Dunia Menulis

Bukan Mimbar Khotbah

Mari kita bahas sesuatu yang memalukan. Ya, memalukan. Memalukan seperti orang yang mengaku sastrawan tapi tak lebih dari tukang ceramah. Mereka menulis cerpen bukan untuk membiarkan pembaca berpikir, tetapi untuk menggiringnya seperti anak TK yang dicekoki dongeng moral. Cerita-cerita mereka bukan lagi seni, melainkan pamflet berkedok sastra, seonggok khotbah berbungkus fiksi.

Bayangkan ini: seorang pembaca yang cerdas membuka cerpen, mengharapkan pengalaman batin yang kaya, tapi yang ia temukan adalah ocehan pengarang yang menuntunnya ke satu titik mutlak, seakan-akan pembaca adalah idiot yang tak bisa menyimpulkan sendiri. Jangan begini, jadilah begitu. Yang baik itu seperti ini, yang buruk itu seperti itu. Begitu isinya. Ah, menjengkelkan! Sastra macam apa yang tak memberi ruang bagi pembaca untuk berpikir?

Sastra sejati tidak begitu. Ia hanya menunjukkan. Ia menyajikan manusia dengan segala lumur lumpurnya, lalu membiarkan pembaca menilai sendiri. Inilah yang membedakan karya hebat dengan propaganda moral. Coba tengok Crime and Punishment karya Dostoevsky. Ia tidak koar-koar Membunuh itu dosa, wahai saudara-saudara! Tidak. Yang ia lakukan menyorot kegelisahan Raskolnikov, membiarkan kita melihat bagaimana rasa bersalah menggerogoti seseorang tanpa perlu disuapi pesan murahan. Atau The Metamorphosis, Kafka, yang tidak repot-repot menceramahi soal perasaan terasing, tapi cukup mengubah seorang Gregor Samsa menjadi kecoa untuk membuat kita merasakan kengerian hidup sebagai makhluk yang dibuang dari peradaban.

Sementara di negeri ini? Banyak penulis cerpen justru berlagak nabi kecil. Seolah mereka punya mandat ilahi untuk mendidik moral umat manusia lewat tulisan. Cerpen mereka tak lebih dari doa bertele-tele dalam bentuk prosa. Kita baca satu paragraf, sudah bisa menebak bagaimana akhirnya: si protagonis akan bertobat, si antagonis akan menderita, dan kebajikan akan menang dengan cara yang picisan. Memuakkan.

Padahal, keindahan sastra justru ada pada kebebasan tafsir. Seorang pembaca yang sama bisa mengartikan satu cerita dengan cara yang berbeda di waktu yang berbeda. Ia bisa berempati pada tokoh jahat, bisa menemukan kebaikan dalam karakter yang rusak, bisa memahami kompleksitas dunia yang tidak hitam putih. Itulah kekuatan sastra. Tetapi cerpen-cerpen berkhotbah ini? Ah, tidak. Mereka menuliskan dunia seperti buku pelajaran agama SD. Serba jelas, serba pasti. Tidak ada ruang untuk kegelisahan, tidak ada ruang untuk berpikir.

Coba lihat cerita yang benar-benar menggugah. Bukan Pasar Malam, Pramoedya Ananta Toer, misalnya. Ia tidak menuliskan Hiduplah dengan berbakti kepada orang tua secara gamblang, tetapi ia membuat kita merasakan kehancuran batin seorang anak yang melihat ayahnya perlahan mati. Itulah yang membuat cerita mengendap di kepala pembaca. Atau Robohnya Surau Kami, A.A. Navis, yang justru menampar kesalehan kosong dengan ironi pedih, bukan dengan petuah murahan.

Sastra tidak bertugas mendidik. Sastra bertugas mengguncang, menggelisahkan, membuat kita menatap dunia tanpa filter dogma yang dipaksakan. Tentu, boleh saja berharap cerpen membawa pembaca ke pencerahan. Tetapi itu harus datang dari dalam, bukan dari paksaan narasi. Pembaca harus dibiarkan mengalami perjalanan emosional dan intelektualnya sendiri. Jika seseorang berubah setelah membaca sebuah cerpen, itu karena ia mengalami efek dari cerita tersebut, bukan karena si penulis menjejalkan kebenaran ke tenggorokannya.

Jadi, bagi para penulis yang masih sibuk menulis cerpen seperti mimbar ceramah, berhentilah! Dunia tidak butuh lebih banyak kotbah moral dalam bentuk fiksi. Biarkan sastra menjadi sastra, bukan selebaran rohani, bukan propaganda ideologi, bukan buku panduan hidup. Cukup sajikan kehidupan dalam segala kerumitannya, lalu biarkan pembaca memilih sendiri apa yang ingin ia petik. Itu jauh lebih elegan, lebih manusiawi, dan lebih berharga.

Dan jika masih ada yang ngeyel ingin terus berkhotbah lewat cerpen? Wah, sebaiknya saja langsung daftar jadi pendakwah atau motivator. Jangan mencemari sastra dengan petuah picisan yang memanjakan pembaca malas berpikir. [] Redaksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *