Ragam

BABAD DI ATAS TIKAR DAN SEBOTOL TEH

Lampu-lampu menyala dan tikar-tikar menanti para pembaca yang mengaku memiliki malam di perbatasan Solo. Mereka duduk semaunya, menaruh raga di bawah lampu-lampu putih, yang tidak seutuhnya terang. Yang di atas tikar ingin merayakan buku, yang memerlukan lampu. Buku tak terbaca saat gelap.

Tempat itu berlantai kayu. Namun, orang-orang memilih menggelar tikar. Kepatutan dalam pertemuan. Bangunan yang berkayu dan berbambu seperti lama dalam kesepian. Malam itu sedang menantikan kata-kata yang dihambur-hamburkan oleh moderator, pembicara (pengulas buku), dan pengarang.

Penyapu saat itu ikut duduk bersama kaum buku. Ia sejenak menaruh tubuh di atas tikar, bergeser sebentar untuk duduk di papan-papan kayu yang ditata lumayan rapi. Semula, ia berpikir Minggu, 3 Agustus 2025, bakal rampung dengan sapu dan tongkat pel. Malam itu ia berhasil mendatangi tempat yang cukup jauh. Senja, ia meninggalkan GOR Badminton Blulukan (Colomadu) setelah keringat mengalir dan lelah. Di situ, setiap hari, ia menyapu dan mengepel untuk tiga lapangan yang digunakan para pemain bulutangkis dari pelbagai klub dan kelompok. Pamit dari gedung yang masih ramai dengan jamaah badminton. Permintaan izin untuk bisa dolan dan bertemu (kaum) buku di sebelah timur Solo.

Malam yang meminta angin. Penyapu merasakan angin yang kencang. Angin itu datang dari atas. Tampaklah dua kipas angin yang kusam. Buku pun merindu angin. Di sisi kiri tempat obrolan, penyapu melihat “petromaks” yang tidak menyala. Ia sudah karatan dan kotor. Bertahun-tahun, ia pastinya tidak menyala, hanya tergantung saja. Yang bertugas memberi terang saat malam adalah lampu-lampu, yang saat itu ikut menentukan nasib buku. Penyapu membayangkan masa lalu saat orang-orang berani membaca buku menggunakan lentera atau “petromaks,” belum lampu-lampu berlistrik. Pembaca yang mungkin syahdu.

Lampu dan kipas ingin merestui orang-orang yang lesehan di tikar untuk mengobrolkan novel berjudul Babad Kemuning (2025) gubahan Yuditeha. Novel yang baru saja lahir di jagat sastra Indonesia oleh Penerbit Buku Kompas. Penyapu datang untuk menghormati pengarang, sebelum ingin mengerti buku. Ia belum memiliki dan membacanya. Kedatangan memang untuk menjadi awam, yang tak berbekal khatam novel atau mengikuti arus perkembangan sastra mutakhir. Lama, ia dalam keterpencilan.

Di samping penyapu, pengarang yang makin kehilangan rambut. Ia penikmat kretek yang tulus. Berulang A Sampoerna menyala, menghasilkan abu-abu ditaruh di asbak gadungan berupa irisan gedebok pisang. Pengarang yang berasap, yang mulai menuturkan masa subur sebagai pengarang. Sebelum perayaan Babad Kemuning, ia terbukti rajin membuat cerita pendek yang beredar di pelbagai koran cetak dan situs. Ia pun menggarap esai-esai kecil mengenai bacaan dan kepengarangan.

Penyapu menikmati kata-kata dari lelaki yang sopan, diselingi tawa yang merdu. Percakapan dua lelaki yang lama tidak bertemu. Yang satu adalah tukang sapu. Yang satu adalah pengarang novel. Yang terbukti adalah Yuditeha memastikan sastra Indonesia tidak sekarat. Ia selalu mengabarkan pemuatan cerita pendek, yang membuat orang-orang masih bersantap sastra ketimbang debat sembrono atau marah-marah yang picik di media sosial.

Malam tanpa “petromaks” yang menyala, penyapu mendapat suguhan teh. Ia terlarang mengeluh gara-gara di hadapannya bukan segelas teh panas atau hangat. Yang tersaji adalah sebotol teh yang mencantumkan kata-kata “Teh Pucuk Harum”. Gelas sedang absen. Panas dan hangat cuma khayalan.

Sebelum buku adalah lagu. Panji Sukma menjadi lelaki bergitar. Ia masih membutuhkan mikrofon, yang menjadikan suara menjadi terdengar keras. Mengapa lagu-lagu mengawali buku? Penyapu belum kepikiran dengan model acara-acara sastra yang turut menghadirkan lagu. Kapan-kapan ia ingin membuat catatan kecil agar menemukan keselarasan yang lama terabaikan.

Tiba saatnya orang-orang bicara tanpa duduk di kursi. Moderator dan dua pembicara lesehan, memastikan tikar plastik menjadi saksi bahwa novel masih dambaan di zaman yang keparat.

Septi Rusdiyana, yang menjadi moderator, memberi awalan sebagai pembaca Babad Kemuning, yang mengarah ke perasaan-perasaan para tokoh, terutama yang perempuan. “Yuditeha menceritakan perasaan perempuan dengan lugas dan jernih,” ujar Septi, Penyapu hanya mendengar, tidak mampu membantah atau menyetujui. Ia belum pembaca Babad Kemuning. Ia sengaja hadir sebagai awam, yang kangen obrolan novel dan menonton pengarang yang sedang kondang di seantero Indonesia.

Di tangan Budi Waluya, terlihat kertas berisi catatan. Pada mulanya, kertas itu terlipat. Pada saat jatahnya untuk bicara selaku pengulas, Budi membuka lipatan kertas. Matanya kadang mengarah ke kertas, sebelum menyampaikan kepada orang-orang yang memberikan telinga. Ia tidak membuat makalah, sekadar catatan meski di keseharian dirinya adalah dosen di UNS dan bergelar doktor.

“Pengenalan konflik lambat,” kritik yang diajukan Budi. Ia agak malu-malu untuk membaca beberapa kritik, Namun, keberanian perlahan muncul saat mulai tersenyum. Buktinya, 50-an halaman awal dalam Babad Kemuning menjadikan Budi merasa lambat berjalan di cerita. Ia mungkin capek tapi akhirnya menemukan konflik, yang mengesahkan novel pantas terpuji, selain kritik-kritik.

Penyapu menyimak sambil berperang melawan selusin nyamuk perkasa. Ia membahasakan ulang apa-apa yang diucapkan Budi, lelaki yang mulai beruban dan tampak mengenakan kaos bergambar Semar. Yang dicatat penyapu setelah menyimak: “Novel butuh teka-teki!”. Perkara itulah yang ikut menentukan nasib Babad Kemuning bagi pembaca yang keranjingan novel atau orang yang menjadi pemula menikmati fiksi.

Giliran Yulita Putri mempersembahkan kata-kata. Ia tampil tak berkerudung tapi penyapu melihatnya berkerudung cerita. Yulita terlalu serius mengurusi novel, yang membuatnya lancar memasalahkan hak-hak anak, seksualitas, alam, kolonialisme, dan lain-lain. Ia bicara lantang, hampir tak ada keraguan dalam menyatakan pendapat-pendapat.

Yulita mahir mementingkan sisi perempuan dalam Babad Kemuning. “Novel ini membuat ingatan teh melebar,” katanya. Ia meyakinkan orang-orang yang bersantai di atas tikar bahwa perkebunan teh bukan sekadar latar untuk sinetron atau film picisan. Teh pun tak hanya minuman. Teh lebih dari komoditas. Novel yang dianggapnya memanggil sejarah. Namun, Yulita malah memanggul beban kebingungan atas sejarah.

Konklusi yang agak tergesa dari Yulita: “Babad Kemunging membuat pembaca banyak pertanyaan.” Ia mungkin menempatkan diri sebagai pembaca yang menggunakan seribu mata. Pembacaan yang bakal melelahkan dan berkepanjangan. Di hadapan novel, ia telanjur “bercocok tanam” pertanyaan, yang belum diketahui jadwal panennya.

Yang mendengar pembahasan Yulita Putri menemukan kekhasan. Pada tuturan-tuturan yang emosional, ia mengakhirinya dengan “seperti itu”. Usaha agar pembaca meyakini omongan atau pendapatnya, setidaknya mau memberi perhatian terhadap hal-hal yang sebelumnya disampaikan. Jadi, penyapu maklum saat mendengar belasan “seperti itu” terucap dalam nada tinggi atau rendah.

“Aku tidak mau klarifikasi,” perkataan Yuditeha sebagai bentuk tanggapan atas hal-hal yang sudah disampaikan Budi dan Yulita. Hampir semua yang dikritik oleh dua pengulas diterima Yuditeha. Ia senang berdalil bahwa kritik itu “peringatan-peringatan dari pembaca yang mahal”. Pengarang yang mengaku beruntung mendapat hasil pembacaan yang serius. “Dikritik jangan marah,” pesannya. Pada saat ikut duduk bergabung bareng moderator dan dua pembicara, pengarang itu tidak merokok. Sebungkus rokoknya tertinggal di samping penyapu.

“Kritik membuatku menyadari ketidaksempurnaan,” ungkap Yuditeha. Yang membuat pengarang terharu adalah “ketepatan” pembacaan Yulita atas tokoh perempuan dalam novel. Pengarang yang merasa menemukan pembaca yang intim, menyentuh pengalamannya sebagai pemulis fiksi dan pembuat album biografi perempuan, terutama ibu. Terharu yang disusul pengakuan tidak kentara mengandung sesalan dan kecewa. Ia merasa belum matang dalam penokohan dan luput menghadirkan pembayangan sejarah dalam novel melalui makanan, pakaian, bunga, dan benda-benda.

Pendengar yang khusyuk selama obrolan adalah perempuan yang rambutnya dikepang. Ia menyebut nama Sekar. Berbagi cerita dan sedikit mengajukan pertanyaan. Yang terasakan sebagai pembaca novel adalah “emosi membuncah”. Penyapu memandangi perempuan dengan rambut berkepang, yang seperti menemukan tokoh dalam novel-novel lawas di Indonesia.

Pertanyaan dijawab pengisahan ke sembarang arah oleh Yuditeha. Siasat agar jawaban tidak terlalu gamblang. Yang mengejutkan, Yuditeha menyatakan bahwa novel itu semula berjudul “Daun Emas.” Pada akhirnya, penulisan dirampungkan dan terbit berjudul Babad Kemuning.

Seorang gadis bernama Gadis memberi penampilan lain, pembacaan puisi karya Chairil Anwar, berjudul Kerawang Bekasi.

Pada saat mau berakhir, Panji Sukma duduk lagi di kursi. Tangan tampak bergitar dan mulut di depan mikrofon. Pengarang kondang yang mengoleksi beragam penghargaan, yang malam itu memilih menjadi penyanyi. Ia berada di kursi tapi tidak berpredikat sebagai pembicara meski sempat memberi ocehan-ocehan kritis dan agak lucu.

Malam makin malam. Penyapu berhasil menghabiskan sebotol teh, yang iklannya dulu sering muncul di televisi. Pengalaman pertama menikmati teh yang dinamakan “pucuk harum”. Padahal, yang minum tidak harum alias kecut oleh keringat dan kenestapaan. Ia tidak berpamitan kepada pengarang dan teman-teman, lekas pulang terkencing-kencing. Minum teh mengakibatkan mudah kencing saat malam di jalanan yang berangin kencang dan dingin.

Sampai di rumah, penyapu ingin merawat segala ingatan selama obrolan buku sambil mencuci seember pakaian keluarga yang kotor. Duduk untuk mengucek dan menyikat sambil membayangkan sebagai pembaca Babad Kemuning. Pengarang yang santun itu memberikan Babad Kemuning. Malam untuk mencuci, belum untuk membaca buku yang diulas oleh Budi dan Yulita. Moderator pun teringat sempat memberi kritik susulan: “Yuditeha unggul di cerita pendek ketimbang novel.” Selama mencuci, ingatan omongan-omongan itu bekal bila telah membuat jadwal sebagai pembaca novel.

Sebelum ikut menghadiri obrolan Babad Kemuning, penyapu membaca The Novelist gubahan Dean Koontz di jeda menyapu, mengepel, dan membantu mengurusi kantin di GOR Badminton Blulukan (Colomadu). Tiga hari menikmati novel mengenai penulis novel, editor, dan kritikus sastra yang seru dan menyebalkan. Malam itu penyapu sengaja tak menyampaikan kepada Yuditeha. Ia merasa sedang mencari pembuktian nasib Yuditeha sebagai novelis dan dua pembicara berlagak kritikus sastra.

Obrolan buku selesai. Mencuci pun selesai. Minggu mau berganti Senin. Penyapu itu lega dan lelah memiliki Minggu. Ia mendambakan tidur yang nyenyak tapi sengaja merusak suasana gara-gara memilih satu lagi sebelum memejamkan mata. Ia mendengarkan “Simfoni Hitam” yang dibawakan Egha De Latoya, bukan edisi yang mula-mula dibawakan Sherina M. Penyapu yang kadang memerlukan kata-kata dari lagu cengeng, tidak selalu harus bereferensi puisi, cerita pendek, atau novel. Ia ingat deretan kata yang mengharukan atau cengengisme: Telah aku nyanyikan alunan-alunan senduku. Telah aku bisikkan cerita-cerita gelapku. Telah aku abaikan mimpi-mimpi dan ambisiku. Tapi, mengapa aku takkan bisa sentuh hatimu.” Lagu yang pasti tidak cocok untuk mengiringi saat membaca Babad Kemuning. Akhirnya, malam itu penyapu bermimpi buruk! [] Kabut

Dunia Menulis

Besar Boleh, Kecil pun Boleh, Asal Dasarnya Tulus

Di balik podium sayembara sastra, di antara tumpukan pengumuman anugerah bergengsi yang memuja karya-karya monumental tentang konflik ras, luka sejarah, dan teriakan sosial yang seolah tak ada jeda, diam-diam ada banyak penulis yang memandangi layar kosong dengan gemetar. Bukan karena tak bisa menulis, tapi karena merasa kisahnya terlalu sepele. Terlalu kecil. Terlalu personal. Terlalu tidak meledak. Mereka yang menulis tentang sunyi kamar kontrakan, tentang kecemasan makan siang terakhir menjelang PHK, tentang ibu yang diam-diam menjahit baju bekas agar bisa dibungkus ulang jadi kado ulang tahun anaknya. Lalu muncul pertanyaan getir: “Siapa yang mau peduli?”

Fenomena ini bukan fiksi. Ia nyata, sedekat napas kita saat membaca pengumuman lomba yang menang lagi-lagi tentang tokoh aktivis, konflik SARA, isu lingkungan global, atau sejarah panjang penjajahan yang dituturkan ulang dengan narasi megah. Seolah cerita yang layak diberi medali adalah yang bisa mengguncang bumi. Seolah penderitaan harus berskala nasional agar bisa dianggap memiliki makna. Dan kita yang hanya ingin menulis tentang perempuan tua yang memandangi foto suaminya saban pagi—karena takut lupa wajahnya—mulai merasa kalah sebelum bertanding.

Padahal, bukankah kesunyian itu juga bagian dari dunia? Bukankah manusia lebih sering meringkuk dalam bilik kecil kesedihan pribadi daripada berorasi di tengah massa? Tapi sayangnya, dalam lanskap sastra yang makin dipengaruhi kebutuhan akan gagasan besar, narasi yang subtil, yang lirih, yang nyaris tak terdengar, malah dianggap terlalu jinak. Padahal, bisa jadi justru di situ letak gemuruh paling purba, di bisikan kecil yang tak sempat didengar.

Ironi pun menyembul di sana-sini. Kita membaca cerpen pemenang lomba yang mengisahkan revolusi agraria dengan istilah berlapis seperti makalah seminar, namun entah mengapa tak terasa denyut manusianya. Sementara naskah tentang anak kecil yang diam-diam menyembunyikan sepatu baru agar bisa diberikan ke adiknya justru tak pernah lolos seleksi awal. Mungkin karena tak cukup penting? Atau tak cukup menjual dalam sinopsis?

Bisa jadi, sebagian dewan juri punya selera yang terlalu politis. Atau terlalu ingin mencetak pernyataan daripada membiarkan sastra mengalir sebagai cermin kemanusiaan. Tentu tak semua begitu, dan kita tahu, ada juga karya besar yang benar-benar berhasil menyelami dua-duanya: yang politis sekaligus manusiawi. Tapi kita bicara tentang atmosfer umum yang membuat banyak penulis muda (dan yang tidak muda) mulai menyangsikan validitas ceritanya sendiri. Yang membuat mereka menahan diri menulis tentang cintanya yang gagal, tentang aroma dapur neneknya, atau tentang perasaan aneh saat pulang kampung dan tak dikenali tetangga. Karena merasa: “ah, ini cuma remeh.”

Dan inilah titik bahaya. Ketika penulis mulai menulis dengan niat memenuhi selera, bukan menyuarakan isi hati. Ketika naskah dibuat bukan dari desakan batin, tapi dari perhitungan tema tertentu agar bisa menembus kurasi. Maka sastra bukan lagi jalan pulang menuju diri, tapi sekadar jalan tol ke panggung. Dan di situlah mungkin kita sedang kehilangan satu hal penting: kejujuran.

Lucunya, dalam semua kerinduan terhadap karya yang membela kemanusiaan, kita kadang lupa bahwa kemanusiaan paling mendasar justru terjadi dalam hal-hal kecil. Dalam roti yang dibagi dua, dalam senyum yang dipaksakan saat perpisahan, dalam cara seseorang memeluk dirinya sendiri karena tak ada lagi yang bisa ia peluk. Tapi siapa yang mau membaca itu? Siapa yang akan memberi hadiah untuk cerita tentang ayah yang diam-diam menyetrika seragam sekolah anaknya tengah malam?

Lalu bagaimana menyikapinya?

Barangkali kita hanya perlu menertawakan sedikit kebisingan itu. Tertawa dengan penuh cinta, bukan dengan sinis. Bahwa kadang lomba dan penghargaan memang lebih suka teriakan. Tapi bukan berarti bisikan tak punya tempat. Kita tidak sedang bertanding siapa paling megah, kita sedang mencoba menjadi manusia paling jujur. Dan kalau tulisan kita hanya mampu menyentuh satu pembaca yang akhirnya merasa tak sendirian di dunia ini, itu sudah lebih dari cukup.

Kita pun tak perlu merasa rendah diri. Tidak semua orang ditakdirkan jadi guntur. Ada yang diciptakan sebagai embun pagi yang pelan-pelan membasahi rumput. Dan embun juga penting. Sebab tanpa embun, daun bisa layu sebelum siang datang.

Jangan khawatir jika karya kita belum sebombastis yang mereka cari. Tulis saja terus. Tentang jendela kamar, tentang suara sepatu di gang sempit, tentang cinta yang diam-diam tumbuh di antara jemuran. Sebab dunia butuh semua jenis cerita. Tidak hanya yang bersuara keras, tapi juga yang berbisik dengan lembut, bahkan yang hanya berdiam dengan tatapan.

Dan kadang, di antara tumpukan naskah penuh ledakan isu, justru naskah tentang perempuan tua yang menanam melati di halaman rumah kecilnya itulah yang paling menyentuh nurani juri yang diam-diam lelah dengan dunia.

Tentu, tidak semua kisah personal harus ditulis seperti curhatan. Kita tetap bisa memperlakukan hal kecil dengan kepekaan estetika dan ketajaman emosi. Bahkan ironi pun bisa menyelinap di sana. Misalnya cerita tentang seorang ibu yang rajin mengikuti demo lingkungan, tapi membuang sampah rumah tangga ke selokan belakang. Atau aktivis HAM yang di rumahnya tak pernah menyapa anaknya sendiri. Nah, di sanalah jenaka dan getir bisa bergandengan tangan.

Pada akhirnya, sastra bukan tentang siapa paling keras bicara, tapi siapa yang paling dalam mendengar. Dan jika karya kita ditulis dari ruang yang jujur, dari luka yang tak dibuat-buat, dari rasa yang tak dikemas agar viral, maka ia akan menemukan jalannya sendiri. Entah lewat lomba, entah lewat orang yang tanpa sengaja membacanya sambil menunggu hujan reda.

Jadi, bagi kamu yang sedang ragu karena ceritamu terasa remeh, percayalah, remehmu bisa jadi rembesan cahaya bagi orang lain. Tulis saja. Tetap tulis. Dunia ini tak hanya butuh kisah tentang revolusi dan sejarah, tapi juga tentang seorang anak yang mencium tangan ibunya diam-diam saat ibunya tidur. Kadang, cerita yang besar bukan karena temanya, tapi karena tulusnya. Karenanya, mau pilih besar boleh, pilih kecil pun boleh, asal dasarnya tulus. [] Redaksi

Dunia Buku, Dunia Menulis

Kembali ke Buku, Kembali ke Diri

Ada masa-masa ketika kita tidak sedang berada di tempat ibadah, melainkan ke rak buku yang berdebu. Di sanalah, di antara halaman-halaman yang telah menguning dan penuh lipatan, kita menemukan sesuatu yang lebih sunyi dari doa dan lebih jujur dari nasihat orang bijak. Bukan karena kita tidak percaya Tuhan, tapi karena kadang, sebelum berlutut berdoa, seseorang hanya butuh duduk, membaca kembali sesuatu yang dulu pernah menyentuh hati dan berkata, “Aku ingin jadi orang yang lebih baik.”

Kita sering mengira tobat itu urusan besar. Harus ada air mata, malam panjang, atau suara petir. Padahal kadang cuma butuh satu sore, satu buku, dan satu kalimat yang entah kenapa kali itu terasa lebih menusuk dibanding dulu. Mungkin karena kita sedang rapuh. Atau justru lebih jujur.

Dulu saat membaca Orang-Orang Bloomington, kita mengira kesepian hanya milik para tokoh yang tinggal di kota asing. Tapi kini, setelah berkali-kali merasa terasing bahkan di tengah keramaian, kita tahu bahwa kesendirian itu bukan soal tempat, melainkan perasaan yang pelan-pelan tumbuh dari ketidakberartian hidup. Dan saat membacanya ulang, kita tak cuma melihat tokoh-tokoh ganjil itu, kita melihat diri sendiri yang selama ini tak pernah sempat disapa.

Dulu saat membaca Ronggeng Dukuh Paruk, kita mungkin hanya terpaku pada kisah cinta Srintil. Kini, ketika membacanya ulang, kita sadar bahwa menjadi manusia baik di tengah tekanan, stigma struktural adalah bentuk perjuangan paling sunyi. Tobat bisa muncul bukan dari dosa besar, tapi dari kesadaran bahwa kita pernah diam saat seseorang dilenyapkan karena sistem yang tak memberi ruang bagi kemanusiaan.

Kita, terutama yang paling suka menyembunyikan keresahan  sering merasa rendah diri saat menyadari betapa jauh diri kita dari apa yang dulu kita yakini. Ada semacam pengkhianatan halus yang dirasakan. Dulu yakin tentang kebaikan, kini lebih sering mengutuk hidup. Dulu percaya pada perubahan, sekarang lebih sering menyeletuk, “Ngapain jadi orang baik, toh yang licik yang menang.”

Tapi di balik itu semua, sebenarnya kita hanya ingin kembali. Kembali ke titik jernih yang dulu pernah membuat kita, memilih menulis, membaca, dan berharap. Hanya saja, seperti pulang ke rumah yang sudah lama tak ditinggali, kadang kita takut mendapati diri sendiri sudah terlalu asing.

Ironinya, dunia buku yang katanya menenangkan, kadang justru jadi sumber tekanan. Penulis merasa harus jadi suci, pembaca merasa harus tampak cerdas, padahal niat awalnya hanya ingin merasa lebih utuh. Tidak semua yang membaca  Ronggeng Dukuh Paruk  ingin jadi pribadi yang kuat. Kadang orang hanya ingin tahu bahwa hidupnya yang kacau itu tidak sendirian. Tidak semua yang membaca Saman ingin memberontak. Bisa jadi, mereka hanya ingin tahu bahwa diam juga bisa jadi bentuk perlawanan.

Satirenya, dunia buku kini seperti panggung opera. Semua tampil ingin tampak megah. Orang membaca supaya bisa pamer. Menulis supaya bisa disorot. Padahal sesekali, kita butuh seseorang yang menulis hanya untuk menyelamatkan diri sendiri. Membaca hanya untuk menangisi dosa yang tak bisa diungkapkan dalam status. Kita butuh buku yang tidak jadi barang dagangan, tapi jadi ruang pengakuan.

Ada satu kenangan yang mungkin banyak orang alami. Saat beres-beres kamar, kita menemukan buku lama yang pernah membuat kita yakin sesuatu. Kita buka pelan. Ada coretan di pinggir halaman, tulisan tangan kita sendiri: Ingat ini. Jangan jadi brengsek. Dan di saat itu juga, rasanya ingin menampar wajah sendiri. Karena kita tahu, entah sejak kapan, kita mulai membiarkan kebrengsekan merayap pelan dan jadi kebiasaan harian.

Membaca ulang buku lama bukan saja perihal nostalgia. Ia kadang bentuk paling jujur dari tobat. Karena tak semua orang punya nyali untuk bilang, “Aku salah.” Tapi membuka kembali buku yang pernah mengajari kita jadi manusia yang lebih baik, itu sama artinya dengan menyalakan lilin kecil di lorong gelap hati kita.

Dan lucunya, lilin itu sering kali hanya menyala untuk kita. Tak tampak dari luar. Tidak viral. Tidak disorak. Tidak dikomentari dengan emoji peluk. Tapi itulah cahaya yang paling tulus, yang hanya dinikmati oleh si pemilik gelap.

Kita hidup di zaman ketika orang berlomba tampak saleh, tapi lupa cara menjadi baik. Zaman ketika kata tobat jadi trending saat ada artis tertangkap, tapi tak lagi menggugah ketika seorang biasa duduk diam membaca ulang Catatan Seorang Demonstran dengan mata basah. Kita lupa bahwa kebaikan kadang tidak butuh pengakuan. Ia hanya perlu tekad yang tak henti.

Menjadi benar, di tengah dunia yang riuh, adalah keputusan sunyi. Sama sunyinya dengan membaca ulang buku yang dulu kita anggap remeh. Sama sunyinya dengan menuliskan kalimat: Aku ingin mulai lagi, dari halaman pertama.

Tulisan ini bukan ingin membuat sedih. Justru sebaliknya. Aku ingin kita tersenyum kecil. Ingat betapa dulu kita begitu yakin bisa jadi orang baik. Dan sekarang kita masih bisa. Tidak perlu pengumuman. Cukup satu keputusan: kembali ke buku, kembali ke diri.

Jadi jika malam ini kita merasa letih, bukan hanya tubuh, tapi juga jiwa, cobalah buka buku yang dulu pernah kita peluk setelah putus cinta atau masa-masa terpuruk. Jangan buru-buru cari bab akhir. Mulailah dari halaman yang paling sering kita lipat. Di situ mungkin ada satu kalimat yang tidak kita sadari sedang menunggu kita kembali.

Dan jika besok pagi kita merasa ingin jadi orang baik, jangan buru-buru pasang kutipan motivasi. Duduklah. Diamlah. Bacalah. Karena kadang, suara hati tidak terdengar di tengah kebisingan niat-niat baik. Tapi bisa terdengar jelas di antara bisikan lembar-lembar yang kita balik dengan penuh kesadaran. Tidak perlu mengutuk dengan apa yang telah terjadi, cukup permohonan yang baik.

Di dunia ini, barangkali hanya ada dua jenis orang yang tidak malu mengaku salah: anak kecil yang ketahuan curang, dan orang dewasa yang menemukan kembali dirinya. Dan semua orang tahu, kita tidak bisa kembali menjadi anak kecil. Tapi kita bisa jadi orang dewasa yang tidak malu untuk kembali. [] Redaksi

Dunia Menulis

Menulis dalam Diam, Mencintai dalam Sunyi

Konon, cinta yang paling murni adalah yang tidak diumbar. Ia tumbuh diam-diam, seperti bunga liar di lereng bukit, tak perlu tepuk tangan, tak perlu baliho. Hanya mekar, apa adanya, dan wangi. Begitu pula seharusnya cinta kepada dunia menulis.

Namun, belakangan ini, dunia menulis—termasuk menulis cerpen—mulai gaduh. Bukan gaduh karena banyak cerpen bermutu yang lahir, tapi karena para penulisnya kadang sudah ribut duluan sebelum satu paragraf sempat ditulis. Status demi status melayang di medsos: Tunggu karya terbaru saya yaa, ini bakal pecah banget. atau Sedang riset naskah yang akan mengguncang dunia literasi. Bahkan ada yang sudah membuat pengumuman rilis sebelum huruf pertama muncul di layar laptop.

Lucunya, kita belum tentu disuguhi karya, tapi sudah kenyang dengan kabar tentangnya. Karya itu akhirnya seperti kado yang dibungkus tujuh lapis kertas warna-warni dan pita emas, tapi saat dibuka, kosong. Bahkan suara krik jangkrik pun malu keluar.

Bukan berarti kita tidak boleh bicara tentang proses menulis. Bukan. Bukan pula kita anti sorot atau anti eksis. Tapi yang sedang dibicarakan di sini adalah kesadaran bahwa mencintai dunia menulis itu seharusnya tak butuh terompet. Ia lebih cocok berjalan dalam senyap. Seperti doa, seperti napas. Tak terdengar, tapi sungguh terasa.

Ada ironi menyayat yang jarang dibahas. Dunia menulis kita dipenuhi pengumuman ambisi, tapi sepi karya yang benar mengendap dalam jiwa pembaca. Banyak yang sibuk membangun persona, tapi lupa bahwa penulis itu ya seharusnya menulis. Ada yang sudah menyiapkan akun khusus untuk menampung puja-puji, padahal cerpen pertamanya masih bergelut dalam kegalauan judulnya apa ya?

Yang lebih lucu, kadang sudah ada yang merilis teaser kutipan cerpen yang belum selesai ditulis. Seperti warung yang lebih dulu pasang spanduk: Segera Buka, selama bertahun-tahun, tapi isinya masih puing dan kardus bekas. Ada juga yang tak pernah menulis apa-apa, tapi mengaku penulis konseptual. Konon katanya, tulisannya terlalu dalam hingga tak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Ah, sudahlah.

Padahal, menulis itu pekerjaan hening. Ia bukan panggung konser, melainkan semacam pertapaan. Kau duduk sendiri, kadang seperti orang linglung di depan layar, ditemani kopi yang dingin, dan kalimat yang tak kunjung benar. Tapi justru di sanalah cinta diuji. Kalau kau hanya bisa mencintai dunia menulis saat disorak, bisa jadi kau sedang mencintai perhatian, bukan menulis itu sendiri.

Cinta sejati kepada menulis tak terlalu perlu mengabarkan diri. Ia tahu bahwa pekerjaan menulis akan berbicara pada waktunya. Karyalah yang akan menyapa orang-orang, dengan lembut, kadang menyakitkan, kadang menghibur, tapi selalu jujur.

Bayangkan seorang pemahat yang bekerja di balik tembok sunyi, mengetuk batu dari pagi hingga senja, hanya demi membuat lekukan yang tak diperhatikan siapa-siapa. Tapi dia terus melakukannya, karena dia percaya, suatu saat akan ada satu pasang mata melihatnya, dan mengangguk dalam diam. Itulah cinta. Tak tergesa, tak sekadar untuk dikagumi.

Kesunyian bukan lawan dari eksistensi. Justru, dalam diam kita bisa betul-betul menyentuh akar dari kenapa kita menulis. Apakah untuk terkenal? Untuk dianggap keren? Atau karena memang ingin bercerita, ingin menyampaikan kegelisahan dengan jujur? Kalau jawabannya adalah cinta pada menulis, maka diam bukan bentuk kekalahan. Ia justru bentuk kematangan.

Ada banyak penulis hebat yang bekerja dalam sunyi. Mereka menulis dalam selipan waktu, tanpa satu pun gembar-gembor. Tapi begitu karya keluar, kita bisa rasakan seluruh tubuh seperti diraba. Kita menangis tanpa tahu kenapa, atau tertawa getir karena merasa sedang dikuliti oleh kata-kata. Itulah keindahan dari mereka yang mencintai dalam diam. Mereka tidak datang dengan bunyi, tapi meninggalkan gema.

Tentu, dunia sekarang memaksa kita untuk selalu eksis. Semua serba cepat, serba tampil dan kita berusaha mengikuti zaman itu tidak masalah, tapi menulis bukan lomba viral. Ia adalah proses perlahan, sepi, dan sabar. Bila kau terlalu sering bicara tentang tulisanmu sebelum menuliskannya, bisa-bisa energimu habis untuk kata-kata yang tak pernah masuk ke naskah. Kau kenyang sebelum panggung dibuka.

Sungguh, tidak ada yang lebih menyenangkan daripada menulis dengan khusyuk, dalam ruang pribadi yang tak terusik. Menyusun cerita bukan demi likes, tapi karena memang ada yang ingin kita bagi. Kalau kemudian karyamu dibaca banyak orang, itu bonus. Tapi jangan menulis karena ingin dibaca banyak orang. Itu jebakan. Nanti kau hanya akan menyesuaikan cerita demi selera, bukan demi suara hati.

Kadang kita memang perlu diingatkan, bahwa mencintai tidak perlu selalu diumumkan. Cukup tunjukkan lewat ketulusan dan konsistensi. Bekerjalah dalam diam. Karyamu akan datang sendiri membawa terompetnya.

Dan bila suatu hari cerpenmu dimuat, atau dibaca orang dan mereka terdiam setelahnya, maka itu adalah bentuk cinta yang sudah mekar dengan indah. Tidak berisik, tapi menyentuh.

Barangkali itulah esensi mencintai dunia menulis yang baik, tetap menulis meski tak ada yang tahu. Tetap mencatat, meski tak ada yang baca. Karena yang pertama kali perlu membaca tulisanmu adalah dirimu sendiri. Bila kau tergetar, orang lain pun bisa ikut tergetar. Bila kau jujur, orang lain akan percaya.

Jadi, bila hari ini kau belum punya karya untuk diumumkan, tak apa. Matikan notifikasi. Duduklah. Ambil napas. Dengarkan suara paling sunyi di kepalamu. Lalu menulislah. Tak perlu mengabarkan pada dunia. Dunia akan tahu pada waktunya. [] Redaksi

Ragam

Lirik 10 Lagu Puisi Yuditeha

1. Jika Esok Tidak Datang

Kita mencari sebuah pengertian di atas takdir

yang kita terima

hingga memaksa kita menahan tangis

Kita berjalan lebih cepat

bukan untuk menolak bayangan-bayangan kita

Kita selalu menyambut

ketika bertemu lalu membuang kekosongan

Kita selalu bersama dan tidak rela saling melepas

Kita tertawa dan bangkit dari kehinaan yang mudah datang

Kita saling acuh dan membuang seluruh serapah

agar bisa melihat akibat

dari keberadaan kita yang misteri

2. Kipas Angin

Kipas angin dinyalakan

nasihat datang menyelinap

pelan-pelan menyejukkan

lalu mengentaskan gundah

dan kemarau terlupa

kamu terbang dengan sayap buatan

Pergi pada awan

mengikis peluh

dengan angin yang kau curi

dari sela igau musim

Ketika angin berhenti

dahimu bermasalah

dan darah tinggimu kambuh

3. Jiwa yang Kuat

Cangkir kecil bergeming tapi jiwa berkelana 

tak ada keramaian yang meruncing 

terpisah dan menyebar lalu meledak 

raib dari badan yang riuh

Musim mengusirnya keluar dari kekosongan, 

dan pendengarannya berkelana 

kepada semadi yang tak mau bersekutu, 

lalu pemberontak muncul sebagai pembela

Pergi menjauh dan berpindah-pindah 

telinga terbuka oleh lorong sunyi 

dengan jalan satu arah yang tak perlu dihafali

Berbagai pilihan dari permusuhan badan 

adalah kebencian kecil 

perihal dunia sehari-hari karena yang penting ke mana dia pergi

4. Roh

Engkau roh di tanah lapang dengan wajah membiru

jejak-jejak telah menjadi peta

Engkau roh berjalan dalam gelap

tanpa tubuh dan berharap pada malam yang tak melawan

sepasang telinga masih mendengar

tentang kenyataan yang belum usai

jejak-jejak telah menjadi kompas

Engkau roh yang menguning serupa warna sore

tak mengenal dengan kesedihan

jejak-jejak telah menjadi budi untuk bekal memilih

rumah yang abadi

5. Ampas Kopi

Pagi ini aku ingin membuat segelas kopi

Kulihat persediaan kopi di lodong ternyata telah habis

Buru-buru kucari dua gelas kopi kita semalam

Ampas kopinya masih ada di sana

Kucampur ampas kopi kita ke dalam satu gelas

Kuseduh kembali ampas kopi itu

dengan air hangat tanpa gula

Aku membayangkan aroma bibirmu

ada yang tertinggal

bercampur dengan ampas kopimu

saat kucecap seduhan ampas kopi itu sungguh terasa nikmat

6. Mawas Diri

Berdiam di pangkal sepi melihat bayangannya sendiri

Pada mulanya mengeras lalu membatu,

Kelak pelan-pelan akan pecah bersama air mata

hingga hanyut dalam pengertian

Sekujur tubuh berserah diri

Antre, dan nampak seperti iring-iringan hari yang luluh

Bergandengan sukma mengurai batin

Tapi masalah kuasa tetap ada pada sabda

Tak ada cara lain selain kematian yang hidup

7. Meringankan Beban

Percakapanmu di ruang tamu 

selalu ditemukan membeku 

dalam keriuhan pengunjung yang lalu-lalang

Wajahmu yang datang dari pengembaraan 

waktu selalu tampak layu, 

serupa biji plastik yang selamanya tak mungkin bertunas

Buku-buku perihal deritamu 

dibaca berulang oleh mulut-mulut pembantai

Jiwamu adalah kenyataan 

yang tak pernah tahu 

bahwa hitam dan putih tetap perlu dibagi 

agar senja kemarin menjadi catatan buruk yang siap dilihat kembali

8. Putri Kecil

Kapan-kapan kau akan tahu ketika orang-orang pergi ke ngarai 

dan melihat bunga-bunga di pinggir parit kemarau segera akan memberitahu 

tentang sepi yang tidak bisa mati

Masa muda adalah pohon apel 

yang buahnya bisa terkupas bagi tamu asing 

hingga setiap rantingnya akan menjaga 

daun yang belum waktunya gugur, 

dan pohon-pohon di dadamu 

akan bersemi menantang lelaki yang tak lagi bocah

Dadamu adalah terminal 

tempat mereka mencoba nakal, 

lantas dadamu ingin sesekali merantau 

bagi kekasih yang belum ada 

dan segala cela akan mati 

bila dadamu bisa berhasil kembali menginjak serambi rumah

9. Kesepian yang Membunuh

Selalu ada berisik di rongga jantung yang berujar: matilah kau 

hingga jika kau tak peka bisa menuntunmu 

pada setapak terjal menuju kehampaan

Kepada pujaan kau tak bisa 

memahami bagaimana rasanya berjalan beriringan, 

karena perihal kekasih masih membutuhkan pembuktian

Dari balik harapan di mana kau menunggu 

selalu terdengar rusuh tentang waktu yang tak pernah 

terengkuh untuk meyakinkan kesepakatan jalinan 

lalu muncul lorong sunyi 

yang di sana dihuni tokoh-tokoh penindas hati 

mereka bersahut-sahutan berujar; matilah kau 

hingga ilusimu tak sempat tersadarkan

10. Alami

tidak semua pikiran bisa menjadi akar

tidak semua udara melayang di langit

keduanya ada yang terjebak 

hingga raga melembek lalu meleleh 

menjelma tanah merah

hujan badai menari-nari

burung-burung mendekam 

di rumah menekuri televisi tanpa kabel 

sembari mematoki bulu ekornya

Pastilah ragamu sebuah bukti 

bahwa bulan tak mudah menyerah 

tetap akan berusaha bersinar 

dan memastikan musim yang datang 

sebagai teman untuk menjalani 

petualang semesta raya hendaknya menjadi karib

Sepuluh lagu puisi Yuditeha ini bisa didengarkan di seluruh platform musik, di antaranya:

Selamat menikmati.

Dunia Buku

Penipu

Dalam dunia buku, seperti dunia yang banyak orang anggap fana ini, sama-sama tak pernah lepas dari dunia tipu-tipu. Sama halnya seperti reaksi kita saat ada teman mau utang. Di satu waktu, kita bisa sibuk menjadi seorang penyidik dengan embel-embel pertanyaan:  

“Buat apa?”

“Keluargamu pada ke mana?”

“Kapan dibalikin?”

Dan berbagai pertanyaan lain yang ujung-ujungnya justru kasih transfer wejangan, bukan uang. Atau tipikal yang kedua, tanpa banyak ba bi bu, langsung tembak dengan kalimat: “Butuh berapa? Aku transfer ya.” Wah, ada ya orang sebaik itu.

Sebut saja buku adalah topeng bermuka dua. Di satu sisi ia bicara perihal data, fakta, riset, bukti dan saksi. Sedangkan di sisi lain, ia bisa meramu adegan serta narasi agar orang percaya itu adalah sebuah kenyataan: kenyataan palsu.

Aku pernah membaca sebuah kalimat dari seorang penulis, bukan seorang sastrawan, melainkan orang biasa yang sering menulis di story WhatsApp, Facebook dan Instagram. Meski begitu, aku merasa justru kalimatnya terbaca apa adanya. Kalimat itu kurang lebih begini: Baca cerpen dan novel itu bisa menggagalkan aksi bunuh diri. Atau ada juga yang bilang: Sesadar-sadarnya orang membaca, tidak ada yang punya kesadaran lebih dari rasa penerimaan dikibuli.

Kita tahu bahwa kalimat based on true story yang sering muncul di awal atau akhir kisah, entah itu di halaman paling awal atau belakang, sebenarnya hanya sebuah simbol yang tak lebih dari sekadar pengakuan absurd. Pada dasarnya tidak ada kisah nyata yang benar-benar istimewa, kecuali sudah melewati proses meracik dan memasak (red: dibumbui)

Kenapa masih banyak orang terhibur nonton film, drama, bahkan sinetron? Padahal sudah tahu pemainnya adalah aktor dan aktris yang sering berganti peran. Novel dan kumcer pun punya penggemarnya sendiri. Mereka tahu jika hampir semua cerita yang dibaca hanyalah karangan semata. Dan entah sebuah karunia atau musibah, jika saat membaca kisahnya, mereka dibuat masuk terlalu jauh dalam cerita. Seolah-olah merekalah pemilik kisah.

Tapi percaya atau tidak, kisah fiksi justru dianggap paling membumi karena bisa menjadi penyelamat hidup di kala bosan menunggu jam istirahat tiba. Atau barangkali, justru bisa memeluk satu nyawa yang hampir terbang dan menghilang, karena menganggap ceritanya begitu persis dengan hidupnya.

Tak bisa dipungkiri, banyak orang terlena dengan muslihat. Sudah tahu dibohongi, tapi tetap bertahan dan menikmati. Sudah tahu fiksi, tapi tetap lanjut membaca, sampai ending pula. Yah, bagaimana ya, namanya juga cinta. Ada yang bilang bisa ngalah-ngalahin logika. Tidak apa-apa dibohongi asal terus bersama. Tidak apa-apa kecewa asal jangan sampai hilang dari cerita.

Buku fiksi itu menyenangkan. Ada banyak topeng yang bisa dikenakan. Jiwa-jiwa melankolis mendadak merasa jadi pahlawan saat tokoh aku dalam novel berhasil menumpas tikus-tikus yang bersembunyi di dalam loker dan sudut ranjang Istana. Atau mendadak menjadi mesin penghasil air mata, padahal sebelumnya pemilik slogan: Pria nggak banyak bicara, tapi banyak polahnya. Atau: Jika menangis ibarat celengan kodok dari tanah liat, maka setiap hari ia akan pecah saking banyaknya koin yang tumpah.

Maka, novel, dongeng, fabel dan cerita fiksi lainnya tetap bisa menjadi primadona. Tak peduli seberapa aneh cerita yang tak masuk di akal, atau seberapa sadis dan dramatis nasib tokoh di dalamnya, semua bisa saja memeluk hati pembacanya. Bahkan, semakin dibaca, maka semakin terbuai dibuatnya. Jangan-jangan, ternyata kamu salah satunya, ya? [] Redaksi

Dunia Menulis

Ketika Penulis Sedang Mulai Menulis, Seorang Teman Minta Dipinjami Uang

Ada satu sore yang begitu indah. Matahari menggantung sempurna di jendela, secangkir kopi mengepul di sisi laptop, dan kepala penulis sedang penuh ide yang siap dituang. Ia sudah mandi, sudah makan, sudah menghindari medsos sejak pagi demi menjaga kemurnian inspirasi. Sore itu waktunya menulis. Menulis dengan sungguh-sungguh. Menulis seperti sedang berdamai dengan dunia yang porak-poranda. Tapi, pada detik pertama jari-jarinya menyentuh keyboard, ponselnya berbunyi. Sebuah pesan masuk. Nama pengirimnya seorang teman.

Bro, bisa pinjam dua juta nggak? Lagi urgent banget.

Penulis mengernyit. Ia tahu teman itu. Orangnya dikenal mapan, sering pergi-pergi, punya televisi dinding, punya mobil besar, dan tidak pernah mengeluh tentang hidup. Tapi kini ia minta pinjam uang. Ke penulis. Yang bahkan saat itu sedang menulis untuk melupakan kenyataan bahwa saldo ATM-nya sudah tinggal serpih harapan dan niat suci.

Penulis terdiam. Sebentar. Bukan karena terguncang oleh nominalnya, melainkan oleh ironi yang menghantam seperti pasal-pasal undang-undang yang disalahgunakan: seseorang yang seharusnya bisa menolong malah meminta tolong. Dan yang dimintai tolong justru sedang menahan lapar sambil menulis tentang keadilan sosial.

Ada kejanggalan yang menusuk dalam peristiwa ini. Tapi juga ada luka sunyi yang tak enak untuk diucapkan. Penulis, yang selama ini hidup dari honor tulisan yang datangnya seperti pacar ghosting, tak jelas kapan dan tak pasti berapa, harus menanggapi permintaan dari seseorang yang tampaknya tinggal di rumah yang megah.

Haruskah penulis menolak? Tentu saja. Tapi bagaimana agar penolakannya tidak menjelma jadi luka di hati si teman? Di sinilah dilema itu menjadi karya sastra. Penolakan yang puitis, harus ditulis dengan kelembutan seorang penyair, tapi tegas seperti pasal terakhir dalam surat somasi.

Penulis membalas pesan itu pelan-pelan. Ia menulis ulang berkali-kali. Kalimat pertama terlalu ketus, kalimat kedua terlalu menyedihkan. Kalimat ketiga justru membuatnya tampak seperti pengemis spiritual. Akhirnya ia kirim:

Maaf banget, Bro. Lagi posisi seret juga, bahkan nulis ini sambil ngitung utang sama waktu. Tapi aku doain semoga kamu dapat jalan keluar yang baik.

Lalu ia diam. Menanti. Tak ada balasan. Hening seperti dinding grup WhatsApp alumni yang isinya cuma forward-an motivasi. Lalu rasa bersalah datang, seperti biasanya. Bukan karena menolak, tapi karena merasa tak cukup mampu membantu. Dan di sinilah letak kepedihan yang tidak bisa selalu diungkapkan: penulis itu sering dianggap punya waktu luang, punya tenaga menulis panjang , tapi sayangnya tidak dianggap punya kebutuhan yang setara dengan profesi lain yang lebih “berwibawa”.

Kita hidup dalam masyarakat yang lebih menghargai pekerjaan berbaju rapi daripada pekerjaan yang menghasilkan makna. Maka penulis pun kerap merasa berada di lapis bawah, tak terlihat, tapi tetap diminta pengertian. Masyarakat ingin karya, tapi enggan memahami proses berkarya. Dan teman-teman yang tak tahu bahwa menulis itu bukan sekadar memencet tombol, melainkan perjuangan melawan rasa lapar, rasa minder, rasa ditinggalkan oleh dunia yang berlomba kaya.

Apa yang harus dilakukan oleh penulis? Meratap? Tidak. Mengutuk nasib? Tidak perlu. Tersenyum saja. Karena itu lebih menyelamatkan akal sehat. Ada humor tipis yang bisa ditemukan di antara reruntuhan mimpi. Misalnya, bahwa penulis bisa jadi orang yang dianggap paling bisa membantu oleh teman kaya, yang hal itu sebetulnya suatu bentuk pengakuan. Ironis, tapi manis. Dan jangan lupa, satire terbaik adalah hidup itu sendiri.

Toh, dalam dunia di mana sarkas sudah jadi sarapan, penulis bisa memilih untuk tetap waras. Bukan dengan menuruti semua harapan orang lain, tapi dengan menjaga ruang batinnya agar tetap aman. Kemanusiaan bukan hanya soal memberi uang, tapi juga soal memahami batas. Dan batas itu penting, terutama ketika seseorang sedang mempertahankan kewarasannya lewat tulisan.

Penulis bukan ATM berjalan. Ia tak mencetak uang dari kata-kata. Kadang justru kata-kata yang menggerus tabungannya. Tapi ia bisa memberi hal lain yang tak kalah berharga: doa, empati, waktu mendengarkan, memberi cerita yang bisa menghibur di malam gelisah, bahkan mungkin bisa menyelamatkan jiwa seseorang.

Kita terlalu sering menilai sesuatu dari nominal, bukan dari niat. Padahal banyak penolakan yang disampaikan dengan perasaan. Banyak bantuan yang tak berbentuk transfer, tapi terasa seperti sebuah pelukan. Dan penulis, walau kadang dibilang pengangguran bersertifikat kreativitas, tetap berhak merasa cukup walau dompetnya kempes.

Tidak semua permintaan harus dikabulkan. Tidak semua penolakan harus dijelaskan panjang lebar. Tapi semua hal bisa dibingkai dengan kemanusiaan. Dan itu tugas penulis, mengubah kekecewaan jadi kedewasaan, dan kegelisahan jadi kejelasan.

Dan hari itu, meski ia gagal menulis cerpen yang sudah disiapkan, penulis merasa ia tetap menulis sesuatu. Menulis batas. Menulis ketegasan. Menulis bahwa ia, meski sedang kere, tetap manusia yang bisa memutuskan tanpa harus menampung semua drama.

Lucunya, setelah itu, inspirasi justru mengalir, dan ia menulis cerita tentang seorang pria kaya yang suka minta tolong ke teman-temannya yang miskin. Dan naskah itu, beberapa minggu kemudian, dimuat. Honornya? Bukan lantas bisa untuk membantu temannya, karena nominalnya hanya cukup untuk beli kopi tiga hari. Tapi cukuplah. Karena kali ini, penulis berhasil menertawakan hidupnya sendiri, bukan ditertawakan oleh hidup.

Senyum pun mengembang. Di antara ironi, satire, dan secuil harapan, penulis akhirnya menulis juga. Tidak untuk balas dendam, tapi untuk menyembuhkan diri. [] Redaksi

Dunia Menulis

Biar Gaya Kamu Tetap Kamu

Ada banyak hal yang membuat penulis tumbang sebelum sempat berlari. Bukan karena kakinya patah, bukan pula karena laptopnya rusak. Tapi karena satu hal kecil yang diam-diam mematikan: membandingkan gaya menulis sendiri dengan gaya menulis orang lain.

Di dunia ini, tidak ada yang lebih kasihan daripada penulis yang tulisannya bagus, tapi tidak percaya diri. Ia seperti orang yang pandai berenang, tapi sibuk mengeluh karena tak bisa terbang. Padahal laut tak butuh burung, dan langit tak pernah menginginkan paus.

Tapi begitulah kenyataannya. Kita hidup di zaman ketika gaya dianggap segala. Ada yang menulis dengan gaya puitis, lalu dielu-elukan karena katanya menyihir pembaca dengan diksi. Maka penulis dengan gaya sederhana mulai merasa seperti tukang catatan rapat. Menulis dengan kalimat jernih dianggap kurang estetik, seolah tulisan harus berputar-putar dulu baru bisa disebut sastra.

Ada juga yang menulis absurd, dan pembacanya bilang, “Ini kelas berat!” Maka penulis realis merasa seperti mahasiswa salah kelas. Padahal mungkin ceritanya lebih mengena, lebih membumi, tapi tetap saja, yang dihargai adalah keruwetan, bukan keberartian.

Ironis, ya? Yang menulis dengan gaya satir minder karena tak seanggun penulis liris. Yang jenaka merasa tak cukup berbobot. Yang filosofis iri dengan yang populer. Yang populer ingin diakui sebagai serius. Akhirnya, semua saling iri dan semua saling lelah. Ini bukan kompetisi, tapi kok rasanya seperti lomba cermin, siapa yang paling pantas dipuja, siapa yang paling cantik atau paling tampan dalam kata.

Padahal gaya menulis itu bukan kompetisi busana. Kita bukan sedang berjalan di karpet merah sambil berharap tulisan kita disoraki “wah.” Gaya menulis adalah kendaraan, bukan destinasi. Esensinya adalah cerita itu sampai, pesan itu menyentuh, pembaca merasa ditemani. Entah dengan kata-kata megah atau kalimat secuil yang jujur, semua punya tempatnya masing-masing.

Kalau semua penulis harus menulis dengan gaya yang sama, sastra akan sekering laporan keuangan. Yang satu menulis seperti gunting yang tajam, yang lain seperti peluk yang lembut. Itu semua baik. Dunia justru butuh keragaman itu. Gaya yang kau anggap remeh bisa jadi adalah suara yang sedang dicari pembaca yang sekarat hatinya. Tapi karena terlalu sibuk membandingkan, tulisanmu tak jadi-jadi.

Kadang yang bikin tambah lucu dan ngenes adalah anggapan bahwa gaya menulis tertentu itu lebih unggul secara moral. Seolah-olah penulis yang melankolis lebih suci daripada yang jenaka. Atau yang menulis dengan istilah-istilah rumit lebih intelektual dibanding yang menulis seperti ngobrol di angkringan. Padahal bisa jadi, tulisan sederhana itulah yang bikin orang merenung di toilet sambil mikir, “Iya, ya, hidup gue kenapa gini amat.”

Tak sedikit tulisan yang berbau motivasi, digarap dengan gaya mentereng, tapi rasanya kayak brosur MLM. Sementara tulisan kecil, jujur, tanpa banyak embel-embel, justru bisa memeluk pembaca dengan diam-diam. Kita sering lupa, bahwa pembaca tidak hanya membaca dengan kepala. Mereka membaca dengan hati. Dan hati tak butuh gaya, ia butuh kejujuran.

Tak perlu kau jadikan tulisanmu seperti rumah mewah dengan pagar tinggi. Kadang yang paling nyaman justru rumah kecil yang pintunya terbuka. Tulisanmu tak harus tampil megah. Cukup hadir dan jujur. Sebab tulisan yang baik tak selalu membuat pembaca ternganga, tapi seringkali membuat mereka menghela napas, merasa dilihat, merasa tidak sendiri.

Yang perlu terus kau jaga adalah keberanian untuk jadi dirimu sendiri. Tak usah sibuk meniru gaya siapa pun. Kalau gayamu memang lucu dan nakal, ya tulislah seperti itu. Kalau lirih dan sunyi, ya teruskan. Jangan terlalu cepat menyerah karena gaya menulismu belum viral. Kadang yang diam-diam menunggu adalah mereka yang diam-diam juga terluka. Dan mereka tidak butuh tulisan spektakuler. Mereka butuh tulisan yang tulus.

Belajarlah dari siapa saja, itu penting. Asah gayamu, perlu. Tapi jangan pernah menghapus sidik jari dari tulisanmu sendiri. Dunia ini sudah terlalu banyak topeng, jangan kau ikut-ikutan. Biarlah tulisanmu menjadi wajahmu, dengan segala celah dan keindahannya.

Dan kalau suatu hari kau merasa lelah, merasa tak diakui, ingatlah bahwa beberapa surat cinta paling menyentuh ditulis dengan ejaan berantakan. Tapi isinya? Menembus hati. Tulisan tak harus sempurna untuk jadi berarti. Ia hanya perlu jujur dan hidup.

Jadi, wahai penulis yang kadang gelisah dan penuh tanya, jangan terlalu lama bercermin. Dunia menunggu tulisanmu, bukan pantulanmu. Menulislah, bukan untuk tampil hebat, tapi untuk hadir sepenuhnya. Biar gaya kamu tetap kamu, karena saat kamu menulis seperti dirimu sendiri, di situlah sastra sedang bernapas.[] Redaksi

Dunia Buku

Kurir Tanpa Pesanan

Di zaman serba instan seperti saat ini, bukan hal sulit untuk memperoleh sesuatu. Mulai dari makanan, baju, sepatu, skincare, alat-alat rumah tangga, barang elektronik, bahkan asesoris dan benda-benda yang sebenarnya tidak terlalu dibutuhkan, semua transaksi bisa dilakukan melalui scroll dan klik di gawai. Sebegitu mudahnya akses, seolah jarak dan waktu bisa dibayar tunai dan kredit. Macam akad nikah, atau akad jual beli tanah.

Jasa antar paket jadi semakin beragam. Dulu, yang mungkin proses pengantaran butuh waktu berhari-hari, bahkan seminggu lebih. Kini, banyak jasa pengiriman menawarkan opsi Esok Pasti Datang, juga Paket Sehari Sampai. Saking mudahnya transaksi, saking cepatnya kegiatan “menunggu” usai, maka semakin dekat pula jarak antar kurir satu dengan kurir yang lain bertandang ke rumah. Jika perlu, dalam seminggu, satu kurir bisa mengantar paket ke rumah yang sama hampir setiap hari.

Fenomena itu membuatku ingin menarik mundur waktu, bukan untuk kembali ke masa lalu, tapi hanya mengenang sesuatu. Aku ingat saat masih remaja, teman sebangku pernah menyelipkan secarik kertas bertuliskan “Semoga kamu menyadari betapa aku rela terluka saat berani memutuskan mencintaimu” untuk teman sekelasku yang lain, pada sebuah buku puisi tipis, yang dua hari sebelumnya ia beli di toko buku bekas dekat lapangan badminton, tak jauh dari sekolah.

Buku itu ia masukkan secara diam-diam ke dalam tas teman perempuan sekelas kami di jam istirahat. Tiga hari setelahnya, heboh kabar jika teman perempuan sekelas kami itu jadian dengan teman sekelas kami yang lain, yang sialnya, bukan teman sebangkuku itu. Kalau sudah begitu, siapa yang mau disalahkan? Teman sebangku yang sengaja tak menorehkan namanya? Teman sekelasku yang lain yang mengaku-ngaku tulisan di secarik kertas di buku puisi itu adalah miliknya? Atau justru bukunya, yang hanya mampu menjadi saksi bisu munculnya tragedi asmara tiga teman sekelas?

Sesungguhnya, tidak ada yang patut disalahkan. Anggap saja semesta sedang bermain-main dengan perasaan-perasaan mereka. Buku itu unik. Bisa dibilang, zaman dulu buku lebih sering menjadi kurir. Entah untuk menyampaikan contekan ke teman, ajakan untuk merokok di lorong belakang sekolah, atau sekadar menyelipkan selembar tiket nonton bioskop pada gebetan. Apa pun alasannya, mungkin jika setiap buku bisa bicara, setidaknya ada tiga reaksi yang akan mereka tunjukkan.

Reaksi pertama, ngomel: “Bagaimana bisa bocah ingusan itu melibatkanku untuk menyampaikan perasaan, sementara aku belum pernah ia baca.”

Reaksi kedua: cuek. Buku tak peduli akan diperlakukan bagaimana. Buku puisi cinta tak marah saat diselipkan kertas bertuliskan ajakan duel akibat tak sengaja bersenggolan saat keluar dari kamar kecil. Buku panduan mengerjakan soal-soal tes masuk perguruan tinggi, tak merasa kecil saat pada akhirnya berpindah-pindah inang dan berakhir sebagai bungkus gorengan (ini sih bukan cuek lagi, tapi sudah pasrah namanya).

Reaksi ketiga: bahagia. Aku membayangkan buku semacam ini adalah seseorang yang mencintai tanpa pamrih. Ia tidak sedih, apalagi kecewa, saat dirinya masih bertahan di rak diskon paling bawah. Kalaupun berhasil ada tangan menyentuhnya, membolak-balik, lalu membelinya, tapi belum sempat terbaca, ia tetap bahagia. Bukankah cinta paling tulus semacam keikhlasan untuk mau tetap tinggal dalam penantian panjang, sampai akhirnya waktu berpihak dan menyatukan keduanya dalam sebuah ikatan intim (red: membaca dan dibaca).

Juga, sukarela menjadi penolong bagi jiwa-jiwa introvert. Kadang diselipi setangkai mawar berduri hingga mengering dan menghapus kalimat-kalimat penting di halaman tujuh puluh dua. Kadang ada halaman sengaja dirobek dan diremas-remas tanpa ampun untuk nimpuk orang. Ada lagi, buku sekadar menjadi kurir tanpa pesanan yang begitu tersampaikan secara diam-diam, malah berakhir masuk ke gudang, bahkan dibuang karena dianggap tak penting.

Buku sejatinya seperti manusia dengan banyak perasaan. Hanya saja, buku tidak punya pilihan kecuali menunggu. Entah itu menunggu seseorang yang benar-benar mau membacanya, atau menunggu untuk sering dipindahtangankan: bisa sebagai kurir dengan pesan khusus, atau justru sebagai kurir tanpa pesanan.

Jadi, apakah kamu pernah menyelipkan sesuatu di novel yang belum pernah dibaca? Atau kamu justru mencorat-coret isi buku puisi lalu setelahnya kauberikan pada seseorang? [] Redaksi

Dunia Menulis

Jatuh Cinta Lagi dan Lagi

Ada yang lebih menegangkan daripada ditolak pacar, yaitu menunggu kabar dari redaksi setelah kita kirim cerpen. Karena pacar biasanya bilang, “Maaf, kita berteman saja,” sedangkan redaksi? Bahkan tidak bilang maaf.

Mari kita mulai dari awal. Setelah cerpen selesai, entah lahir dari tangis tengah malam, gerutu di warung kopi, atau inspirasi dari gorengan terakhir yang tak kau bagi, yang perlu kau lakukan adalah mengeceknya ulang. Baca lagi. Baca pelan. Baca keras. Temukan titik yang loncat, koma yang narsis, atau tokoh yang tiba-tiba ganti kelamin. Rapikan semua. Percayalah, typo bisa bikin cerpenmu terjun bebas tanpa parasut.

Setelah naskah rapi, jangan lupa bionarasi. Cukup 2–3 kalimat. Jangan curhat perjalanan spiritual dari SD sampai jadi penulis. Cukup siapa kamu, pernah nulis di mana, dan sedang tinggal di mana. Tambah nomor WA, buat berjaga siapa tahu redaktur tiba-tiba sayang. Kalau perlu, selipkan foto diri. Biar redaktur tahu kamu manusia, bukan akun palsu dari planet Saturnus.

Kalau ingin sekalian bawa doa, tambahkan nomor rekening. Serius. Banyak media butuh itu untuk transfer honor. Jangan sampai cerpenmu dimuat, honormu cair, tapi rekeningmu tak jelas. Lalu kamu bikin status galau: Karya sudah dimuat, tapi hidup tetap miskin. Ya jelas.

Di email, tulis subjek: Cerpen – Judul – Nama Penulis. Bukan: File Terbaik Saya, Tolong Dong Dimuat, apalagi: Mau Kaya Lewat Cerpen Ini. Jangan. Gunakan kalimat pengantar yang manusiawi dan bersahabat. Tak perlu menyembah redaktur, apalagi mengancam kalau tidak dimuat kamu akan berhenti menulis. Jangan sok Romeo.

Contoh pengantar yang sehat mental:

Selamat pagi Redaksi,

Bersama ini saya kirimkan satu cerpen berjudul: Langit.

Semoga berkenan. Terima kasih atas waktu dan perhatiannya.

Lalu tutup dengan nama dan kontakmu. Setelah semua lengkap, klik kirim. Dan di sinilah tragedi dimulai: fase menunggu.

Ini fase di mana banyak penulis tersesat. Ada yang mengecek email tiap jam. Ada yang membaca ulang cerpennya, curiga, “Ah, mungkin salah di kalimat ketiga.” Ada juga yang langsung pacaran biar punya kesibukan baru.

Padahal ada satu prinsip sakti: Buat. Kirim. Lupakan. Dan seterusnya.

Jangan terlalu sayang pada cerpenmu. Sekalipun kamu menulisnya sambil berdarah-darah, tetap, nasibnya di luar kuasamu. Setelah dikirim, anggap ia seperti surat cinta yang kau masukkan ke botol lalu lempar ke laut. Kalau tak sampai-sampai kabarnya, ya sudah. Jangan marah. Jangan cari redakturnya lalu kirim pesan: Kok nggak dimuat sih, Mas? Itu pamali. Itu mencoreng wajah para penulis baik-baik.

Kecuali kamu sedang ikut lomba yang tenggat sudah lewat dan tak ada pengumuman apa-apa. Atau kamu butuh konfirmasi karena naskahmu sudah waktunya boleh dikirim ke media lain. Nah, kalau seperti itu, bolehlah kontak. Tapi tetap dengan sopan, jangan pakai nada serbu atau menekan.

Ada satu ironi: semakin kamu tidak berharap, justru kadang kabar baik datang. Sering kali penulis yang sibuk menulis lagi justru mendapatkan email: Cerpen Anda akan dimuat minggu depan. Dan mereka pun bilang, “Hah? Yang mana, ya?” lalu scroll folder kiriman karena sudah lupa naskahnya yang mana.

Menjadi penulis itu seperti jatuh cinta berulang kali. Bukan pada orang, tapi pada proses. Pada kata-kata yang tak selalu patuh. Pada tokoh yang kadang lebih keras kepala dari mantan. Tapi itulah cinta. Dan cinta, sebagaimana cerpen, kadang ajaib. Ia bisa membawamu ke halaman majalah, ke meja pembaca, bahkan ke hati orang yang tak kau kenal, tapi tiba-tiba mencintai caramu bercerita.

Pernah seorang pembaca menghubungi penulis karena merasa hidupnya berubah setelah membaca cerpennya. Padahal, cerpen itu pernah ditolak di empat media sebelumnya. Lucu, ya? Mungkin semesta memang sedang bercanda saat itu. Atau sedang menyusun teka-teki yang belum kita mengerti.

Yang pasti, jangan pernah berhenti menulis. Jangan biarkan satu, dua, atau sepuluh penolakan mencabut kecintaanmu pada menulis. Bahkan kalau cerpenmu ditolak terus, ya tulis lagi. Kirim lagi. Lupakan lagi. Sampai akhirnya, naskahmu punya rumah, dan kamu tahu bahwa semua itu proses, semua klik kirim dan semua masa tunggu, namun semua itu tidak pernah sia-sia.

Ada yang bilang, penulis sejati itu bukan yang naskahnya selalu dimuat, tapi yang tidak berhenti menulis bahkan setelah ditolak berkali-kali. Dan yang seperti itu, bisa jadi kamu.

Jadi jangan terlalu kencang menggenggam naskahmu. Jangan terlalu tegang menunggu. Percayalah, redaktur juga manusia. Mereka bukan Tuhan. Kadang mereka kehabisan kopi, kadang sedang stres, kadang tidak sengaja melewatkan karya bagus karena mata sudah lelah.

Maka, nikmatilah proses itu. Buat cerpenmu secantik mungkin. Kirimkan dengan doa, dan jangan lupa: buat, kirim, lupakan. Lalu jatuh cinta lagi. Pada cerita baru. Pada kalimat baru. Pada kemungkinan baru yang menunggu di ujung naskah selanjutnya.

Karena dalam dunia menulis, siapa pun yang bersabar dan bersetia, akan menemukan keajaiban. Bahkan dari kata yang awalnya tampak biasa. [] Redaksi