Ragam

Lirik 10 Lagu Puisi Yuditeha

1. Jika Esok Tidak Datang

Kita mencari sebuah pengertian di atas takdir

yang kita terima

hingga memaksa kita menahan tangis

Kita berjalan lebih cepat

bukan untuk menolak bayangan-bayangan kita

Kita selalu menyambut

ketika bertemu lalu membuang kekosongan

Kita selalu bersama dan tidak rela saling melepas

Kita tertawa dan bangkit dari kehinaan yang mudah datang

Kita saling acuh dan membuang seluruh serapah

agar bisa melihat akibat

dari keberadaan kita yang misteri

2. Kipas Angin

Kipas angin dinyalakan

nasihat datang menyelinap

pelan-pelan menyejukkan

lalu mengentaskan gundah

dan kemarau terlupa

kamu terbang dengan sayap buatan

Pergi pada awan

mengikis peluh

dengan angin yang kau curi

dari sela igau musim

Ketika angin berhenti

dahimu bermasalah

dan darah tinggimu kambuh

3. Jiwa yang Kuat

Cangkir kecil bergeming tapi jiwa berkelana 

tak ada keramaian yang meruncing 

terpisah dan menyebar lalu meledak 

raib dari badan yang riuh

Musim mengusirnya keluar dari kekosongan, 

dan pendengarannya berkelana 

kepada semadi yang tak mau bersekutu, 

lalu pemberontak muncul sebagai pembela

Pergi menjauh dan berpindah-pindah 

telinga terbuka oleh lorong sunyi 

dengan jalan satu arah yang tak perlu dihafali

Berbagai pilihan dari permusuhan badan 

adalah kebencian kecil 

perihal dunia sehari-hari karena yang penting ke mana dia pergi

4. Roh

Engkau roh di tanah lapang dengan wajah membiru

jejak-jejak telah menjadi peta

Engkau roh berjalan dalam gelap

tanpa tubuh dan berharap pada malam yang tak melawan

sepasang telinga masih mendengar

tentang kenyataan yang belum usai

jejak-jejak telah menjadi kompas

Engkau roh yang menguning serupa warna sore

tak mengenal dengan kesedihan

jejak-jejak telah menjadi budi untuk bekal memilih

rumah yang abadi

5. Ampas Kopi

Pagi ini aku ingin membuat segelas kopi

Kulihat persediaan kopi di lodong ternyata telah habis

Buru-buru kucari dua gelas kopi kita semalam

Ampas kopinya masih ada di sana

Kucampur ampas kopi kita ke dalam satu gelas

Kuseduh kembali ampas kopi itu

dengan air hangat tanpa gula

Aku membayangkan aroma bibirmu

ada yang tertinggal

bercampur dengan ampas kopimu

saat kucecap seduhan ampas kopi itu sungguh terasa nikmat

6. Mawas Diri

Berdiam di pangkal sepi melihat bayangannya sendiri

Pada mulanya mengeras lalu membatu,

Kelak pelan-pelan akan pecah bersama air mata

hingga hanyut dalam pengertian

Sekujur tubuh berserah diri

Antre, dan nampak seperti iring-iringan hari yang luluh

Bergandengan sukma mengurai batin

Tapi masalah kuasa tetap ada pada sabda

Tak ada cara lain selain kematian yang hidup

7. Meringankan Beban

Percakapanmu di ruang tamu 

selalu ditemukan membeku 

dalam keriuhan pengunjung yang lalu-lalang

Wajahmu yang datang dari pengembaraan 

waktu selalu tampak layu, 

serupa biji plastik yang selamanya tak mungkin bertunas

Buku-buku perihal deritamu 

dibaca berulang oleh mulut-mulut pembantai

Jiwamu adalah kenyataan 

yang tak pernah tahu 

bahwa hitam dan putih tetap perlu dibagi 

agar senja kemarin menjadi catatan buruk yang siap dilihat kembali

8. Putri Kecil

Kapan-kapan kau akan tahu ketika orang-orang pergi ke ngarai 

dan melihat bunga-bunga di pinggir parit kemarau segera akan memberitahu 

tentang sepi yang tidak bisa mati

Masa muda adalah pohon apel 

yang buahnya bisa terkupas bagi tamu asing 

hingga setiap rantingnya akan menjaga 

daun yang belum waktunya gugur, 

dan pohon-pohon di dadamu 

akan bersemi menantang lelaki yang tak lagi bocah

Dadamu adalah terminal 

tempat mereka mencoba nakal, 

lantas dadamu ingin sesekali merantau 

bagi kekasih yang belum ada 

dan segala cela akan mati 

bila dadamu bisa berhasil kembali menginjak serambi rumah

9. Kesepian yang Membunuh

Selalu ada berisik di rongga jantung yang berujar: matilah kau 

hingga jika kau tak peka bisa menuntunmu 

pada setapak terjal menuju kehampaan

Kepada pujaan kau tak bisa 

memahami bagaimana rasanya berjalan beriringan, 

karena perihal kekasih masih membutuhkan pembuktian

Dari balik harapan di mana kau menunggu 

selalu terdengar rusuh tentang waktu yang tak pernah 

terengkuh untuk meyakinkan kesepakatan jalinan 

lalu muncul lorong sunyi 

yang di sana dihuni tokoh-tokoh penindas hati 

mereka bersahut-sahutan berujar; matilah kau 

hingga ilusimu tak sempat tersadarkan

10. Alami

tidak semua pikiran bisa menjadi akar

tidak semua udara melayang di langit

keduanya ada yang terjebak 

hingga raga melembek lalu meleleh 

menjelma tanah merah

hujan badai menari-nari

burung-burung mendekam 

di rumah menekuri televisi tanpa kabel 

sembari mematoki bulu ekornya

Pastilah ragamu sebuah bukti 

bahwa bulan tak mudah menyerah 

tetap akan berusaha bersinar 

dan memastikan musim yang datang 

sebagai teman untuk menjalani 

petualang semesta raya hendaknya menjadi karib

Sepuluh lagu puisi Yuditeha ini bisa didengarkan di seluruh platform musik, di antaranya:

Selamat menikmati.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *