
Konon, buku adalah salah satu guru. Tapi tak ada yang menjamin guru selalu bijak. Guru bisa lembut seperti ibu yang sabar, tapi kadang bisa mengejutkan, kasar, galak, dan liar, seperti ular. Dan seperti halnya kita tidak tahu kita dilahirkan siapa, pun kita tidak tahu siapa guru baca pertama kita.
Seorang remaja, usianya dua belas tahun, menemukan sebuah buku tua tersembunyi di gudang. Sampulnya polos, tanpa ilustrasi, tapi isinya, waduh. Meledak bagai mercon Cap Kera. Deskripsi detail tentang tubuh, hasrat, dan perbuatan yang bahkan belum sempat dia pikirkan. Bukunya bisa jadi karangan sastrawan besar, bisa juga hanya novel murah lima ribuan cetakan tahun 80-an, dengan judul: Gairah Si XXX di Tengah Ladang Tebu. Buku itu dipegang dan dibaca. Lantas apa jadinya?
Kita suka panik. Kita labeli saja itu: buku mesum, lalu buru-buru kita menyalahkan penulis, penerbit, bahkan tukang fotokopi. Tapi kita lupa, yang mesum itu bukan selalu bukunya. Kadang, yang benar-benar vulgar adalah cara kita membungkam pembaca.
Masalahnya bukan pada konten semata, melainkan pada konteks dan nihilnya pendampingan. Membaca tanpa peta itu seperti menjelajahi hutan pakai tutup mata, rawan nyasar, tapi juga bisa jadi petualangan yang membentuk kita.
Mari kita jujur, buku-buku tentang seks, hasrat, dan tubuh, meskipun sering dicibir, justru diam-diam punya pembaca loyal dari segala kalangan. Tak hanya remaja yang penasaran, tapi juga para pejabat yang siangnya sibuk koar-koar soal moral, malamnya menyelinap membaca PDF berjudul: Malam Panas di Balik Tirai Senayan. Ironis? Tentu. Tapi bukankah ironi adalah bagian dari kita?
Coba lihat data, cukup buka internet. Kasus pelecehan seksual lengkap di sana. Apakah itu karena terlalu banyak baca buku mesum? Atau justru karena kita tidak pernah diajarkan membaca hasrat dengan cara yang benar?
Kita hidup di negeri yang doyan menyensor payudara di buku sejarah, tapi membiarkan sinetron tayang jam tujuh malam menampilkan kekerasan rumah tangga dengan backsound mendayu. Negeri yang mengharamkan novel tentang cinta yang jujur, tapi menutup mata saat pejabat sering jajan nikmat di waktu dinas.
Lucunya, orang kecil seringkali justru punya kebijaksanaan. Mereka mungkin tak tahu istilah edukasi seksual, tapi mereka tahu mana yang pantas dan tidak. Seorang ibu penjual gorengan bisa dengan halus menasihati anaknya yang penasaran soal tubuh. Seorang bapak tukang tambal ban bisa bercerita tentang cinta dan tanggung jawab tanpa membuka halaman kamasutra.
Sebaliknya, mereka yang mengaku berpendidikan kadang gagap membicarakan tubuhnya sendiri. Lebih nyaman mengutuk buku mesum daripada mengakui bahwa mungkin yang rusak bukan bukunya, tapi cara kita memandang hasrat.
Jadi, apakah buku mesum harus dibakar? Tidak juga. Bakarannya mungkin lebih berguna untuk menghangatkan diskusi daripada membakar moralitas palsu. Bukannya lebih baik kita ajak anak-anak berdialog? Tanyakan kenapa mereka tertarik. Dengarkan. Jangan langsung bentak. Kadang anak hanya penasaran, bukan bejat. Yang bejat justru mereka yang tahu tapi berpura-pura suci.
Mari kita akui, buku tentang seks dan gairah bukan musuh. Mereka adalah bagian dari literasi tubuh dan rasa. Yang salah adalah ketika kita membiarkan buku-buku itu menjadi satu-satunya narasi tanpa disandingkan nilai, diskusi, dan kasih.
Mungkin saatnya kita berhenti mencibir anak yang membaca buku mesum, dan mulai mencibir sistem pendidikan yang takut bicara soal tubuh. Kita perlu lebih banyak guru yang bisa menjelaskan cinta tanpa malu. Lebih banyak orang tua yang berani bilang: “Kalau kamu bingung soal yang kamu baca, mari kita bahas.”
Pada akhirnya, bukan jenis bukunya yang membentuk kita, tapi bagaimana kita menanggapinya. Dan kalau buku yang kamu baca adalah soal desahan dan keringat, tak usah terlalu merasa berdosa. Bisa jadi itu hanya langkah awal menuju bacaan jernih, dan mendalam. Lagipula, bukankah yang suci dan kotor itu kadang hanya persoalan tampilan? [] Redaksi
