ditimpukkan ke punggung kawanku. tapi kawanku yang bersahaja, lagi pemurah kalbunya, lembut lisan, dan sejuk dipandang, tersenyum sejenak, “tunggulah ash-shiddiq, kau akan melihat kuasa.” dan, aku benar menyaksikan segala tuaimu, wahai perempuan panjang lidah dan pembual. kini tubuhmu kian melorot dan kerut di antara dahimu meliuk-liuk. kau menjadi reyot di mataku, barangkali juga mata kawanku, atau mungkin di mata suamimu nanti, tatkala kau kembali ke rumah untuk mengajaknya bercinta.

ponorogo, agustus 2024


sabda

; ash-shiddiq

sungguh, ash-shiddiq, aku ini seorang penyair yang tak pantas kau lukai dengan sabda langitmu yang turun tanpa bentuk. sabda-sabda itu hanya kedustaan. sabda-sabda langitmu hanyalah kehinaan. maka, percayalah padaku, lenyapkan kawanmu, lalu ikutlah aku seperti orang-orang quraisy memegang kakiku. aku teramat benar adanya. ada tanpa kasak-kusuk ketiadaan yang kerap digaungkan kawanmu perihal tuhannya.

sungguh, ash-shiddiq, dibanding kawanmu, kata-kataku lebih segar layaknya air laut merah dan tak kering semacam ayat-ayat tuhannya yang berpasir. aku ini penyair wanita dengan segala kebenaran di atas kebenaran. maka, di mana kawamu itu? kini, untuk kesekian, ingin kuhujam mulutnya dengan batu-batu yang telah dikutuk latta dan uzza—penciptaku yang maha tinggi setinggi-tingginya, sebab ia telah meragukan syairku dan mengagungkan sabda langitnya.

sungguh, ash-shiddiq, aku ingin kau menyaksikan antara syairku dan sabda langit kalian, mana di antara keduanya yang mampu membuat orang-orang di tanah ini menundukkan kepala?  keluarlah! jangan kau sembunyikan diri dan melindungi ia. di mana penyair gersang itu? apa diam-diam ia telah tak mampu menandingi syairku?

ponorogo, agustus 2024


jalan lain

; kawanku

pulanglah

wanita itu

telah membawa

kerusakan

kau bisa lewat manapun

yang kau ingin

dari tenggara

barat daya

timur laut

atau mana saja

sebab kita telah belajar

rasi bintang

dan macam garis langit

dengar, kawanku

ini musim semi

edar pandangmu

ke berbagai penjuru,

lalu temukan biduk itu

di petang paling pekat

jika di sana kau temui

sesuatu serupa gayung dan gagang

atau layang-layang

yang terikat sehelai benang,

berjalanlah ke arah

bintang terterang

karena ia adalah petunjuk

biar kau sampai padaku

sebelum kita sama-sama menua

sebelum wanita itu

menghancurkan jalan kita

ponorogo, agustus 2024


suatu garis

; ash-shiddiq

telingaku pekak

tapi sunyi terasa

seperti punya bunyi

suara apa itu?

katakan dari sana

agar aku dapat

terus mengenali

apa itu sebuah deru,

dengung, gemuruh,

lengking, atau apa?

sebab, semuanya menyatu

hingga garis khayal

yang ku bayangkan

di langit

buyar

di sini

aku lemah

menyusun

garis-garis itu

tiada bentuk golok,

garpu, sendok,

atau peti mati

yang berhasil

aku bentuk

katakan segera

apa nama suara

yang memenuhi

pendengaranku?

sebab pelan-pelan

aku jadi kosong

suhu sudah menembus

tulangku dan aku

teramat ngilu

katakan dari sana

atau kalau kau tidak tahu

setidaknya

kaulah

yang harus

menemuiku

dan lupakan

wanita itu

ponorogo, agustus 2024


nur

; ash-shiddiq

aku adalah nur

pembawa kayu bakar1 itu tak akan bisa melihat kawanmu.

ponorogo, agustus 2024

1) pembawa sebutan al qur’an bagi ummu jamil binti harb bin umayyah.


Yeni Kartikasari, tinggal di Ponorogo.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *