
Pagi ini aku bangun lebih cepat dari alarm yang kupasang. Bukan karena pekerjaan atau hal lain yang mengharuskan segera siap, melainkan aku bermimpi. Sesuatu yang cukup istimewa. Seperti tiba-tiba mendapat pesan WhatsApp dari teman lama yang niat bayar utang padahal aku sendiri sudah malas menagihnya.
Tidak begitu kuingat detail mimpi itu. Aku hanya melihat ada banyak pesawat kertas beterbangan. Di langit, di atas hamparan sawah, juga di lautan. Sesaat sebelum aku terbangun, aku ingat berhasil mengambil satu yang berwarna oranye karena jatuh di tanah. Saat kubuka, tampak gambar ikan mas dan sebuah kalimat: Menjadi kerdil, lalu terbanglah.
Ide menulis bisa dari mana saja. termasuk berawal dari mimpi. Misal tentang petualangan. Ada tokoh yang berharap bisa menembus ruang dan waktu melalui celah plafon. Berharap ia tidak lahir dari rahim seorang pelacur yang membuatnya bingung menentukan panggilan ayah ditujukan kepada siapa. Atau seekor bunglon yang menyelam menuju masa depan dan mendapati dirinya seorang pangeran tampan dengan banyak selir. Atau kambing jantan yang menjadi mata-mata profesional untuk mengungkap korupsi mega proyek dari pejabat hutan yang membuat desanya kehilangan sawah dan permukiman. Perkara jalan cerita, bisa absurd dan tanpa arah. Kadang justru menemui ending bahkan sebelum dimulai, seperti perubahan peraturan yang terus-terusan dilakukan hingga menghabiskan banyak anggaran rapat dan perjalanan, tapi hanya mampu berjalan sejauh pengesahan karena masa jabatan usai sebelum sempat dilaksanakan.
Mimpi sering meloncat-loncat tak keruan. Baru saja rebahan di kamar sembari membaca novel cinta, mendadak terdengar suara yang memungkinkan setting berpindah ke gedung sekolah dengan penampakan lima orang siswa belajar di bawah atap yang hampir ambruk. Kemudian berpindah lagi bersama beberapa orang berdasi di kursi pesawat pribadi dengan sampanye dan makanan mahal, sembari bicara omong kosong dan sesekali memandang kota Paris yang romantis melalui jendela.
Menulis pun begitu, boleh sebebas-bebasnya, sesuka hati. Melompat dari waktu dan tempat tertentu. Memakai alur maju, mundur atau kombinasi. Bahkan saking bebasnya bisa seperti lukisan abstrak. Ada garis, warna dan titik yang sengaja diputus, disambung atau ditumpuk. Semakin sulit dimengerti, biasanya karya akan semakin dianggap nyeni. Sesungguhnya menulis bukan hanya merujuk pada kata yang dirangkai menjadi cerita. Seperti mimpi yang bukan hanya sekadar bunga tidur. Menulis bisa menjadi sarana paling sederhana untuk menumpahkan emosi, pikiran, dan harapan.
Ketika karya sudah selesai ditulis, sebaiknya langsung moveon. Entah dikirim ke media, event lomba atau penerbit. Setelah itu tak perlu dipikir. Kembalilah sibuk menulis lagi. Dengan begitu, waktumu tidak akan banyak terbuang untuk menanti kabar yang belum pasti. Tahu-tahu: “Loh, dimuat” atau “Gila, ternyata menang lomba.”
Tulisan ibarat pesawat kertas di mimpi tadi. Tak peduli apakah pesawat kertas itu akan dibawa angin terbang sampai ke angkasa, nyungsep ke jalan-jalan raya penuh lubang dan kubangan, atau malah nangkring di dahan pohon kering atau atap gedung MPR/DPR. Karena nasib tulisan itu hanya akan ada dua: diterima atau ditolak. Apa pun hasilnya jangan terlalu didramatisir. Karena jika menulis memang untuk kepuasan diri sendiri, maka tak perlu risau jika penilaian orang lain belum sesuai harapan.
Setidaknya, keberadaanmu baik dalam mimpi atau tulisanmu sendiri akan selalu hidup. Di sanalah satu-satunya tempat yang menjadikanmu pemeran utama. Yang di kenyataan, mungkin kita masih menjadi pecundang. Belum berhasil menjadi sosok pemberani yang frontal melawan segala ketidakadilan. Kebebasan berekspresi yang katanya boleh disampaikan sebagai wujud aspirasi, teredam berbagai syarat dan aturan yang pada akhirnya dibatasi. Tidak ada ketakutan yang benar-benar dibiarkan lepas. Tidak ada tuntutan yang benar-benar mau didengar. Perjuangan pada ujungnya hanya seperti tulisan-tulisan di atas kertas yang disobek dan dilipat menjadi pesawat kertas, lalu diterbangkan dan jatuh terinjak oleh sepatu-sepatu mengilap para penguasa. Dan hal itu tidak apa-apa. Teruslah menulis. Katakanlah tulisan bisa basi, setidaknya ia bisa menjadi karya abadi. [] Redaksi









