Cerpen

Tanduk Rusa

Cerpen Erna Surya

Laksono membeli tanduk rusa itu pada suatu sore. Seorang lelaki datang ke rumahnya membawa sepasang tanduk yang dibungkus kain hitam. Usianya sekitar lima puluh tahun. Kulitnya gelap. Tangannya kasar.

“Dari Kalimantan,” katanya.

Laksono membuka kain itu. Tanduknya besar. Bercabang banyak. Pangkalnya masih menyisakan warna merah kecokelatan.

“Jantan?”

Lelaki itu mengangguk.

“Ditembak?”

“Iya.”

Laksono menyentuh salah satu cabangnya. Dingin. Ia membayar tanpa menawar. Puluhan juta. Lelaki itu memasukkan uang ke dalam tas, kemudian pergi.

Laksono berdiri di depan pintu sampai mobil lelaki itu menghilang. Ia lalu membawa tanduk itu ke ruang tamu. Dinding rumahnya berwarna putih. Lantainya marmer. Sofa besar memenuhi hampir separuh ruangan. Di atas meja terdapat botol anggur yang belum dibuka.

Tanduk itu dipasang tepat di tengah dinding. Laksono mundur beberapa langkah. Bagus. Ia tersenyum. Rumah itu akhirnya memiliki sesuatu yang pantas dilihat. Selama ini rumah itu hanya berisi barang-barang mahal. Jam mahal. Lukisan mahal. Mobil mahal. Tetapi tidak ada yang membuatnya merasa apa-apa.

Tanduk itu berbeda. Ia tidak tahu mengapa.

Malam pertama, Laksono duduk lama di depannya. Ia meminum anggur sambil memandangi tanduk itu.

“Bagus sekali.” Ia mengatakannya kepada dirinya sendiri.

***

Laksono berusia lima puluh tahun. Ia seorang bankir. Uangnya banyak. Rumahnya besar. Tetapi ia tinggal sendirian. Ia tidak pernah menikah. Ketika teman-temannya membicarakan istri dan anak, Laksono selalu tertawa.

“Istri itu beban.”

Teman-temannya ikut tertawa. Laksono memang pandai membuat orang tertawa. Ia tidak pernah mengatakan bahwa setiap malam ia makan sendirian. Tidak pernah mengatakan bahwa ia sering berbicara kepada televisi. Tidak pernah mengatakan bahwa ketika sakit, ia harus membawa tubuhnya sendiri ke rumah sakit. Ia hanya mengatakan bahwa hidupnya baik-baik saja.

Sejak tanduk itu dipasang, ia merasa lebih baik. Pagi hari ia bangun dengan tubuh yang ringan. Pekerjaannya lancar. Seorang nasabah besar mempercayakan uangnya. Proyek investasi yang selama ini sulit akhirnya berhasil. Laksono menganggap semua itu bukan kebetulan.

Ia semakin sering berdiri di depan tanduk.

“Benar, kan?” Ia tersenyum. Tanduk itu diam.

***

Mimpi pertama datang seminggu kemudian. Laksono berdiri di ruang tamu. Tanduk itu berada di depannya. Kemudian sesuatu jatuh dari langit-langit. Tubuh seekor rusa. Lehernya berdarah. Matanya masih terbuka. Laksono mundur. Rusa itu menatapnya. Tidak bergerak. Lalu terdengar suara tembakan.

Laksono terbangun. Keringat membasahi tubuhnya. Jam menunjukkan pukul dua lewat tiga belas menit. Ia menyalakan lampu. Ruang tamu kosong. Tanduk itu masih tergantung di dinding.

Laksono tertawa kecil. “Cuma mimpi.”

Ia mengambil air putih. Tangannya gemetar.

***

Mimpi itu datang lagi. Kali ini rusa itu tidak sendirian. Ada banyak rusa. Mereka berdiri di dalam hutan. Semuanya memandang Laksono. Tidak ada suara. Kemudian satu per satu rusa itu kehilangan tanduk. Mereka jatuh.

Laksono terbangun sambil berteriak. Sejak saat itu ia mulai takut tidur. Ia membeli obat tidur. Ia memasang semua lampu rumah. Ia bahkan meminta satpam berjaga sampai pagi. Tetapi setiap kali matanya terpejam, hutan itu kembali. Dan selalu ada rusa.

***

Suatu malam Laksono berdiri di depan tanduk.

“Apa yang kau mau?”

Ia tidak tahu kepada siapa ia bertanya. Tanduk itu diam. Laksono mendekat. Untuk pertama kalinya ia melihat sesuatu yang tidak pernah diperhatikannya. Ada lubang kecil di pangkal tanduk. Seperti bekas peluru.

Ia menyentuhnya. Tiba-tiba tercium bau tanah. Bau daun basah. Bau darah. Laksono menarik tangannya. Ia mundur. Kemudian ia melihat sesuatu di lantai.

Darah. Hanya setetes.

Laksono menatapnya lama. Ia mengambil tisu. Ketika tisu menyentuh lantai, noda itu sudah tidak ada.

***

Laksono mulai berubah. Ia tidak lagi sering datang ke kantor. Telepon dibiarkan berdering. Rapat dibatalkan. Makanan di rumah sering tidak disentuh. Ia semakin kurus.

Suatu siang, seorang kolega datang menjenguk. “Kamu sakit?”

“Tidak.”

“Sudah berapa hari tidak masuk kantor?”

Laksono tidak menjawab. Kolega itu melihat tanduk di dinding. “Barang baru?”

Laksono mengangguk.

“Bagus.”

“Jangan terlalu dekat.”

Kolega itu tertawa. “Kenapa?”

Laksono menatapnya. “Dia tidak suka.”

Kolega itu berhenti tertawa. “Siapa?”

Laksono menunjuk tanduk. Setelah koleganya pulang, Laksono mengunci semua pintu. Ia berdiri di depan tanduk sampai malam.

***

Beberapa hari kemudian ia memanggil tukang untuk menurunkannya. Dua orang datang. Mereka baru memegang tangga ketika salah satunya muntah. Yang lain tiba-tiba memegangi kepala.

“Pak, saya tidak enak badan.”

Mereka pergi. Laksono tidak mencoba lagi. Ia mulai percaya bahwa tanduk itu memang memilihnya. Atau mungkin ia hanya ingin mempercayainya. Sebab sejak tanduk itu datang, hidupnya terasa memiliki sesuatu. Sesuatu yang menunggunya. Sesuatu yang tidak akan pergi.

***

Malam hujan. Laksono duduk sendirian di ruang tamu. Di tangannya ada segelas anggur. Lampu hanya dinyalakan satu. Tanduk itu tampak lebih besar dalam gelap. Laksono menatapnya.

“Aku sudah memberimu tempat.”

Tidak ada jawaban.

“Aku sudah membayar mahal.”

Diam.

“Apa lagi?”

Petir menyambar. Bayangan tanduk memenuhi dinding. Laksono tiba-tiba melihat bentuk seekor rusa. Ia berkedip. Bayangan itu kembali menjadi tanduk.

Ia tertawa. Kemudian menangis.

“Jangan tinggalkan aku!”

Kalimat itu keluar begitu saja. Ia sendiri terkejut mendengarnya. Untuk pertama kalinya, Laksono sadar bahwa selama ini bukan tanduk itu yang ia takuti. Ia takut ditinggalkan. Ia takut rumahnya kembali kosong. Ia takut bangun suatu pagi dan tidak ada siapa-siapa. Ia takut mati sendirian.

Ia meneguk anggurnya. Kemudian memejamkan mata.

***

Pagi harinya, satpam menemukan pintu rumah tidak terkunci. Ia masuk.

“Pak Laksono?”

Tidak ada jawaban. Ruang tamu berantakan. Gelas pecah di lantai. Kursi terbalik. Tetapi Laksono tidak ada. Tanduk rusa masih tergantung di dinding.

Satpam memanggil polisi. Mereka mencari ke seluruh rumah. Tidak ditemukan apa-apa. Tidak ada mayat. Tidak ada darah.Tidak ada tanda orang masuk dari luar. Hanya ada satu benda yang aneh. Di lantai, tepat di bawah tanduk, terdapat jejak kaki. Bukan jejak sepatu. Jejak kaki rusa.

Polisi menganggapnya lelucon. Satpam mengatakan mungkin ada binatang masuk. Tetapi pintu dan jendela semuanya terkunci.  Sampai hari ini tidak ada yang tahu ke mana Laksono pergi.

Rumah itu kemudian dijual. Tanduk rusa tetap berada di sana. Pemilik baru mencoba menurunkannya. Tidak berhasil. Ia akhirnya membiarkannya.

Beberapa bulan kemudian, rumah itu kembali kosong. Tetapi orang-orang yang melewati rumah tersebut pada malam hari kadang mendengar suara langkah dari dalam.

Pelan. Empat kaki. Berjalan mengitari ruang tamu. Kemudian berhenti tepat di bawah tanduk. Tidak ada yang berani memeriksa. Mereka hanya melihat dari luar. Dan kadang-kadang, ketika hujan turun sangat deras, mereka melihat bayangan seekor rusa berdiri di balik jendela. Padahal rumah itu sudah kosong.

Dan tanduk di dinding masih ada. Tetap bercabang. Tetap diam. Seperti sedang menunggu seseorang pulang.***

____________________

Erna Surya. Penulis dari Klaten, juga seorang guru.