Buku, Resensi

Setelah Menutup Buku Iblis, Saya Jadi Curiga pada Manusia

Oleh Erna Surya

Judul Buku: Iblis

Penulis : Yuditeha

Penerbit: Langgam Pustaka

Cetakan I: Mei, 2022

Halaman: v + 96 hlm, 13×20 cm

ISBN: 978-623-5600-72-7

Saya tidak langsung menutup buku itu setelah selesai membaca halaman terakhirnya. Saya diam sebentar. Bukan karena ceritanya membuat saya takut. Justru sebaliknya. Setelah membaca Iblis karya Yuditeha, saya malah merasa perlu memeriksa sesuatu yang lebih dekat: manusia. Mungkin diri sendiri.

Sebab sepanjang membaca kumpulan cerpen yang diterbitkan Langgam Pustaka ini, saya seperti sedang diajak melihat iblis dari jarak yang berbeda. Bukan sebagai makhluk bertanduk yang muncul dari tempat gelap, melainkan sebagai sesuatu yang bisa tumbuh dari hal-hal yang sangat biasa: prasangka, keserakahan, nafsu, kekuasaan, fanatisme, dan keyakinan bahwa diri kita selalu berada di pihak yang benar.

Ada empat belas cerpen di dalam buku ini. Masing-masing memiliki persoalannya sendiri. Namun, saya merasakan satu benang merah yang terus mengganggu: manusia ternyata punya kemampuan luar biasa untuk melakukan sesuatu yang buruk sambil meyakini bahwa dirinya sedang melakukan kebaikan. Dan bukankah itu yang paling menakutkan?

Dalam “Babi”, misalnya, persoalan yang tampaknya sederhana berkembang menjadi sesuatu yang lebih besar. Ada kabar, kecurigaan, dan sekelompok manusia yang kemudian merasa tahu siapa yang patut dicurigai. Saya tidak akan menceritakan bagaimana ceritanya berakhir. Tetapi bagi saya, bagian yang paling mengusik bukanlah persoalan babinya, melainkan kerumunan. Saya selalu curiga kepada kerumunan yang terlalu cepat menemukan orang untuk disalahkan.

Kita hidup di zaman ketika satu pesan WhatsApp bisa lebih cepat dipercaya daripada klarifikasi. Sebuah potongan video dapat mengubah penilaian kita terhadap seseorang. Satu kalimat yang keluar dari mulut orang lain bisa membuat kita membenci seseorang yang bahkan belum pernah kita temui.

Yuditeha membawa kegelisahan semacam itu ke dalam cerita. Ia tidak perlu berteriak kepada pembaca bahwa prasangka itu berbahaya. Ia cukup memperlihatkan bagaimana prasangka bekerja. Perlahan. Dari satu orang ke orang lain. Dari bisik-bisik menjadi keyakinan. Dari keyakinan menjadi tindakan. Di situlah saya merasa cerpen-cerpen dalam Iblis dekat sekali dengan kehidupan sehari-hari. Bahkan terlalu dekat.

Cerpen Iblis sendiri menjadi salah satu cerita yang membuat saya kembali memikirkan judul buku ini. Tokoh yang tampak religius dan memiliki pengaruh justru memperlihatkan bahwa kesalehan yang terlihat dari luar belum tentu berbanding lurus dengan apa yang disimpan seseorang di dalam dirinya.

Saya menyukai keberanian Yuditeha memasuki wilayah seperti ini. Agama, moralitas, kekuasaan, tubuh, uang, dan hasrat bukan perkara sederhana. Tetapi Yuditeha tidak mengubahnya menjadi ceramah. Ia membiarkan tokoh-tokohnya bergerak, mengambil keputusan, berbuat salah, menyembunyikan sesuatu, lalu membiarkan pembaca membuat penilaiannya sendiri.

Bahasanya pun tidak berusaha menjadi rumit. Ini salah satu hal yang saya sukai dari buku ini. Yuditeha seperti tahu bahwa cerita yang kuat tidak selalu membutuhkan kalimat yang ingin terlihat pintar. Ia menggunakan bahasa yang relatif sederhana, tetapi membiarkan persoalan di dalam ceritanya menjadi rumit. Akibatnya, kita tidak sibuk mengagumi kalimat. Kita justru sibuk memikirkan manusia yang ada di dalamnya.

Dan manusia-manusia itu tidak selalu menyenangkan. Ada yang mudah percaya. Ada yang suka menghakimi. Ada yang menggunakan agama untuk kepentingan sendiri. Ada yang tergoda oleh kekuasaan. Ada yang menyimpan kejahatan di balik wajah yang dipercaya banyak orang. Tetapi yang membuat buku ini terasa lebih jujur bagi saya adalah: tidak ada jarak yang benar-benar aman antara mereka dan kita.

Saya bisa saja membaca cerita tentang seseorang yang suka menghakimi dan merasa, “Untung saya tidak seperti dia.” Padahal, mungkin saya pernah melakukan hal yang sama. Hanya bentuknya berbeda. Atau bahkan lebih buruk dari itu.

Saya pernah mempercayai sesuatu sebelum memeriksa kebenarannya. Pernah menilai seseorang hanya dari cerita orang lain. Pernah merasa paling tahu tentang kehidupan seseorang hanya karena melihat sedikit bagian dari hidupnya. Mungkin di situlah iblis bekerja paling baik. Ia tidak selalu membuat kita menjadi orang jahat. Kadang ia hanya membuat kita merasa lebih baik daripada orang lain.

Setelah membaca buku ini, saya jadi berpikir bahwa mungkin iblis tidak selalu membutuhkan manusia yang kejam. Ia hanya membutuhkan manusia yang merasa dirinya benar. Sebab ketika seseorang sudah yakin dirinya benar, ia bisa melakukan banyak hal tanpa merasa sedang melakukan kesalahan. Itulah yang membuat Iblis bagi saya bukan sekadar kumpulan cerita tentang keburukan manusia. Buku ini seperti cermin yang diletakkan diam-diam di hadapan pembacanya. Dan cermin tidak pernah memilih siapa yang akan terlihat buruk. Ia hanya memantulkan.

Saya menutup buku itu akhirnya. Tetapi ada sesuatu yang tidak ikut tertutup bersamanya, kecurigaan kecil kepada manusia. Termasuk kepada diri saya sendiri. Barangkali itulah keberhasilan sebuah buku: bukan ketika kita selesai membacanya, melainkan ketika beberapa halaman masih terus hidup di kepala setelah buku itu dikembalikan ke rak.

Dan Iblis membuat saya bertanya sekali lagi: Jangan-jangan, selama ini kita terlalu sibuk mencari iblis di luar sana, sementara diam-diam kita sedang memberinya tempat di dalam diri sendiri.

____________________

Erna Surya. Penulis dari Klaten, juga seorang guru.