Belakang

1862

Pelbagai pihak mengadakan peringatan 2 abad Perang Jawa (1825-1830). Seminar-seminar nasional atau internasional diselenggarakan yang mengundang para ahli. Maksudnya, para sejarawan dan tokoh-tokoh yang bisa omong Perang Jawa: mulai dari sastra sampai seni rupa. Apakah ada yang membahas masalah kamus berkaitan Perang Jawa?

Yakinlah perang bersejarah pasti memiliki daftar kata terpenting dalam mengobarkan hasrat menang dan menjaga kehormatan dalam kalah. Yang bertempur adalah pasukan-pasukan (Jawa) berhadapan dengan manusia-manusia Eropa bersenjata modern. Padahal ada pula Jawa berhadapan Jawa. Perhatian besar mendingan diberikan untuk senjata, busana, makanan, dan taktik. Apakah dalam Perang Jawa juga terjadi perang bahasa? Kita merasa itu mustahil bila terjadi perang bahasa Jawa melawan bahasa Belanda. Namun, pada tahun-tahun membara ada bahasa-bahasa yang lain.

Puluhan tahun berlalu dari Perang Jawa, tibalah buku tebal yang berjudul Grieksch Woordenboek. Kita percaya tidak ada hubungan antara Perang Jawa dan kamus-kamus. Adanya kamus bahasa Yunani semakin membuktikan tidak usah berpikiran kamus untuk mengenang sejarah, terutama Perang Jawa. Kamus itu ada di Nusantara tanpa ada urusan dengan Perang Jawa.

Namun, ada peristiwa besar di Banten. Di sana, ada pemberontakan petani. Dulu, Sartono Kartodirdjo meneliti dan menulis apik disertasi sejarah. Kita kepikiran lagi: peristiwa berlatar abad XIX itu memilki hubungan dengan kamus-kamus? Sekali lagi, kita terlalu memaksa adanya dan makna kamus-kamus dalam peristiwa besar masa lalu. Pemberontakan oleh petani mustahil menggunakan bahasa Yunani, yang mungkin datang di Nusantara oleh orang-orang Belanda atau para ilmuwan Eropa. Kaum petani belum butuh kamus dalam perbaikan nasib dan melawan pihak-pihak yang menghisap, menghina, dan menindas.

Di pergantian abad, kita mengetahui Politik Etis. Apakah kebijakan itu memiliki dampak bagi orang-orang yang membaca kamus-kamus. Kita tetap memaksa kamus-kamus berada dalam arus sejarah. Yang kita desakkan adalah kamus-kamus yang akhirnya mendatangkan banyak kata untuk digunakan orang-orang di tanah jajahan.

Sudahlah, usaha mencari kaitan-kaitan peristiwa bersejarah dan kamus hanya akan memberi kecewa dan sia-sia!

Pada  suatu siang, mata melihat tampilan foto buku-buku dari pelbagai pedagang di media sosial. Mata berhenti untuk foto yang tidak jelas, Buku bersampul tebal dan keras. Maka, mata beralih ke foto halaman awal. Yang meminta perhatian adalah pencantuman “woordenboek”. Pastilah itu kamus!

Di bagian keterangan harga, terlihat: 300 ribu. Pedagang tidak sedang guyonan. Ia serius menantang orang-orang agar berani menjadi pembeli. Tiga lembar merah untuk kamus yang sampul depannya hanya hitam. Mengapa kamus dihargai mahal?

Mata menghadapi kata-kata asing. Di bagian bawah, ada tahun terbit: 1862. Kamus yang sangat sulit dibaca dan memberi mimpi romantis boleh berharga mahal. Pemicunya adalah tahun terbit. Pedagang yang tidak bodoh. Pedagang yang menjual tahun. Kamus akhirnya dibeli tanpa berpikir 3 hari 3 malam. Harga yang disepakati: 275 ribu. Keputusan yang fatal untuk membeli “tahun” saat situasi hidup di Indonesia sulit banget.

Kamus berada di rumah. Tebal! Kamus yang tidak bisa dibaca. Kita cuma memandang dan menyentuh. Mata yang kembali ke abad XIX. Mata mencari masa lalu yang belum semua diceritakan. Tangan menyentuh sejarah. Tangan menemukan kertas yang belum dikalahkan waktu.

Yang menyebalkan dalam pikiran adalah pertanyaan: “Apakah kamus pernah dibaca oleh Sosrokartono, Willem Iskander, A Rivai, Soetomo, Soewardi Soerjaningrat, Tan Malaka, Semaoen, Hatta, dan lain-lain? Jangan pernah berharap ada yang menjawab. Kita bertanya gara-gara mengetahui para tokoh itu berani ketagihan bacaan. Bagaimana mereka mementingkan kamus-kamus dalam membaca buku-buku yang serius, yang datang dari Eropa?

Grieksch Woordenboek masih ada! Kamus masih hidup! Pada 2025, kabarkanlah ke jutaan orang bahwa kamus itu tetap membawa sejarah dan ingatan-ingatan yang berceceran.

Kamus pernah dipegang banyak orang. Kamus pastinya berpindah-pindah tempat (kota). Tanda yang masih terbaca adalah tempelan kertas di sampul belakang: Bandung-Cimahi. “Kita berkhayal saja bahwa kamus itu selamat dari peluru, letusan gunung berapi, banjir, gempa, kebakaran, dan lain-lain.

Kamus yang masih bersama matahari yang sama. Kamus berada di Indonesia dalam waktu yang lama, mendapat berkat dari bulan dan bintang. Angin semilir membuatnya betah untuk tidak berpindah ke negara-negara asing. Tanah yang subur tidak membuatnya menjadi rabuk tanaman. Kamus tetap selamat dari seribu kemungkinan kehancuran.

Hitunglah berapa tangan yang pernah memegangnya! Yang tersulit adalah menentukan nama-nama yang menjadi pemiliknya, dari masa ke masa. Di halaman awal, kita melihat stempel. Dulu, kamus dimiliki seorang Tionghoa (totok atau peranakan). Apakah kamus tergunakan oleh pelajar di STOVIA, pedagang di kota, tokoh pergerakan politik, atau pendakwah di gereja? Jawaban-jawabannya tidak pasti. Kita saja belum menemukan nama-nama yang pernah memilikinya.

Kini, pemilik kamus itu tidak bisa membacanya. Pemilik hanya membenarkan “pembuangan” uang demi mengetahui kertas-kertas terjilid yang menolak sirna. Ia kagum dengan mesin cetak yang membuatnya kuat. Mesin cetak mewujudkan pertemuan dan saling pengaruh bahasa-bahasa di Nusantara. Yakinlah bahwa Tuhan pun berperan menjadikan kamus itu selamat sampai sekarang.

Pertanyaan masih berdatangan. Apakah kamus  pernah dibaca dan dipelajari WJS Poerwadarminta yang rajin membuat kamus-kamus? Kebiasaan para pembuat kamus adalah membaca dan mempelajari kamus-kamus terdahulu dari beragam bahasa. Anggaplah kamus itu digunakan Poerwadarminta saat menggarap Kamus Umum Bahasa Indonesia (1952). Jadi, ada pengaruh kata-kata dari bahasa Yunani yang masuk dan beredar dalam bahasa Indonesia? Yang dapat menjawab serius campur kelakar adalah Remy Sylado. Padahal, ia sudah tidak bersama kita.

Kebenaran yang kita pegang adalah Grieksch Woordenboek terbitan 1862 masih bernyawa. Kamus yang selamat dari perang dan bencana. Kamus yang tetap mau bertemu matahari pada abad XXI.

___________________

Kabut. Penjual buku bekas dan pengrajin kliping.

Belakang

1922: DUNIA DAN BAHASA

Sejak masa kolonial, anak-anak perlahan mendapat cerita yang berdatangan dari pelbagai negeri. Mereka ada berkat kedahsyatan mesin cetak, yang menghasilkan buku-buku cerita. Yang paling menyenangkan bila mereka menikmati cerita-cerita asing, yang biasanya disebut sebagai cerita terkenal di dunia atau tarafnya internasional. Maka, terjadilah penerjemahan dan penyaduran beragam cerita dari Eropa dan Amerika Serikat.

Pihak penerbit dan percetakan sudah berhitung untung-rugi bila berani menyediakan buku-buku cerita yang bersumber dari sastra dunia. Yang bikin gemas, kita kesulitan menemukan buku-buku terjemahan atau saduran dari masa kolonial. Beberapa buku ada di pasar tapi harganya mahal, yang dipengaruhi nafsu para kolektor. Apakah kita bakal mendapat jatah untuk bertemu dan memiliki buku-buku lawas, yang mengungkap bacaan anak dan remaja berlatar masa kolonial?

Sulit mencari buku-buku berusia seratusan tahun. Kita pun hanya mendapat sedikit keterangan tentang penerbit, nama penerjemah atau penyadur, distribusi, dan lain-lain. Artinya, sejarah sastra masa kolonial menyisakan banyak misteri. Kapan tampil para peneliti dan kesaksian para kolektor agar kita tetap memiliki buku dan masa lalu?

Yang berhasil ditemukan dalam kondisi rusak adalah novel berjudul 2000 Mil Di Dalem Laoet gubahan Jules Verne. Sampulnya masih ada tapi gambar tidak jelas. Jilidan jelek meski tidak ada halaman yang hilang. Penampilan dari depan sebenarnya memikat. Gambar di sampul sudah beragam warna. Mata kita belum beruntung untuk melihatnya dengan kekaguman. Bayangkan sampul itu terlihat oleh para pembaca masa lalu. Mata mereka mungkin tidak berkedip selama tiga menit. Siapa yang membuat gambar di sampul? Pastinya orang asing.

Keterangan yang terperoleh di halaman-halaman awal: “Tertjaritakan di dalem bahasa Melajoe renda oleh WNJG Claasz. Nama yang sangat tidak mungkin disandang bumiputra. Kita pastikan lagi nama itu milik orang asal Eropa atau kelahiran di tanah jajahan dengan sebutan “Indo”.

Buku yang apik itu dicetak di GCT Van Dorp & Co (Semarang-Soerabaia-Bandoeng). Perhatikan tahun kemunculan buku Jules Verne di tanah jajahan! Tercantum tahun 1922. Jadi, kita jangan selalu mengingat masa 1920-an melulu novel-novel terbitan dan selera Balai Poestaka. Ada kubu pembaca yang lain, terlena oleh cerita yang digubah Jules Verne tapi terberikan kepada para pembaca di tanah kolonial melalui bahasa Melayu. Kita menduga itu percampuran penerjemahan dan penceritaan ulang. Apa mungkin sah disebut saduran saja?

Keberuntungan memegang kertas lawas dan mengetahui bau yang aneh ternyata menyisakan “kecewa”. Yang ada di tangan adalah bagian kedua. Di mana bagian pertama? Kita yang membaca wajib membayangkan cerita di bagian awal. Tangan membuka halaman-halaman sambil bersyukur bahwa air tidak menghancurkan buku. Yang tampak adalah kertas-kerta yang pernah terkena air. Kita malah berimajinasi jenis dan rupa air yang pernah mengenai kertas-kertas dari seratusan tahun yang lalu. Kertas itu bertahan. Air hanya menyentuhnya tanpa punya maksud menghancurkan menjadi bubur.

Berapa tangan yang pernah bersentuhan atau memegang buku yang dibuat Jules Verne? Apakah yang membacanya hanya bumiputra yang terdidik bisa berbahasa Melayu? Bagaimana bahasa Melayu dalam kerja penerjemahan atau penceritaan ulang untuk sastra yang datang berbahasa Belanda, Inggris, atau Prancis? Pertanyaan terus bertambah tapi jawaban belum tentu ada.

Kita mengutip beberapa contoh bahasa Melayu yang aneh: “Saknalika itoe kita mengomong sama Ned-Land dan Koenraad. Sabentaran Ned-Land menoedjoek dengen tangannja sarta bertanjak…” Yang sehari-hari berbahasa Jawa mengetahui “saknalika”. Apa kita semestinya menuliskan itu “seketika” agar bisa dimengerti para pembaca tak paham bahasa Jawa. Ingat, buku terbit dalam bahasa Melayu rendah.

Yang bingung menghadapi kalimat: “Na, soedahlah Toean mendinger kita poenja kahendakan, si Koen tiada bolih teranggep orang sebab tiada mempoenja timbangan akan dianja, mangka sekarang kita minta toean goeroe ampoenja timbanhan hal kahendakankoe akan tjari djalaran bisanja minggat dari Nautilus.” Kita menduga “djalaran” itu “sebab”. Yang berani membaca buku sudah berusia seratus tahan adalah orang yang tabah dan boleh menyediakan Bodrex saat tiba-tiba pusing atau marah-marah menghadapi bahasa dari masa 1920-an.

Bagi yang kelelahan membaca cerita dan linglung dalam bahasa Melayu rendah, nikmatilah ilustrasi-ilustrasi yang ada dalam buku. Ada belasan ilustrasi yang cakep. Siapa yang membuat? Nama ilustrator tidak tercantum di buku.

Gambar yang banyak mengartikan biaya cetak tidak murah. Yang ada di kertas bukan hanya huruf-huruf. Ilustrasi itu menjadikan buku tampak mewah. Artinya harga buku pasti mahal. Yang sanggup membeli buku tahu faedah cerita dan kebanggaan terhubung imajinasi global yang dirayakan banyak orang di pelbagai negeri.

Cerita yang dibaca mengantar pembaca menuju dunia yang lain. Ia menyadari sedang berada di tanah jajahan tapi cerita yang membuatnya bergerak sangat jauh. Imajinasi memberi sedikit pembebasan sekaligus ketagihan.

Pada masa berbeda, orang-orang membaca cerita-cerita gubahan Jules Verne melalui terjemahan Mahbub Djunaidi dan Nh Dini. Mengapa dua pengarang terkenal itu mau menerjemahkan buku-buku Jules Verne? Konon, Mahbub Djunaidi memiliki pamrih mendapatkan nafkah dari bekerja sebagai penerjemah. Kita belum mengetahui alasan pasti Nh Dini menerjemahkan Jules Verne. Dugaan saja ia membuktikan kemampuan sebagai penerjemah meski orang-orang mengetahui ia terpuji dalam penerjemahan Sampar gubahan Albert Camus dan cerita-cerita anak berbahasa Prancis.

Bahasa yang digunakan dua pengarang itu sudah bernama bahasa Indonesia. Mereka diyakini mahir dalam penerjemahan meski tetap memerlukan membuka kamus-kamus. Pada saat hasil terjemahan terbit, para pembaca dapat membuat kenikmatan tandingan atau pelengkap dengan menonton film-film yang dibuat dari novel-novel gubahan Jules Verne. Pengalaman baca yang sangat berbeda dari masa 1920-an.

Kita kembali melihat buku lawas yang pantas menjadi sumber obrolan mengenai sastra terjemahan awal abad XX. Bahasa masa lalu tetap memberi pesona selain kita berpikiran mutu terjemahan dan situasi perkembangan sastra “modern” di tanah jajahan. Kutipan yang penting dipikirkan sebelum tidur mendapat mimpi buruk: “Srenta ampir djam poekoel 10 semangkin geter kita poenja ati dan sabentar sabentar kita ingetan hendak tjari pada kapitein Nemo akan membilangken kahendakankoe tetapi sjoekoer tiada kedjadian, mangka sasoedahnja bertjakep kita boeka dingen pelan itoe pintoe jang teroesan ka kamar boekoe akan troos kaloewar di kamar soewaranja argone dan kapitien Nemo berada di sitoe tetapi dia tiada meliat pada kita mangka kita berdjalan plahan djangan sampe dia meliat.”

Pembaca yang sabar dapat mengerti deretan kata dari penerjemah atau penyadur. Sabar yang tidak menghasilkan pengertian utuh, tetap saja ada kata-kata yang bikin tertawa dan menimbulkan capek. Berapa jam diperlukan untuk khatam buku berisi 186 halaman? Yang mau membaca boleh mengaku sedang membuat peristiwa yang sia-sia. Pembaca yang kembali ke masa lalu tapi sebentar gara-gara tidak betah dan lelah.

____________________

Kabut. Penjual buku bekas dan pengrajin kliping.

Belakang

DIBUJUK BAHAGIA

Dulu, seorang remaja ketagihan membaca buku-buku gubahan Kahlis Gibran. Ia membaca berulang kali buku yang edisi terjemahan bahasa Indonesia: Cinta, Keindahan, Kesunyian yang diterbitkan Bentang. Pada mulanya, ia bosan dengan hidup. Halaman-halaman di buku itu perlahan membuatnya betah hidup. Yang diyakininya: “Hidup itu kalimat-kalimat yang puitis.” Saat lemah dan puyeng, ia lekas membaca lagi kutipan-kutipan puitis dari Kahlil Gibran. Pada hari yang berbeda, ia lelah dengan yang puitis-puitis. Maka, berpisahlah dirinya dengan buku-buku Kahlil Gibran.

Hidupnya masih amburadul. Ia mengalami gagal, kalah, dan sesat. Di tangannya, ada buku yang dipersembahkan Albert Camus. Remaja itu lekas khatam novel berjudul Sampar. Akhirnya, ia percaya bahwa hidup itu brengsek. Manusia menderita tidak habis-habisnya. Yang diperlukannya adalah kalimat-kalimat filosofis, yang membuatnya masih sadar bahwa hidup tidak terlalu sia-sia. Ia meragu manusia bisa bahagia. Albert Camus telah mengajarinya melalui buku-buku mengenai hidup yang tidak mudah dipatenkan dengan bahagia. Masa remaja berlalu, ia malah bernafsu buku-buku, yang makin membuatnya sulit bahagia.

Pada hari yang tidak dipesan, ia yang menua bertemu buku berjudul Hidup Bahagia susunan M Natsir dan Nasroen AS. Buku yang tidak bersampul, terbitan Van Hoeve, Bandung. Terduga buku terbit masa 1950-an. Pada saat Indonesia sedang ribut demokrasi dan gencar berteriak revolusi, ada dua orang yang mengingatkan agar terpenuhi hasrat bahagia. Buku itu bukan selera Soekarno, Sutan Sjahrir, Njoto, dan lain-lain. Para tokoh penting itu pastinya membaca buku-buku berat untuk “tanding ideologi” di arus sejarah Indonesia.

Natsir dan Nasroen memang menyusun buku bukan untuk bacaan dewasa. Yang dinyatakan: “… edisi ketjil ini dimaksudkan djadi batjaan murid-murid kelas tinggi sekolah rakjat dan madrasa ibtidaijah. Tetapi dapat djuga pada kelas permulaan sekolah-sekolah landjutan pertama.” Buku yang sepantasnya dinikmati remaja. Yang membaca memiliki imbuhan imajinasi saat melihat belasan foto (lama) yang hitam-putih saja. Dua intelektual besar mampu menulis buku yang disantap kaum remaja. Buku itu diharuskan sederhana dan mengesankan, berbeda dari adanya buku-buku pelajaran atau buku-buku merayakan khotbah. Kaum remaja diajak berpikir hidup yang bahagia, bukan hidup yang bopeng, rusak, kotor, dan ruwet.

Di situ, ada cerita mengenai tokoh yang kehilangan bapak, ibu, dan adik pada masa pendudukan balatentara Jepang. “Aku kehilangan akal, kemana hendak pergi,” pengakuannya. Nasib tidak dapat ditebak dan masa depannya samar. Yang terjadi adalah kebaikan: “Untunglah Njonja Go, tetangga kami, kasihan akan daku. Aku dipungutnja dan dibawanja kemana pergi. Suaminja meninggal pula dan ia tidak mempunjai anak. Setelah perang selesai, Njonja Go pulang ke Tiongkok. Aku dibawanja. Di Hongkong, aku dimasukkannja ke sekolah Inggeris. Geli hatiku karena disana namaku ditukar djadi Charles Chang Ie Ming. Enam tahun aku di Hongkong. Setahun sebelum peladjaranku tamat, Njonja Go meninggal pula. Sedih hatiku berulang kembali. Sjukur djugalah karena dapat aku menjelesaikan peladjaran sampai aku memperoleh idjazah di sekolah Inggeris itu. Kemudian atas pertolongan Perwakilan Republik Indonesia di Hongkong, dapatlah aku pulang ke Tanah Air kembali.” Kisah yang mengharukan. Pembaca sudah menemukan arti bahagia? Tokoh kembali ke Indonesia sudah merdeka dan berdaulat. Ia telah melewatkan tahun-tahun penentuan sejarah.

Akhirnya, ia harus mengenali lagi Tanah Air dalam tatapan remaja. Ia tinggal di desa, belum ada keinginan membentuk masa depan di kota. Pengamatannya mengenai peristiwa-peristiwa di hari Minggu: “Orang-orang pergi ke bioskop atau ke taman bunga untuk istirahat. Hari Minggu, pergi keluar kota, menikmati udara dan alam pegunungan. Kami orang desa tak perlu sengadja menikmati alam pegunungan pada hari Minggu. Begitu pula tak ada hasrat orang desa pergi ke taman bunga. Memang di desa tak ada taman bunga, jang sengadja dibuat untuk tempat berkepas lelah. Bioskop pun tak ada pula. Tapi engkau djangan salah kira. Pada orang desa ada pula kelebihan-kelebihan jang tak dirasai orang kota. Kami puas melihat padi menguning emas, anugerah dari Tuhan jang Mahakuasa atas djerih pajah kami. Kami puas melajani anak-anak berebutan nasi dan lauk pauk sambil bersila diatas rumput permadani hidjau jang lembut itu. Air kali beriak-riak ketjil seakan-akan ikut tersenjum bahagia bersama kami.”

Bahagia berada di desa. Pada masa 1950-an, banyak orang yang berpikiran jika ingin berhasil dan bahagia maka memilih hidup di kota. Mereka bekerja mendapat uang banyak. Bahagia diraih dengan mengunjungi tempat-tempat hiburan. Mereka yang bahagia di kota berhak menyandang sebagai manusia modern. Tokoh dalam buku susunan Natsir dan Nasroen mengingatkan bahwa desa itu sumber bahagia. Namun, Indonesia sedang bergolak, yang mengakibatkan pendefinisian desa adalah tertinggal, tradisional, miskin, dan sengsara.

Yang turut disajikan berkaitan perubahan-perubahan besar di Indoensia adalah buku. Kita mengikuti cerita dan penjelasan: “Pernah dikatakan orang bahwa buku adalah sekolah tinggi pada abad XX ini. memang banjak orang jang mendjadi madju dan terkenal dalam masjarakat karena menambah ilmunja dengan buku-buku.” Di Indonesia, jumlah buku terus bertambah. Para pembaca pun bertambah setelah pemajuan pendidikan dan pemberantasan buta huruf oleh rezim Soekarno. Buku menentukan perkembangan ilmu sekaligus mengajak orang-orang bisa bahagia.

Kita malah meragukan buku adalah sumber bahagia. Pada masa 1990-an sampai sekarang, toko buku dan pasar buku bekas disesaki oleh ratusan judul buku yang bertema bahagia. Buku-buku terjemahan dari Eropa dan Amerika Serikat memberi tuntunan atau petunjuk agar orang-orang bisa meraih bahagia. Buku-buku itu dipelajari orang-orang Indonesia yang mudah iri dengan kebahagiaan orang-orang di pelbagai negeri asing. Bermunculan juga buku-buku bertema bahagia yang berdasarkan ajaran-ajaran agama. Buku-buku itu laris. Yang membaca dan mempelajarinya beralasan demi iman dan perwujudan bahagia. Pada abad XXI, bahagia itu masih tema terbesar. Buktinya, ratusan judul buku di Indonesia terbit bercap Stoik. Buku-buku jenis itu laris dan dirayakan di media sosial oleh para pendamba bahagia.

Remaja yang dulunya membaca buku-buku Kahlil Gibran dan Albert Camus akhirnya membukan halaman-halaman buku yang berjudul Setiap Hari Stoik (2022) susunan Ryan Holiday dan Stephen Hanselman. Buku itu dibaca sambil merem dan melek. Buku yang penuh petuah bijak. Buku bergelimang renungan. Yang ingin membaca masalah bahagia dipastikan menemukan di banyak halaman.

Namun, ia akhirnya bernostalgia saja dengan membaca buku berjudul Hidup Bahagia susunan Natsir dan Nasroen. Ia ingin mengetahui gagasan bahasa pernah disampaikan melalui buku-buku yang dianjurkan menjadi bacaan anak dan remaja. Pada masa lalu, anak dan remaja dibujuk bahagia ketimbang remuk dan brengsek saat Indonesia ingin mulia selama-lamanya.

____________________

Kabut. Penjual buku bekas dan pengrajin kliping.

Belakang

MENGETIK DI TANAH JAJAHAN

Yang suka membaca buku biografi atau tulisan-tulisan mengenai tokoh kadang penasaran dengan benda-benda yang pernah tergunakan dan menentukan nasib. Benda itu sepeda, baju, piring, mesin tik, kursi, lemari, dan lain-lain. Sekian benda turut membentuk biografi meski benda tak selamanya bersama tokoh. Ada benda yang hilang, dijual, hancur, atau diberikan kepada orang lain.

Kita membayangkan kelak ada pendirian museum sastra. Yang diinginkan adalah hadirnya benda yang pernah bersama Pramoedya Ananta Toer, HB Jassin, AA Navis, Sapardi Djoko Damono, Umar Kayam, Remy Sylado, Jakob Sumardjo, Arswendo Atmowiloto, Sindhunata, dan lain-lain. Benda yang dimaksud adalah mesin tik. Para pengarang pernah tekun menggerakkan jari-jari di mesin tik.

Mereka menghasilkan beragam tulisan dengan mesin tik. Ada yang mula-mula menulis dulu di kertas dilanjutkan di mesin tik. Ada yang langsung mengetik, yang segera memunculkan puisi, cerita pendek, atau esai. Sapardi Djoko Damono mengenang pernah menggunakan mesin tik milik kelurahan dalam membuat puisi. AA Navis bercerita rajin mengetik cerita pendek tapi diawali dan dibarengi kenikmatan merokok. Pramoedya Ananta Toer pernah dijanjikan diberi mesin tik oleh Jean Paul Sartre. Arswendo Atmowiloto yang berhasil membeli mesin tik memilih menaruh benda itu di atas kasur: tanda kebahagiaan dan sumpah untuk keranjingan menulis. Jakob Sumardjo sampai usia tua setia bersama mesin tik, membuat ratusan artikel dan resensi.

Kita bakal memerlukan ratusan halaman untuk mencatat penggalan-penggalan kisah para pengarang dan mesin tik. Benda yang ikut menggerakkan sastra di Indonesia. Pada suatu masa, mesin itu nasib pengarang. Ada yang memiliki mesin tik. Ada yang suka meminjam. Ada yang suka mengoleksi mesin tik.

Yang teringat, Gus Dur tampak sedang serius mengetik di kantor Tempo. Konon, ia suka mampir untuk menanti mesin tik yang menganggur, ditinggal para wartawan atau redaktur. Maka, ia lekas duduk di depan mesin tik untuk menghasilkan kolom yang dimuat dalam majalah Tempo. Linus Suryadi, suatu hari dolan ke rumah Umar Kayam, segera duduk dan mengetik. Jadi, ada dugaan Pengakuan Pariyem itu mula-mula diketik di rumah Umar Kaya. Bukunya yang terbit mencantumkan keterangan bahwa Pengakuan Pariyem dipersembahkan kepada Umar Kayam.

Kini, kisah mesin tik measih bertumbuh di tangan Hamzah Muhammad, yang menggerakkan sastra dan perbukuan di Jakarta. Ia biasa menghasilkan puisi di tempat-tempat penyelenggaraan acara sastra atau obrolan buku. Pada abad XXI, mesin tik belum punah. Kita menanti saja Hamzah Muhammad menuliskan seribu cerita tentang mesin tik.

Kita pun memanggil masa lalu melalui buku kecil dan tipis. Buku yang tidak bersampul. Buku terbit pada 1931. Kita mengingat para pengarang, jurnalis, dan pegawai kantor menggunakan mesin tik. Kau pergerakan politik pun menggunakan mesin tik dalam membuat risalah atau seruan melawan kolonialisme. Buku lawas itu membantu kita mengingat masa lalu yang berisi oleh huruf-huruf yang dipukul jari-jari.

Beruntungnya kita masih bisa membaca buku berbahasa Jawa yang berjudul Panoentoen Ngetik Mesin Toelis Nganggo Dridji 10 susunan M Soewardjo. Buku mengenai teknologi menulis, benda yang mengubah lakon tanah jajahan saat terjadi serbuan tulisan berbarengan kapitalisme cetak, yang memiliki banyak suara menyebar ke segala arah. Buku diterbitkan oleh Boekhandel SM Diwarno, Jogjakarta.

Pengakuan Soewardjo: “Moela kita senadjan lagi sawatara wae bab kawroeh ngetik maoe, woes age-age dibeberake, amarga woes wadjibe kita doewe pengerti senadjan moeng lagi setitik koedoe diratakake marang lijan kang soedi meloe nganggo.” Yang menyusun buku hanya memiliki pengetahuan sedikit tapi berani membagikannya kepada orang lain. Artinya, ilmu yang dimiliki agar segera menular yang membuat orang lain berani belajar untuk mahir mengetik.

Penjelasan yang diberikan dilengkapi gambar-gambar. Yang disampaikan Soewardjo: “Gambar iki tak petikake saka gambar nganggo merek iki awit moeng kanggo nggampangake panganggit mitoeroet saka panjinaoekoe bijen. Nanging kang mengkono maoe bareng akoe ndeleng marang mesin toelis lija, djandji kang model anjar wae kaja ora ana bedane toemrap panggonane aksara oetawa pengatoere perkakas-perkakas lijane.” Ia mencontohkan mesin yang pernah digunakan, tidak bermaksud pamer merek yang terkenal pada awal abad XX.

Buku kecil memberi petunjuk agar orang bisa mengetik menggunakan 10 jari, bukan dua jari. Pengertian dan latihan menentukan keberhasilan untuk menjadikan sepuluh jari bergerak. Pesan yang disampaikan Soewardjo: “Dene panjinaoemoe ora kena kesoesoe-sosoe, koedoe kang titi. Perkara ketjepetan ora soesah disinaoe, mengko jen wis koelina mesti bisa tjepet dewe.” Kecermatan diperlukan ketimbang tergesa-gesa dalam menggerakkan jari-jari di huruf-huruf yang ditentukan. Masalah kecepatan tidak perlu dipelajari mati-matian. Yang terbiasa mengetik nanti bakal mengetahui kecepatannya. Pembiasaan penting ketimbang bernafsu untuk cepat tapi sering membuat kesalahan.

Pada masa lalu, benda menghasilkan tulisan di kertas itu berkesan mahal. Benda yang cuma berurusan dengan kaum terpelajar. Benda yang berada di kantor-kantor dengan beragam kemodernan. Benda datang dari negeri-negeri jauh, terutama Eropa. Di tanah jajahan, orang yang mengetik tampak sebagai tokoh yang berani mengubah nasib, mengubah dunia, dan mengubah sejarah.

Siapa yang membuat buku? Apakah ia terbukti turut dalam mengubah arus sejarah (teknologi-menulis) di Indonesia? Pembaca wajib melihat fotonya yang gagah dan terdidik. Di halaman awal ada fotonya, yang menampilkan M Soewardjo dalam posisi berdiri mengenakan jas. Ia mungkin berfoto di studio. Pilihan pakaian warna putih mengartikan sosok modern yang sadar hikmah-hikmah Barat. Foto ikut menjadi penjelasan bahwa yang mengetik adalah manusia modern atau manusia yang mencipta masa depan.

___________________

Kabut. Penjual buku bekas dan pengrajin kliping.

Belakang

HILANG DAN PEMBACA

Satu atau dua lembar hilang, pembaca merasa di jalan yang sesat. Lembaran terlalu penting bagi pembaca yang ingin mendapat judul, nama pengarang, penerbit, dan tahun terbit. Yang terjadi adalah lembaran-lembaran yang memuat keterangan penting justru hilang.

Pembaca hanya menduga buku itu tua. Ia masih berusaha menemukan tanda-tanda dalam buku berupa stempel atau coretan. Ada coretan menggunakan pensil tapi kata-kata tidak terbaca. Rupa tulisan sudah kabur. Buku kecil yang tanpa judul. Buku kehilangan nama pengarang. Buku yang tidak bisa menerangkan penerbitnya. Apakah pembaca menyerah dan memilih buku itu tertutup selamanya?

Kehilangan yang menyedihkan adalah sampul. Yang tampak, sampul buku gantian masih ada. Sampul yang asli hilang. Sialnya, sampul gantian tanpa keterangan. Sampul dan lembaran-lembaran yang hilang tidak untuk ditangisi semalaman. Buku itu mengabarkan kehilangan-kehilangan.

Buku masih bisa dibaca di bawah lampu dengan sinar berwarna kuning atau memilih terkena sinar matahari saat pagi. Buku itu hasil dari kesaktian mesin cetak. Pada awal abad XX, mesin cetak berhasil mengubah lakon tanah jajahan. Mesin menghasilkan beragam bacaan, yang mendatangi orang-orang untuk mengetahui cerita, sejarah, teologi, politik, perdagangan, pendidikan, asmara, dan lain-lain. Di tanah jajahan, mesin cetak yang berisik mencipta “suara-suara” yang menimbulkan “badai” atau “guncangan”. Orang masih meragu boleh membuka matanya selama tiga jam untuk membaca tulisan-tulisan Ben Anderson.

Dulu, mesin cetak itu biasanya dimiliki oleh orang-orang Eropa atau peranakan Tionghoa. Mereka berani menggerakkan modal dalam menghasilkan bacaan-bacaan. Mesin yang menjadikan huruf-huruf di kertas menimbulkan seberan iman, sengketa ideologi, keinsafan sejarah, dan hiburan mendunia.

Pembaca perlahan yakin bahwa buku yang kehilangan sampul dan beberapa lembar itu hasil dari mesin cetak yang diurus peranakan Tionghoa. Penulis buku pastinya peranakan Tionghoa. Penerbit pun menjelaskan kekuatan bisnis bacaan awal abad XX.

Apa yang masih bisa digunakan sebagai bukti bila buku itu masuk dalam derasnya arus bacaan dari kaum peranakan Tionghoa di tanah jajahan? Pembaca malu-malu menunjuk tema dan bahasa “Melajoe” yang digunakan dalam buku. Isi buku mengenai “ilmoe petangan”, yang disajikan melalui “sjair”. Buku bercitarasa sastra. Pembaca mulai ikhlas tidak mengetahui judul, nama pengarang, dan penerbit. Yang terpenting ia bakal klenger membaca “sjair” di seratusan halaman.

Pembaca pilih-pilih kutipan, yang mudah dimengerti dan membenarkan bahwa buku ditulis oleh “orang jang berilmoe”. Kutipan yang memasalahkan nasib atau peruntungan: Beli pisang dari Blitoeng/ Belon beboewa soeda berdjantoeng/ Di dalem kitab soeda diitoeng/ Angkauw berdagang misti beroentoeng. Buku menjadi bacaan orang-orang yang berdagang tapi membutuhkan pengetahuan dan pijakan. Percayalah buku itu laris dan diakui berfaedah bagi para pembacanya yang berdagang atau menunaikan beragam pekerjaan. Yang terpenting adalah “beroentoeng”. Pikirkanlah kerja yang beruntung, bukan pisang yang bisa digoreng atau direbus!

Berlimpahnya “sjair” dalam buku menimbulkan kebingungan untuk memilih. Yang terbaca adalah “sjair” dalam bahasa “Melajoe” yang dicap pasar atau bahasa “Melajoe” yang biasa digunakan kaum peranakan Tionghoa. Kutipan yang terpilih lagi: Kauw maoe taoe artinja kakedoetan/ Boekannja iblis atawa setan/ Dalem dua atau tiga hari poenja boewatan/ Kau misti trima oewang soeda kliatan. Masalah peruntungan memiliki tanda-tanda. Jadi, “sjair” itu mengingatkan gairah atas peruntungan menentukan lakon perekonomian di tanah jajahan. Bisnis tidak selalu berlogika tapi peruntungan sangat penting.

Orang yang sulit tidur mendingan membaca “sjair” berjumlah ratusan. Dibaca pelan-pelan sambil menikmati nada dan rasa bahasa masa lalu. Kata-kata yang digunakan dalam “sjair” berulang-ulang dan polanya sering sama. Yang membaca mungkin “dibunuh” jenuh tapi keinginan mengerti yang silam dapat membuatnya bertahan sampai bulan sabit mengalamai kesepian di dini hari.

“Sjair” yang dibaca: Pengliatan ini terlaloe heran/ Djangan angkauw boeat koeatiran/ Angkau oentoeng dengen atoeran/ Dari sebab mengimpi poenja lantaran. Di situ, ada mimpi. Konon, ilmu tua dinamakan tafsir mimpi. Dulu, kita mudah menemukan buku-buku mengenai tafsir mimpi yang dijual di pasar malam, terminal, makam, dan kios koran. Buku itu biasanya kecil, kertas buram, sampul yang norak, dan harganya murah. Sejak dulu sampai sekarang, tafsir mimpi masih diminati banyak orang. Di mimpi, orang bisa membayangkan dirinya kaya atau dijerat kemiskinan. Mimpi yang memberi tanda-tanda agar diwujudkan atau berlalu dan terlupa saja.

 Siapa pembaca buku itu pada masa lalu? Pembaca yang memiliki pengetahuan sastra, bisnis, sosial-kultural, dan teologi? Pembaca yang menikmati “sjair” sebenarnya sedang belajar beberapa hal, yang mudah atau sulit terpahami. Maka, yang membaca bisa membicarakan dengan keluarga atau teman. Mereka bisa sedikit berdebat sesuai pilihan “sjair” dan kepentingan-kepentingannya. Buku dapat pula sebagai pedoman pengajaran bagi orang-orang yang ikut kursus mengubah nasib. Mereka diajak memikirkan “sjair” yang sakti dan meyakini bakal ada yang terwujud.

Buku itu mungkin tidak pernah terbaca oleh Roestam Effendi, Amir Hamzah, Soetan Takdir Alisjahbana, dan Sanoesi Pane. Buku memang mengambil bentuk “sjair” belum tentu diinginkan oleh kalangan terpelajar dan pengarang. Buku itu bukan selera kaum pergerakan politik kebangsaan. Jangan percaya bila buku dibaca oleh Tan Malaka, Soekarno, Mohammad Hatta, atau Soetan Sjahrir. Namun, buku tetap memiliki banyak pembaca tanpa harus “diejek” atau “dituduh” seleranya rendah. Penerbitan buku yang sejak halaman awal sampai akhir adalah “sjair” sudah keberanian dalam mengandaikan penerimaan dan pemahaman pembaca.

Kini, kondisi buku tidak lagi utuh. Dulu, buku itu dipegang oleh beberapa orang di tenpat-tempat yang berbeda. Buku kecil yang melewati waktu dan tempat. Di tangan pembaca yang memiliki kepentingan-kepentingan berbeda, lembaran-lembaran buku dibuka untuk dibaca. Akibatnya, ada lembaran yang terlipat rusak, ada lembaran mendapat coretan-coretan menggunakan pensil, ada lembaran yang robek.  

Yang membaca pada masa sekarang berhadapan dengan bahasa yang tidak hidup lagi. Bahasa lama yang “menyulitkan” sekaligus memberi ikatan agar pembaca memiliki masa lalu. Gubahan “sjair” yang disajikan pengarang pun susah ditaruh dalam arus kesusastraan yang mendapat perhatian dalam pertimbangan estetika atau politis. Buku tidak diniatkan sebagai persembahan sastra tapi kesengajaan menggunakan “sjair” agar unik dan menghasilkan renungan-renungan tak berkesudahan.

___________________

Kabut. Penjual buku bekas dan pengrajin kliping.

Belakang

GURU ITU BUKU

Para pembaca novel-novel berbahasa “Melajoe” atau Indonesia masa 1920-an dan 1930-an mungkin enggan membuat album ingatan. Konon, pelajaran di sekolah dan omelan para kritikus sastra mengakibatkan kita malas memuliakan sastra bercap Balai Poestaka atau Poedjangga Baroe. Kita capek membaca gara-gara bahasa: ejaan dan gaya. Kita pun dibikin bosan: pengulangan tema atau pemuatan hal-hal yang tidak penting tapi bikin sesak cerita.

Siapa yang masih merawat ingatan setelah membaca novel-novel masa 1920-an dan 1930-an? Yang teringat mungkin nama-nama tokoh dalam cerita selain judul-judul novel (roman). Kini, novel-novel itu makin kehilangan pembaca walau Balai Pustaka beberapa tahun lalu tetap mencetak ulang dengan garapan sampul baru yang jelek dan salah.

Para pembaca yang masih sabar mengasuh masa lalu dan memuliakan novel-novel bisa membuka ingatan untuk membuat catatan-catatan (tidak) penting. Maksudnya, yang teringat lekas dicatat agar bisa dipikirkan sejauh satu meter atau cukup sepanjang penggaris milik murid SD.

Kita berharap ada pembaca yang mencatat jenis-jenis pekerjaan yang terkandung dalam novel. Bayangkan ada orang membaca selusin novel masa 1920-an dan 1930-an. Ia mencatat nama para tokoh dan pekerjaannya. Maka, kita bisa menduga ada kebiasaan para pengarang memunculkan tokoh yang bekerja sebagai guru.

Novel-novel dari masa lalu mengingatkan guru. Pada awal abad XX, pekerjaan sebagai guru memberi kehormatan. Namun, kita memikirkan lagi: guru itu bekerja di sekolah-sekolah milik pemerintah kolonial, perkumpulan atau partai politik, atau komunitas agama. Kemunculan guru berbarengan modernitas dan perwujudan Politik Etis. Yang bekerja menjadi guru adalah sosok-sosok yang berilmu. Ia pun wajib memiliki kesopanan, keberpihakan ideologi, dan mengerti gejolak zaman.

Jadi, tokoh sebagai guru muncul dalam berapa novel yang diterbitkan Balai Pustaka dan penerbit-penerbit partikelir, sejak masa 1920-an? Tugas kita bukan berhitung dan memberi bukti-bukti. Kita meyakini saja bila guru sering dihadirkan dalam novel-novel berbahasa “Melajoe” atau Indonesia. Para pengarang masa lalu pun ada yang pekerjaan tetapnya adalah guru.

Yang mengisahkan dan menjelaskan guru bukan cuma novel. Buku-buku bertema pendidikan dan guru juga gencar diterbitkan di tanah jajahan, sejak awal abad XX.  Kita yang masih mau lelah membaca gara-gara bahasa dan tidak takut bersin-bersin saat membukan lembaran kertas lawas berdebu bakal menemukan masa lalu dan berdekatan dengan sosok guru.

Buku masih terpegang tangan berjudul Ngelmoe Goeroe. Yang kita hadapi adalah buku berbahasa Jawa. Artinya, buku yang dapat memberi imbuhan bagi kita mengenali guru selain dalam buku-buku yang berbahasa “Melajoe” atau Indonesia. Kita bersyukur yang terbaca adalah buku berbahasa Jawa tidak menggunakan aksara Jawa. Kita bisa mencret dan pusing selama tiga hari jika harus membuka lembaran-lembaran beraksara Jawa.

Buku berjudul Ngelmoe Goeroe disusun R Soedjanaredja, yang berstatus “mantri goeroe ing Karanganjar”. Guru menulis buku itu kemuliaan. Guru yang ikut memajukan usaha pengajaran dan pendidikan membuktikan keseriusan mengubah nasib tanah jajahan.

Buku terbit 1931 berkaitan debat panjang dan pelik mengenai kebijakan pemerintah kolonial terhadap sekolah dan guru partikelir. Guru-guru dicurigai ikut bikin kacau dan keruh gara-gara berpolitik dan melakukan serangan terhadap kolonialisme.

Arti di Jogjakarta, perusahaan yang menerbittkan buku memiliki harapan: “Soemebaripoen serta poenika tamtoe bade mewahi gamblangipoen para goeroe ing pamoelangan alit anggenipoen nindakake padamelan.” Buku petunjuk atau pedoman yang membuat para guru dapat mengajar secara baik dan benar. Buku diakui penting agar pengajaran menemukan hasil-hasil yang diharapkan.

Soedjanaredja menjelaskan jenis-jenis buku atau “lajang” yang digunakan dalam pengajaran di sekolah. Yang pertama disebut “Leerboek”. Keterangan: “Lajang piwoelang ngelmoe boemi, ngelmoe etoeng, woelang basa lan lija-lijane. Kabeh isi kawroeh kang oeroet-oeroetan (samboeng-sinamboeng) kang preloe disinaoe dening moerid.” Buku yang dimaksud adalah yang memuat ilmu bumi, ilmu hitung, pelajaran bahasa, dan lain-lain. Murid-murid mempelajarinya secara berkesinambungan dan berjenjang.

Yang kedua adalah “Leesboek”. Soedjanaredja mengartikan itu “lajang watjan” atau buku bacaan, yang berbeda dengan buku pelajaran. Buku yang dimaksud adalah huku yang berisi “tjarita kang roepa-roepa kang ora mesti oeroet-oeroetan.” Buku memuat cerita-cerita, yang cara menikmatinya berbeda dari buku pelajaran. Biasanya “lajang watjan” mengisahkan lakon kehidupan bocah atau binatang. Cerita-cerita sederhana yang memikat dan merangsang murid belajar banyak hal dalam sukacita.

Yang ketiga disebut “Leerlesboek”. Buku yang digunakan dalam mengajar yang tidak harus urut atau bersambungan tapi menerangkan ilmu-ilmu yang dipelajari murid sekaligus membuat mereka lancar dalam membaca.

Kita penasaran dengan beragam buku yang terbit pada awal abad XX. Buku-buku yang digunakan di sekolah-sekolah demi sumpah maju dalam peradaban. Buku-buku terbit dalam bahasa Belanda, “Melajoe”, Jawa, Sunda, dan lain-lain. Ingat, sejarah pendidikan di Indonesia adalah sejarah kertas-kertas atau buku. Yang terpenting sejarah memberi peran besar kepada guru.

Di buku lawas hampir berusia seratus tahun kita menemukan halaman-halaman mengenai pelajaran menulis huruf Latin. Dulu, anak-anak di tanah jajahan yang ingin “madjoe” mesti mengetahui huruf Latin. Surat kabar dan buku-buku yang terbit di zaman “kemadjoean” sering berhuruf Latin. Yang ingin mengetahui zaman dianjurkan bisa membaca dan menulis berhuruf Latin. Modernitas itu datang dari Barat, yang mengubah tanah jajahan melalui huruf dan bahasa.

Yang tidak terlewat adalah pengajaran untuk menulis berhuruf atau beraksara Jawa. Dua hal yang berbeda. Murid-murid memiliki kesulitan yang berbeda agar mahir menggerakkan jari dan alat tulis di atas kertas. Jadi, murid-murid yang bisa menulis (Latin atau Jawa) diharapkan memiliki masa depan yang terang. Mereka memiliki bekal untuk bekerja. Yang dimaksud adalah pekerjaan-pekerjaan yang cukup mapan, yang memerlukan kaum terpelajar atau penerapan ilmu-ilmu.

Bab penting lagi yang ikut memajukan pendidikan di tanah jajahan adalah bercerita. Di halaman 83, Soedjanaredja menjelaskan masalah pengajaran bercerita atau “piwoelang tjarita”. Tujuan guru mengajarkan bercerita: “soepaja moerid seneng atine, soepaja kawroehe moendak, soepaja kelakoeane dadi betjik, soepaja basane moendak betjik, nipisake goegon toehon, bisa mbedakake ala lan betjik, bisa goeneman kang ganep.”

Kita mengartikan bahwa memberi cerita kepada murid-murid itu berkaitan dengan pengetahuan, perasaan, berbahasa, tingkah laku, dan lain-lain Cerita-cerita dianggap mudah diterima dan berkesan kepada murid-murid. Dampaknya besar ketimbang selalu memberi perintah dan larangan dalam pembahasaan resmi.

Yang kita buka adalah halaman-halaman buku lawas, yang mungkin tidak digunakan lagi pada masa sekarang. Buku yang diperoleh adalah jilid dua. Di mana buku yang jilid satu? Apakah buku masih ada di Indonesia atau Belanda?

Bila beruntung buku-buku seharusnya tersimpan oleh anak-cucu-cicit Soedjanaredja. Mereka pasti kagum memiliki leluhur yang guru dan sanggup menulis buku untuk pedoman pengajaran para guru di Jawa atau tanah jajahan. Pada masa lalu, guru yang menulis buku adalah manusia ampuh. Ia berada dalam arus keaksaraan yang menjadikan zaman berubah oleh bacaan-bacaan.

___________________

Kabut. Penjual buku bekas dan pengrajin kliping.

Belakang

NEGARA: KAMUS DAN TIKUS

Negara dibuat dari kata-kata. Kalimat yang gagah tapi bisa salah. Kita tidak sedang membayangkan peristiwa membuat roti. Beberapa hal digunakan dan dikerjakan agar tersaji roti itu tampak mata. Benda-bendanya bisa disentuh dan dipegang tangan. Rasa yang bisa dicicipi. Pilihan rupa dan warna yang mengikuti selera. Padahal, selera cepat berubah jika tidak menyadari adanya ketetapan atau pembakuan.

Negara dan roti itu berbeda! Kalimat yang gampang dimengerti murid di SD, tidak perlu meminta tanggapan dari sarjana. Negara bukan dibuat dari adonan tepung, telur, coklat, dan gula. Negara bukan makanan yang disukai anak-anak. Pada situasi yang misterius, negara sangat sulit dimengerti oleh anak yang memiliki pengetahuan beragam roti: nama, harga, rasa, dan lain-lain, Negara itu tidak menarik. Yang lezat adalah roti.

Kita mengulangi lagi kalimat yang gagah mungkin mengandung salah: “Negara dibuat dari kata-kata”. Yang kita pikirkan adalah Indonesia. Ingatan sebagai negara merujuk 1945. Tahun itu memiliki kejadian-kejadian bersejarah, yang memunculkan tokoh-tokoh yang nasibnya sulit ditebak untuk mulia atau terpuruk. Indonesia itu 1945.  Negara itu teks proklamasi dan undang-undang dasar. Kita menyangka itu kebenaran yang terjadi dalam sejarah.

“Kami bangsa Indonesia dengan ini menjatakan kemerdekaan Indonesia,” kalimat penentuan sejarah. Yang terimajinasikan adalah tulisan tangan Soekarno ketimbang kertas berisi teks hasil mesin tik yang dikerjakan Sajoeti Melik. Sejarah ditulis dalam bahasa Indonesia, bahasa yang sedang bertumbuh dan sangat dipengaruhi oleh politik.

Pada 1945, bahasa Indonesia “beruntung” setelah Jepang membuat kebijakan mengandung dusta: pelarangan penggunaan bahasa Belanda dan “merestui” bahasa Indonesia. Ingat, yang disampaikan Jepang adalah taktik mencipta jinak, patuh, dan tertib. Bahasa Indonesia masuk dalam kepentingan membenarkan hasrat kekuasaan meski terselenggara dalam waktu yang singkat.

Soekarno, Mohammad Hatta, dan Ahmad Soebardjo yang duduk bareng dan bercakap di waktu menegangkan sebelum perwujudan teks proklamasi adalah sosok-sosok yang memiliki penguasaan beberapa bahasa. Yang pasti mereka mampu berbahasa Belanda. Kebiasaan membaca buku dan pergaulan intelektual membenarkan mereka untuk mengetahui atau menguasai bahasa Inggris, Prancis, Arab, Jerman, Latin, dan lain-lain. Di arus pergerakan politik, mereka tentu memuliakan bahasa Indonesia.

Mereka berada dalam zaman pergolakan bahasa yang ikut menentukan pembentukan Indonesia. Maka, sumber-sumber belajar beragam bahasa memberi bekal mengolah identitas dalam laju politik, yang masuk lakon besar Perang Dunia II. Yakinlah bahwa Soekarno punya keseriusan memajukan bahasa Indonesia! Percayalah bahwa Mohammad Hatta membuktikan kemahiran berbahasa Indonesia melalui tulisan-tulisan, tidak cuma pidato!

Jadi, Indonesia dibuat dari kata-kata? Sementara kita menganggap itu benar sambil melacak asal kata-kata yang akhirnya dipilih dalam penulisan teks proklamasi. Konon, bahasa Indonesia cepat bertumbuh disokong oleh pelbagai bahasa, yang berdatang sejak berabad-abad lampau. Bahasa Indonesia itu “bahasa baru”, yang bergerak lincah sekaligus salah tingkah dalam masa kolonial Belanda, berlanjut pada masa pendudukan Jepang.

Apakah membentuk negara dari kata-kata memerlukan kamus? Kita belum bisa menjawabnya secara tepat. Yang bisa dilakukan adalah mundur ke masa perang untuk menilik produksi dan penyebaran kamus-kamus. Pentingkah kamus dalam pembuatan sejarah yang bimbang dan menakjubkan?

Kita menemukan buku kecil yang memiliki judul dalam tiga bahasa: Inggris, “Melajoe”, dan Belanda. Kita sodorkan yang berbahasa “Melajoe” saja berkepentingan mengingat 1945. Buku itu berjudul “Kamoes ketjil terdiri dari 25.000 kata-kata Melajoe, Belanda, Inggeris”. Buku di tangan adalah cetakan kedua. Kita menyebutnya “Kamoes Ketjil” sambil mencarikan tempat dalam pembentukan negara (Indonesia).

Dulu, “Kamoes Ketjil” tersedia di Boekhandel Sunrise yang beralamat di Klenteng Pekapoeran 3, Batavia. Kita mengetahuinya di stempel warna merah yang terdapat di halaman awal. “Kamoes Ketjil” pernah dimiliki dan dipelajari oleh Liem Hok Soen, yang tinggal di Petjienan Keitjil 32, Malang. Buku yang pernah berada di Malang, yang disahkan melalui stempel pemilik. Pada suatu masa, buku adalah kepemilikan yang membuat orang mafhum kehormatan intelektual dan kebangsaan. 

Yang membuat buku itu mengejutkan adalah tempat terbit. Siapa pernah menyangka “Kamoes Ketjil” menghubungkan Indonesia dan Australia? Buku diterbitkan di Melbourne, Australia. Pergaulan tiga bahasa yang turut dalam lakon pembentukan Indonesia memiliki alamat yang jauh. Maka, penjual dan pemilik buku yang berada di Indonesia berarti melakukan proses yang tidak mudah. Buku datang dengan kapal menyeberangi laut atau samudera. Yang belum kita ketahui adalah harga. “Kamoes Ketjil” berasal dari Australia mungkin berharga mahal berdasarkan jalur distribusi, kualitas cetakan, dan jumlah eksemplar. Ada nama yang kita perlu mengetahui biografinya atau sumbangsih dalam keilmuan. “Kamoes Ketjil” disusun oleh N Helsloot, yang diberi keterangan: “Head Malay Department Netherlands Indies Government Information, Service, Melbourne.”

Apakah “Kamoes Ketjil” pernah dipegang oleh kaum pergerakan politik atau kaum terpelajar dalam hari-hari penentuan Indonesia, sebelum dan setelah 17 Agustus 1945? Apakah kamus itu berguna bagi para pedagang, militer, seniman, atau mata-mata? Yang pasti tahun penerbitan membuat kita penasaran dalam meragukan atau meyakini bahwa negara disusun dari kata-kata.

Di kata pengantar cetakan kedua, kita cuma mendapat sedikit keterangan. Yang kita baca adalah yang berbahasa “Melajoe”. Kamus itu belum menyebut bahasa Indonesia. Penyusun menerangkan: “Soenggoehpoen kamoes ketjil ini djaoeh dari pada sempoerna, tetapi didalam peraktek njata pergoenaannja. Kenjataan itoe tampak bahwa didalam tempoh satoe tahoen tjetakan jang pertama jang tiada sedikit banjaknja, sama sekali habis terdjoeal dan tjetakan jang kedoea dipandang telah perloe poela.” Kita menduga cetakan pertama: 1944. Penganta untuk cetakan kedua ditulis di Melbourne, 30 April 1945.

Kita mengutip paragraf yang terpenting: “Bahagian daftar kata-kata bahasa Belanda dan bahagian bahasa Inggeris pada tjetakan jang kedoea ini tiadalah beroebah. Bahagian daftar kata-kata bahasa Melajoe diloeaskan dengan kira-kira seriboe perkataan. Berhoeboeng dengan demikian, maka nama boekoe ketjil ini diganti.” Pengumuman bahwa ada penambahan jumlah yang banyak untuk kata-kata dalam bahasa “Melajoe”. Artinya, bahasa itu bertumbuh subur dalam beragam sisi hidup. Kita mengingat dua peristiwa penting menandakan perkembangan bahasa “Melajoe” atau Indonesia: Kongres Pemoeda II (1928) dan Kongres Bahasa Indonesia I (1938). Pembuat buku kecil ditentukan jumlah kata, yang dibuktikan dengan pemberian judul. Bila kita membaca di judul ada 25.000 kata, yang memberi tambahan banyak adalah bahasa “Melajoe”.

Kita mulai dulu dengan mengambil satu kata dalam peengantar: “tempoh”. Di teks proklamasi (17 Agustus 1945), kita pun menemukan “tempo”. Namun, kita jangan tergesa menganggap Soekarno atau Hatta menggunakan “Kamoes Ketjil” dalam keputusan memilih diksi “tempo”. Mereka pasti sudah berurusan dengan “tempo” melalui beragam bacaan atau percakapan. Yang membedakan adalah penulisan. Di “Kamoes Ketjil”, kita membaca itu “tempoh”. Mana penulisan yang benar: tempoh atau tempo?

Kita membuka “Kamoes Ketjil”. Di halaman 56, “tempoh” dalam bahasa Belanda adalah “tijd”. Di bahasa Inggris: “time”. Konon, “tempoh” itu berasal dari bahasa Latin, yang datang dalam bahasa Indonesia lewat bahasa Italia. Terbuktilah bahasa Indonesia bertambah oleh kedatangan bahasa-bahasa dari segala arah. “Tempo” tercantum dalam teks proklamasi. “Tempo” terdapat dalam kamus-kamus. Pada suatu masa, “Tempo” dijadikan nama untuk terbitan majalah dan koran. Penulisan bukan “tempoh” seperti dalam “Kamoes Ketjil”.

1945 itu penentuan revolusi. Istilah yang sudah muncul sejak lama, akhir abad XIX atau awal abad XX. Para jurnalis, pengarang, dan tokoh politik di tanah jajahan terbiasa menulis dan berseru revolusi. Pastilah diksi itu berasal dari bahasa asing untuk diterima dalam bahasa Indonesia. Dulu, ada yang menulis “revolusi” dan “repolusi”.

Di “Kamoes Ketjil”, halaman 98, kita menemukan lema “revolution”. Kata itu diterjemahkan “pemberontakan”. Di bahasa Belanda, ditulis “revolutie”. Pada masa kolonial, “revolusi” itu bikin gejolak dan guncangan. Para tokoh atau partai politik dituduh “revolusi” biasa berkaitan dengan “radikal”, “kiri”, “pemberontak”, “komunis”, dan lain-lain.

Pada masa bergolak, Soekarno yang mengaku paling paham revolusi. Ia sering mengucap revolusi dalam pidato. Jumlah diksi revolusi dalam tulisan-tulisannya mungkin mencapai ribuan. Ia menghendaki revolusi Indonesia. Padahal, kita tidak menemukan “revolusi” di teks proklamasi. Namun, peristiwa-peristiwa sesudahnya, Soekarno sering menginginkan pengulangan dalam penggunaan revolusi. Kita bisa membayangkan itu kata paling dahsyat di Indonesia dalam masa kekuasaan Soekarno. Kini, revolusi adalah kenangan yang tidak perlu mengikutkan adanya “Kamoes Ketjil”.

Kemarin, orang-orang membuat peringatan 80 tahun kemerdekaan Indonesia. Yang dirayakan adalah teks proklamasi. “Kamoes Ketjil” cetakan kedua juga berusia 80 tahun. Apa ada yang mau membuat peringatan meski kecil-kecilan?

Yang merayakan adalah tikus. Setahun yang lalu, “Kamoes Ketjil” dibeli dan masuk menghuni rumah bersama ribuan buku. Pembeli dan pemilik sembarangan menaruh “Kamoes Ketjil”. Buku yang menua ditaruh di tumpukan buku di bawah ranjang (amben). Di situ, tikus-tikus berkeliaran, meninggalkan telek, dan berani mengencingi buku-buku. Tikus-tikus membuat “peringatan” dengan merusak punggun buku. Kain di punggung buku rusak parah. Sebagian kain mungkin masuk ke perut tikus. Sisa-sisanya berceceran.

Yang pasti, tikus tidak makan huruf. Ia hanya makan kain yang digunakan di punggung buku. Tikus tidak doyan kata-kata dalam bahasa Inggris, “Melajoe, dan Belanda. Urusannya dengan “Kamoes Ketjil”, bukan untuk belajar bahasa. Tikus pun tidak ingin menengok sejarah.

Akhirnya, buku yang berusia 80 tahun tak mulus lagi. Ia tetap tampak memikar meski terluka. Kita melihatnya sebagai kamus yang teluka, belum kamus yang terlupa. Yakinlah, jumlah kata dalam kamus tetap 25.000, tidak ada yang dimakan tikus atau dihilangkan oleh tikus. Yang payah adalah pembeli dan pemilik “Kamoes Ketjil”. Ia hampir berdosa besar saat membiarkan “Kamoes Ketjil” menjadi mangsa tikus-tikus. Ia yang berlagak mau mengerti sejarah justru biadab dalam kehancuran buku.

___________________

Kabut. Penjual buku bekas dan pengrajin kliping.

Ragam

BABAD DI ATAS TIKAR DAN SEBOTOL TEH

Lampu-lampu menyala dan tikar-tikar menanti para pembaca yang mengaku memiliki malam di perbatasan Solo. Mereka duduk semaunya, menaruh raga di bawah lampu-lampu putih, yang tidak seutuhnya terang. Yang di atas tikar ingin merayakan buku, yang memerlukan lampu. Buku tak terbaca saat gelap.

Tempat itu berlantai kayu. Namun, orang-orang memilih menggelar tikar. Kepatutan dalam pertemuan. Bangunan yang berkayu dan berbambu seperti lama dalam kesepian. Malam itu sedang menantikan kata-kata yang dihambur-hamburkan oleh moderator, pembicara (pengulas buku), dan pengarang.

Penyapu saat itu ikut duduk bersama kaum buku. Ia sejenak menaruh tubuh di atas tikar, bergeser sebentar untuk duduk di papan-papan kayu yang ditata lumayan rapi. Semula, ia berpikir Minggu, 3 Agustus 2025, bakal rampung dengan sapu dan tongkat pel. Malam itu ia berhasil mendatangi tempat yang cukup jauh. Senja, ia meninggalkan GOR Badminton Blulukan (Colomadu) setelah keringat mengalir dan lelah. Di situ, setiap hari, ia menyapu dan mengepel untuk tiga lapangan yang digunakan para pemain bulutangkis dari pelbagai klub dan kelompok. Pamit dari gedung yang masih ramai dengan jamaah badminton. Permintaan izin untuk bisa dolan dan bertemu (kaum) buku di sebelah timur Solo.

Malam yang meminta angin. Penyapu merasakan angin yang kencang. Angin itu datang dari atas. Tampaklah dua kipas angin yang kusam. Buku pun merindu angin. Di sisi kiri tempat obrolan, penyapu melihat “petromaks” yang tidak menyala. Ia sudah karatan dan kotor. Bertahun-tahun, ia pastinya tidak menyala, hanya tergantung saja. Yang bertugas memberi terang saat malam adalah lampu-lampu, yang saat itu ikut menentukan nasib buku. Penyapu membayangkan masa lalu saat orang-orang berani membaca buku menggunakan lentera atau “petromaks,” belum lampu-lampu berlistrik. Pembaca yang mungkin syahdu.

Lampu dan kipas ingin merestui orang-orang yang lesehan di tikar untuk mengobrolkan novel berjudul Babad Kemuning (2025) gubahan Yuditeha. Novel yang baru saja lahir di jagat sastra Indonesia oleh Penerbit Buku Kompas. Penyapu datang untuk menghormati pengarang, sebelum ingin mengerti buku. Ia belum memiliki dan membacanya. Kedatangan memang untuk menjadi awam, yang tak berbekal khatam novel atau mengikuti arus perkembangan sastra mutakhir. Lama, ia dalam keterpencilan.

Di samping penyapu, pengarang yang makin kehilangan rambut. Ia penikmat kretek yang tulus. Berulang A Sampoerna menyala, menghasilkan abu-abu ditaruh di asbak gadungan berupa irisan gedebok pisang. Pengarang yang berasap, yang mulai menuturkan masa subur sebagai pengarang. Sebelum perayaan Babad Kemuning, ia terbukti rajin membuat cerita pendek yang beredar di pelbagai koran cetak dan situs. Ia pun menggarap esai-esai kecil mengenai bacaan dan kepengarangan.

Penyapu menikmati kata-kata dari lelaki yang sopan, diselingi tawa yang merdu. Percakapan dua lelaki yang lama tidak bertemu. Yang satu adalah tukang sapu. Yang satu adalah pengarang novel. Yang terbukti adalah Yuditeha memastikan sastra Indonesia tidak sekarat. Ia selalu mengabarkan pemuatan cerita pendek, yang membuat orang-orang masih bersantap sastra ketimbang debat sembrono atau marah-marah yang picik di media sosial.

Malam tanpa “petromaks” yang menyala, penyapu mendapat suguhan teh. Ia terlarang mengeluh gara-gara di hadapannya bukan segelas teh panas atau hangat. Yang tersaji adalah sebotol teh yang mencantumkan kata-kata “Teh Pucuk Harum”. Gelas sedang absen. Panas dan hangat cuma khayalan.

Sebelum buku adalah lagu. Panji Sukma menjadi lelaki bergitar. Ia masih membutuhkan mikrofon, yang menjadikan suara menjadi terdengar keras. Mengapa lagu-lagu mengawali buku? Penyapu belum kepikiran dengan model acara-acara sastra yang turut menghadirkan lagu. Kapan-kapan ia ingin membuat catatan kecil agar menemukan keselarasan yang lama terabaikan.

Tiba saatnya orang-orang bicara tanpa duduk di kursi. Moderator dan dua pembicara lesehan, memastikan tikar plastik menjadi saksi bahwa novel masih dambaan di zaman yang keparat.

Septi Rusdiyana, yang menjadi moderator, memberi awalan sebagai pembaca Babad Kemuning, yang mengarah ke perasaan-perasaan para tokoh, terutama yang perempuan. “Yuditeha menceritakan perasaan perempuan dengan lugas dan jernih,” ujar Septi, Penyapu hanya mendengar, tidak mampu membantah atau menyetujui. Ia belum pembaca Babad Kemuning. Ia sengaja hadir sebagai awam, yang kangen obrolan novel dan menonton pengarang yang sedang kondang di seantero Indonesia.

Di tangan Budi Waluya, terlihat kertas berisi catatan. Pada mulanya, kertas itu terlipat. Pada saat jatahnya untuk bicara selaku pengulas, Budi membuka lipatan kertas. Matanya kadang mengarah ke kertas, sebelum menyampaikan kepada orang-orang yang memberikan telinga. Ia tidak membuat makalah, sekadar catatan meski di keseharian dirinya adalah dosen di UNS dan bergelar doktor.

“Pengenalan konflik lambat,” kritik yang diajukan Budi. Ia agak malu-malu untuk membaca beberapa kritik, Namun, keberanian perlahan muncul saat mulai tersenyum. Buktinya, 50-an halaman awal dalam Babad Kemuning menjadikan Budi merasa lambat berjalan di cerita. Ia mungkin capek tapi akhirnya menemukan konflik, yang mengesahkan novel pantas terpuji, selain kritik-kritik.

Penyapu menyimak sambil berperang melawan selusin nyamuk perkasa. Ia membahasakan ulang apa-apa yang diucapkan Budi, lelaki yang mulai beruban dan tampak mengenakan kaos bergambar Semar. Yang dicatat penyapu setelah menyimak: “Novel butuh teka-teki!”. Perkara itulah yang ikut menentukan nasib Babad Kemuning bagi pembaca yang keranjingan novel atau orang yang menjadi pemula menikmati fiksi.

Giliran Yulita Putri mempersembahkan kata-kata. Ia tampil tak berkerudung tapi penyapu melihatnya berkerudung cerita. Yulita terlalu serius mengurusi novel, yang membuatnya lancar memasalahkan hak-hak anak, seksualitas, alam, kolonialisme, dan lain-lain. Ia bicara lantang, hampir tak ada keraguan dalam menyatakan pendapat-pendapat.

Yulita mahir mementingkan sisi perempuan dalam Babad Kemuning. “Novel ini membuat ingatan teh melebar,” katanya. Ia meyakinkan orang-orang yang bersantai di atas tikar bahwa perkebunan teh bukan sekadar latar untuk sinetron atau film picisan. Teh pun tak hanya minuman. Teh lebih dari komoditas. Novel yang dianggapnya memanggil sejarah. Namun, Yulita malah memanggul beban kebingungan atas sejarah.

Konklusi yang agak tergesa dari Yulita: “Babad Kemunging membuat pembaca banyak pertanyaan.” Ia mungkin menempatkan diri sebagai pembaca yang menggunakan seribu mata. Pembacaan yang bakal melelahkan dan berkepanjangan. Di hadapan novel, ia telanjur “bercocok tanam” pertanyaan, yang belum diketahui jadwal panennya.

Yang mendengar pembahasan Yulita Putri menemukan kekhasan. Pada tuturan-tuturan yang emosional, ia mengakhirinya dengan “seperti itu”. Usaha agar pembaca meyakini omongan atau pendapatnya, setidaknya mau memberi perhatian terhadap hal-hal yang sebelumnya disampaikan. Jadi, penyapu maklum saat mendengar belasan “seperti itu” terucap dalam nada tinggi atau rendah.

“Aku tidak mau klarifikasi,” perkataan Yuditeha sebagai bentuk tanggapan atas hal-hal yang sudah disampaikan Budi dan Yulita. Hampir semua yang dikritik oleh dua pengulas diterima Yuditeha. Ia senang berdalil bahwa kritik itu “peringatan-peringatan dari pembaca yang mahal”. Pengarang yang mengaku beruntung mendapat hasil pembacaan yang serius. “Dikritik jangan marah,” pesannya. Pada saat ikut duduk bergabung bareng moderator dan dua pembicara, pengarang itu tidak merokok. Sebungkus rokoknya tertinggal di samping penyapu.

“Kritik membuatku menyadari ketidaksempurnaan,” ungkap Yuditeha. Yang membuat pengarang terharu adalah “ketepatan” pembacaan Yulita atas tokoh perempuan dalam novel. Pengarang yang merasa menemukan pembaca yang intim, menyentuh pengalamannya sebagai pemulis fiksi dan pembuat album biografi perempuan, terutama ibu. Terharu yang disusul pengakuan tidak kentara mengandung sesalan dan kecewa. Ia merasa belum matang dalam penokohan dan luput menghadirkan pembayangan sejarah dalam novel melalui makanan, pakaian, bunga, dan benda-benda.

Pendengar yang khusyuk selama obrolan adalah perempuan yang rambutnya dikepang. Ia menyebut nama Sekar. Berbagi cerita dan sedikit mengajukan pertanyaan. Yang terasakan sebagai pembaca novel adalah “emosi membuncah”. Penyapu memandangi perempuan dengan rambut berkepang, yang seperti menemukan tokoh dalam novel-novel lawas di Indonesia.

Pertanyaan dijawab pengisahan ke sembarang arah oleh Yuditeha. Siasat agar jawaban tidak terlalu gamblang. Yang mengejutkan, Yuditeha menyatakan bahwa novel itu semula berjudul “Daun Emas.” Pada akhirnya, penulisan dirampungkan dan terbit berjudul Babad Kemuning.

Seorang gadis bernama Gadis memberi penampilan lain, pembacaan puisi karya Chairil Anwar, berjudul Kerawang Bekasi.

Pada saat mau berakhir, Panji Sukma duduk lagi di kursi. Tangan tampak bergitar dan mulut di depan mikrofon. Pengarang kondang yang mengoleksi beragam penghargaan, yang malam itu memilih menjadi penyanyi. Ia berada di kursi tapi tidak berpredikat sebagai pembicara meski sempat memberi ocehan-ocehan kritis dan agak lucu.

Malam makin malam. Penyapu berhasil menghabiskan sebotol teh, yang iklannya dulu sering muncul di televisi. Pengalaman pertama menikmati teh yang dinamakan “pucuk harum”. Padahal, yang minum tidak harum alias kecut oleh keringat dan kenestapaan. Ia tidak berpamitan kepada pengarang dan teman-teman, lekas pulang terkencing-kencing. Minum teh mengakibatkan mudah kencing saat malam di jalanan yang berangin kencang dan dingin.

Sampai di rumah, penyapu ingin merawat segala ingatan selama obrolan buku sambil mencuci seember pakaian keluarga yang kotor. Duduk untuk mengucek dan menyikat sambil membayangkan sebagai pembaca Babad Kemuning. Pengarang yang santun itu memberikan Babad Kemuning. Malam untuk mencuci, belum untuk membaca buku yang diulas oleh Budi dan Yulita. Moderator pun teringat sempat memberi kritik susulan: “Yuditeha unggul di cerita pendek ketimbang novel.” Selama mencuci, ingatan omongan-omongan itu bekal bila telah membuat jadwal sebagai pembaca novel.

Sebelum ikut menghadiri obrolan Babad Kemuning, penyapu membaca The Novelist gubahan Dean Koontz di jeda menyapu, mengepel, dan membantu mengurusi kantin di GOR Badminton Blulukan (Colomadu). Tiga hari menikmati novel mengenai penulis novel, editor, dan kritikus sastra yang seru dan menyebalkan. Malam itu penyapu sengaja tak menyampaikan kepada Yuditeha. Ia merasa sedang mencari pembuktian nasib Yuditeha sebagai novelis dan dua pembicara berlagak kritikus sastra.

Obrolan buku selesai. Mencuci pun selesai. Minggu mau berganti Senin. Penyapu itu lega dan lelah memiliki Minggu. Ia mendambakan tidur yang nyenyak tapi sengaja merusak suasana gara-gara memilih satu lagi sebelum memejamkan mata. Ia mendengarkan “Simfoni Hitam” yang dibawakan Egha De Latoya, bukan edisi yang mula-mula dibawakan Sherina M. Penyapu yang kadang memerlukan kata-kata dari lagu cengeng, tidak selalu harus bereferensi puisi, cerita pendek, atau novel. Ia ingat deretan kata yang mengharukan atau cengengisme: Telah aku nyanyikan alunan-alunan senduku. Telah aku bisikkan cerita-cerita gelapku. Telah aku abaikan mimpi-mimpi dan ambisiku. Tapi, mengapa aku takkan bisa sentuh hatimu.” Lagu yang pasti tidak cocok untuk mengiringi saat membaca Babad Kemuning. Akhirnya, malam itu penyapu bermimpi buruk! [] Kabut