Puisi

Puisi M.Z. Billal

SEBUAH RAHASIA YANG KUTULIS DALAM SATU KALIMAT SINGKAT

aku ingin membunuhmu.

saat kita saling memasuki diri.

aku ingin di sana selamanya.

meski kau perlahan memudar,

kau harus mati dalam pelukanku.

2025

___________________

MELEPAS KEPERGIAN HUJAN

betapa kerasnya aku terhadap diri sendiri

sudah tahu tak lagi dicintai tapi masih

berpura-pura bahwa keadaan akan pulih

seperti dulu, saat kita saling berkirim

kata-kata manis menjelang tidur.

padahal nyatanya semua itu sudah tak ada

sudah jadi debu yang larut dalam hujan.

semakin aku mengatakan tidak mungkin

semakin sesuatu yang tak terlihat

tapi hangat memeluk jiwaku erat.

    “kau harusnya pulang. lekaslah pulang.

     sebentar lagi gelap. dan selamanya gelap.

     pergilah ke sana, yang jauh. tempat di mana

     sinar dengan layak mengecup harapanmu

     yang mulai pupus itu. jangan menunggu lagi.

sebab hujan tak boleh turun lagi di sini.” bisiknya.

aku tak bisa berkata-kata.

hanya diam dan membiarkan

keikhlasan terus menepuk punggungku

ke dalam pelukannya.

       ya, memang sudah tidak ada apa-apa lagi

       waktunya tidur dan melanjutkan semua impian

       dan kata-kata baik yang kemarin tertunda.

2025

___________________

NEGOISASI HARI SENIN

setidaknya kau harus menjadi kekasihku

sepanjang hari. karena perasaan ini sepenuhnya

masih tertinggal di kasur tidur beserta seluruh rindu

yang makin ganjil tiap kali aku makan sambil berpikir,

kenapa sulit sekali melepas pergi hal-hal atau

seseorang yang memang tak bisa kita miliki.

sepertinya dari minggu sampai senin aku selalu

ceroboh. terperangkap di mesin cetak bagai kertas lusuh

yang nekat menjadi pelampiasan hasrat pikiran para pekerja

padahal aku tahu akan berakhir di tempat sampah.

mau menyesal pun hanya akan tetap menjadi

barang buangan. diabaikan dan dilupakan.

atau kau bisa bilang perasaan ini mirip jas hujan

yang terjebak dalam bagasi karena aku seringkali

tidak peduli sementara cuaca di luar rintiknya saja

telah melolong sekuyup itu pada pukul delapan pagi.

menjadikan semua basah, semua gelisah. semua memandangi jendela.

tapi, ya, setidaknya kau harus menjadi kekasihku

sepanjang hari ini. agar aku punya alasan untuk

lebih cepat menyelesaikan pekerjaanku dan buru-buru

pulang menemuimu, mengecup keningmu sambil berkata,

terima kasih, kau telah menjadi hari senin terbaikku.

meski aku tahu betul, di sana cuma ada dinding hijau alpukat

yang kuberi nama puisi-puisi dengan darah yang mengalir

dari tubuh rinduku, dari tawar menawar kata-kata yang tak

bisa kuucapkan ketika dalam sepekan kenangan bergentayangan

seperti hantu risau yang bepergian pada akhir desember.

2025

___________________

SEBUAH RUANGAN

aku selalu menyediakan sebuah ruangan

untukmu kembali dari pengembaraan, setelah kau

menyadari tak ada rindu yang mampu menarikmu

pulang selain rindu yang kuselipkan di pusaran angin

dan dalam puisi-puisi yang menjelma ikan sailfish,

yang mahir berenang cepat ke arahmu.

meski aku tahu ini bodoh. tapi entah mengapa

aku mencintai kebodohan yang paling ahli

menghabiskan usiaku ini. sebab aku pun sebenarnya

tak pernah tahu kapan dia akan kembali.

meski aku tidak terlampau duka, namun tak pula

aku senantiasa baik-baik saja dalam penantian ini.

      tapi, omong-omong, apakah kalian

pernah sebodoh ini

     saat berjuang dalam sebuah

usaha mencintai?

2025

___________________

PERCAKAPAN SEPASANG DADA

apa kau merindukannya?

                 tentu saja. bagaimana mungkin

                 aku tidak merindukannya. dia rumah

                  bagi kenanganku.

apa dia juga merindukanmu?

                  aku tidak tahu. dan aku tidak akan pernah

                   menanyakan itu.

apa tidak masalah merindukan dengan cara seperti itu?

                   akan selalu begitu. jika dia tidak rindu kepadaku,

                   itu bukan masalah utamanya. sebab akulah yang

                   memutuskan. aku tidak bisa mencegah kepada siapa

                   dia akan rindu dan tubuh mana yang ingin dia peluk.

apa itu tidak menyakitimu?

kupikir itu akan sakit.

                aku akan berpura-pura. berpura-pura tidak sakit.

                berpura-pura tidak rindu. aku akan terlatih

                untuk itu. kau tahu aku seorang penyintas.

lalu bagaimana jika aku nanti aku juga merindukanmu?

                                                …………………………

            dia hanya menatapmu. dia tidak pernah tahu.

            kaulah orang yang merindukannya

setengah mati. setiap hari.

2025

___________________

M.Z. Billal. Lahir di Lirik, Indragiri Hulu, Riau. Seorang Guru Sekolah Dasar. Menulis cerpen, cerita anak, dan puisi. Bukubukunya yang telah terbit berupa novel remaja berjudul Fiasko (2018), kumpulan puisi berjudul Cara Kerja Perasaan (2022), dan kumpulan cerpen berjudul Sebuah Tempat di Tepi Lelap (2022). Karya-karyanya juga dimuat di berbagai media cetak dan digital seperti kompas.id,  Jawa Pos, Suara Merdeka, Kedaulatan Rakyat, bacapetra.co, dll, serta sejumlah antologi nasional.

Belakang

SEJARAH (SAMAR) DAN MELONGO

Pada suatu masa, anak-anak di depan televisi melihat gambar yang bergerak. Gambar itu huruf-huruf, yang anak-anak mengucapnya “te ve er i”. Mereka sedang menatap huruf-huruf yang menjelaskan misi pemerintah. Yang terdengar sedikit senandung merdu: “TVRI, menjalin persatuan dan kesatuan.”

Di jalan atau kelas, anak-anak itu mengulang yang terdengar saat menonton televisi. Mereka sebenarnya terpapar propaganda “murahan” yang diadakan TVRI sebagai kepanjangan tangan rezim Orde Baru. Dulu, menonton televisi inginnya mendapat hiburan. Namun, pesan-pesan yang disampaikan pemerintah melalui beragam acara terlalu kuat dan “memaksa”. Jadinya, penonton yang masih anak-anak perlahan “jinak” sekaligus membenarkan apa-apa yang diinginkan oleh televisi.

Mereka ingin menjaga persatuan agar tetap boleh menonton TVRI. Mereka bingung dengan pengertian “kesatuan”. Apakah itu sama atau beda dengan persatuan? Yang belajar bahasa Indonesia di kelas agak mengerti: persatuan itu kata dasarnya satu dan kesatuan itu kata dasarnya satu. Mengapa pihak TVRI menggunakan persatuan dan kesatuan, tidak cukup satu saja? Pilih saja persatuan atau kesatuan.

Anak-anak malu menanyakan kepada bapak, ibu, kakek, nenek, bibi, tetangga, atau guru. Yang pernah mengalami masa 1960-an mudah menjelaskan kesatuan. Ia memulainya dengan penamaan organisasi-organisasi yang beranggotan pelajar atau mahasiswa. Dulu, ada organisasi yang dinamakan KAMI (Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia). Banyak yang memilih “kesatuan” meski ada yang pilihannya adalah “persatuan”. Kaum yang tua mencontohkan PGRI (Persatuan Guru Republik Indonesia). Pokoknya, anak-anak dibuat bingung oleh persatuan dan kesatuan meski tetap sregep menonton acara-acara di TVRI, sebelum ada saingan RCTI, SCTV, TPI, dan Indosiar.

Anak-anak yang menonton TVRI pelan-pelan belajar bahasa Indonesia. Banyak acara dan film yang menggunakan bahasa Indonesia. Di desa, anak-anak terbiasa berbahasa Jawa mulai menirukan tokoh-tokoh yang tampak di televisi. Mereka mulai menambahkan kata-kata di kepalanya untuk terucap lewat mulut berupa bahasa Indonesia. Pengucapan yang masih malu-malu. Pengaruh terasakan saat belajar di kelas. Penggunaan bahasa Indonesia sebagai bahasa pengantar dan pemberian pelajaran bahasa Indonesia membuat anak-anak mulai ikhlas masuk dalam “kubangan” bahasa Indonesia. Yang fasih berbahasa Indonesia dianggap pintar. Selanjutnya, ia diakui menganut kebudayaan kota atau modern.

Lupakan masa anak-anak dan TVRI! Kita ingin memasuki buku yang berjudul Bahasa Persatuan: Kedudukan, Sedjarah, Persoalan-Persoalannja (1964) susunan Zuber Usman. Buku yang diterbitkan Gunung Agung berasal dari garapan ilmiah di universitas. Jadi, kita sedang membaca buku yang ilmiah, tidak ada bohong-bohongan atau setumpuk bualan. Siapa mau membuktikan?

Buku terbit sebelum Indonesia terganggu persatuannya dalam malapetaka 1965. Pada masa terdahulu, persatuan Indonesia sering mendapat gangguan yang menimbulkan darah, air mata, kematian, dan lain-lain. Pada masa yang sulit, para tokoh politik malah berdebat mengenai “persatuan” dan “persatean”. Perbincangan berdasarkan perbedaan ideologi dan persaingan meraih kekuasaan. Dulu, persatuan itu politis! Artinya, segala bentrok, perselisihan, pemberontakan, dan perlawanan itu bersumber dari pemaknaan revolusi?

Zuber Usman salah atau khilaf membuat judul? Ia mungkin pernah yakin banget Indonesia terus berkembang dan maju asal menjaga persatuan. Keyakinan berdasarkan fakta-fakta. Ia tidak sedang berkhayal bahwa persatuan itu abadi. Indonesia akan terus bersatu sampai kiamat!

Pada 1949, kedaulatan Indonesia diakui oleh Belanda. Situasi tetap tak menentu. Zuber Usman memiliki rutinitas mengisi acara di RRI dinamakan “Rudjak Bahasa”. Kita lekas mengingatnya itu makanan. Yang diurus Zuber Usman adalah bahasa, bukan makanan yang segar dan pedas. Penjelasan: “Tudjuan siaran itu jang sebenarnja ialah untuk mengawasi dan memberi djalan kepada pertumbuhan bahasa Indonesia, disamping menjelidiki sedjarah, membukakan aliran dan memberi arah kepada kemungkinan-kemungkinan jang dapat ditjapai pada masa jang akan datang.” Tujuan yang mulai saat bahasa Indonesia sudah tercantum dalam UUD 1945 dan diajarkan di sekolah-sekolah. Yakinlah bahwa Zuber Usman sedang melaksanakan tugas yang mulia, bukan mengikuti jalan khayalan.

 Zuber Usman mengenang: “Tahun-tahun permulaan itu merupakan tahun-tahun peralihan. Chusus dalam lapangan bahasa, kita harus memerangi unsur-unsur Hollandisme, sungguh pun bangsa kita telah berhasil menumbangkan pendjadjahannja dan dibidang lain kita harus pula berhadapan dengan golongan kolot jang berpaham pitjik, jang hendak memegang teguh ukuran atau pola bahasa Melaju.” Bayangkanlah sejarah bahasa Indonesia sangat ditentukan politik dan ketangguhan para intelektual dalam bertengkar demi kemajuan bahasa yang dianggap masih muda.

Yang membaca buku mula-mula bersemangat ingin mengetahui sejarah bahasa Indonesia. Namun, yang terbaca adalah sejarah kerajaan-kerajaan. Zuber Usman “berbohong”. Judul bukunya tidak tepat. Ia bertele-tele menyuguhkan sejarah beragam kerajaan, sebelum beralasan bahwa sejarah itu menentukan perkembangan bahasa Melayu, yang nantinya “dijadikan” bahasa Indonesia.

Kecewa! Pembaca mengaku kecewa setelah merasa “dibohongi”. Yang diceritakan dalam buku adalah sejarah yang bukan bercap “persatuan”. Situasi berbeda saat masa kolonial. Gagasan persatuan bertumbuh di kalangan politik, intelektual, seniman, dan lain-lain. Apakah “persatuan” sudah tercantum dalam teks-teks dibuat dalam Kongres Pemuda I (1926), Kongres Pemuda II (1928), dan Kongres Bahasa Indonesia I (1938) dengan maksud menentukan kedudukan bahasa Indonesia?

Di bab enam, kita membaca penjelasan tentang “pembentukan” bahasa Indonesia. Anehnya, Zuber Usman pintar mengutip pendapat-pendapat dari tiga sarjana Belanda. Pengutipan ada yang berasal dari bahasa Belanda. Zuber Usman menegaskan bahwa usaha menulis sejarah dan perkembangan bahasa Indonesia tetap memerlukan hasil studi para sarjana Belanda dan pejabat Belanda pada akhir abad XIX dan awal abad XX. Namun, kita tetap diingatkan setelah pengakuan kedaualatan (1949) harus terjadi pengurangan pengaruh Hollandisme.

Kita percaya saja Zuber Usman sudah mati-matian mencari kepustakaan dalam menyusun buku berjudul Bahasa Persatuan. Buktinya, ia memberi catatan kejadian dan pemaknaannya: “Bulan Mei 1918, Dewan Rakjat (Volksraad) dilantik. Waktu itu jang dipakai ialah bahasa Belanda. Maka timbullah pikiran diantara anggota bangsa Indonesia untuk mempunjai bahasa persatuan. Tjita-tjita kesatuan nasional mulai terasa. Segera, anggota-anggota bangsa Indonesia menjetudjui supaja bahasa Melaju, jang sesungguhnja telah dipakai pemerintah dalam perhubungan dengan rakjat dan radja-radja untuk negeri, didjadikan bahasa pengantar disamping bahasa Belanda.” Usaha menentukan titik-titik sejarah terpenting. Kita menerimanya itu kerja ilmiah, bukan kerja imajinasi. Titik sejarah yang jarang disampaikan saat pelajaran bahasa Indonesia di SMP dan SMA.

Yang berperan besar dalam perkembangan bahasa Indonesia adalah Balai Pustaka. Pengakuan yang inginnya tidak politis. Namun, kita sadar jika penerbit itu malah politis banget, bentukan pemerintah kolonial Belanda. Konklusi yang dibuat Zuber Usman: “Dengan demikian, Balai Pustaka dapatlah dikatakan dari sedjak berdirinja dengan giat dan sadar terus menjalurkan serta menentukan tjorak bahasa Indonesia, disamping usahanja menjebarkan bahasa itu keseluruh pendjuru Nusantara…” Penyebarannya menggunakan buku dan majalah. Pengakuan yang berlebihan bahwa Balai Pustaka (sangat) berjasa untuk perkembangan bahasa Indonesia. Kita boleh tidak percaya?

Kita akhiri membaca buku yang “mengecewakan” dengan mengutip paragraf di halaman 103, yang mengandung harapan muluk: “… berdasarkan bukti sedjarah dan mengingat sifat-sifat kesederhanaan serta unsur-unsur jang praktis dalam bahasa Indonesia, serta kedudukan Republik Indonesia jang berpolitik bebas dan aktif, bahasa kita akan mendjadi bahasa jang penting dan kuat diantara bahasa-bahasa jang ada di Asia-Afrika.” Pembaca boleh mengucap “amin” atau melongo selama lima menit.

___________________

Kabut. Penjual buku bekas dan pengrajin kliping.

Samping

JEJAK SENYUM

​Di antara sekian banyak ekspresi yang dimiliki manusia, senyum adalah yang paling paradoksal. Ia begitu remeh, sekadar tarikan otot di sudut bibir, namun ia mampu membawa makna lebih berat dari kata-kata. Kita memberikannya pada orang asing di jalan, pada pelayan di kafe, atau pada teman lama yang tak sengaja kita jumpai. Senyum bisa menjadi salam, permohonan maaf, atau bahkan senjata paling mematikan. Ia mata uang universal yang berlaku di setiap budaya, tak peduli bahasa atau keyakinan. Namun, di balik keremehannya, senyum menyimpan sejarah dan ironi yang tak pernah kita sadari.

​Secara filosofis, senyum adalah cerminan dari kompleksitas manusia. Ia bisa menjadi topeng sempurna, menyembunyikan badai dalam hati saat kita berhadapan dengan dunia. Kita tersenyum saat menerima kabar buruk, saat hati kita hancur, atau saat kita merasa sangat lelah. Senyum semacam ini bukan tentang kebahagiaan, melainkan tentang ketahanan. Ia pernyataan bisu bahwa “Saya baik-baik saja,” meskipun alam semesta terasa runtuh. Betapa ironisnya, sebuah ekspresi yang seharusnya melambangkan sukacita justru sering kita gunakan untuk membohongi orang lain—dan yang paling parah, membohongi diri sendiri. Senyum palsu adalah salah satu pilar utama peradaban modern, sebuah keharusan sosial yang menuntut kita untuk selalu tampil sempurna, apa pun yang terjadi di balik layar.

​Ada juga senyum jenaka dan menyindir, yang tak pernah kita temukan di buku-buku psikologi. Senyum ini seringkali muncul di wajah para pengamat yang bijaksana, yang melihat kekacauan di sekitarnya dan hanya bisa tersenyum. Senyum itu campuran sarkasme dan kepasrahan. “Lihatlah,” katanya, “betapa lucunya manusia dengan semua keseriusan dan ambisi kosong.” Senyum ini bentuk perlawanan pasif, sebuah cara untuk tidak terlalu peduli pada kekonyolan dunia tanpa harus berteriak atau melawan. Ia adalah kebijaksanaan yang tersembunyi, yang hanya bisa dimengerti oleh mereka yang juga pernah merasakannya.

​Namun, di antara semua senyum itu, ada satu yang paling murni dan paling langka: senyum yang muncul dari hal-hal kecil. Senyum yang muncul saat kita menemukan uang di saku jaket lama, saat kita mencium bau hujan pertama, atau saat kita melihat kucing tidur dengan posisi lucu. Senyum ini tidak direkayasa, tidak memiliki agenda tersembunyi. Ia adalah senyum kejutan yang muncul begitu saja, mengingatkan kita bahwa kebahagiaan sejati seringkali berada di luar rencana besar kita, tersembunyi dalam momen-momen yang paling remeh. Senyum inilah yang membuat kita terharu, karena ia adalah bukti bahwa di tengah segala kesulitan, masih ada hal-hal kecil yang bisa membuat hati kita hangat.

​Di dunia fiksi, senyum sering kali digunakan penulis untuk menyampaikan makna yang jauh lebih dalam dari apa yang terlihat. Ia bukan lagi sekadar ekspresi, melainkan simbol yang punya bobot naratif. Di sini, kita akan melihat bagaimana senyum dapat menjadi pilar utama sebuah cerita, tanpa harus menjadi obyek fisik yang bisa disentuh.

​Ambil contoh cerpen Senyum Karyamin karya Ahmad Tohari. Cerita ini sangat sederhana, namun ironi yang disajikannya begitu tajam. Tokoh utamanya, Karyamin, seorang kuli miskin yang hidupnya dipenuhi penderitaan. Namun, ketika ia jatuh dan mengalami kesialan, ia tidak menangis atau mengeluh—ia justru tersenyum. Senyum itu tidak datang dari kebahagiaan, melainkan dari sebuah bentuk penerimaan. Puncaknya, senyum itu ia berikan kepada Pak Pamong yang meminta sumbangan untuk orang-orang kelaparan di Afrika, sebuah ironi yang begitu menusuk hati, karena Karyamin sendiri berada di ambang kelaparan. Di sinilah senyum menjadi metafora yang kuat: ia adalah perlawanan yang sunyi, sindiran yang tak terucapkan, dan cerminan dari kepasrahan yang mendalam. Karyamin tersenyum karena ia telah melewati batas penderitaan, dan yang tersisa hanyalah sebuah ironi pahit yang hanya bisa ia sambut dengan senyuman.

​Lalu, bila hal ini dikaitan dengan menulis di era sekarang, apa esensinya? Menulis yang relevan adalah menulis yang mampu membongkar makna tersembunyi dari hal-hal yang paling remeh. Di tengah gempuran narasi besar dan sensasional, seorang penulis yang baik harus mampu melihat dan mengartikan keajaiban dalam detail-detail kecil. Sama seperti seorang seniman yang bisa menciptakan karya besar dari sebuah titik kecil, penulis juga harus bisa menemukan cerita yang beresonansi dari sebuah senyum, dari sebuah tatapan, atau dari sebuah keheningan.

​Menulis adalah seni untuk mengungkap apa yang tersembunyi. Mengajak pembaca untuk melihat sesuatu yang bisa jadi dari samping. Mengapa Karyamin tersenyum? Pertanyaan itu lebih penting daripada mengapa ia lapar. Karena di dalam pertanyaan itu, ada kemanusiaan, ada tragedi, dan ada perlawanan. Penulis yang mampu membuat pembaca tergelitik untuk bertanya tentang hal remeh seperti itu, berarti ia telah berhasil. Ia telah membuka mata pembaca untuk melihat bahwa di balik setiap gerak bibir, di balik setiap kata yang tidak terucap, ada seluruh alam semesta yang menunggu untuk dijelajahi.

​Mungkin, saat kita membaca ini, kita akan tersenyum. Mungkin senyum itu adalah senyum Karyamin, senyum yang muncul dari sebuah pemahaman. Atau mungkin, itu adalah senyum yang muncul karena kita sadar, bahwa selama ini, kita juga telah menjalani hidup dengan senyum-senyum yang remeh namun penuh makna. Entah itu senyum kesabaran, senyum kepasrahan, atau senyum karena menemukan uang di saku jaket. Dan itulah keindahan dari hal-hal remeh: mereka tidak pernah benar-benar remeh. Mereka adalah bagian dari siapa kita, dan siapa kita di mata dunia.***

___________________

Yuditeha. Penulis dan penyanyi puisi

Belakang

HILANG DAN PEMBACA

Satu atau dua lembar hilang, pembaca merasa di jalan yang sesat. Lembaran terlalu penting bagi pembaca yang ingin mendapat judul, nama pengarang, penerbit, dan tahun terbit. Yang terjadi adalah lembaran-lembaran yang memuat keterangan penting justru hilang.

Pembaca hanya menduga buku itu tua. Ia masih berusaha menemukan tanda-tanda dalam buku berupa stempel atau coretan. Ada coretan menggunakan pensil tapi kata-kata tidak terbaca. Rupa tulisan sudah kabur. Buku kecil yang tanpa judul. Buku kehilangan nama pengarang. Buku yang tidak bisa menerangkan penerbitnya. Apakah pembaca menyerah dan memilih buku itu tertutup selamanya?

Kehilangan yang menyedihkan adalah sampul. Yang tampak, sampul buku gantian masih ada. Sampul yang asli hilang. Sialnya, sampul gantian tanpa keterangan. Sampul dan lembaran-lembaran yang hilang tidak untuk ditangisi semalaman. Buku itu mengabarkan kehilangan-kehilangan.

Buku masih bisa dibaca di bawah lampu dengan sinar berwarna kuning atau memilih terkena sinar matahari saat pagi. Buku itu hasil dari kesaktian mesin cetak. Pada awal abad XX, mesin cetak berhasil mengubah lakon tanah jajahan. Mesin menghasilkan beragam bacaan, yang mendatangi orang-orang untuk mengetahui cerita, sejarah, teologi, politik, perdagangan, pendidikan, asmara, dan lain-lain. Di tanah jajahan, mesin cetak yang berisik mencipta “suara-suara” yang menimbulkan “badai” atau “guncangan”. Orang masih meragu boleh membuka matanya selama tiga jam untuk membaca tulisan-tulisan Ben Anderson.

Dulu, mesin cetak itu biasanya dimiliki oleh orang-orang Eropa atau peranakan Tionghoa. Mereka berani menggerakkan modal dalam menghasilkan bacaan-bacaan. Mesin yang menjadikan huruf-huruf di kertas menimbulkan seberan iman, sengketa ideologi, keinsafan sejarah, dan hiburan mendunia.

Pembaca perlahan yakin bahwa buku yang kehilangan sampul dan beberapa lembar itu hasil dari mesin cetak yang diurus peranakan Tionghoa. Penulis buku pastinya peranakan Tionghoa. Penerbit pun menjelaskan kekuatan bisnis bacaan awal abad XX.

Apa yang masih bisa digunakan sebagai bukti bila buku itu masuk dalam derasnya arus bacaan dari kaum peranakan Tionghoa di tanah jajahan? Pembaca malu-malu menunjuk tema dan bahasa “Melajoe” yang digunakan dalam buku. Isi buku mengenai “ilmoe petangan”, yang disajikan melalui “sjair”. Buku bercitarasa sastra. Pembaca mulai ikhlas tidak mengetahui judul, nama pengarang, dan penerbit. Yang terpenting ia bakal klenger membaca “sjair” di seratusan halaman.

Pembaca pilih-pilih kutipan, yang mudah dimengerti dan membenarkan bahwa buku ditulis oleh “orang jang berilmoe”. Kutipan yang memasalahkan nasib atau peruntungan: Beli pisang dari Blitoeng/ Belon beboewa soeda berdjantoeng/ Di dalem kitab soeda diitoeng/ Angkauw berdagang misti beroentoeng. Buku menjadi bacaan orang-orang yang berdagang tapi membutuhkan pengetahuan dan pijakan. Percayalah buku itu laris dan diakui berfaedah bagi para pembacanya yang berdagang atau menunaikan beragam pekerjaan. Yang terpenting adalah “beroentoeng”. Pikirkanlah kerja yang beruntung, bukan pisang yang bisa digoreng atau direbus!

Berlimpahnya “sjair” dalam buku menimbulkan kebingungan untuk memilih. Yang terbaca adalah “sjair” dalam bahasa “Melajoe” yang dicap pasar atau bahasa “Melajoe” yang biasa digunakan kaum peranakan Tionghoa. Kutipan yang terpilih lagi: Kauw maoe taoe artinja kakedoetan/ Boekannja iblis atawa setan/ Dalem dua atau tiga hari poenja boewatan/ Kau misti trima oewang soeda kliatan. Masalah peruntungan memiliki tanda-tanda. Jadi, “sjair” itu mengingatkan gairah atas peruntungan menentukan lakon perekonomian di tanah jajahan. Bisnis tidak selalu berlogika tapi peruntungan sangat penting.

Orang yang sulit tidur mendingan membaca “sjair” berjumlah ratusan. Dibaca pelan-pelan sambil menikmati nada dan rasa bahasa masa lalu. Kata-kata yang digunakan dalam “sjair” berulang-ulang dan polanya sering sama. Yang membaca mungkin “dibunuh” jenuh tapi keinginan mengerti yang silam dapat membuatnya bertahan sampai bulan sabit mengalamai kesepian di dini hari.

“Sjair” yang dibaca: Pengliatan ini terlaloe heran/ Djangan angkauw boeat koeatiran/ Angkau oentoeng dengen atoeran/ Dari sebab mengimpi poenja lantaran. Di situ, ada mimpi. Konon, ilmu tua dinamakan tafsir mimpi. Dulu, kita mudah menemukan buku-buku mengenai tafsir mimpi yang dijual di pasar malam, terminal, makam, dan kios koran. Buku itu biasanya kecil, kertas buram, sampul yang norak, dan harganya murah. Sejak dulu sampai sekarang, tafsir mimpi masih diminati banyak orang. Di mimpi, orang bisa membayangkan dirinya kaya atau dijerat kemiskinan. Mimpi yang memberi tanda-tanda agar diwujudkan atau berlalu dan terlupa saja.

 Siapa pembaca buku itu pada masa lalu? Pembaca yang memiliki pengetahuan sastra, bisnis, sosial-kultural, dan teologi? Pembaca yang menikmati “sjair” sebenarnya sedang belajar beberapa hal, yang mudah atau sulit terpahami. Maka, yang membaca bisa membicarakan dengan keluarga atau teman. Mereka bisa sedikit berdebat sesuai pilihan “sjair” dan kepentingan-kepentingannya. Buku dapat pula sebagai pedoman pengajaran bagi orang-orang yang ikut kursus mengubah nasib. Mereka diajak memikirkan “sjair” yang sakti dan meyakini bakal ada yang terwujud.

Buku itu mungkin tidak pernah terbaca oleh Roestam Effendi, Amir Hamzah, Soetan Takdir Alisjahbana, dan Sanoesi Pane. Buku memang mengambil bentuk “sjair” belum tentu diinginkan oleh kalangan terpelajar dan pengarang. Buku itu bukan selera kaum pergerakan politik kebangsaan. Jangan percaya bila buku dibaca oleh Tan Malaka, Soekarno, Mohammad Hatta, atau Soetan Sjahrir. Namun, buku tetap memiliki banyak pembaca tanpa harus “diejek” atau “dituduh” seleranya rendah. Penerbitan buku yang sejak halaman awal sampai akhir adalah “sjair” sudah keberanian dalam mengandaikan penerimaan dan pemahaman pembaca.

Kini, kondisi buku tidak lagi utuh. Dulu, buku itu dipegang oleh beberapa orang di tenpat-tempat yang berbeda. Buku kecil yang melewati waktu dan tempat. Di tangan pembaca yang memiliki kepentingan-kepentingan berbeda, lembaran-lembaran buku dibuka untuk dibaca. Akibatnya, ada lembaran yang terlipat rusak, ada lembaran mendapat coretan-coretan menggunakan pensil, ada lembaran yang robek.  

Yang membaca pada masa sekarang berhadapan dengan bahasa yang tidak hidup lagi. Bahasa lama yang “menyulitkan” sekaligus memberi ikatan agar pembaca memiliki masa lalu. Gubahan “sjair” yang disajikan pengarang pun susah ditaruh dalam arus kesusastraan yang mendapat perhatian dalam pertimbangan estetika atau politis. Buku tidak diniatkan sebagai persembahan sastra tapi kesengajaan menggunakan “sjair” agar unik dan menghasilkan renungan-renungan tak berkesudahan.

___________________

Kabut. Penjual buku bekas dan pengrajin kliping.

Buku, Resensi

Gagal yang Direncana = Keberhasilan

Oleh Yuditeha

​Apa kabar dunia sastra, di mana keberanian dan kegagalan kadang berjalan beriringan? Saya baru saja menyelesaikan buku puisi yang, entah bagaimana, berhasil membuat saya beberapa kali menelan ludah. Bukan karena keindahan baitnya, melainkan karena keanehan, atau lebih tepatnya, kenekatan Beri Hanna, sang penulis. Buku ini bukan seperti kumpulan puisi, melainkan sebuah medan pertempuran aksara yang diberi judul ironis: akhiri patah hati (dramaturgi gagal). Ada sesuatu yang tumpah-tumpah hingga menyerupai tumpukan cat di kanvas, ada yang disusun dari huruf yang tumpang tindih, saling-silang, susunan kode-kode, dan ada pula yang hanya kumpulan simbol, seolah penulisnya tengah menguji batas kesabaran pembaca.

​Uniknya, di halaman-halaman awal, penulisnya dengan jujur dan tanpa tedeng aling-aling menyebut bahwa ia gagal berpuisi. Sebuah pernyataan yang mengejutkan. Seakan ia sedang menawarkan pertunjukan kegagalan yang sangat disengaja. Judul (dramaturgi gagal) menjadi penguat dari pernyataan itu. Sementara di halaman lebih awal lagi, Afrizal, sang pengulas, pun dengan santunnya seakan menyetujui, dan membahas mengapa buku ini pantas menyandang gelar produk gagal. Sungguh, sebuah narasi yang aneh dan membuat saya merasa geli. Apakah ini semacam teater absurd di mana kita semuanya duduk bersama menyaksikan sebuah kegagalan yang dipamerkan?

​Namun, ada sesuatu yang mengganggu pikiran saya. Saya merasa ada kejanggalan di balik pengakuan ini. Apakah benar sebuah kegagalan? Atau justru sebuah keberhasilan yang disamarkan? Apakah mungkin, dengan segala ironi dan sarkasme yang menyelimuti buku ini, sang penulis sedang menertawakan kita semua, para pembaca dan pengulas, yang terperangkap dalam jebakan definisi puisi yang kuno?

​Coba kita membayangkan, ada seorang koki dengan sengaja menyajikan hidangan yang hangus dan tidak keruan bentuknya, lalu berkata, “Ini hidangan gagal.” Di sampingnya, seorang kritikus makanan pun mengangguk, “Ya, ini memang hidangan gagal. Mari kita bedah kegagalannya.” Aneh, bukan? Namun, di balik kegagalan itu, ada sebuah pesan yang sangat kuat. Bahwa ia berani tampil beda, berani menantang pakem, dan berani tidak menjadi fotokopi dari koki-koki lainnya. Ini sebuah keberhasilan, keberhasilan untuk berdiri sendiri.

​Saya melihat hal yang sama terjadi pada buku puisi ini. Beri mengaku tidak bisa seperti penyair lain—ia menyebutkan beberapa penyair. Tapi ia mengambil jalan ekstrem, jalan yang mungkin terlihat bodoh dan naif, tapi sebenarnya sebuah deklarasi kemandirian. Ini bukan kegagalan, melainkan manifesto keberanian untuk berpuisi di luar zona nyaman. Ini kegagalan yang direncana. Dan judul akhiri patah hati mungkin bukan tentang patah hati dalam arti romansa, melainkan patah hati terhadap norma-norma sastra yang kaku.

​Puisi, pada esensinya, bukan tentang apa yang ingin disampaikan penyairnya. Puisi adalah apa yang tertangkap di kepala pembaca. Artinya, sebuah puisi tidak pernah berdiri sendiri. Ia membutuhkan pembaca untuk menjadi utuh, untuk menjadi hidup. Sang penulis mungkin sengaja menyajikan puisi gagal, yang hanya sebagiannya bisa dibaca, sebagiannya lagi kode dan simbol. Namun, di situlah kejenakaannya. Ia memberikan kita ruang kosong untuk diisi, teka-teki yang harus dipecahkan, misteri yang harus ditafsirkan.

​Ada semacam ilustrasi kisah, di mana seorang seniman modern menyajikan karya yang hanya berupa kanvas putih. Kritikus bertanya, “Apa maknanya?” Dan sang seniman menjawab, “Maknanya adalah apa yang kau lihat.” Beri, menurut saya, melakukan hal yang sama. Ia membebaskan kita dari beban harus memahami maksud, dan memberi kebebasan untuk menafsirkan. Sebagian saya bisa memahami, sebagian lagi tidak. Namun, sebagian yang bisa saya pahami terasa jauh lebih kuat dan personal, karena saya yang mencipta maknanya.

Hal pertama yang saya bisa mencipta makna dalam puisi-puisi Beri adalah banyaknya kata vodka. Dalam hal tertentu, disadari atau tidak, penulis memakai bahan yang sama di banyak puisi, dan Beri melakukannya di buku ini dengan kata itu. Kata Vodka kerap hadir. Hal ini semacam petunjuk bahwa secara kritis, kata ini bukan hanya merujuk pada minuman beralkohol, melainkan metafora untuk beberapa hal sekaligus. Vodka dapat melambangkan pelarian atau penghilang rasa sakit; untuk meredam kepedihan emosional, kegelisahan, atau trauma. Selain itu, vodka yang dikenal karena sifatnya bersih dan tawar, bisa mewakili kekosongan atau kenihilan—suatu upaya sia-sia untuk mengisi kehampaan. Di sisi lain, vodka sering diasosiasikan dengan kehangatan dan suasana sosial tertentu, penyair mungkin ingin menyoroti keintiman yang semu atau koneksi rapuh yang dibangun di atas zat alih-alih emosi sejati. Maka, vodka dalam puisi Beri, bukan sekadar detail, melainkan isyarat untuk menyampaikan perihal isolasi, kehampaan, dan pencarian makna yang gagal di tengah realitas yang menyakitkan.

Selain itu, hal lain yang saya merasa dapat mencipta makna tentu saja dari kejelasan tampilan diksinya. Dan salah satu puisi yang masuk dalam kategori tersebut ada di halaman 22. Dalam puisi ini Beri memberi pernyataan radikal yang melampaui batas-batas konvensional. Melalui fragmen-frahmen, puisi ini menyingkap paradoks mengerikan tentang buku prosa yang menulis dan membakar dirinya sendiri secara bersamaan. Penggunaan kata “bangsat” sengaja dipilih untuk menolak estetika keindahan dan menegaskan bahwa kehancuran yang terjadi adalah sesuatu yang keji dan brutal. Puncaknya, ia memberi deklarasi nihilistik yang menyatakan bahwa proses kreatif yang paling jujur dan menyakitkan tidak dapat dicerna atau dipahami secara rasional, melainkan sebuah misteri yang melampaui logika manusia.

Puisi di halaman 23 pun, diksinya cukup jelas. Sebuah puisi yang menggambarkan proses pemulihan trauma masa lalu. Cara mengantarkan kepada inti derita sangat halus. Luka emosional yang tak terucap selama bertahun-tahun diungkap melalui metafora brutal di bagian akhir yang melambangkan bekas luka psikologis yang dalam. Sebuah ironi menyakitkan dan pengakuan akan ketidakmampuan untuk memperbaiki kerusakan (yang mungkin ia penyebabnya). Namun sepertinya jauh di dasar pengertian ada sebuah penerimaan atas kepahitan itu.

Lalu kembali kepada masalah pengakuan gagal, di sinilah ironi terbesarnya. Dengan mengaku gagal, sang penulis justru berhasil menciptakan karya yang membuat saya berpikir lebih keras, lebih jauh, dan lebih dalam. Dengan mengaku gagal, ia justru berhasil membebaskan saya dari tuntutan harus mengagumi dan memahami. Ia memberikan kebebasan untuk merasakan, untuk menafsirkan, dan bahkan untuk tidak suka. Itu adalah kesuksesan yang sangat langka.

​Mungkin ini adalah sebuah sindiran tajam untuk kita yang terlalu bergantung pada ulasan dan interpretasi orang lain. Kita seringkali terbuai narasi-narasi baku tentang keindahan puisi, tentang makna yang harus dicari. Padahal, makna yang sejati adalah makna yang kita temukan sendiri, yang lahir dari interaksi kita dengan karya itu.  Buku puisi berjudul akhiri patah hati (dramaturgi gagal) yang diterbitkan dengan kendaraan Mesin Rekam (2025) ini bisa jadi adalah seruan untuk mengakhiri cara pandang kita terhadap sastra yang itu-itu saja.

​Ini adalah sebuah protes terhadap kesepakatan atas dasar kebiasaan, sebuah pernyataan bahwa menulis bukan lagi soal keindahan kata-kata yang muluk-muluk. Menulis di era digital, di era banjir informasi, adalah soal bagaimana kita berani tampil beda, bagaimana kita berani menantang pakem, dan bagaimana kita bisa memantik percikan-percikan pemikiran.

​Buku ini mungkin memang kegagalan dalam arti konvensional, tapi ia sebuah keberhasilan dalam arti revolusioner. Sang penulis berhasil membuat kita bertanya, apa itu puisi? Apa itu keberhasilan? Dan yang terpenting, ia berhasil membuat kita tersenyum kecil, karena di balik kegagalan yang dipamerkan, ada sebuah kejenakaan yang sangat cerdas. Di balik keseriusan pengakuan gagal, ada senyum kecil yang tersembunyi, seakan sang penulis tengah berkata, “Tersesatlah dalam karyaku. Aku sengaja membuatnya demikian.”

​Dan itu esensi yang relevan dengan zaman: Menulis bukan lagi soal keindahan, tetapi soal keberanian. Keberanian untuk menjadi diri sendiri, keberanian untuk menertawakan diri sendiri, dan keberanian untuk tidak menjadi seperti yang diharapkan. Buku ini adalah pengingat bahwa kegagalan bukan akhir, melainkan sebuah jalan baru. Di balik kegagalan, ada sebuah keberhasilan yang lebih besar. Gagal yang direncana sama dengan keberhasilan.

Karena saya baik hati, di akhir tulisan ini saya akan membocorkan salah satu puisi yang saya suka (semoga punulisnya tidak marah). Puisi ini berada di halaman 25, ditulis dengan format vertikal agak miring. Sementara tampilan puisinya ditulis dua kali, dengan susunan hampir bertupukan.

Menurut saya, ini eksperimen visual dan naratif yang sengaja dibangun di atas ketegangan. Penulis sedang berbicara tentang ketidakmampuan untuk melepaskan atau melupakan suatu peristiwa, seakan ingatan itu terus kembali, berbayang, dan mengganggu. Ada kenyataan tentang posisi yang tidak setara. Perihal trauma masa lalu yang tampaknya konyol tapi justru memiliki daya hancur yang nyata, dan tidak terduga. Ada rasa malu, amarah, atas luka yang disaksikan. Hal ini lebih dari sekadar penderitaan. Adalah sebuah trauma yang tumpang tindih, kebenaran yang absurd, dan keheningan yang tidak pernah benar-benar damai.***

_______________________________________

Yuditeha. Penulis dan penyanyi puisi.

Cerpen

Apa yang Kalian Tahu Tentang Nona Goodhouse?

Cerpen Aprilia Nurmala Dewi

“Hidup tidak akan pernah sempurna, dan adil.” Seorang pria yang mengenakan jas rapi dan kacamata gelap menggumam. Dia membaca catatan yang ditulis tangan di secarik kertas. Catatan itu ditemukan tak jauh dari mayat perempuan yang mati terjatuh dari balkon apartemennya tadi pagi.

“Kalian ingin menahanku?” Pria yang katanya mantan kekasih korban sudah berada di ruang interogasi. Tubuhnya maju mundur gelisah.

“Anda satu-satunya orang yang ada di sana saat kami tiba. Tidak lupa, Anda juga mengirim makian kepada korban. Menyebutnya ‘perempuan gila’ beberapa jam sebelum ditemukan tak bernyawa.”

“Makian.” Pria itu mendengkus. Salah satu ujung bibirnya terangkat. “Memangnya, apa yang kalian tahu tentang Noella Goodhouse?”

*

“Baiklah, sekali lagi saya ulang, apa yang kalian ketahui tentang Nona Goodhouse?” tanya seorang pria bersetelan gelap kepada sekelompok wanita anggota klub berkuda elit.

Wanita-wanita yang bahkan masih wangi setelah menunggangi kuda itu melepas helm dan sarung tangan mereka sambil saling melempar tatapan.

“Maaf, Tuan, siapa Anda dan apa hubungan Anda dengan Noella Goodhouse?” tanya salah satu wanita dengan mata menyipit tidak bisa menyembunyikan kecurigaan. Wanita yang lain mulai memandangi pria itu. Ada mata-mata penuh selidik, ada pula yang sedikit tertarik.

Setelah merasa cukup dengan penyelidikan mata, para wanita itu saling bertatapan lagi kemudian mengangguk-angguk. Seolah-olah ada kesepakatan ‘Dia tampan, tetapi mencurigakan’ yang tidak terucap di antara mereka.

Pria itu kemudian berdeham. “Marquez. Detektif Phillip Marquez.”

Para nyonya yang senang berkuda tampak terkejut.

“Detektif? Anda terlihat seperti aktor-aktor di drama televisi Hallmark.”

Mendengar itu, sebagian tertawa geli lalu salah satunya bertanya dengan serius. “Apa yang telah Nona Goodhouse lakukan sampai seorang penyelidik seperti Anda harus datang ke sini?”

Kali ini, Detektif Marquez jauh lebih terkejut. “Kalian belum mendengar kabar dari Nona Goodhouse?” Kening pria itu berkerut.

Well, sebenarnya dia tidak begitu sering datang akhir-akhir ini. Dia bersemangat saat pertama bergabung, setelah itu … entahlah.” Seorang wanita mengangkat bahu, tidak meneruskan keterangannya.

“Baiklah, apa kalian mengenal kekasihnya? Atau mantan kekasih? Atau siapa saja yang mungkin dekat dengannya?”

Pertanyaan itu kemudian mendapat tanggapan yang berisik. Mereka saling tanya jawab tanpa peduli keberadaan Detektif Marquez.

“Apa dia pernah datang bersama seseorang? Aku tidak memperhatikan.”

“Apa kau ingat kapan dia terakhir kali ada di sini?”

“Mungkin saja dia bosan, dia masih muda untuk menghabiskan banyak waktu dengan kuda.”

“Muda? Akhir tiga puluh?”

“Entahlah, aku bahkan tidak menyimpan nomor teleponnya.”

Detektif Marquez harus berdeham tiga kali agar keriuhan para nyonya berhenti.

“Nyonya-nyonya, menurut tetangga terdekat Nona Goodhouse, kalian adalah teman-teman yang paling sering dia bahas dalam pertemuan sesekali dengan para tetangga. Foto kalian ada di ruang tamunya. Dan, kemarin, kami menemukan dia tewas di apartemennya.”

Wanita-wanita itu terbelalak. Hening seketika.

“Oh, Tuan Detektif, maaf tapi Anda bisa saja salah. Kami tidak sedekat itu dengannya. Kalau boleh memberi saran, Anda bisa mencoba mengunjungi sebuah klub tango di Durant Ave. Mereka membuka kelas dan Nona Goodhouse pernah mengatakan akan bergabung di sana,” ujar salah satu wanita tiba-tiba.

“Kapan Nona Goodhouse mengatakan itu kepada Anda?” Detektif Marquez menatap wanita pemberi informasi sambil menyiapkan catatannya.

Wanita yang ditatap terlihat grogi. “Ah, tidak, bukan mendengar langsung. Aku melihatnya di snapchat eh entahlah, aku rasa di instagram.”

Begitulah perasaan yang ditimbulkan oleh pertanyaan petugas kepolisian. Mereka mampu membuat seseorang merasa ragu bahkan pada diri sendiri. Lalu, seseorang itu akan tiba-tiba merasa takut meski tidak melakukan apa-apa.

Wanita itu bergegas bangkit dan mengenakan kembali helm dan sarung tangannya.

Detektif Marquez menghela napas, menutup buku catatannya. “Anda buru-buru, Nyonya?”

“Kami akan memulai kegiatan jika Anda tidak keberatan. Lagipula tidak banyak informasi yang bisa Anda dapatkan di sini, Detektif.” Wanita itu melangkah pergi disusul wanita lain satu per satu.

Detektif Marquez bangkit dengan sedikit payah. Dia merasa bobot tubuhnya bertambah padahal dia hanya minum kopi seharian. “Klub Tango, Durant Ave,” gumamnya sebelum meninggalkan para nyonya klub berkuda.

*

Detektif Marquez mendorong pintu kayu sebuah gedung tiga tingkat yang tidak begitu lebar. Tidak ada penanda apakah mereka sudah buka atau belum. Hanya ada sebuah papan nama dengan warna biru dan kuning menyala di tepi jalan, DIVINO DIA! Ini adalah kali ketiga Detektif Marquez mendatangi klub tango itu setelah gagal menemui siapa pun sebelumnya karena klub sedang tutup, bahkan di akhir pekan.

“Ada yang bisa kami bantu, Tuan?” Seorang pria botak mengenakan kaos oblong bertuliskan nama klub menyapa Detektif Marquez.

“Ah, tentu.” Detektif Marquez melepas kacamata hitamnya kemudian mengulurkan tangan.”Philip Marquez.”

“Esteban Orreiro.” Pria botak membalas dengan ramah kemudian mengajak Detektif Marquez menuju sofa di sudut ruangan. Klub itu punya banyak jendela dengan tirai-tirai abu-abu keperakan yang mewah tetapi tidak banyak kursi untuk duduk berbincang.

“Ah, Argentina?” Detektif Marquez mencoba berbasa-basi.

“Tidak, tidak. Banyak yang berpikir seperti itu tapi sebenarnya orang-orang Uruguay juga menarikan tango sejak lama. Aku berasal dari Montevideo. ”

“Aku sudah tiga kali ke sini, tapi sepertinya kalian sedang tutup.” Detektif Marquez tidak melanjutkan basa-basi pengetahuan umumnya yang gagal.

“Maaf, Tuan Marquez, kami hanya buka pada hari Rabu untuk kelas tango,” terang pria botak yang duduk merapatkan kaki.

Detektif Marquez mengelus dagunya. “Hanya sekali seminggu?” Dia mulai ragu. Detektif itu sudah mengunjungi klub berkuda dengan wanita-wanita yang senang bergosip dan berkumpul tiga kali seminggu tetapi hasilnya nihil. Dia menatap pria botak sambil berpikir.

“Apakah Anda berminat?” tanya pria botak membuyarkan lamunan Detektif Marquez.

Detektif Marquez tersenyum. “Apakah aku terlihat seperti seseorang yang ingin menari?”

Pria botak mengernyitkan dahi. “Maaf, tetapi aku melihat banyak pria gagah sepertimu di klub kami, Tuan. Mereka membawa pasangan untuk berlatih ballroom tango. Tentu banyak yang sedang mengikuti tren ini sekarang.”

Detektif Marquez lupa kapan dia benar-benar mengikuti tren selain menikmati bola basket wanita alih-alih menonton sepakbola.

“Maaf, Tuan, sebaiknya aku langsung ke pokok persoalan.” Wajah serius Detektif Marquez membuat pria botak di hadapannya cukup waspada.

“Persoalan?”

“Ya, apa yang Anda ketahui tentang Nona Goodhouse? Noella Goodhouse.”

Pria botak berkaos DIVINO DIA tampak melongo beberapa saat sebelum berdiri menuju sebuah ruangan kecil tak jauh dari tempat mereka duduk.

“Maaf, Tuan, apa pun persoalannya aku tidak tahu apa-apa dan aku perlu mengecek buku keanggotaan.” Tangannya yang gemulai tampak membuka lembar demi lembar sebuah buku agenda selebar surat kabar.

Detektif Marquez mengamati dengan saksama hingga kemudian mereka berdua menemukan nama dan foto Noella Goodhouse di lembaran hampir terakhir.

“Ah, Nona Cantik yang senang membawa buku. Dia baru belajar di sini beberapa pekan saja.”

Detektif Marquez memutar buku itu hingga tepat searah pandangannya sebelum mengeluarkan buku catatan.

“Buku? Buku seperti apa?”

“Beberapa buku yang yang cukup tebal, aku tidak begitu memperhatikan. Hanya saja menurutku sedikit membingungkan melihatnya membawa buku ke kelas tango. Tentu kau tidak punya banyak waktu untuk membaca di sini.” Pria botak itu terkekeh. “Seharusnya dia membawa pasangan, bukan buku. Tapi, ya tentu saja mungkin begitulah nona cerdas dari universitas.”

“Jadi, Anda tidak pernah melihat dia datang dengan seorang pria?”

“Seingatku hanya sekali dan mereka bertengkar hebat. Pria itu tidak lentur dan jelas tidak berminat sama sekali dengan kelas kami.”

Detektif Marquez mengangguk-angguk lalu menulis dengan cepat. Semua yang diucapkan pria botak dipindahkannya ke dalam catatan.

Tiba-tiba pria botak berdeham. “Tapi, Tuan, apakah Anda seorang kawan? Kekasih yang baru?”

Detektif Marquez menggeleng sambil memasukkan kembali bukunya ke dalam saku.

“Siapa pun Anda, tolong jangan beritahu Nona Goodhouse tentang apa yang kukatakan. Itu hanya pemikiranku saja setelah mengamati. Tapi aku tetap senang dia datang ke mari. Dia beberapa kali meminta kami berfoto dan dia mengunggahnya ke Instagram. Aku menghargai semangatnya.”

Detektif Marquez bangkit dan undur diri.

Pria botak mengulurkan tangan untuk bersalaman. “Sekali lagi kumohon tidak perlu membahas semuanya dengan Nona Goodhouse. Seharusnya penting bagiku menjaga kerahasiaan anggota. Maafkan aku sedikit cerewet hari ini.”

“Tuan Orreiro, terima kasih atas semuanya. Aku menjamin tidak akan mengatakan apa pun kepada Nona Goodhouse karena dia tewas di apartemennya minggu lalu.”

*

“Jadi, sudah seberapa banyak yang kalian tahu tentang Noella Goodhouse?”

Detektif Marquez melipat tangan di depan dada, menatap lurus mantan kekasih Nona Goodhouse. “Akan lebih banyak jika kau bermurah hati menceritakannya pada kami.”

Tidak ada yang lucu, tetapi pria itu tertawa.

Kening Detektif Marquez berkerut tetapi dia memilih menunggu mantan kekasih korban itu berbicara.

“Noella benar-benar gila. Atau … kau punya istilah lain untuk perempuan yang hanya hidup dalam halusinasi.”

“Langsung pada poinnya saja, Tuan.”

”Tuan Detektif, orang-orang hanya tahu apa yang Noella ingin orang tahu. Tak ada yang benar-benar tahu selain dirinya sendiri, dan tentu Tuhan kalau kau percaya itu,” katanya sambil mengacungkan jari telunjuk ke langit-langit ruang interogasi.

Detektif Marquez mulai kesal. Rahangnya mengeras mengirim pertanda bahwa dia tidak sedang main-main.

“Baiklah, Detektif. Aku minta maaf tidak bisa membantumu. Mungkin kau bisa membuka snapchat atau Instagram saja.”

Ucapan mantan kekasih korban itu membuat Detektif Marquez makin kesal. Sayangnya, dia tak menemukan sedikit pun tanda kebohongan.

“Kalau begitu, perlihatkan padaku. Sesuatu yang kau maksud tadi.” Detektif Marquez menyandarkan punggungnya di kursi, mencoba menunjukkan sikap rileks.

“Ah maaf aku tidak tahu, aku juga tidak melakukan instagram dan semacamnya. Itulah mengapa dia tidak tahan denganku.”

“Siapa? Nona Noella Goodhouse? Tapi kau mencintainya, ‘kan?”

Pria itu tertawa kecil. “Tapi aku tidak suka media sosial.”

Detektif Marquez menghela napas panjang, mematikan alat perekam suara di hadapannya, dan menutup buku catatan. Untuk pertama kali dalam kariernya, dia berpikir mungkin perlu memasang media sosial di ponsel.

“Oh, ya, Detektif Marquez, tentang catatan yang kau bacakan. Selamanya, hidup tidak akan pernah sempurna bagi Noella. Tidak cukup dengan terlihat sebagai anggota klub berkuda elit, menjadi anggota klub tango VIP di tengah kota, atau bagian dari klub baca akhir pekan bersama orang-orang cerdas universitas. Apa saja yang terdengar hebat itu tidak pernah cukup.”

Detektif Marquez bergeming. Pikirannya berputar-putar di terowongan sempit penyelidikan itu. Dan pada akhirnya dia hanya punya sebuah catatan terakhir dan mantan kekasih yang meracau tentang instagram.

“Sesungguhnya kau akan sulit mendapat informasi dari mereka yang kau pikir teman Noella. Dia tidak pernah benar-benar menghabiskan waktu dengan siapa pun selain dunia yang diciptakannya, Detektif.” Pria itu melanjutkan ocehannya yang mungkin sudah terpendam lama. “Jika akhirnya dia lelah mengejar kesemuan itu, aku tidak bisa berbuat apa-apa.”

Detektif Marquez masih terdiam. Dia mulai merasakan nyeri di perutnya. Mungkin karena kopi, mungkin juga karena kasus yang sudah membuang waktunya.

Dalam ruang interogasi yang makin hening, mantan kekasih Noella Goodhouse memandang lurus Marquez dan berkata dengan suara serak, “Kau terus bertanya tentang dia, Detektif, tapi kau sendiri, apa yang sebenarnya kau tahu tentangnya?”  Lantas, mantan kekasih Noella itu meletakkan kedua tangannya di meja interogasi, perlahan memajukan tubuhnya. “Aku penasaran. Apakah sekarang masih ada yang ingin kau tahu tentang Nona Goodhouse?” Pertanyaan itu yang menggantung di udara, lebih menusuk daripada jawaban apa pun.

Sinjai, 19 September 2025

____________________________________________

Aprilia Nurmala Dewi, tinggal di Sinjai, Sulawesi Selatan. Abdi negara yang senang menulis. Dapat ditemui di Facebook: Aprilia Nurmala Dewi dan Instagram: aprilianurmaladewi

Puisi

Puisi Septi Rusdiyana

Origami di Antara Rautan dan Pensil

Sepasang tangan melipat emosi,

pada kertas origami berwarna marun.

Sudut amarah bertemu sudut keputusasaan,

sisakan garis kegelisahan sepanjang harapan.

Tak peduli segerombolan ilusi terbahak-bahak.

Sepasang tangan itu terus membuat lekukan.

Sampailah ia pada sudut lipatan terakhir,

terbentuk balon udara.

Bagaimana bisa terlupa?

Kosong tanpa mantera.

Sepasang tangan itu beralih di kepala.

Menarik helaian sesal,

berusaha merontokkan nyeri di dada.

“Tuhan, rasa apakah ini? Sangat sakit,

hingga seingin apa pun menangis tetap tak bisa,” gerutunya.

Sisi mata hati murni menatap lekat

pada pensil tumpul di atas loker.

Cepat-cepat ditangkis bisikan sisi hati lainnya,

yang coba butakan di mana letak rautan.

Sepasang tangan meraih keduanya,

membiarkan mereka bercumbu membabi buta.

Ia kembali lupa,

hasrat tanpa kendali membuat pensil kerdil,

dan ujungnya terlalu runcing.

Rautan berbalut lembaran kayu tipis,

menggigit isi pensil yang sempat patah.

Sepasang tangan itu lunglai di meja,

menatap nanar pada ketiganya.

Pengharapan apa yang masih mungkin ditulis?

Ketika waktu tak lagi berpihak,

sepasang tangan itu meraih pensil,

ditusukkan ke balon udara.

Lubang kecil menganga.

Kembali pensil dan rautan disatukan,

kali ini bergumul mesra.

Napas terengah teratur.

Merapal doa capai kepuasan.

Rautan dan pensil kerdil menjaga balon udara.

Serutan dirauk, dimasukkan ke lubang terbuka.

“Aku memang tak sempat menuliskan mimpi.

Namun telah kutitipkan embusan rindu dalam serbuk kayu itu,” katanya lagi.

___________________

Perjalanan

dua buku terbaca judulnya saja

bahkan keripik kentang lenyap

seiring kopi panas yang menghangat

pikiran terbawa laju pada kecepatan 100 kilometer per jam,

bandung – yogyakarta

sayang, bayangmu justru bergerak melebihi cahaya

mengajak berputar-putar bak tornado

membawaku ke perjalanan lain di atas angin

“tenang, aku telah memintal jaring laba-laba serupa jembatan,” bisikmu

decit rem disertai klakson panjang menyentak,

disusul serapah juru kemudi

kami akhirnya menepi,

sejenak selaraskan irama jantung dengan napas

kupasang headset dan bantal leher

musik belum dimainkan,

tapi ajakanmu bercumbu sudah lebih dulu terdengar

sial, rupanya kau masih saja berani menggodaku

___________________

Mabuk Parfum

berlarian

melompat-lompat

berteriak

terbahak-bahak

bahkan kita telah lupa ledakan travo di seberang,

yang sempat buyarkan urutan angka di bangunan mimpi kita

lemon

kayu manis

sweet pea

sedikit koral

dan apel

kau yakin dengan rasa pikiran itu,

digerus dalam drum berbau anyir

hingga tanpa kau sadari, kumasukkan perisa anggur

kau mulai mempertanyakan keaslian aroma tubuhku

seperti buah berri,

juga pasir pantai yang barusaja tersapu gelombang

kupikir kau tak suka

aku menjauh,

dan kau menarikku

merobek kemejaku, persis saat kau berceloteh

aku kedinginan,

kau malah asyik ciprati asaku dengan parfum ciptaanmu itu

aku marah

tapi kau menciumku,

mengendus-endus seperti pudel peliharaanku

kurasa kau mabuk

jarimu menggambar masa depan di dadaku

desahmu seperti doa-doa panjang

kepalaku mulai pening

“bukankah kita sedang mabuk parfum?” tanyamu

ruang kosong ini kian pekat

“ya, dan aku ingin bercinta denganmu,” sahutku sambil menelanjangi perasaanmu

__________________

Ingatan Senja

Langkahku terhenti

Bangsal Kenanga, ruang 207

Sekilas siluet 3 tahun lalu memanggil

Meringis menertawakanku

Semalaman aku menimbang isi pesanmu

Kamu benar, lelaki sejati adalah sesiapa yang menuntaskan mulanya

Meski kita tak pernah nyata

Selangkah masuk, aku membatu

“Pertahankan jarak itu!” perintahmu

Manusia-manusia di pinggiran melirik, matanya menjerit-jerit

Cantik, hatiku riuh bersahut memujimu

Tulang-tulang menonjol, tak ingin kalah sibuk dengan pikiranmu yang terus mencipta rumus

Aku telah mantap

Sekotak masa depan koyak kususun kembali pada warna terang

Bukan biru gelap kesayanganmu itu

“Aku senang kamu datang.

Merah akan membuatku semakin indah,” sahutmu lagi

Enggan aku menunggu lebih lama

Sesaat aku sempat mencuri ingat warna sosokmu, kuning

Kusambar pistol di saku celana

Detail kuarahkan pada kaki cahaya terakhir netramu

Merah dan kuning berhamburan

Memutuskan lebur jadi satu

Tepat saat pistolku terjatuh, senja mengetuk dari jendela

Mimpiku biarlah menjadi impian

Meski di ujung napas namaku tak kau sebut

Aku berhasil menjadi pahlawan

Oranye adalah selimut keabadianmu

___________________

Septi Rusdiyana. Penulis tinggal di Yogyakarta. Ibu rumah tangga, penyuka cerpen.

Samping

JEJAK LUKA TANPA KELUH

​Di sebuah sudut jalan, kita sering berpapasan dengan orang yang tampaknya biasa saja. Pakaiannya tak mencolok, langkahnya teratur, dan sorot matanya seperti kosong, serupa lukisan yang belum selesai diwarna. Mereka mungkin bekerja sebagai pedagang asongan yang menjajakan rokok, atau pengemudi ojek daring yang menunggu pesanan di bawah terik matahari. Mereka bukan pahlawan super, juga bukan tokoh utama dalam drama yang kita tonton. Mereka hanya orang-orang yang, entah bagaimana, berhasil menelan penderitaan dengan senyum tipis.

​Hidup mereka lekat dengan serangkaian badai yang tak berkesudahan. Suatu hari, mereka bangun dengan kabar rumah kontrakan harus dikosongkan. Esok harinya, anak mereka jatuh sakit, biaya rumah sakit melambung, sementara tabungan sudah lama kering. Saat mereka berusaha bangkit, motor satu-satunya mogok. Setiap kali mereka mengira sudah mencapai dasar, ada saja yang menendang lebih dalam. Namun, keajaibannya, mereka tidak mengeluh. Mereka tidak menumpahkan amarah di media sosial, tidak mengadu pada siapa pun, bahkan pada diri sendiri. Mereka hanya menjalani, seolah semua itu bagian dari kurikulum wajib yang harus diselesaikan.

​Ironi yang paling menyakitkan adalah bagaimana masyarakat memandang mereka. Kita sering melihat keuletan itu sebagai inspirasi. “Lihat, dia begitu kuat! Masalahnya bertubi-tubi, tapi tetap tegar!” Kita mengagumi mereka, memotret mereka, lalu mengunggahnya dengan tagar #motivasi atau #inspirasipagi. Kita seakan lupa bahwa apa yang kita anggap ketegaran mungkin bentuk mati rasa, sebuah mekanisme pertahanan yang tercipta dari luka yang sudah terlalu banyak. Bukan mereka kuat, hanya sudah terlalu lelah untuk berteriak. Mungkin mereka tidak lagi menangis, karena air mata sudah habis terkuras.

​Di balik senyumnya yang tidak menuntut, ada lelucon tragis. “Kenapa kamu tidak mengeluh?” tanya kita, dengan nada kagum yang tulus. “Untuk apa?” jawab mereka, sambil tertawa kecil. “Mengeluh tidak akan membuat harga sembako turun, juga tidak akan membuat anak saya sembuh.” Jawaban itu, sederhana namun menohok, bentuk sindiran paling jenaka sekaligus pedih. Kita, yang sering mengeluhkan hal sepele, seperti lambatnya koneksi internet atau kopi kurang panas, tiba-tiba merasa malu. Mereka mengajari kita, tanpa disadari, tentang proporsi penderitaan yang sesungguhnya.

​Fenomena ini cermin tajam bagi kehidupan modern. Kita hidup di era di mana setiap orang punya panggung untuk mengeluh. Media sosial adalah etalase kesedihan, tempat di mana kita memamerkan luka-luka, berharap mendapat empati dan validasi. Kita menganggap penderitaan kita begitu unik, begitu spesial, sehingga harus diabadikan dalam bentuk utas atau status. Sementara, di dunia nyata, banyak orang menggendong beban jauh lebih berat tanpa pernah mengunggahnya. Mereka adalah bayangan bergerak di antara kita, membisikkan kebenaran yang tidak kita inginkan: bahwa kadang, yang paling menderita adalah mereka yang paling diam.

​ Kisah tentang orang-orang yang terlunta-lunta tanpa keluh juga banyak dalam karya sastra, salah satunya dapat kita temukan di novel Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari. Di sana ada tokoh Srintil. Penderitaan hidupnya datang bertubi-tubi. Dari kecil ia sudah kehilangan orangtua. Lalu harus menerima nasib sebagai ronggeng, yang dianggap rendah dan menjadi objek eksploitasi. Masalah belum berhenti sudah terseret dalam huru-hara politik yang membuatnya mendekam di penjara dan kehilangan segalanya.

​Namun, Srintil tidak pernah digambarkan sebagai sosok yang meratapi nasib dengan tangisan atau keluhan panjang. Ia tidak mencari simpati. Penderitaannya seolah sudah menjadi takdir yang harus ia terima. Ia terus berjuang, mencoba mencari jati dirinya yang hilang di tengah kehancuran. Tohari tidak membuat cerita ini jadi melodrama yang menguras air mata. Ia justru menyajikan kisah Srintil dengan gaya dingin dan realistis, seakan ingin menunjukkan bahwa penderitaan sebesar apa pun bisa menjadi bagian dari kehidupan yang biasa. Ini sindiran tajam tentang bagaimana penderitaan bisa membuat orang menjadi mati rasa atau, lebih tepatnya, menjadikan ketabahan sebagai satu-satunya pilihan.

​Maka, apa esensi menulis di zaman yang serba digital ini? Mungkin, bukan lagi tentang mencipta cerita yang sensasional, melainkan tentang merekam cerita nyata, yang sering terlewatkan. Menulis bukan hanya kata-kata yang indah, tetapi tentang keberanian untuk melihat, mendengar, dan menghormati keheningan di balik penderitaan. Kita harus menulis tentang mereka yang tidak bisa menulis kisah mereka sendiri, tentang para penderita yang tidak ingin menjadi pahlawan.

​Ada senyum kecil berselimut haru, ketika kita menyadari bahwa orang-orang yang paling kita kagumi mungkin orang yang paling hancur, kita akan tersentak. Kita mengira mereka kuat, padahal hanya pandai menyembunyikan kerapuhan. Kita mengira mereka bahagia, padahal hanya sudah terbiasa sedih. Senyum mereka bukan tanda kebahagiaan, melainkan tanda bahwa mereka telah menerima nasib buruk sebagai teman seperjalanan.

​Mungkin sesekali kita perlu menyimak dari samping, bukan untuk melihat siapa paling sering mengeluh, melainkan untuk melihat siapa paling sering tersenyum di tengah badai. Bukan untuk menghakimi, tetapi untuk memahami. Mungkin, kita akan menemukan bahwa di balik wajah yang datar, ada ribuan cerita yang tidak pernah terucap, air mata yang tidak pernah tertumpah. Dan mungkin, keindahan sejati dari hidup terletak pada kemampuan kita untuk menanggung beban tanpa harus membebani orang lain.

​Penderitaan, pada akhirnya tidak selalu butuh suara, kadang hanya butuh keheningan. Dan mereka yang memilih diam, yang terus berjalan meski lututnya sudah lemas, adalah monumen hidup yang harus kita hargai. Mereka mengajarkan kita bahwa satu-satunya cara bertahan dengan menjadikan jejak luka tanpa keluh. Dan kita, sebagai manusia yang masih bisa memilih, harus belajar untuk membaca jejak-jejak itu.***

___________________

Yuditeha. Penulis dan penyanyi puisi.

Puisi

Puisi Joe Hasan

Pulang

aku melihat kesepian

pada setiap kata-katanya

bahkan rumah

tidak selalu pulang baginya

aku, juga belum pulang untuknya

hanya sebagai persinggahan

hati mengatakan sama

bibir mengatakan beda

percakapan kita

adalah pulang baginya

yang tidak pernah ia temukan

pada rumah ibu

kira-kira seperti itulah

(Surabaya, 2025)

___________________

Doa

mengapa doa tak kunjung terkabul?

mungkin,

karena Tuhan ingin

agar kau terus berdoa

terus mengunjungi-Nya

terus menyebut nama-Nya

hal yang tak pernah kau lakukan

hingga di usia matang ini

 (Surabaya, 2025)

___________________

Katamu

katamu orang-orang mencariku

di matamu

benarkah?

kataku jangan

aku sedang sibuk menggambar di halaman ibu

sembari membaca doa para perantau

di tangan-Nya

bagaimana aku menelusuri?

sedang akulah debar di jantungmu

ya, aku mengutip sedikit ucapanmu

pada pidatomu yang terlampau diam

katamu orang-orang mencariku

di bening matamu

takkan ketemu

karena aku telah pulang

(Baubau, 2023)

___________________

Malam, Kawan

selamat malam, kawan

lama tak jumpa

ranjang ini memanggil sejak lama

dan kita hanya saling menunggu

malam ini milik kita

biarkan kulit yang bersuara

aku mencoba mengabadikannya

dalam kata-kata

hingga aku bingung

malam ini

kita sebagai kawan

atau sebagai kekasih

 (Suarabaya, 2025)

____________________

Sabda Si Pemalas

Tuhan, hari ini aku tak ingin berbuat apa-apa

kecuali tidur sepanjang hari

sampai magrib berkumandang

biar suci puasaku hari ini

kata seseorang yang pernah kudengar

Tuhan, bolehkah puasaku hari ini

diberi pahala yang banyak

sebab tidurku bukanlah caci maki

bukanlah maksiat

di ujung kamar sana

ada ponsel bersuara

“ndasmu.” dari lelaki gemoy

Tuhan, sepeti itukah jawabanmu

atas malasku?

(Surabaya, 2025)

___________________

Joe Hasan, lahir di Ambon pada 22 Februari. Tulisannya dimuat di media cetak dan online. Buku Puisinya, Dosa Termanis (2024).

Belakang

GURU ITU BUKU

Para pembaca novel-novel berbahasa “Melajoe” atau Indonesia masa 1920-an dan 1930-an mungkin enggan membuat album ingatan. Konon, pelajaran di sekolah dan omelan para kritikus sastra mengakibatkan kita malas memuliakan sastra bercap Balai Poestaka atau Poedjangga Baroe. Kita capek membaca gara-gara bahasa: ejaan dan gaya. Kita pun dibikin bosan: pengulangan tema atau pemuatan hal-hal yang tidak penting tapi bikin sesak cerita.

Siapa yang masih merawat ingatan setelah membaca novel-novel masa 1920-an dan 1930-an? Yang teringat mungkin nama-nama tokoh dalam cerita selain judul-judul novel (roman). Kini, novel-novel itu makin kehilangan pembaca walau Balai Pustaka beberapa tahun lalu tetap mencetak ulang dengan garapan sampul baru yang jelek dan salah.

Para pembaca yang masih sabar mengasuh masa lalu dan memuliakan novel-novel bisa membuka ingatan untuk membuat catatan-catatan (tidak) penting. Maksudnya, yang teringat lekas dicatat agar bisa dipikirkan sejauh satu meter atau cukup sepanjang penggaris milik murid SD.

Kita berharap ada pembaca yang mencatat jenis-jenis pekerjaan yang terkandung dalam novel. Bayangkan ada orang membaca selusin novel masa 1920-an dan 1930-an. Ia mencatat nama para tokoh dan pekerjaannya. Maka, kita bisa menduga ada kebiasaan para pengarang memunculkan tokoh yang bekerja sebagai guru.

Novel-novel dari masa lalu mengingatkan guru. Pada awal abad XX, pekerjaan sebagai guru memberi kehormatan. Namun, kita memikirkan lagi: guru itu bekerja di sekolah-sekolah milik pemerintah kolonial, perkumpulan atau partai politik, atau komunitas agama. Kemunculan guru berbarengan modernitas dan perwujudan Politik Etis. Yang bekerja menjadi guru adalah sosok-sosok yang berilmu. Ia pun wajib memiliki kesopanan, keberpihakan ideologi, dan mengerti gejolak zaman.

Jadi, tokoh sebagai guru muncul dalam berapa novel yang diterbitkan Balai Pustaka dan penerbit-penerbit partikelir, sejak masa 1920-an? Tugas kita bukan berhitung dan memberi bukti-bukti. Kita meyakini saja bila guru sering dihadirkan dalam novel-novel berbahasa “Melajoe” atau Indonesia. Para pengarang masa lalu pun ada yang pekerjaan tetapnya adalah guru.

Yang mengisahkan dan menjelaskan guru bukan cuma novel. Buku-buku bertema pendidikan dan guru juga gencar diterbitkan di tanah jajahan, sejak awal abad XX.  Kita yang masih mau lelah membaca gara-gara bahasa dan tidak takut bersin-bersin saat membukan lembaran kertas lawas berdebu bakal menemukan masa lalu dan berdekatan dengan sosok guru.

Buku masih terpegang tangan berjudul Ngelmoe Goeroe. Yang kita hadapi adalah buku berbahasa Jawa. Artinya, buku yang dapat memberi imbuhan bagi kita mengenali guru selain dalam buku-buku yang berbahasa “Melajoe” atau Indonesia. Kita bersyukur yang terbaca adalah buku berbahasa Jawa tidak menggunakan aksara Jawa. Kita bisa mencret dan pusing selama tiga hari jika harus membuka lembaran-lembaran beraksara Jawa.

Buku berjudul Ngelmoe Goeroe disusun R Soedjanaredja, yang berstatus “mantri goeroe ing Karanganjar”. Guru menulis buku itu kemuliaan. Guru yang ikut memajukan usaha pengajaran dan pendidikan membuktikan keseriusan mengubah nasib tanah jajahan.

Buku terbit 1931 berkaitan debat panjang dan pelik mengenai kebijakan pemerintah kolonial terhadap sekolah dan guru partikelir. Guru-guru dicurigai ikut bikin kacau dan keruh gara-gara berpolitik dan melakukan serangan terhadap kolonialisme.

Arti di Jogjakarta, perusahaan yang menerbittkan buku memiliki harapan: “Soemebaripoen serta poenika tamtoe bade mewahi gamblangipoen para goeroe ing pamoelangan alit anggenipoen nindakake padamelan.” Buku petunjuk atau pedoman yang membuat para guru dapat mengajar secara baik dan benar. Buku diakui penting agar pengajaran menemukan hasil-hasil yang diharapkan.

Soedjanaredja menjelaskan jenis-jenis buku atau “lajang” yang digunakan dalam pengajaran di sekolah. Yang pertama disebut “Leerboek”. Keterangan: “Lajang piwoelang ngelmoe boemi, ngelmoe etoeng, woelang basa lan lija-lijane. Kabeh isi kawroeh kang oeroet-oeroetan (samboeng-sinamboeng) kang preloe disinaoe dening moerid.” Buku yang dimaksud adalah yang memuat ilmu bumi, ilmu hitung, pelajaran bahasa, dan lain-lain. Murid-murid mempelajarinya secara berkesinambungan dan berjenjang.

Yang kedua adalah “Leesboek”. Soedjanaredja mengartikan itu “lajang watjan” atau buku bacaan, yang berbeda dengan buku pelajaran. Buku yang dimaksud adalah huku yang berisi “tjarita kang roepa-roepa kang ora mesti oeroet-oeroetan.” Buku memuat cerita-cerita, yang cara menikmatinya berbeda dari buku pelajaran. Biasanya “lajang watjan” mengisahkan lakon kehidupan bocah atau binatang. Cerita-cerita sederhana yang memikat dan merangsang murid belajar banyak hal dalam sukacita.

Yang ketiga disebut “Leerlesboek”. Buku yang digunakan dalam mengajar yang tidak harus urut atau bersambungan tapi menerangkan ilmu-ilmu yang dipelajari murid sekaligus membuat mereka lancar dalam membaca.

Kita penasaran dengan beragam buku yang terbit pada awal abad XX. Buku-buku yang digunakan di sekolah-sekolah demi sumpah maju dalam peradaban. Buku-buku terbit dalam bahasa Belanda, “Melajoe”, Jawa, Sunda, dan lain-lain. Ingat, sejarah pendidikan di Indonesia adalah sejarah kertas-kertas atau buku. Yang terpenting sejarah memberi peran besar kepada guru.

Di buku lawas hampir berusia seratus tahun kita menemukan halaman-halaman mengenai pelajaran menulis huruf Latin. Dulu, anak-anak di tanah jajahan yang ingin “madjoe” mesti mengetahui huruf Latin. Surat kabar dan buku-buku yang terbit di zaman “kemadjoean” sering berhuruf Latin. Yang ingin mengetahui zaman dianjurkan bisa membaca dan menulis berhuruf Latin. Modernitas itu datang dari Barat, yang mengubah tanah jajahan melalui huruf dan bahasa.

Yang tidak terlewat adalah pengajaran untuk menulis berhuruf atau beraksara Jawa. Dua hal yang berbeda. Murid-murid memiliki kesulitan yang berbeda agar mahir menggerakkan jari dan alat tulis di atas kertas. Jadi, murid-murid yang bisa menulis (Latin atau Jawa) diharapkan memiliki masa depan yang terang. Mereka memiliki bekal untuk bekerja. Yang dimaksud adalah pekerjaan-pekerjaan yang cukup mapan, yang memerlukan kaum terpelajar atau penerapan ilmu-ilmu.

Bab penting lagi yang ikut memajukan pendidikan di tanah jajahan adalah bercerita. Di halaman 83, Soedjanaredja menjelaskan masalah pengajaran bercerita atau “piwoelang tjarita”. Tujuan guru mengajarkan bercerita: “soepaja moerid seneng atine, soepaja kawroehe moendak, soepaja kelakoeane dadi betjik, soepaja basane moendak betjik, nipisake goegon toehon, bisa mbedakake ala lan betjik, bisa goeneman kang ganep.”

Kita mengartikan bahwa memberi cerita kepada murid-murid itu berkaitan dengan pengetahuan, perasaan, berbahasa, tingkah laku, dan lain-lain Cerita-cerita dianggap mudah diterima dan berkesan kepada murid-murid. Dampaknya besar ketimbang selalu memberi perintah dan larangan dalam pembahasaan resmi.

Yang kita buka adalah halaman-halaman buku lawas, yang mungkin tidak digunakan lagi pada masa sekarang. Buku yang diperoleh adalah jilid dua. Di mana buku yang jilid satu? Apakah buku masih ada di Indonesia atau Belanda?

Bila beruntung buku-buku seharusnya tersimpan oleh anak-cucu-cicit Soedjanaredja. Mereka pasti kagum memiliki leluhur yang guru dan sanggup menulis buku untuk pedoman pengajaran para guru di Jawa atau tanah jajahan. Pada masa lalu, guru yang menulis buku adalah manusia ampuh. Ia berada dalam arus keaksaraan yang menjadikan zaman berubah oleh bacaan-bacaan.

___________________

Kabut. Penjual buku bekas dan pengrajin kliping.