
Sebagian orang membaca dengan lilin. Maksudnya, ritual. Mereka menyalakan dupa, menyeduh kopi Arabika, memutar lagu jazz dari tahun yang tak mereka alami, lalu duduk bersila menghadap buku seakan itu kitab pewahyuan. Ada yang harus membaca di kafe dengan pencahayaan remang dan sesapan latte seharga makan dua hari. Ada pula yang tak bisa membaca jika belum mandi, belum ganti baju, atau belum mood. Dan semua itu sah saja, kalau memang hidupnya memungkinkan.
Tapi tidak semua orang lahir dalam selimut wangi dan meja baca dari kayu jati alas. Tidak semua orang punya ruang khusus untuk membaca. Tidak semua orang bisa memilih mau membaca sambil duduk santai atau sambil menahan kantuk karena semalam kerja lembur. Beberapa orang membaca di antara nadi yang sempit, waktu yang retak, dan realitas yang kadang lebih keras dari narasi fiksi murahan.
Saya, misalnya, tidak punya ritual. Membaca ya membaca saja. Di halte. Di angkot. Di hik. Kadang hanya sempat satu paragraf, kadang satu buku tamat dalam sekali duduk karena bosan menghadiri resepsi. Saya tak merasa perlu mengultuskan momen membaca. Buku bukan benda sakral. Ia bisa menyentuh yang profan, yang remeh, bahkan yang bau. Dan bagi saya di situ letak kekuatannya.
Soal kenangan pun saya tidak punya banyak toleransi. Saya tidak terlalu percaya pada romantisasi masa lalu. Kenangan, kalau pun ada, biarlah ia lewat seperti gerbong KRL yang tak sempat dinaiki. Dulu saya pernah memfotokopi buku karena tak mampu beli. Saya tak merasa bersalah, karena toh saya tidak menjualnya. Itu jalan saya mendekati ilmu, sepraktis mungkin. Lalu ketika punya uang, saya beli yang asli. Buku-buku hasil fotokopi saya buang. Tidak saya simpan, tidak saya kenang, tidak saya unggah di Instagram dengan caption, Inilah perjuangan membaca kami dahulu.
Saya tidak sedang mempermalukan mereka yang punya kenangan dengan buku. Saya cuma tidak ikut menyembahnya. Beberapa orang mengemas nostalgia dalam toples kaca dan memajangnya di rak-rak hati. Saya? Saya lebih memilih membiarkannya basi dan dibuang ke tong.
Sama halnya dengan koleksi. Saya tidak yakin akan menyimpan semua buku sampai mati. Buku-buku yang sudah saya baca akan saya jual lagi. Bukan karena tak cinta, tapi karena saya tidak ingin orang yang saya tinggalkan nanti kebingungan harus mengangkut ratusan buku ke mana. Lagi pula, sebagian besar buku tak perlu disimpan; cukup dipahami. Dan kalau benar isinya sudah menyatu dengan hidup, mengapa harus takut melepas fisiknya?
Dan soal masa lalu, termasuk masa lalu para penguasa, saya juga tak punya misi heroik untuk mempengaruhi kebijakan hari ini. Saya tak percaya pada balas dendam sejarah. Kalau hari ini bisa diperbaiki, maka perbaikilah. Saya lebih respek pada tindakan benar hari ini daripada sibuk mengungkit luka lama demi mendapatkan moral points di X.
Tapi, ya, begitulah. Ada yang hidup dalam ritual. Ada yang menggantungkan hidup pada kenangan. Ada juga yang, seperti saya, membiarkan semuanya lewat dan hanya menakar hidup dari apa yang bisa dilakukan hari ini.
Dan di tengah itu semua, ada satu hal yang tetap diam-diam berkuasa, yaitu cinta. Saya pernah menemukan sebuah kaleng tua di sebuah rumah kosong. Di dalamnya ada beberapa surat cinta. Kertasnya menguning. Tulisannya nyaris pudar. Tidak jelas siapa penulisnya. Tidak jelas juga siapa yang dituju. Saya tidak mencoba mencari tahu. Saya hanya mengembalikannya ke tempat semula. Karena saya percaya, cinta tidak butuh penonton. Ia punya sejarahnya sendiri, punya medan ritusnya sendiri, yang tak perlu ditafsir dan diingat oleh siapa pun selain yang menjalaninya.
Buku pun sama. Tidak semua harus diberi pelukan emosional atau altar kenangan. Tidak semua butuh ritual. Ada yang cukup dibaca dan dilupakan. Ada yang cuma singgah untuk kemudian hilang. Tapi bukan berarti tak penting. Justru karena tak diritualkan, karena tak dikenang, mereka masuk lebih dalam, menjadi bagian dari hidup, bukan sekadar benda yang diabadikan.
Karena pada akhirnya, membaca bukan soal lilin, bukan soal kopi, bukan soal kenangan. Membaca adalah keberanian untuk melihat, mencerna, dan kadang mengabaikan. Sama seperti cinta. Ia tak butuh kenangan untuk tetap hidup. Ia hanya butuh pengakuan, bahkan jika itu sekadar dalam bentuk kaleng tua yang dibiarkan utuh. [] Redaksi
