
Ada dua hal yang biasa dianggap sakral tanpa alasan jelas, gelar di belakang nama dan ISBN di sampul belakang. Ini zaman ketika angka lebih dihormati daripada makna. Mau bukti? Lihat saja ISBN. Nomor yang seharusnya hanya kode katalog, jadi stempel suci.
Buku ber-ISBN dianggap lebih mutu, lebih sah, lebih berhak dibaca. Sebaliknya, buku tanpa ISBN? Ah, pasti sampah. Padahal, ISBN tidak menilai isi. Ia hanya memberi nomor urut, seperti antrean beli nasi bungkus di warung padang.
Syarat untuk mendapat ISBN, tidak ada hubungannya dengan mutu isi, tapi lebih ke hal remeh seperti legalitas penerbit atau kelengkapan dokumen. Mau buku setebal ensiklopedia atau sekadar kumpulan curhat perihal mantan, selama syarat admin terpenuhi, ISBN siap cetak.
Pejabat kita, seperti biasa, sangat cinta angka. Kalau bisa dihitung, bisa dilaporkan, bisa dipamerkan, maka dianggap penting. Begitu juga ISBN. Berapa buku yang terbit dengan ISBN setiap tahun? Itu sekadar statistik. Tapi apakah buku-buku itu layak dibaca? Ah, itu soal lain. Yang penting ada angka.
Seorang pejabat budaya membuka acara literasi, “Tahun ini kita telah menerbitkan 10.000 buku ber-ISBN!” Semua tepuk tangan. Tapi tidak ada yang tanya, “Berapa buku yang benar-benar bagus?” Tidak penting. Yang penting ada data untuk laporan tahunan.
Kalau ada buku yang tajam mengkritik kebijakan? Bisa tetap mendapat ISBN. Tapi terkadang, buku seperti itu hilang dari peredaran. Apakah ISBN bisa menjadi semacam gerbang pengawasan?
Sebagian masyarakat kita juga lucu. Mereka menganggap ISBN sebagai simbol serius. Kalau ada buku bagus tanpa ISBN, mereka ragu. “Ini buku beneran atau fotokopian?” Padahal, buku itu bisa saja ditulis dengan riset bertahun-tahun, tapi karena tak punya nomor ajaib, dianggap kurang berharga. Sebaliknya, ada buku yang isinya hanya copas Wikipedia, tapi punya ISBN, ia dipajang di rak toko dengan bangga. Ditambah endors dari selebgram, lengkaplah sudah keagungan.
Dan ada pula orang yang membeli buku hanya untuk pamer. Mereka tak peduli isi, yang penting ada kode di belakang untuk dipindai. “Lihat dong, koleksi bukuku asli semua!” Seolah ISBN tanda kecerdasan. Padahal, buku itu masih segel plastik, belum pernah dibuka sejak dibeli.
Di dunia cinta pun tak mau kalah, ISBN bisa menjadi metafora menarik. Cinta yang murni, tanpa label resmi, sering dianggap abu. Sama seperti buku tanpa ISBN. “Kalian pacaran udah lama, tapi belum nikah, kok mirip buku nggak ada ISBN-nya?”
Padahal, sah atau tidaknya cinta bukan ditentukan oleh kertas. Sama seperti mutu buku bukan ditentukan nomor. Banyak pernikahan hampa, seperti buku ber-ISBN tapi isinya motif basi. Sebaliknya, ada cinta tak terikat admin tapi penuh makna, seperti buku underground yang mengguncang dunia.
Jadi, apakah ISBN penting? Tentu, sebagai alat data dan distribusi. Tapi apakah menjamin mutu? Tentu tidak sama sekali. Jika ingin tahu seperti apa sebuah buku tetap harus dibaca, apakah ia mampu menghapus dahaga atau justru membuat muntah.
Menyamakan ISBN dengan mutu adalah konyol. Sama seperti mengira orang bergelar panjang pasti lebih pintar, atau berpikir restoran mahal pasti lebih enak. Dunia ini tidak sesederhana itu, Ferguso. Jadi, jika lain kali ada orang yang bilang, “bukumu nggak ber-ISBN, pasti nggak serius,” sahutlah, “nggak serius, mbahmu kiper!” [] Redaksi
