Dunia Menulis

Kau Tadi Bilang Apa?

Pernah membaca cerpen yang penuh dialog, tapi rasanya seperti nonton talkshow siang hari, ramai tapi hambar? Itu karena banyak penulis lupa, dialog dalam cerita bukan sekadar dua orang ngobrol seperti di warung kopi. Dialog adalah jantung yang kadang berdetak pelan, kadang meledak tiba-tiba. Ia bukan tempat basa-basi. Ia adalah perang dingin, senjata tersembunyi, dan kadang, senyum manis yang menyimpan dendam tujuh turunan.

Sayangnya, banyak cerita pendek (dan panjang, apalagi) memperlakukan dialog seperti kolom tanya jawab di formulir daring, pertanyaan harus dijawab sesuai petunjuk. Seakan karakter dalam cerita tidak boleh membelok, tidak boleh bohong, dan lebih parah lagi tidak boleh diam.

Padahal, kekuatan percakapan dalam cerita bukan terletak pada apa yang diucapkan, tapi pada apa yang disembunyikan. Yang bikin pembaca penasaran bukan kalimat tanya-jawab lurus seperti:

“Kamu sudah makan?”

“Sudah.”

Itu bukan dialog, itu laporan kegiatan. Lebih cocok masuk grup keluarga WhatsApp.

Lihat, jika dialognya dibelokkan sedikit:

“Kamu sudah makan?”

“Aku benci pertanyaan itu.”

Langsung kita berhenti. Otak mulai jalan. Ada apa ini? Kenapa benci? Trauma? Bekas pacar chef? Atau cuma lapar tapi gengsi?

Satu kalimat seperti itu bisa memicu halaman-halaman konflik, sementara kalimat “sudah” hanya berkontribusi pada kelaparan imajinasi.

Dalam hidup nyata, orang jarang menjawab pertanyaan secara langsung. Kita semua ahli berputar. Ditanya “Kamu kenapa?” bisa dijawab dengan, “Tadi aku lihat kucing tidur di bawah motor.” Pembaca yang cerdas akan tahu, ini bukan tentang kucing. Ini tentang seseorang yang ingin bicara, tapi tidak mau kelihatan rapuh.

Begitu juga dalam cerita. Kadang, karakter menjawab dengan diam. Kadang, mereka pura-pura tidak dengar. Kadang, mereka malah membalas dengan pertanyaan balik.

Contoh: “Kamu masih cinta aku?”

(Diam lama. Menatap jendela. Menyalakan rokok.)

“Kopinya masih panas.”

Nah! Di situ keindahannya. Pembaca akan merenung lebih lama daripada kalau dijawab “iya” atau “tidak.” Karena jawaban yang terlalu jelas justru membunuh imajinasi. Dan bukankah fiksi hidup dari apa yang tidak dikatakan?

Dialog juga bisa menjadi tempat menyisipkan petunjuk. Tapi bukan petunjuk seperti di soal ujian. Petunjuk di fiksi lebih halus. Seperti bisikan kecil yang baru terasa penting di halaman akhir.

Contoh: “Kamu kenapa bolak-balik ke lantai tiga?”

“Di sana sinyalnya bagus.”

Dan baru belasan paragraf kemudian pembaca sadar, bahwa di lantai tiga ada ruang rahasia tempat si tokoh menyembunyikan sesuatu. Nah, ini. Dialog yang kelihatannya remeh, tapi ternyata menanam ranjau kecil di benak pembaca.

Kalau penulisnya ceroboh, dialog itu malah akan dihapus karena “tidak penting.” Padahal justru itu kunci.

Dialog juga memperlihatkan karakter, bahkan lebih dari deskripsi. Jangan terlalu rajin menulis: Dia pemarah. Dia Nyebai. Tapi  tunjukkan saja lewat dialog.

Contoh:

“Ini kopinya, Pak.”

“Saya minta kopi, bukan air keran bekas neraka!”

Sekali bentak, pembaca sudah tahu, ini tokoh menyebalkan. Bahkan mungkin tidak perlu dijelaskan lagi pekerjaannya apa, hobinya apa. Kita sudah tidak suka dia. Dan itu sukses.

Tapi ingat, percakapan itu seperti gula darah, kalau terlalu banyak, bikin pusing. Apalagi kalau isinya cuma bercakap-cakap tanpa fungsi. Hanya karena di kehidupan nyata orang suka ngobrol ngalor-ngidul, bukan berarti di cerpen boleh begitu. Di dunia nyata, kamu bisa ngobrol tiga jam di angkringan tentang harga cabe. Di cerpen? Cukup satu kalimat yang tepat, dan pembaca akan merasa kenyang.

Mari beri sedikit ruang untuk sarkasme:. Banyak penulis (termasuk yang mengaku penikmat sastra berat, menulis dialog seperti ini:

“Kamu dari mana?”

“Aku dari rumah nenek.”

“Ngapain di sana?”

“Makan pepes.”

“Oh.”

Ya Tuhan. Ini bukan fiksi. Ini rekaman CCTV.

Tulisan seperti itu hanya membuat cerita terdengar seperti wawancara formal. Padahal, cerita fiksi bukan laporan kegiatan. Dialog yang tidak menambah apa-apa pada cerita sebaiknya langsung di-block delete. Jangan ragu. Demi keselamatan naskah.

Dialog dalam cerita tidak harus selesai. Tidak semua kalimat butuh jawaban. Tidak semua tanya perlu dijawab secara verbal. Karena dalam kehidupan nyata pun, banyak percakapan yang kita sesali bukan karena jawabannya salah tapi karena tidak pernah kita ucapkan.

Cerita yang baik tahu kapan tokohnya harus diam, kapan harus mengalihkan topik, dan kapan harus menampar pembaca dengan satu kalimat yang menyimpan luka bertahun-tahun.

Jadi, lain kali kamu menulis cerita dan sampai di bagian dialog, berhentilah sebentar. Tanyakan pada diri sendiri:  Apa ini percakapan atau sekadar obrolan kosong? Karena di tangan penulis ceroboh, percakapan hanyalah bualan. Tapi di tangan penulis jeli, percakapan adalah pisau, kompas, dan kadang, jebakan manis yang membuat pembaca jatuh hati atau justru jatuh curiga.

Dan ingat, kadang satu kalimat seperti: “Kau tidak berubah, ya?” lebih menyakitkan daripada sepuluh halaman monolog tentang cinta yang hilang. [] Redaksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *