Dunia Menulis

Nanti

Belum juga nulis? Ada satu kebiasaan, hanya dimiliki mereka yang ngaku ingin jadi penulis: niat menulis, tapi tidak nulis. Ini bukan sekadar mengulur. Ini seni menunda dengan alasan berkesan intelektual. Menulis perlu suasana tepat, kata mereka. Harus ada musik sesuai mood, kopi tidak terlalu pahit, meja rapi, dan inspirasi yang sudah diendapkan di sudut pikiran. Kalau satu tidak ada, nanti.

Kebiasaan ini dimulai dengan ritual sakral: antusias membuka laptop. Klik file, jari siap di keyboard, lalu, berhenti. Mata menatap layar kosong, otak mendadak ikut kosong. Tidak mulai menulis sebelum pemanasan, katanya. Jadi, pemanasan dulu. Buka YouTube, cari musik lofi biar otak fokus. Satu, dua, tiga lagu terputar. Lalu ke video: Tips Ngarang dari Penulis Hebat. Ilmu dulu ah. Lima video ditonton, dokumen masih kosong, dan spontan ingin bersihkan meja. Bagaimana bisa nulis jika tempat tidak estetik?

Meja bersih, muncul masalah baru: suasana hati belum pas. Mau nulis adegan tragis, baru saja nonton komedi di TikTok. Mau nulis jenaka, mendadak ingat cicilan. Mood harus diatur dulu. Jadi, buka medsos, cari inspirasi. Lihat postingan teman merilis buku, lalu termenung, kapan giliranku? Satu jam berlalu. Perut lapar. Ya sudah, makan dulu. Menulis dengan perut kosong tidak sehat.

Selesai makan, otak berat. Perlu kopi. Bikin kopi tidak yang instan, terlalu biasa. Harus seduhan manual, dihitung takaran air dan biji terbaik. Karena penulis sejati tidak bisa nulis tanpa ritual seduh kopi yang khusyuk. Setengah jam berlalu, kopi siap, tapi ingin rebahan sebentar, lima menit. Lantas yang terjadi babak panjang yang selalu berulang, bangun dua jam kemudian dengan rasa bersalah. Nulis sekarang, tapi lihat jam, sudah sore. Nulis butuh tenang, lebih baik malam, karena malam waktu magis untuk kreativitas, katanya.

Malam tiba. Laptop dibuka, dokumen masih kosong. Kali ini dengan tekad kuat. Namun, masalah baru muncul, kalimat pertama harus bagus? Harus menarik, menggetarkan, bikin pembaca langsung jatuh cinta. Kalau tidak, lebih baik jangan mulai. Jadi, cari contoh. Keenakan baca tiga bab novel orang. Ah, jadi tanggung. Baca bagian dari nulis. Beberapa bab terbaca mata mulai berat. Menulis dalam keadaan ngantuk tidak baik. Ya sudah, tidur dulu. Pagi akan lebih segar. Besok pagi siklus berulang.

Menulis, tapi nanti. Selalu ada alasan. Inspirasi tidak kunjung datang. Kau tahu, menulis dengan suasana sempurna itu omong kosong.

Ini bukan hanya soal nulis. Ini refleksi dari banyak hal di negeri ini. Pejabat kita juga suka bilang nanti. Jalan rusak? Nanti perbaiki kalau viral. Korupsi terungkap? Nanti diselesaikan setelah ditekan. Reformasi hukum? Nanti kalau ada demo besar. Semua ditunda, kecuali satu hal: menambah pundi-pundi pribadi. Cepat, tepat, tanpa ragu.

Pemerintah pun sama. Program strategis dibahas bertahun-tahun, hasilnya nihil. Pembangunan molor, lupa janji kampanye, evaluasi jika sudah kacau. Rakyat diminta sabar, padahal perut tak bisa menunggu. Begitulah, menunda adalah tradisi yang diwariskan.

Masyarakat tidak ketinggalan. Protes kebijakan? Nanti, kalau sudah sengsara. Acuh lingkungan? Nanti, setelah banjir sekota. Baca buku? Nanti, masih sibuk berponsel. Selalu ada alasan untuk molor. Yang berjalan cepat hanya ghibah.

Dan cinta, ah, begitu juga. Banyak kisah tragis karena menunda. “Nanti aku bilang suka.” Lantas suatu hari, dia nikah. “Nanti aku minta maaf.” Hingga hubungan tak cuma retak, tapi hancur. “Nanti aku serius.” Hingga ketika sadar semua telah berantakan.

Menunda itu nikmat, sampai tiba waktunya kita sesal. Ironinya, saat sudah terlambat, kita berharap bisa memutar waktu. Menulis itu bukan soal punya waktu, tapi membuat waktu. Kalau menunggu kondisi ideal, tidak akan pernah mulai. Suasana hati tak harus sempurna, kopi tak harus mahal, dan meja tak harus indah. Yang harus dilakukan cuma satu: menulis. Kalimat pertama jelek? Tidak apa-apa. Tulis. Ada waktunya revisi. Yang penting, berhenti menunda. Karena menulis bukan tentang menunggu ilham turun dari langit, tapi tentang duduk dan menulis, meski awalnya berat, tapi paksalah dirimu. Semua akan sembuh. Semua akan baik-baik saja. [] Redaksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *