Dunia Buku

Buku Tak Selamanya Dibaca

Ada berbagai macam cara untuk menikmati buku. Bagi orang dewasa, tentu cara menikmati buku ya dengan membaca. Tidak melulu harus paham isinya. Seperti halnya minum kopi, tidak wajib tahu jenis kopi dan bagaimana cara pengolahannya, siapa pun bisa menyesap kopi. Dengan atau tanpa gula. Disajikan panas atau dingin. Semua kembali pada kesukaan, kebiasaan dan tingkat pengetahuan si penikmat kopi atau buku itu sendiri.

Tapi pernahkah kamu melihat bagaimana dunia anak-anak bekerja? Murni, bebas dan tanpa aturan. Pada dasarnya mereka tidak suka dibatasi. Ada haus akan penasaran yang selalu ingin dituntaskan. Maka tak heran jika buku bagi anak-anak haruslah menarik secara penampilan. Fullcolour dan penuh dengan gambar.

Ada contoh seorang anak balita yang belum bisa membaca, ketika ada buku yang menurutnya menarik, maka dia akan meminta dibacakan oleh ibunya. Entah itu dongeng, atau cerita anak lainnya. Selama belum bosan, bisa jadi anak itu akan meminta ibunya untuk terus menerus membacakannya. Meski ada banyak buku lain yang juga bisa dibaca. Hal itu bukan karena si anak suka dengan ceritanya, tapi mungkin tertarik dengan cara ibunya membaca: suara, intonasi, dan ekspresi saat membacakan cerita. Itulah kenapa buku bisa menjadi jembatan untuk mendekatkan hubungan antara orangtua dengan anaknya. Anggaplah dunia dongeng berada di level 1 cara anak menikmati buku.

Berikutnya, masuk ke level 2. Anak itu bosenan. Biasanya, semakin besar, maka anak sudah tidak terlalu tertarik lagi dengan dongeng sebelum tidur. Rasa penasarannya sudah mulai ingin di-explore sendiri. Buku-buku cerita anak yang biasanya tertata dan tersimpan rapi, mendadak tersebar memenuhi lantai. Ada yang dicorat-coret, digambar, diwarnai, bahkan ada juga yang menggunting-gunting tokoh dan hewan yang ada di buku, lalu ditempel di tembok, kulkas, dan perabot-perabot lain yang ada di rumah. Di sinilah biasanya istilah Rumah Bak Kapal Pecah akhirnya muncul. Buku sudah bukan lagi dibaca atau dibacakan. Mereka ingin sesuatu yang lebih. Termasuk merobek-robek dan menciptakan ulang bentuk baru dari kertas. Misal: menjadi kapal, pesawat, atau yang lainnya.

Begitulah cara anak menikmati buku. Kesenangan mereka tidak hanya didapat dari sekadar membaca dan mendengar. Mereka belum mengenal istilah rapi, bersih, dan tertata. Dan memang seperti itulah dunia mereka. Justru para orangtua yang membuat anak menjadi tidak tertarik dengan buku. Kalimat: Jangan sampai kotor! Jangan dicorat-coret! Jangan sampai rusak! Dan berbagai jangan jangan lainnya yang sebenarnya menjadi mantra sihir yang membuat anak malas berdekatan dengan buku.

Karena itu, menikmati bacaan adalah hal yang sangat relatif. Tidak sepantasnya diatur, dihujat dan dibanding-bandingkan. Apakah membaca novel terjemahan jauh lebih terpelajar dari membaca novel lokal. Membaca komik lebih terkesan malas dibanding membaca biografi tokoh sejarah. Semua tidak ada yang lebih unggul dari yang lain. Karena setiap buku, memiliki pembaca dan cara menikmatinya sendiri-sendiri. [] Redaksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *