
Hadiah itu momen orang suka cita, betul? Kado berkilau, amplop tebal, senyum penerima mengembang. Pokoknya, suasana penuh bahagia dan, tentu saja kejutan menyenangkan. Tapi coba bayangkan, di tengah euforia itu, ada orang yang tiba-tiba nyodorin buku. Bukan uang, bukan ponsel, bukan barang mewah yang bisa langsung dipakai. Tapi buku. Buku! Situ waras?
Di negeri ini, buku sebagai hadiah masih dianggap nyeleneh. Hadiah itu lambang cinta? Iya. Tapi cinta dalam pemahaman umum, ya berupa sesuatu yang langsung bisa dinikmati. Hadiah kok bacaan? Hati-hati, nanti dibilang sok pinter. Ngasih buku tuh mirip kayak ngajak diet pas lagi pesta all-you-can-eat. Mau niat baik, tetap saja tampak tidak pada tempatnya.
Lebih nyesek lagi kalau penerima hadiahnya anak-anak. Bocah udah ngarep dapet mainan keren dari om, tante, kakek, nenek. Eh, malah disodori buku. Bukan buku dongeng, bukan komik, tapi buku yang katanya membangun karakter. Seketika ekspresi bocah berubah. Awalnya senyum, lalu mendadak bingung, terus lirik kanan-kiri seakan bertanya, “Prank nih?”
Jangan salahkan mereka. Masyarakat kita terbiasa menyamakan hadiah dengan sesuatu yang instan: uang, makanan, atau barang yang bisa langsung dipakai. Buku? Itu investasi jangka panjang. Dalam budaya yang lebih doyan kepuasan instan, investasi jangka panjang itu terasa tidak seksi.
Padahal, kalau mau tengok sejarah, peradaban maju selalu ditopang kebiasaan baca. Buku fondasi kemajuan, dari zaman manuskrip kuno sampai era digital. Dari membaca, lahir ilmuwan hebat, filsuf cemerlang, pemikir yang namanya abadi hingga kini.
Tapi apa sekarang? Budaya baca kalah telak sama budaya scroll. Buku berdebu di rak, sementara gawai selalu update. Tempat diskusi dan literasi sepi, tapi promo belanja selalu ramai. Begitu pun saat memberi hadiah. Orang berburu barang mahal, makanan, ponsel, fashion. Buku? Nanti dulu.
Coba perhatikan, kapan terakhir kita melihat orang membungkus buku sebagai hadiah dan dengan bangga memberinya? Mungkin ada, tapi jarang. Jauh lebih sering kita lihat antrean di kasir mall untuk beli kado mewah dan itu bukan buku.
Ironis lagi, kita kasih hadiah buku, risikonya besar. Bisa dianggap sok pinter, dianggap menggurui, dan bisa-bisa malah bikin orang tersinggung. “Kamu ngasih aku buku ini maksudnya apa? Nyindir aku?” Padahal kalau dikasih duit, nggak ada yang tersinggung. Heran, kan?
Buku itu nasibnya mirip pemerintah: diagung-agungkan dalam teori, tapi diabaikan dalam praktik. Semua orang tahu membaca itu baik, sama seperti tahu negara harus adil dan sejahtera. Tapi begitu sampai eksekusi? Tidak dulu. Mirip janji kampanye, janji membaca sering tinggal janji. Dibeli, ditumpuk, dilupakan.
Pejabat pun sering curiga dengan buku. Nyatanya kadang ada buku-buku disita. Kenapa? Waduh, bahaya. Kebanyakan baca, rakyat kritis. Bisa-bisa nanti nanya, “Ini pejabat kerja nggak sih?” Makanya, mereka lebih suka ngasih janji. Hahaha
Cinta pun sama. Banyak yang bilang cinta itu soal memberi yang terbaik. Tapi coba kasih buku sebagai tanda cinta? Wah, risikonya besar. Bisa dibilang kurang romantis, dibilang kurang effort. Padahal, buku itu tidak layu kayak bunga, tidak basi kayak cokelat, dan tidak bikin kantong jebol kayak perhiasan.
Tapi tetap saja, ngasih buku ke pasangan, harus siap mental. Ada yang terharu, ada juga yang tersinggung. “Ini maksudnya aku kurang pintar?” Padahal kalau dikasih skincare, tidak ada yang tersinggung, dan tidak mengatakan, “Ini maksudnya aku nggak cantik?”
Tapi justru karena itulah, memberi buku adalah tindakan revolusioner. Ini bentuk perlawanan terhadap tren konsumtif yang makin menggila. Cara halus untuk mengatakan: “Saya peduli kamu, dan saya ingin kamu mendapat sesuatu yang lebih dari sekadar barang fana.”
Bayangkan kalau tiap keluarga, minimal satu orang, mulai tradisi ini. Misalnya, si paman yang biasanya kasih uang, kali ini ngasih buku. Bisa jadi, tahun pertama dijadikan ganjal meja. Tahun kedua, mungkin dipindah ke rak biar tidak berdebu. Tapi siapa tahu, tahun ketiga, ada tangan yang iseng membuka. Dari situ perjalanan baru dimulai.
Sama seperti amplop atau kado yang selalu ditunggu, bayangkan jika suatu saat ada anak kecil yang excited bukan karena uang atau mainan, tapi karena buku. Karena dia tahu, buku adalah tiket ke dunia yang lebih luas.
Tentu, tidak semua orang bisa langsung menerima. Kita hidup di tengah masyarakat yang masih menjunjung tinggi simbol material sebagai bentuk sayang. Tapi bukan berarti kita menyerah. Justru itu tantangan.
Memberi buku sebagai hadiah bukan sekadar memberi barang, tapi memberi kesempatan. Kesempatan untuk berpikir, untuk merenung, untuk melihat dunia dari perspektif yang lebih luas. Kalau kita benar ingin melihat perubahan, mungkin sudah waktunya kita mulai langkah kecil ini.
Jadi, kalau tahun ini kamu ingin memberikan sesuatu yang berarti, cobalah bungkus sebuah buku. Siapa tahu, tahun depan, giliran kamu yang menerima buku. Kalau terjadi, percayalah, itu hadiah terbaik yang bisa kamu dapatkan. [] Redaksi
