
1. Jika Esok Tidak Datang
Kita mencari sebuah pengertian di atas takdir
yang kita terima
hingga memaksa kita menahan tangis
Kita berjalan lebih cepat
bukan untuk menolak bayangan-bayangan kita
Kita selalu menyambut
ketika bertemu lalu membuang kekosongan
Kita selalu bersama dan tidak rela saling melepas
Kita tertawa dan bangkit dari kehinaan yang mudah datang
Kita saling acuh dan membuang seluruh serapah
agar bisa melihat akibat
dari keberadaan kita yang misteri
2. Kipas Angin
Kipas angin dinyalakan
nasihat datang menyelinap
pelan-pelan menyejukkan
lalu mengentaskan gundah
dan kemarau terlupa
kamu terbang dengan sayap buatan
Pergi pada awan
mengikis peluh
dengan angin yang kau curi
dari sela igau musim
Ketika angin berhenti
dahimu bermasalah
dan darah tinggimu kambuh
3. Jiwa yang Kuat
Cangkir kecil bergeming tapi jiwa berkelana
tak ada keramaian yang meruncing
terpisah dan menyebar lalu meledak
raib dari badan yang riuh
Musim mengusirnya keluar dari kekosongan,
dan pendengarannya berkelana
kepada semadi yang tak mau bersekutu,
lalu pemberontak muncul sebagai pembela
Pergi menjauh dan berpindah-pindah
telinga terbuka oleh lorong sunyi
dengan jalan satu arah yang tak perlu dihafali
Berbagai pilihan dari permusuhan badan
adalah kebencian kecil
perihal dunia sehari-hari karena yang penting ke mana dia pergi
4. Roh
Engkau roh di tanah lapang dengan wajah membiru
jejak-jejak telah menjadi peta
Engkau roh berjalan dalam gelap
tanpa tubuh dan berharap pada malam yang tak melawan
sepasang telinga masih mendengar
tentang kenyataan yang belum usai
jejak-jejak telah menjadi kompas
Engkau roh yang menguning serupa warna sore
tak mengenal dengan kesedihan
jejak-jejak telah menjadi budi untuk bekal memilih
rumah yang abadi
5. Ampas Kopi
Pagi ini aku ingin membuat segelas kopi
Kulihat persediaan kopi di lodong ternyata telah habis
Buru-buru kucari dua gelas kopi kita semalam
Ampas kopinya masih ada di sana
Kucampur ampas kopi kita ke dalam satu gelas
Kuseduh kembali ampas kopi itu
dengan air hangat tanpa gula
Aku membayangkan aroma bibirmu
ada yang tertinggal
bercampur dengan ampas kopimu
saat kucecap seduhan ampas kopi itu sungguh terasa nikmat
6. Mawas Diri
Berdiam di pangkal sepi melihat bayangannya sendiri
Pada mulanya mengeras lalu membatu,
Kelak pelan-pelan akan pecah bersama air mata
hingga hanyut dalam pengertian
Sekujur tubuh berserah diri
Antre, dan nampak seperti iring-iringan hari yang luluh
Bergandengan sukma mengurai batin
Tapi masalah kuasa tetap ada pada sabda
Tak ada cara lain selain kematian yang hidup
7. Meringankan Beban
Percakapanmu di ruang tamu
selalu ditemukan membeku
dalam keriuhan pengunjung yang lalu-lalang
Wajahmu yang datang dari pengembaraan
waktu selalu tampak layu,
serupa biji plastik yang selamanya tak mungkin bertunas
Buku-buku perihal deritamu
dibaca berulang oleh mulut-mulut pembantai
Jiwamu adalah kenyataan
yang tak pernah tahu
bahwa hitam dan putih tetap perlu dibagi
agar senja kemarin menjadi catatan buruk yang siap dilihat kembali
8. Putri Kecil
Kapan-kapan kau akan tahu ketika orang-orang pergi ke ngarai
dan melihat bunga-bunga di pinggir parit kemarau segera akan memberitahu
tentang sepi yang tidak bisa mati
Masa muda adalah pohon apel
yang buahnya bisa terkupas bagi tamu asing
hingga setiap rantingnya akan menjaga
daun yang belum waktunya gugur,
dan pohon-pohon di dadamu
akan bersemi menantang lelaki yang tak lagi bocah
Dadamu adalah terminal
tempat mereka mencoba nakal,
lantas dadamu ingin sesekali merantau
bagi kekasih yang belum ada
dan segala cela akan mati
bila dadamu bisa berhasil kembali menginjak serambi rumah
9. Kesepian yang Membunuh
Selalu ada berisik di rongga jantung yang berujar: matilah kau
hingga jika kau tak peka bisa menuntunmu
pada setapak terjal menuju kehampaan
Kepada pujaan kau tak bisa
memahami bagaimana rasanya berjalan beriringan,
karena perihal kekasih masih membutuhkan pembuktian
Dari balik harapan di mana kau menunggu
selalu terdengar rusuh tentang waktu yang tak pernah
terengkuh untuk meyakinkan kesepakatan jalinan
lalu muncul lorong sunyi
yang di sana dihuni tokoh-tokoh penindas hati
mereka bersahut-sahutan berujar; matilah kau
hingga ilusimu tak sempat tersadarkan
10. Alami
tidak semua pikiran bisa menjadi akar
tidak semua udara melayang di langit
keduanya ada yang terjebak
hingga raga melembek lalu meleleh
menjelma tanah merah
hujan badai menari-nari
burung-burung mendekam
di rumah menekuri televisi tanpa kabel
sembari mematoki bulu ekornya
Pastilah ragamu sebuah bukti
bahwa bulan tak mudah menyerah
tetap akan berusaha bersinar
dan memastikan musim yang datang
sebagai teman untuk menjalani
petualang semesta raya hendaknya menjadi karib
Sepuluh lagu puisi Yuditeha ini bisa didengarkan di seluruh platform musik, di antaranya:
Selamat menikmati.
