Dunia Buku

BBS

Bukan, Buku Best Seller, melainkan Biarpun Buruk, Sikat. Kita hidup di zaman ketika label “best seller” lebih sakti daripada isi bukunya. Begitu satu buku dilabeli “paling laris,” orang berbondong membeli, seakan takut kehilangan momen emas dalam sejarah dunia. Padahal, kalau ditelisik, banyak buku best seller yang tak lebih dari fast food, cepat saji, nikmat sesaat, tapi minim gizi.

Ambil contoh buku self-help yang bertebaran di rak toko. Isinya penuh motivasi ala trainer seminar: Jangan Menyerah, Jadilah Versi Terbaikmu, atau Kamu Bersyukur, Rezeki Datang. Seperti dengar nasihat ibu di rumah, tapi kali ini harus bayar seratus ribu untuk baca. Lebih konyol, setelah beli, baca 10 halaman pertama lalu merasa tercerahkan, lebih tepatnya cukup tergugah lalu mengunggahnya di Instagram.

Di sisi lain, buku-buku ini menyingkap betapa rakyat sebenarnya sudah tak percaya pada pemerintah. Kalau negara bisa menjamin kehidupan layak, orang tak akan butuh buku yang mengajarkan cara bertahan hidup di tengah keterpurukan. Tapi karena janji politik lebih sering berending seperti drama Korea yang menggantung, rakyat pun cari buku motivasi di minimarket.

Lalu, ada fenomena buku best seller yang isinya curhatan pejabat. Pernah lihat buku biografi politisi yang penuh kalimat seperti: Saya berjuang dari nol, atau Saya hanya ingin mengabdi negeri? Lucunya, buku-buku ini sering terbit menjelang pemilu. Seakan mereka ingin bilang, “Pilih saya, saya orang baik.” Ironisnya, yang menulis buku tidak benar-benar menulis. Itu kerjaan ghostwriter yang gajinya lebih kecil dari anggaran parkir rapat mereka.

Masyarakat, tentu saja, punya peran dalam meramaikan pasar buku ini. Kita suka yang mudah dikunyah. Novel romance best seller, sering datang dengan pola sama: gadis miskin bertemu cowok kaya, konflik dramatis, lalu bahagia. Entah kenapa, skenario ini terus diulang, seolah semua orang diam-diam berharap hidupnya seperti telenovela. Padahal, realitanya, cowok kaya lebih mungkin jatuh cinta pada sesama pewaris tahta, bukan gadis biasa yang tersandung bata.

Dan ada cinta bentuk lain, cinta terhadap tren. Banyak orang beli buku bukan karena ingin baca, tapi karena takut ketinggalan. Ada fenomena Fomo (Takut Ketinggalan), yang begitu buku viral, orang gegas beli, entah dibaca atau tidak. Kalau buku itu difilmkan, cukup nonton filmnya. Buku masih di rak, masih terbungkus.

Jadi, apakah buku best seller sungguh keren isinya? Tidak selalu. Best seller hari ini seringnya bukan hal mutu, tapi momentum. Seperti junk food, kemripik dan lezat, tapi tak kenyang. Layaknya soda, menggelegak dan geter, tapi sendawa. Bak balon gas, menggelembung dan melayang, tapi kosong. Tak ubahnya mi instan, kilat dan sedap, tapi sekejap. Bagai pop corn,  renyah dan gurih, tapi kopong. Namun jangan lantas kalian menangis, karena tetap ada, buku best seller karena isinya memang jos. [] Redaksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *