Katalog

Dunia Buku

Satu, dong!

Hari ketika penulis merilis buku barunya adalah hari sakral. Seperti petani panen padi. Seperti seniman buka pameran. Seperti mantan tiba-tiba minta maaf, sangat berarti, bermakna, dan agak getir. Tapi di tengah segala haru dan doa, datanglah satu fenomena klasik yang entah kenapa tak pernah punah, teman minta buku gratisan.

“Ih, selamat ya! Bagi bukunya dong satu!”

Kalimat itu manis. Sekilas seperti ucapan tulus. Tapi di telinga penulis, nadanya berubah seperti: “Selamat ya, traktir aku pakai hasil keringatmu, boleh?”

Dan anehnya, mereka bilang sambil tertawa. Seakan guyonan. Seolah ini lelucon lama yang masih layak tayang, seperti sinetron azab.

Coba perhatikan, teman yang tak pernah baca tulisan kita, tak pernah beli buku kita yang pertama, tak pernah share atau komen satu pun karya kita, adalah orang pertama yang minta gratisan saat kita rilis buku baru. Dan biasanya mereka bilang: “Kita kan temen.”

Kalimat itu, entah kenapa, langsung membuat udara sekitar jadi dingin. Kita mendadak ingat masa-masa begadang, revisi, deadline, naskah yang ditolak, honor ditunda. Kita ingat bahwa di negeri ini, penulis bukan profesi glamor. Bukan seperti selebgram endorse serum pencerah. Setiap buku terjual mungkin hanya menghasilkan royalti dua ribu sampai lima ribu rupiah. Satu kopi hitam kecil. Kalau teman minta satu buku gratis, itu sama dengan kehilangan royalti dari sepuluh buku. Artinya, temanmu barusan meminum sepuluh cangkir kopi kecil dari darah dan tinta keringatmu.

Lucunya, orang yang enggan beli buku, bahkan diskonan pun ogah, justru tak pernah keberatan beli kuota untuk nonton TikTok 3 jam sehari. Mereka bisa transfer 150 ribu buat beli skincare viral, tapi tak sanggup beli buku 60 ribu yang ditulis temannya sendiri.

Itu seperti datang ke warung tetangga dan bilang, “Wah, laris ya! Bagi mie instannya satu bungkus dong, gratis aja. Kita kan tetangga.”

Konyol? Ya. Tapi di dunia buku, kejadian ini nyata.

Ada teman yang akan bilang, “Ah masa temen nggak dikasih buku?” Tapi justru, teman sejati biasanya tak akan minta. Mereka tahu bahwa mendukung artinya membeli. Mendukung artinya menyebarkan. Mendukung artinya tidak menjadikan keringat orang lain sebagai hadiah gratisan.

Dan jika kau memang benar teman, kau tak akan membebani si penulis dengan kode-kode seperti, “Duh, pengen sih bukunya tapi dompet lagi kurus nih,” sambil melirik nanar. Karena penulis itu bukan dewa. Dia juga bayar listrik. Dia juga harus makan. Bahkan, kadang si penulis tak sanggup beli bukunya sendiri. Ironis, bukan? Penulis yang menciptakan buku, justru tak bisa mengakses hasilnya karena harga cetak dan royalti yang timpang.

Kalau memang harus gratisan, mungkin penulis perlu buat formulir permintaan buku gratis. Dengan pertanyaan seperti ini:

“Sudahkah Anda beli buku saya sebelumnya?”

“Pernahkah Anda membagikan info buku saya di media sosial?”

“Apakah Anda bersedia membayar buku ini dengan nasi goreng telur dan teh manis hangat minimal tiga kali?”

Atau mungkin penulis perlu mencetak buku edisi khusus, halaman kosong semua, cuma ada tulisan besar di depan: Ini buku gratisan, karena kamu minta, bukan karena kamu peduli.

Tapi di tengah geli dan perih itu, selalu ada kejutan manis, teman yang beli lebih dari satu eksemplar. Teman yang berkata, “Aku beli dua. Satu buatku, satu buat aku kasih ke orang.”

Dan percayalah, air mata penulis bisa menetes gara-gara hal itu. Bukan lebay. Tapi karena akhirnya ada juga yang mengerti, membeli buku teman adalah bentuk penghormatan. Bukan soal uangnya, tapi soal pengakuan atas kerja keras.

Jadi, jika temanmu merilis buku, jangan minta gratisan. Beli. Promosikan. Beri ulasan. Tunjukkan bahwa persahabatan itu bukan berarti minta jatah gratis, tapi memberi ruang untuk berkembang. Tak ada yang salah dengan ingin baca, tapi salah besar jika ingin gratis hanya karena merasa dekat.

Karena kedekatan yang membuatmu menuntut tanpa memberi, bukan kedekatan, itu keegoisan berjubah keakraban. Dan buku, sebagaimana cinta, pantas dihargai, bukan diminta tanpa usaha.

Akhir kata, mari kita akhiri tradisi “teman minta buku gratis” dan mulai budaya “teman beli buku teman.” Karena penulis bukan pabrik hadiah. Ia cuma manusia yang sedang berjuang, satu kata demi satu kata. [] Redaksi

Dunia Buku

Tidak Pulang

Pernahkah kau melihat ada bagian rak bukumu yang tiba-tiba kosong dan kau tahu betul siapa pelakunya? Bukan perampok. Bukan penjarah. Tapi temanmu sendiri. Iya, dia yang dengan wajah penuh harap dan bibir manis berkata, “Pinjem bukunya, ya. Cuma bentar kok. Minggu depan kubalikin.” Lalu minggu depan datang. Lalu bulan depan. Lalu tahun depan. Lalu lenyaplah buku itu bersama ikrar dan kenangan.

Meminjam buku dan tak mengembalikan adalah satu dari sekian banyak dosa sosial yang jarang masuk khotbah Jumat, tapi dampaknya menggerus iman literasi secara perlahan. Dan yang lebih menyakitkan, pelakunya sering kali adalah orang baik. Saking baiknya, dia bisa tertawa saat kita menagih bukunya kembali, seakan buku itu cuma pinset alis yang tertinggal di rumah mantan.

Ada keanehan kolektif yang layak dikaji para ahli, mengapa sebagian orang merasa bahwa meminjam buku berarti memiliki buku itu? Apakah karena buku tak bersuara saat digondol? Apakah karena ia tak menggonggong seperti anjing penjaga rumah?

Lucunya, mereka yang paling rajin meminjam buku justru yang paling sering memposting kutipan Paulo Coelho dan mengunggah foto cangkir kopi di samping buku yang mereka tak pernah beli. Mereka berkata, buku itu jendela dunia, tapi tak pernah beli daun jendelanya. Mereka mengaku hobi baca, tapi kalau disuruh kembalikan buku, mendadak amnesia.

Dan mari kita bicarakan hal yang lebih getir, kadang yang hilang bukan buku sembarangan. Bukan majalah gosip. Tapi buku yang kau simpan sejak SMA. Buku dengan catatan kecil di pinggir halaman. Buku dengan bekas tanganmu sendiri. Buku yang penuh sejarah, seperti mantan yang pernah kau perjuangkan, tapi kemudian disunting orang lain tanpa pamit. Sekarang buku itu entah di mana. Mungkin jadi tatakan panci. Mungkin ikut pindah rumah. Mungkin sedang dijual online oleh pelakunya dengan judul, Jarang dibaca, kondisi mulus.

Mungkin sudah waktunya ada lembaga sekelas KPK untuk urusan perbukuan. Komisi Pemberantasan Kehilangan Buku. Dengan pasukan berseragam yang menyita buku-buku yang tak pernah kembali ke pemiliknya. Setiap buku yang hilang diberi chip pelacak. Dan ketika buku itu dibuka oleh orang yang bukan pemilik, akan terdengar suara: “Kembalikan aku, Manis.”

Atau lebih ekstrem lagi, kita jadikan kasus ini masuk pidana ringan. Hukuman sosialnya? Wajib menulis satu cerpen tentang perasaan buku yang ditelantarkan.

Buku itu bukan sekadar kertas dan lem. Ia menyimpan waktu. Kadang saat kau membukanya lagi, kau teringat suasana hujan saat pertama membacanya. Atau bau warung kopi tempat kau menekuri satu bab yang menyentuh. Dan ketika buku itu tak kembali, bukan hanya fisik yang lenyap, tapi juga fragmen kecil dari hidupmu ikut raib.

Ini bukan soal pelit. Bukan tak rela berbagi. Tapi soal etika. Soal tanggung jawab. Buku itu bukan kado gratis dari semesta. Ia dibeli, dipilih, dan dirawat. Jadi ketika kau meminjam dan tak mengembalikan, kau sedang merampas lebih dari sekadar benda. Kau mengambil kenangan, kepercayaan, bahkan sebagian kecil rasa sayang.

Ada jenis peminjam yang lebih dramatis. Dia pinjam satu buku, lalu minta pinjam lagi yang lain. Saat kita tanyakan buku pertama, dia jawab, “Tenang aja, aman kok.” Kata aman itu seperti alarm merah, bisa berarti bukunya dipinjamkan ke orang lain tanpa sepengetahuan kita. Atau lebih parah, sudah tertimbun di balik lemari bersama sandal jepit hilang sebelah dan charger yang telah rusak.

Tapi anehnya, kita tetap meminjamkan buku. Entah karena berharap buku itu akan kembali. Entah karena kita terlalu baik. Atau entah karena kita tahu, setiap kehilangan punya cerita.

Bagi yang sering merasa sungkan menagih, percayalah, itu bukan kejahatan. Itu hakmu. Itu bukan dosa. Kau sedang menagih sesuatu yang memang kau punya. Bukan sedang mengejar utang cinta. Dan bagi yang merasa bangga bisa mengamankan buku orang lain selama bertahun-tahun, cobalah renung sejenak, jika bukumu sendiri yang diperlakukan begitu, masihkah kau bisa tersenyum?

Mungkin, kelak, kita akan bisa berdamai. Dengan kehilangan, dengan rak yang sunyi, dan dengan kenangan tentang buku-buku yang tidak pulang. Tapi untuk saat ini, mari kita sampaikan satu pesan kecil bagi para peminjam buku yang lupa ingatan: Kami tak minta kau kembalikan seluruh cinta. Tapi setidaknya, kembalikan buku itu. [] Redaksi

Dunia Buku

Untuk Ayang

Ada satu bagian dari buku yang sering dilewati pembaca, bukan karena tidak penting, tapi karena sering dianggap basa-basi. Ya, halaman persembahan. Biasanya letaknya di awal, sebelum kata pengantar, sebelum daftar isi. Hanya beberapa baris kalimat kecil, sering kali ditulis miring, dan mungkin, jarang dibaca. Tapi justru di sanalah sering tersembunyi hal paling jujur dari sebuah buku.

Persembahan itu semacam bisikan kecil dari penulis, sebelum ia bicara panjang lebar dalam isinya. Layaknya seorang pementas yang membisikkan doa di belakang panggung, sebelum lampu sorot menyala. Sebuah gestur kecil yang tidak minta tepuk tangan, tapi justru mengandung banyak rasa.

Untuk ibu yang tak lelah cerewet.

Untuk Ibu, yang mengajariku menyiram luka dengan benar.

Untuk dia yang pergi sebelum tahu aku menulis ini.

Untuk ayah yang diam.

Untuk Tuhan yang serba kuasa.

Kalimat-kalimat itu kadang lebih puitis dari isinya. Lebih nyeri dari klimaks cerita. Dan lebih lucu, atau menyedihkan. Ia tidak diulas siapa pun. Tidak dibahas di resensi. Tidak dikutip dalam makalah. Tidak dijadikan caption Instagram oleh pembaca. Ia diabaikan seperti sapaan tukang parkir.

Ada ironi besar di sini. Penulis menyisipkan halaman persembahan sebagai bentuk keintiman. Tapi pembaca sering membacanya dengan tergesa, atau tidak sama sekali. Mungkin karena tidak ada plot. Tidak ada konflik. Tidak ada drama. Hanya satu kalimat yang terasa bukan urusan kita. Padahal, justru di situ kadang terletak rahasia mengapa buku itu lahir.

Lebih jauh, halaman persembahan sering jadi semacam ruang pengakuan dosa. Ada rasa bersalah yang diselipkan, semacam tebusan emosi: Aku telah menulis tentang segala hal di dunia, tapi untukmu, hanya kalimat ini yang bisa kuberi.

Dan lucunya, persembahan bukan hanya ditujukan pada manusia. Ada yang mempersembahkan pada kopi hitam. Pada hujan. Pada kegagalan. Bahkan pada diri sendiri, yang hampir menyerah.

Di titik ini, persembahan menjadi bentuk egosentris yang menggemaskan. Penulis ingin tampak dalam, padahal cuma bingung mau kasih nama siapa. Jadi ya sudah, ditulis saja: Untuk luka-luka yang mengajariku bertahan.

Sah-sah saja. Tapi tetap ada aroma pencitraan ringan di situ. Aroma manis, seperti parfum murahan yang terlalu banyak disemprot.

Dan jangan lupakan tren paling kekinian: persembahan palsu. Ada buku yang ditulis bareng mantan, tapi ditulis: Untuk cinta yang tak pernah pergi.

Ada yang mempersembahkan buku pada seseorang yang selalu mendukung, padahal saat nulis, yang mendukung justru hanya Google dan kucing peliharaan.

Namun tetap, halaman persembahan punya daya tarik magis. Ia menyimpan kisah di balik kisah. Ia menunjukkan sisi lembut penulis, bahkan pada penulis paling galak sekalipun. Seorang pengkritik sosial yang tajam bisa menulis: Untuk Ibu, yang selalu bilang jangan terlalu cerewet. Di situ, pembaca bisa melihat: oalah, ternyata si tukang marah ini juga anak mami.

Dan kadang, yang paling menggetarkan justru persembahan yang ditulis singkat sekali. Cuma satu kata: Maaf. Atau: Terima kasih.

Dua kata itu bisa mengandung ledakan yang lebih besar dari 300 halaman isi buku. Karena ia menandakan perasaan yang tak sempat dikatakan langsung di dunia nyata. Buku menjadi perantara. Semacam surat tak terkirim yang dicetak massal.

Ada juga persembahan yang menggelitik karena terlalu jujur:

Untuk editorku yang sabarnya lebih panjang dari utang negara.

Untuk pembaca yang sabar membaca isi buku ini meski persembahannya tidak buat dia.

Di sini, halaman persembahan melawan ekspektasi. Ia jadi ruang main-main. Sekaligus ruang curhat. Ruang nostalgia. Ruang diam. Dan ruang dendam.

Maka, jangan remehkan halaman kecil itu. Ia mungkin cuma satu halaman. Tapi di situ sering tertulis alasan kenapa seorang penulis rela duduk berjam-jam menghadapi layar kosong. Di situ ada cinta yang ditahan, ada luka yang belum sembuh, ada mimpi yang akhirnya ditulis.

Dan buat pembaca, lain kali, sebelum tergesa membalik ke Bab I, coba tengok dulu halaman persembahannya. Siapa tahu, di situ ada sesuatu yang bisa membuatmu tersenyum. Atau haru. Atau sekadar merasa: Oh, aku juga pernah merasakannya.

Karena kadang, satu kalimat di halaman persembahan bisa lebih nyangkut dari sepuluh bab yang ditulis setelahnya.

Dan untuk siapa tulisan ini dibuat?

Ah, itu tidak penting. Tapi kalau kamu sampai di sini dan merasa tersindir, mungkin saja, tulisan ini memang untukmu. Ahai. [] Redaksi

Dunia Buku

Rahasia Kecil

Mari kita mulai dengan beberapa fakta yang tak terbantahkan, banyak kisah besar di dunia ini yang lahir dari buku harian. The Diary of Anne Frank, misalnya. Sebuah catatan pribadi yang akhirnya membuka mata dunia tentang kekejaman perang. Atau buku harian Galileo yang mencatat pergerakan bintang yang bikin bumi jadi bulat secara ilmiah. Ada juga buku harian Soe Hok Gie, yang bikin kita tahu bahwa menjadi idealis itu melelahkan, tapi tetap keren sebagai aktivis.

Tapi, mari kita tinggalkan sejenak cerita-cerita besar itu. Karena sejujurnya, tidak semua dari kita hidup dalam perang, menemukan planet, atau punya gebetan aktivis. Kita hidup biasa-biasa saja. Kita bangun kesiangan, nulis caption Instagram berkali-kali, nunggu gajian sambil ngitung sisa mie instan. Dan di titik inilah, buku harian bisa jadi penyelamat yang tidak kita sadari.

Ya, buku harian. Benda sederhana yang kini lebih sering dikalahkan oleh utas. Padahal, justru karena ia tidak online, ia menyelamatkan kita dari banyak hal memalukan.

Buku harian tidak akan menanyakan, “Kok kamu balikan sama dia lagi sih?” atau “Kenapa kamu masih mikirin kerjaan yang udah kamu resign tiga bulan lalu?” Ia hanya menerima. Dan itu saja sudah luar biasa.

Ia tidak menilai, tidak menyela, dan yang paling penting tidak membocorkan. Kecuali kalau kamu ceroboh dan meninggalkannya di meja ruang depan ketika tamu datang. Tapi secara umum, ia lebih aman daripada akun fake yang kamu buat untuk stalking mantan.

Buku harian adalah bentuk terapi paling murah di dunia. Kamu tidak perlu bayar sejuta per sesi. Cukup beli pulpen dan buku kosong. Lalu tulis: Hari ini menyebalkan. Dan entah kenapa, setelah itu, hidup terasa sedikit lebih tertata.

Orang-orang suka bilang: “Kalau ada masalah, cerita ke teman.” Tapi kita semua tahu, tidak semua teman bisa mendengar tanpa menyela dengan cerita masalah mereka sendiri. Buku harian, sekali lagi, tidak punya agenda.

Ia tidak bilang, “Aku ngerti perasaanmu,” lalu langsung curhat tentang dirinya. Ia hanya diam. Kadang diam adalah bentuk simpati paling jujur. Dan buku harian adalah pendengar terbaik yang diamnya tidak menegangkan.

Terkadang kita bahkan tidak sadar, kita menulis bukan untuk dikenang, tapi untuk mengeluarkan. Supaya hati yang penuh tidak meledak. Buku harian jadi tempat parkir emosi yang terlalu sumpek untuk disimpan di kepala.

Zaman sekarang, semua orang menulis. Status, utas, caption, blog. Tapi anehnya, kita jadi kehilangan ruang pribadi. Menulis yang awalnya terapi, berubah jadi pencitraan. Setiap kalimat dipoles agar terlihat bijak, lucu, atau relatable. Bahkan kalimat curhat pun diatur supaya tetap estetik: Kadang, kehilangan mengajarkan kita tentang arti menggenggam. Padahal kenyataannya, kamu cuma kehilangan charger ponsel di rumah temen.

Buku harian tidak butuh filter. Tidak perlu estetika. Tulisannya bisa jelek, acak, bahkan penuh coretan. Justru di situlah kejujurannya lahir. Karena buku harian tidak peduli apakah tulisanmu layak dibaca orang lain, karena memang tidak untuk dibaca siapa-siapa.

Itulah ironi zaman ini, kita punya banyak tempat menulis, tapi jarang punya tempat mencurahkan isi hati yang tidak dikurasi.

Mari lupakan sejenak impian agar buku harian kita jadi karya besar setelah kita mati. Tidak semua orang harus punya catatan yang layak diterbitkan. Dan buku harian tidak harus berisi kisah cinta tragis atau misi menyelamatkan dunia. Cukup dengan kalimat seperti:

Hari ini aku beli bakso tapi ketinggalan dompet.

Tadi ketemu mantan. Untung udah cakepan aku.

Nulis lagi karena bosan, bukan karena sedih.

Tulisan-tulisan kecil seperti itu mungkin tidak akan mengubah dunia. Tapi ia bisa mengubah sedikit mood kita hari itu. Dan itu cukup.

Mungkin kita tak sadar bahwa menulis di buku harian adalah bentuk perlawanan kecil terhadap dunia yang serba cepat dan bising. Ia mengajarkan kita untuk berhenti sejenak, mengenali diri sendiri, dan, kadang menertawakan diri yang terlalu serius menghadapi hidup yang tidak pernah serius pada kita.

Jadi, kalau kamu masih punya buku harian, tulislah. Kalau belum punya, belilah. Tidak perlu yang lucu atau mahal. Kertas buram pun cukup. Jangan pikirkan siapa yang akan membacanya nanti. Karena mungkin, satu-satunya yang perlu membaca tulisan itu adalah dirimu sendiri, di masa depan, ketika kamu lupa pernah bertahan sejauh ini.

Dan kalau suatu hari kamu membuka halaman lama, lalu menemukan tulisan: Hari ini nangis karena nonton iklan mie instan, jangan malu. Tertawalah. Karena di situlah kamu tahu, kamu pernah hidup menyesakkan, bahkan untuk hal sepele.

Jangan anggap remeh buku harian. Ia mungkin benda kecil yang sepi, tapi ia menyimpan suara yang paling jujur, suara kamu, yang akhirnya berani mendengar diri sendiri.

Dan ingat, tidak semua kisah besar itu dimulai dari panggung. Kadang, ia dimulai dari selembar kertas, tinta bekas, dan rahasia kecil yang enggan meledak di tempat umum. [] Redaksi

Dunia Menulis

Kau Tadi Bilang Apa?

Pernah membaca cerpen yang penuh dialog, tapi rasanya seperti nonton talkshow siang hari, ramai tapi hambar? Itu karena banyak penulis lupa, dialog dalam cerita bukan sekadar dua orang ngobrol seperti di warung kopi. Dialog adalah jantung yang kadang berdetak pelan, kadang meledak tiba-tiba. Ia bukan tempat basa-basi. Ia adalah perang dingin, senjata tersembunyi, dan kadang, senyum manis yang menyimpan dendam tujuh turunan.

Sayangnya, banyak cerita pendek (dan panjang, apalagi) memperlakukan dialog seperti kolom tanya jawab di formulir daring, pertanyaan harus dijawab sesuai petunjuk. Seakan karakter dalam cerita tidak boleh membelok, tidak boleh bohong, dan lebih parah lagi tidak boleh diam.

Padahal, kekuatan percakapan dalam cerita bukan terletak pada apa yang diucapkan, tapi pada apa yang disembunyikan. Yang bikin pembaca penasaran bukan kalimat tanya-jawab lurus seperti:

“Kamu sudah makan?”

“Sudah.”

Itu bukan dialog, itu laporan kegiatan. Lebih cocok masuk grup keluarga WhatsApp.

Lihat, jika dialognya dibelokkan sedikit:

“Kamu sudah makan?”

“Aku benci pertanyaan itu.”

Langsung kita berhenti. Otak mulai jalan. Ada apa ini? Kenapa benci? Trauma? Bekas pacar chef? Atau cuma lapar tapi gengsi?

Satu kalimat seperti itu bisa memicu halaman-halaman konflik, sementara kalimat “sudah” hanya berkontribusi pada kelaparan imajinasi.

Dalam hidup nyata, orang jarang menjawab pertanyaan secara langsung. Kita semua ahli berputar. Ditanya “Kamu kenapa?” bisa dijawab dengan, “Tadi aku lihat kucing tidur di bawah motor.” Pembaca yang cerdas akan tahu, ini bukan tentang kucing. Ini tentang seseorang yang ingin bicara, tapi tidak mau kelihatan rapuh.

Begitu juga dalam cerita. Kadang, karakter menjawab dengan diam. Kadang, mereka pura-pura tidak dengar. Kadang, mereka malah membalas dengan pertanyaan balik.

Contoh: “Kamu masih cinta aku?”

(Diam lama. Menatap jendela. Menyalakan rokok.)

“Kopinya masih panas.”

Nah! Di situ keindahannya. Pembaca akan merenung lebih lama daripada kalau dijawab “iya” atau “tidak.” Karena jawaban yang terlalu jelas justru membunuh imajinasi. Dan bukankah fiksi hidup dari apa yang tidak dikatakan?

Dialog juga bisa menjadi tempat menyisipkan petunjuk. Tapi bukan petunjuk seperti di soal ujian. Petunjuk di fiksi lebih halus. Seperti bisikan kecil yang baru terasa penting di halaman akhir.

Contoh: “Kamu kenapa bolak-balik ke lantai tiga?”

“Di sana sinyalnya bagus.”

Dan baru belasan paragraf kemudian pembaca sadar, bahwa di lantai tiga ada ruang rahasia tempat si tokoh menyembunyikan sesuatu. Nah, ini. Dialog yang kelihatannya remeh, tapi ternyata menanam ranjau kecil di benak pembaca.

Kalau penulisnya ceroboh, dialog itu malah akan dihapus karena “tidak penting.” Padahal justru itu kunci.

Dialog juga memperlihatkan karakter, bahkan lebih dari deskripsi. Jangan terlalu rajin menulis: Dia pemarah. Dia Nyebai. Tapi  tunjukkan saja lewat dialog.

Contoh:

“Ini kopinya, Pak.”

“Saya minta kopi, bukan air keran bekas neraka!”

Sekali bentak, pembaca sudah tahu, ini tokoh menyebalkan. Bahkan mungkin tidak perlu dijelaskan lagi pekerjaannya apa, hobinya apa. Kita sudah tidak suka dia. Dan itu sukses.

Tapi ingat, percakapan itu seperti gula darah, kalau terlalu banyak, bikin pusing. Apalagi kalau isinya cuma bercakap-cakap tanpa fungsi. Hanya karena di kehidupan nyata orang suka ngobrol ngalor-ngidul, bukan berarti di cerpen boleh begitu. Di dunia nyata, kamu bisa ngobrol tiga jam di angkringan tentang harga cabe. Di cerpen? Cukup satu kalimat yang tepat, dan pembaca akan merasa kenyang.

Mari beri sedikit ruang untuk sarkasme:. Banyak penulis (termasuk yang mengaku penikmat sastra berat, menulis dialog seperti ini:

“Kamu dari mana?”

“Aku dari rumah nenek.”

“Ngapain di sana?”

“Makan pepes.”

“Oh.”

Ya Tuhan. Ini bukan fiksi. Ini rekaman CCTV.

Tulisan seperti itu hanya membuat cerita terdengar seperti wawancara formal. Padahal, cerita fiksi bukan laporan kegiatan. Dialog yang tidak menambah apa-apa pada cerita sebaiknya langsung di-block delete. Jangan ragu. Demi keselamatan naskah.

Dialog dalam cerita tidak harus selesai. Tidak semua kalimat butuh jawaban. Tidak semua tanya perlu dijawab secara verbal. Karena dalam kehidupan nyata pun, banyak percakapan yang kita sesali bukan karena jawabannya salah tapi karena tidak pernah kita ucapkan.

Cerita yang baik tahu kapan tokohnya harus diam, kapan harus mengalihkan topik, dan kapan harus menampar pembaca dengan satu kalimat yang menyimpan luka bertahun-tahun.

Jadi, lain kali kamu menulis cerita dan sampai di bagian dialog, berhentilah sebentar. Tanyakan pada diri sendiri:  Apa ini percakapan atau sekadar obrolan kosong? Karena di tangan penulis ceroboh, percakapan hanyalah bualan. Tapi di tangan penulis jeli, percakapan adalah pisau, kompas, dan kadang, jebakan manis yang membuat pembaca jatuh hati atau justru jatuh curiga.

Dan ingat, kadang satu kalimat seperti: “Kau tidak berubah, ya?” lebih menyakitkan daripada sepuluh halaman monolog tentang cinta yang hilang. [] Redaksi

Dunia Buku

Zine

Kalau kamu pernah menemukan selembar atau beberapa lembar kertas fotokopian dengan layout terlihat asal, huruf ketik miring-miring, ilustrasi aneh, dan isinya penuh ocehan nyeleneh, selamat, kamu sedang memegang sesuatu yang lebih jujur dari sebagian besar media arus utama: zine.

Zine, atau majalah mini yang sering dijajakan di pojok acara musik, lapak buku indie, atau bahkan dibagikan gratis lewat amplop bekas, sering dianggap cuma pelampiasan kaum sambat, alias mereka yang hidupnya penuh keluh. Tapi, ah, betapa meremehkannya. Zine bukan cuma kumpulan tangis emosional remaja yang baru diputusin pacar sambil dengar The Smiths. Ia adalah bentuk perlawanan paling murah, paling sederhana, dan anehnya paling mencerahkan.

Bayangkan, di zaman ketika semua orang berlomba menulis konten agar masuk page di Google, penulis zine malah sibuk menyusun kalimat yang bahkan tidak peduli dengan EYD. Lha, wong mereka lebih tertarik menyempurnakan logika sosial daripada tanda baca. Mereka tak sedang cari adsense, mereka sedang cari akal sehat.

Zine tidak butuh like, tidak peduli views. Zine lahir dari rasa gelisah yang malas dirapikan. Ia tidak menawarkan solusi lima langkah menuju hidup produktif, tapi menawarkan pertanyaan-pertanyaan yang tidak dijawab oleh talkshow televisi: kenapa upah buruh masih di bawah harga skincare? Kenapa ruang seni penuh pujian kosong? Kenapa mahasiswa demo dianggap pengganggu?

Penulis zine, dengan segala keterbatasannya, menuliskan kritik yang tak mungkin lolos redaksi koran nasional. Karena jelas, mana mungkin kamu bisa menulis esai tentang Mengapa Dosen Lebih Takut Reputasi daripada Kebenaran di media yang sponsornya adalah institusi pendidikan itu sendiri? Zine-lah tempatnya.

Dan ironi yang menyenangkan, meski sering dicap tidak profesional, isi zine justru sering lebih tajam daripada editorial surat kabar yang sudah diedit tujuh kali. Lho, profesional itu yang mana? Yang tulisannya aman, atau yang tulisannya bikin mikir?

Kita sering dikibuli oleh ukuran. Buku tebal dianggap serius. Koran besar dianggap penting. Tapi zine? Ah, kertas fotokopian dua warna. Kelihatan kayak tugas akhir anak DKV semester dua. Padahal, justru dari kertas-kertas kecil ini, kita bisa membaca hal-hal besar yang ditutupi oleh hal-hal resmi.

Ada zine yang membahas kegelisahan pekerja kantoran yang tiap hari harus senyum di depan klien tapi menangis di kamar mandi. Ada yang menyoroti absurditas peraturan kampus yang melarang mahasiswa nongkrong di kampus tapi membiarkan pungli berjamaah. Ada yang isinya puisi bukan soal cinta, tapi tentang kesedihan kelas menengah yang pura-pura bahagia.

Dan yang paling ajaib, semuanya ditulis tanpa pura-pura. Penulis zine tidak pakai jargon akademik. Tidak pakai kutipan Pramoedya yang dipelintir seenaknya. Mereka menulis dari perut, bukan dari catatan kaki. Dari emosi yang dimasak pelan-pelan, bukan dari algoritma medsos.

Humor di zine bukan jenis humor yang bisa kamu tonton di prime time. Ini humor yang muncul dari keputusasaan yang terlalu dalam untuk ditangisi, jadi ya ditertawakan saja. Misalnya, sebuah zine pernah menulis: Negara bilang kita harus optimis, padahal kita baru bisa beli Indomie setelah utang ke warung.

Atau kutipan yang satu ini: Kita semua punya hak sama. Sayangnya, hak di sini seperti sandal hotel: yang hanya bisa dipakai oleh yang nginep di sana. Jikapun di luar ada yang memakai itu sandal bekas.

Itu bukan cengengesan semata. Itu sarkasme yang cerdas. Karena zine tahu, kalau marah-marah tanpa selipan lelucon, kamu cuma akan dicap baper. Tapi kalau marah sambil bikin orang ketawa, nah, di situ letak kekuatan zine. Ia membuat orang berpikir sambil nyengir. Dan itu lebih efektif daripada orasi satu jam yang biasanya bikin ngantuk.

Yang paling mengagumkan dari zine adalah ia tidak tunduk pada siapa pun. Tidak perlu izin cetak. Tidak perlu restu penerbit. Bahkan tidak butuh ISBN yang sering dianggap sebagai tanda keseriusan sebuah publikasi. Padahal, banyak buku ber-ISBN yang isinya seperti status yang gagal.

Zine percaya satu hal, kebenaran tidak perlu didistribusikan oleh jaringan toko buku. Cukup lewat amplop bekas, selipan di paket kopi, atau ditinggalkan diam-diam di halte. Ia menyebar seperti virus idealisme, menulari siapa pun yang cukup penasaran untuk membaca.

Zine adalah pembangkangan yang tidak mengangkat senjata, tapi pena bekas. Ia bukan bacaan yang menjanjikan harapan palsu. Tapi ia menawarkan sesuatu yang lebih berharga, kesadaran.

Di dunia yang isinya penuh motivasi murahan: Cara cepat jadi sukses, zine hadir seperti sepiring sambal terasi di restoran, menyengat, tak sopan, tapi jujur dan bikin nagih.

Jadi, lain kali kalau kamu melihat lembaran kertas aneh tanpa sampul mengilap dan tata letak kacau, jangan buru-buru buang. Boleh jadi itu bukan sampah, tapi nurani yang menyamar. Dan jika ada yang merasa tersindir oleh isi zine, mungkin dia bagian dari masalah. [] Redaksi

Dunia Buku

Kasih yang Tak Pernah Tak Sampai

Perjalanan, dalam hal apa pun, pasti ada tujuannya. Seperti saat perut mendadak lapar, buka dompet tapi hanya tersisa selembar uang kertas sepuluh ribuan, otomatis otak secepat kilat menuntun langkah menuju opsi paling tepat: warung nasi padang dengan tulisan besar Serba 10ribu, warung tegal dengan banyak menu rumahan, atau paling irit beli dua bungkus mi instan dan sebutir telur di warung kelontong depan, pun jika mau menahan malu bisa pura-pura mampir ke rumah teman dan berharap akan ditawari makan. Tentu opsi terakhir semacam taruhan. Jika beruntung, maka perut akan kenyang tanpa modal.

Perihal buku, bisa jadi bernasib sama. Ada orang yang menganggap buku sebagai kebutuhan seperti halnya makan. Biasanya, bagi mereka, wujud dan aroma buku sudah tak lagi penting. Cover terlipat dan usang. Kertas menguning dengan banyak bercak dan kotoran. Selama jenis buku masuk kategori peminatan, maka pertimbangan terakhir hanya perihal harga. Bagi pencinta buku dengan kantong pas-pasan, datang ke toko dan bazar buku baru dengan poster besar Diskon Up to 90%, seperti masuk ke dalam surga yang dirindukan. Tapi jika tak mampu, maka berkunjung ke lapak buku bekas pun bisa dianggap telah berhasil masuk di halaman depan surganya.

Ada lagi cerita, orangtua yang katanya ingin menjadikan anak-anak sebagai generasi cerdas dan beretika. Banyak iklan berseliweran agar memiliki buku-buku parenting tebal dengan puluhan series versi lengkap, dengan harapan kelak di masa depan akan dilabeli sebagai orangtua idaman anak dan menantu. Ditambah serangkaian buku paket berisi dongeng dan kisah-kisah inspiratif yang katanya bisa mengawal tumbuh kembang anak di usia emas mereka. Buku berkualitas cetak tinggi hingga memunculkan nominal jutaan. Seakan angka mustahil bagi mereka yang berkantong tipis.

Tapi tunggu dulu. Drama sesungguhnya baru saja dimulai. Masuklah opsi: bisa dicicil setiap hari, setiap minggu, bahkan setiap bulan, atau sistem arisan buku berkelompok dengan setoran miring. Hal itu bisa menjadi alternatif bahwa tak selamanya buku mahal sulit untuk digapai. Berlandaskan prinsip: apa pun jika demi anak, maka akan diperjuangkan. Tak peduli seberapa mahal harga bukunya.

Tapi kisah belum usai sampai di situ. Orangtua mulai cemas. Bagaimana jika bukunya rusak? Apalagi sampai hilang. Maka muncullah rak dan lemari khusus untuk menyimpan buku-buku tebal dan mahal itu. Jika bisa lemari kaca, agar tetap terlihat kalau ada tamu berkunjung.

Maka buku yang katanya demi anak itu, yang covernya penuh warna dan gambar, akhirnya benar-benar tak pernah tersentuh tangan anak-anak. Orangtualah yang memegang, membacakan, bahkan menimang dengan sangat hati-hati. Mereka pikir tugas menjadi orangtua selesai dengan mewariskan sekumpulan buku keren. Berharap dengan punya buku-buku hebat, maka tumbuh kembang anak juga pasti hebat. Bagaimana anak bisa dekat dengan buku, apalagi menyerap ilmunya, jika menyentuh pun tidak boleh. Kalau pun boleh memegang, membuka-buka, lalu membaca, itu saja diawasi dalam radius tertentu. Jangan sampai buku yang rencana akan menjadi warisan turun-temurun, putus di satu generasi hanya karena lalai dalam pengawasan.

Padahal, buku murah belum tentu murahan. Buku bekas bukan berarti tak layak. Memberi yang terbaik juga tidak harus mahal. Kalau kantong tak sampai untuk membeli buku mahal, bukan berarti tak bisa kesampaian membeli buku murah dengan isi yang kurang lebih sama. Begitulah cara buku mengasihi. Karena bagi buku-buku itu sendiri, kasih tak sampai itu sebenarnya tidak ada. Mereka tak pernah berubah, isinya tetap sama meski zaman berubah-ubah. Tugasnya hanya menunggu untuk dibuka dan dibaca. Jadi, apa pilihanmu saat ingin beli buku di saat kantong sedang kembang kempis? [] Redaksi

Dunia Menulis

Ditolak

Cerpenmu ditolak lagi? Wah, selamat! Kamu baru saja naik satu tingkat dalam tangga tak terlihat bernama proses. Jangan tergesa panik, apalagi baper. Kalau cerpenmu ditolak satu-dua kali, itu namanya pemanasan. Kalau sudah lebih dari sepuluh kali, itu pemurnian niat. Kalau sudah lebih dari dua puluh lima kali, bisalah itu disebut penyucian jiwa.

Mari kita perjelas. Menulis adalah pekerjaan menulis, bukan pekerjaan memungut pengakuan. Media hanya salah satu saluran, bukan altar suci yang menentukan nasibmu sebagai penulis. Redaktur adalah manusia biasa. Iya, manusia, bukan orakel yang menurunkan wahyu. Mereka bisa lelah, bisa lapar, bisa membaca sambil menyuapi anak, atau bisa juga membaca sambil ngantuk. Dan kamu berharap nasib cerpenmu ditentukan dari itu?

Ironi terbesar dari dunia menulis adalah terlalu banyak penulis yang lebih sibuk membaca respon redaktur daripada membaca ulang tulisannya. Mengeluh ditolak, tapi tak tahu mana yang keliru. Atau lebih tragis menganggap tak ada salah, tapi terlalu berharap. Lalu patah hati, seperti ditolak gebetan, padahal redaktur hanya berkata, Maaf, belum bisa kami muat.

Lihat betapa lucunya. Menulis dianggap laku spiritual, tapi begitu ditolak langsung histeris. Katanya ingin memberi makna, tapi baru satu dua email penolakan sudah kehilangan arti hidup. Duh, kalau mau jadi martir sastra, setidaknya tahanlah sampai cerpenmu benar-benar dimuat, berdarah-darahlah untuk itu.

Yang perlu dicamkan. penolakan bukan hinaan. Bukan surat resmi yang menyatakan kamu tak layak menulis. Penolakan adalah penolakan. Sesederhana itu. Mungkin naskahmu tidak cocok tema. Mungkin terlalu panjang. Mungkin sudah ada tulisan serupa. Mungkin hari itu redaktur sedang batuk pilek. Semua itu bisa. Dan tidak satu pun dari semua itu perlu kamu bahas panjang sampai jadi utas penuh derita dan air mata.

Kamu tidak perlu membuat acara tahlilan setiap kali ditolak. Tidak perlu membuat status mengharu biru. Tidak perlu mengajak kawan untuk demo sastra karena naskahmu tidak dianggap. Justru kalau kamu masih punya tenaga untuk mengeluh, itu tanda kamu masih punya tenaga untuk menulis. Maka, menulislah lagi. Tugas penulis adalah menulis. Titik.

Kisah seperti ini dapat saja terjadi dan kamu bisa nikmati sebagai satire, seorang penulis mengirim cerpen ke sebuah media nasional dan ditolak mentah-mentah. Lalu, ia kirim ulang cerpen yang sama, dengan nama samaran dan sedikit ubahan di paragraf pertama. Cerpen itu dimuat dengan pujian. Redakturnya sama. Nah, sekarang, mau kamu simpulkan apa dari sini? Bahwa kadang yang ditolak bukan tulisanmu, tapi namamu. Atau mungkin gaya sapaanmu di surelmu. Bisa jadi. Apa pun bisa. Tapi semua itu tidak penting untuk dibahas sampai kamu lupa apa yang ingin kamu tulis sejak awal.

Menulis adalah kerja senyap. Kadang hasilnya bersinar, kadang terkubur. Kadang dibaca jutaan orang, kadang hanya dibaca dirimu sendiri saat bosan. Dan itu tidak apa-apa. Karena sesungguhnya, yang membuatmu jadi penulis bukan berapa kali dimuat, tapi berapa kali tetap menulis meski ditolak.

Jangan menulis untuk dimuat. Menulislah untuk menemui dirimu yang utuh. Menulis bukan soal siapa yang membaca, tapi bagaimana kamu membaca diri sendiri. Dan kalau tulisanmu akhirnya dibaca orang lain, itu bonus. Kalau dimuat media, ya bagus. Kalau tidak, ya sudah. Media bukan surga, redaktur bukan dewa, dan penolakan bukan kiamat.

Maka, setiap kali kamu menerima penolakan, cukup balas dalam hati: Terima kasih, saya akan menulis lagi. Dan lanjutkan menulis. Bukan demi balas dendam, tapi demi menjaga waras.

Karena harga diri penulis tidak ditentukan oleh redaktur mana pun, tapi oleh keputusan sederhana,  tetap menulis atau berhenti. Dan semoga kamu memilih yang pertama, berkali-kali, tanpa perlu drama. [] Redaksi

Dunia Menulis

Bukan Sastra?

Dunia kini sedang menulis. Semua orang, dari yang baru bisa mengetik dua jari hingga yang sudah mengunyah KBBI sebagai camilan sore, merasa terpanggil untuk menulis. Di media sosial, di platform penerbit digital, bahkan di kolom komentar dagangan online, semua orang menulis cerita. Namun, di tengah gegap gempita itu, terselip satu tanya yang terus menyentil: Apakah menulis cerita harus berkelas sastra?

Pertanyaan ini tampaknya sederhana, tapi ia membawa dua kubu saling mencibir diam-diam. Di satu sisi, ada penulis sastra yang merasa berada di menara gading. Mereka menulis dengan metafora rumit, kalimat berlapis, dan simbolisme yang kadang membuat pembaca merasa harus lulus ujian filsafat dulu sebelum bisa menikmati satu cerpen. Di sisi lain, ada penulis cerita yang menulis biasa saja, seperti sedang ngobrol, cepat, to the point, tidak bertele-tele, dan relatable. Dan di tengah-tengah ada pembaca yang hanya ingin baca sambil minum kopi, bukan diajak semadi panjang untuk mencari makna kursi kosong di sudut ruang.

Mari kita luruskan dulu: Menulis cerita tidak harus berkelas sastra. Tapi juga, tidak haram menjadi sastra. Yang keliru adalah ketika menulis dengan tujuan mengesankan, bukan mengisahkan. Ada yang menulis bukan karena punya cerita, tapi karena ingin menunjukkan bahwa ia mampu menulis dengan gaya rumit. Seakan kesulitan membaca adalah indikator kualitas. Padahal, dalam banyak kasus, itu hanya kegagalan menyampaikan, yang dikemas dengan istilah eksplorasi estetika.

Lihat ironi yang terjadi. Orang menulis cerita tentang kemiskinan rakyat jelata, tapi menerbitkannya menjadi buku mahal berbahasa melangit yang hanya bisa dibeli oleh kaum atas. Atau penulis yang membela suara marjinal, tapi kalau ada pembaca mengkritik gaya bahasanya bertele-tele, ia balas dengan merendahkan: “Kamu belum cukup bacaan.” Hal itu bukan sastra, itu arogansi berjubah diksi.

Lalu, apakah cerita populer lebih mulia? Tidak juga. Banyak cerita populer hanya mengulang formula basi: tokoh ganteng jatuh cinta pada gadis biasa yang ternyata cucu konglomerat. Narasi ini terus dijual karena laku. Dan selama bisa viral, jalan cerita boleh seperti jalan tikus, berliku tanpa arah, asal ramai. Ironinya, banyak cerita seperti ini diklaim sebagai representasi masyarakat, padahal lebih mirip hasil survei algoritma.

Sastra atau tidak, menulis cerita seharusnya tentang menyampaikan makna. Cerita yang baik bukan diukur dari seberapa sulit dicerna, tapi seberapa dalam bisa dirasa. Sebuah cerita anak yang sederhana bisa menggedor kesadaran lebih dari cerpen yang dipenuhi anak kalimat yang kompleks. Cerita cinta bisa tajam tanpa harus vulgar. Cerita misteri bisa cerdas tanpa harus membuat pembaca merasa bodoh.

Sekarang  zaman algoritma lebih cepat dari pikiran manusia, di mana penulis sering kena dua jebakan maut: menjadi terlalu pintar untuk dimengerti atau terlalu dangkal untuk diingat. Keduanya bukan kesalahan, tapi pilihan. Hanya saja, jangan sampai yang satu merasa lebih murni dibanding yang lain. Karena yang sesungguhnya kotor bukan gaya menulis, tapi niat menulis.

Mari kita beri kejutan pada dunia menulis hari ini, menulis cerita yang jujur. Cerita yang tidak malu menjadi sederhana, tapi juga tidak takut menjadi dalam. Cerita yang tidak harus mencatut kutipan penulis legenda agar terasa berkelas, tapi juga tidak takut memakai kata-kata sunyi yang mengendap. Cerita yang tahu kapan harus berbisik, dan tahu kapan harus teriak.

Dan jika masih ada yang tanya, “Apakah ceritamu sastra?” Jawab dengan santai, “Tergantung siapa yang baca, dan apa yang mereka rasa.” Karena yang membuat cerita jadi penting bukan label sastra atau populer, tapi napas manusia yang ia sentuh, diam-diam, tanpa perlu tepuk tangan. So, menulislah. Tapi jangan menulis demi jadi penting. Menulislah karena ada yang penting untuk ditulis. [] Redaksi

Dunia Buku

Menangis

Apakah kamu pernah menangis saat baca buku? Kalau belum, barangkali kamu belum benar-benar membaca. Atau lebih menyedihkan, belum pernah benar-benar hidup. Karena ada jenis kesedihan yang hanya bisa dimengerti ketika sebuah kalimat fiksi menampar lebih keras daripada realita. Ada kelegaan yang hanya bisa hadir ketika kita tenggelam dalam halaman demi halaman dan mendapati bahwa rasa sakit itu ternyata bukan milik kita seorang.

Buku, dalam bentuk yang paling sunyi, adalah teman sejati yang tidak pernah meninggalkan kita, bahkan ketika seluruh dunia memilih balik kanan, ia tak menuntut balasan. Tak minta pamrih. Tak mempermasalahkan apakah kita membacanya dengan wajah berantakan setelah menangis semalaman, atau dengan tangan gemetar karena hidup sedang begitu berat. Ia tetap di sana, diam, setia, menunggu. Di rak penuh debu. Di meja belajar. Di pojok perpustakaan sepi.

Tapi dunia terlalu bising. Kita sibuk mengucapkan selamat ulang tahun lewat instastory, sibuk membangun citra lewat unggahan estetika, sibuk menggulir layar demi satu validasi kecil dari orang asing. Dan dalam riuh itu, buku hanya dianggap tumpukan kertas bau yang bikin ngantuk. Sialnya, ia bahkan dijadikan alat foto, diletakkan di samping kopi demi kesan cerdas, tanpa pernah dibuka. Ironi paling nyaring adalah yang katanya kita sedang haus pengetahuan, tapi tak tahan dua paragraf tanpa distraksi notifikasi.

Orang meremehkan buku, sekadar benda mati. Padahal buku telah menyelamatkan lebih banyak nyawa daripada seminar motivasi mana pun. Kita bisa tanya kepada mereka yang tumbuh dalam keluarga yang tak mengenal kata sayang, lalu mereka menemukan pelukan dalam sebuah cerpen.

Tanya pada remaja yang nyaris menyerah karena dunia terasa begitu gelap, karena ia diselamatkan oleh kisah di novel yang diam-diam mengajarkan bahwa kehilangan bukan akhir dari segalanya, dan keajaiban bisa datang bahkan dalam bentuk sahabat yang tak sempurna.

Buku tidak menyelamatkanmu dengan dramatis. Ia tidak datang membawa sirine atau lampu sorot. Ia menyelamatkan pelan-pelan, diam-diam, dengan menyusup ke dalam pikiran dan mengubah cara pandang. Dan seringkali, itu lebih menyelamatkan daripada semua tepuk tangan dan pelukan basa-basi.

Tapi tetap saja ada yang nyinyir, “Ah, cuma buku. Mana bisa nolong orang?” Jawabannya sederhana, karena buku bisa membuatmu berpikir. Dan orang yang bisa berpikir, bisa menyelamatkan dirinya sendiri.

Kita terlalu sering menyepelekan kekuatan kata. Padahal kata-kata bisa menghidupkan harapan. Menggerakkan orang yang jatuh. Atau membangun cinta yang lebih kokoh daripada tembok manapun.

Seorang pelarian perang. Berada di ruang sempit, berteman sebuah buku harian. Buku itu bukan hanya tempat ia mencurahkan ketakutan dan harapan, tapi juga saksi sejarah yang akhirnya membuat jutaan orang paham betapa kejamnya perang. Buku menyelamatkan jiwa, dan kemudian menyelamatkan ingatan dunia.

Orang yang dipenjara, dibungkam, disiksa. Di sana ia menulis. Hasilnya adalah buku yang menjelma peluru  yang membangunkan jiwa-jiwa tertidur. Bahkan dunia bisa berubah oleh kata-kata yang ada di sana.

Apa kita masih bilang buku itu remeh?

Mungkin kita harus berhenti memandang buku sebagai benda. Dan mulai melihatnya sebagai teman yang tak pernah menyela ketika kita bicara. Yang tak menuntut kita untuk baik-baik saja. Yang memeluk kita bahkan ketika kita tidak bisa memeluk diri sendiri.

Ada buku yang membuatmu tertawa. Ada yang membuatmu marah. Ada yang membuatmu ingin mencium kaki penulisnya karena betapa jeniusnya ia memahami isi hatimu, padahal kalian tak pernah bertemu. Dan diam-diam kamu menyeka air mata, tanpa kamu sadari.

Jadi, hidupmu terasa terlalu sunyi, kosong, atau terlalu bising, atau sedang terpuruk, carilah buku. Bukan untuk menghindar dari kenyataan, tapi untuk memahami bahwa kamu tidak sendiri. Bahwa yang kamu rasakan, telah lebih dulu dirasakan, dituliskan, dan diabadikan.

Karena buku tak hanya menyelamatkan masa lalu. Ia menyelamatkan masa depan, dengan menyelamatkan kita hari ini. Jadi, buku apa yang telah membuatmu menangis? [] Redaksi