
Ada anak yang bilang, “Aku nggak suka ke perpus, karena seperti masuk penjara. Buku-buku dipenjara di rak, harus pakai surat-surat lengkap kalau mau bawa pulang.” Dan entah kenapa, saya merasa anak ini lebih jujur daripada para pejabat yang mendadak religius saat sidang etik.
Perpustakaan memang sering kali terlihat seperti kuil modern, sunyi, penuh aturan, dan mengandung aura kudus yang tak semua orang boleh sentuh. Megah, ber-AC, dengan karpet tebal dan senyuman petugas yang lebih kaku dari patung pancoran. Tapi pertanyaannya: megah untuk siapa?
Coba tanya ibu penjual gorengan di pinggir jalan depan gedung perpustakaan provinsi. Sudah sepuluh tahun dia di sana, tapi belum pernah masuk. “Nggak enak, Mas. Saya bukan orang pinter.” Begitu katanya.
Lucu ya. Tempat yang katanya rumah ilmu, justru terasa bukan rumah bagi orang-orang kecil. Ironisnya, perpustakaan malah sering jadi tempat rapat pejabat, konferensi digitalisasi literasi, atau pameran produk kuliner.
Padahal, konon perpustakaan adalah tempat paling demokratis di muka bumi. Siapa pun boleh masuk, katanya. Tapi nyatanya, lebih banyak anak-anak SMA yang ke perpus cuma buat numpang Wi-Fi dan update story. Menimba ilmu di sarang para literati, padahal aslinya nonton anime di pojokan.
Tapi mari kita jeda sebentar dan hirup aroma absurditas ini: ada yang bilang perpustakaan itu rumah para jin. Mungkin karena sebagian bukunya lebih tua dari penjaga loketnya. Atau karena suasananya sunyi seperti ruang tunggu akhirat. Tapi bisa juga karena pengunjungnya kerap kerasukan ambisi, datang berniat mulia cari referensi skripsi, tapi tersesat membaca puisi patah hati, dan pulang membawa fotokopi yang tak pernah dibaca.
Ada juga yang bilang perpustakaan itu harta karun yang tak pernah ditemukan. Masuk akal, karena banyak buku bagus yang tidak dibaca sejak zaman Orde Baru. Mereka tertidur manis di rak, dilabeli kode, dilindungi plastik, dan dijaga oleh sistem peminjaman yang lebih ribet dari urusan KUA.
Ada juga yang bilang perpustakaan itu tempat kencan paling aman. Tak ada suara gaduh, tak ada risiko ditangkap Satpol PP, dan yang paling penting: kamu bisa menatap mata gebetan sambil berbisik, “Ssst, kamu lebih menarik dari teks pidato Bung Karno.” Dan jika beruntung, cinta bisa tumbuh di antara rak fiksi dan pojok referensi, di mana cinta dan ilmu pengetahuan bersenggama secara spiritual.
Atau bisa jadi di perpustakaan kamu bertemu calon istri. Kalian sama-sama rebutan buku The Interpretation of Dreams karya Freud. Dan ironisnya, setelah menikah, kalian berhenti bermimpi. Tapi tetap saja, cinta kalian lahir di antara rak dan catatan kaki.
Di sisi lain, perpustakaan juga bisa jadi tempat pelarian. Dari panasnya dunia luar, dari gebukan kenyataan. Bayangkan anak-anak kecil di pinggiran kota yang menemukan surga kecil di perpustakaan keliling yang mampir seminggu sekali. Buku-buku lusuh di atas mobil tua itu lebih berarti bagi mereka dibandingkan perpustakaan megah yang tak pernah bisa mereka singgahi.
Paradoksnya di sini, perpustakaan seharusnya jadi tempat paling terbuka, tapi kadang terasa paling eksklusif. Ia seperti kekasih lama yang dulu hangat, tapi kini hanya mengizinkanmu datang kalau kau sudah punya kartu anggota dan pakaian yang pantas.
Seperti mantan, kita tetap saja menyimpan dalam hati. Karena di perpustakaanlah kita pernah mengenal kata pertama, membaca kalimat cinta pertama, bahkan mungkin mencuri pandang pertama. Tempat kita belajar diam, mencatat, mengkhayal, dan berharap. Tempat di mana kita pernah jadi versi terbaik dari diri kita yang haus tahu.
Jadi, mari kita usulkan reformasi kecil, perpustakaan tanpa batas. Yang bisa masuk tanpa harus takut salah baju atau salah bahasa. Yang bukunya bisa disentuh, dibaca, dan dibawa pulang tanpa birokrasi macam pinjam koperasi RT.
Karena ilmu bukan milik mereka yang punya gelar, melainkan mereka yang mau membuka halaman. Dan cinta. Ya, cinta juga bisa tumbuh dari sebuah perpustakaan. Tidak harus dramatis, cukup dari kalimat di salah satu halaman buku, yang entah kenapa terasa seperti pesan personal dari semesta.
Kalau kamu sedang di perpustakaan saat membaca ini, lihat sekeliling. Siapa tahu, ada seseorang yang diam-diam mencuri pandang padamu dari balik rak filsafat. Dan jika tak ada, setidaknya kamu bisa curi satu buku, secara legal tentu saja. Baca, dan biarkan ia membawamu pulang. [] Redaksi
