Dunia Menulis

Ditolak

Cerpenmu ditolak lagi? Wah, selamat! Kamu baru saja naik satu tingkat dalam tangga tak terlihat bernama proses. Jangan tergesa panik, apalagi baper. Kalau cerpenmu ditolak satu-dua kali, itu namanya pemanasan. Kalau sudah lebih dari sepuluh kali, itu pemurnian niat. Kalau sudah lebih dari dua puluh lima kali, bisalah itu disebut penyucian jiwa.

Mari kita perjelas. Menulis adalah pekerjaan menulis, bukan pekerjaan memungut pengakuan. Media hanya salah satu saluran, bukan altar suci yang menentukan nasibmu sebagai penulis. Redaktur adalah manusia biasa. Iya, manusia, bukan orakel yang menurunkan wahyu. Mereka bisa lelah, bisa lapar, bisa membaca sambil menyuapi anak, atau bisa juga membaca sambil ngantuk. Dan kamu berharap nasib cerpenmu ditentukan dari itu?

Ironi terbesar dari dunia menulis adalah terlalu banyak penulis yang lebih sibuk membaca respon redaktur daripada membaca ulang tulisannya. Mengeluh ditolak, tapi tak tahu mana yang keliru. Atau lebih tragis menganggap tak ada salah, tapi terlalu berharap. Lalu patah hati, seperti ditolak gebetan, padahal redaktur hanya berkata, Maaf, belum bisa kami muat.

Lihat betapa lucunya. Menulis dianggap laku spiritual, tapi begitu ditolak langsung histeris. Katanya ingin memberi makna, tapi baru satu dua email penolakan sudah kehilangan arti hidup. Duh, kalau mau jadi martir sastra, setidaknya tahanlah sampai cerpenmu benar-benar dimuat, berdarah-darahlah untuk itu.

Yang perlu dicamkan. penolakan bukan hinaan. Bukan surat resmi yang menyatakan kamu tak layak menulis. Penolakan adalah penolakan. Sesederhana itu. Mungkin naskahmu tidak cocok tema. Mungkin terlalu panjang. Mungkin sudah ada tulisan serupa. Mungkin hari itu redaktur sedang batuk pilek. Semua itu bisa. Dan tidak satu pun dari semua itu perlu kamu bahas panjang sampai jadi utas penuh derita dan air mata.

Kamu tidak perlu membuat acara tahlilan setiap kali ditolak. Tidak perlu membuat status mengharu biru. Tidak perlu mengajak kawan untuk demo sastra karena naskahmu tidak dianggap. Justru kalau kamu masih punya tenaga untuk mengeluh, itu tanda kamu masih punya tenaga untuk menulis. Maka, menulislah lagi. Tugas penulis adalah menulis. Titik.

Kisah seperti ini dapat saja terjadi dan kamu bisa nikmati sebagai satire, seorang penulis mengirim cerpen ke sebuah media nasional dan ditolak mentah-mentah. Lalu, ia kirim ulang cerpen yang sama, dengan nama samaran dan sedikit ubahan di paragraf pertama. Cerpen itu dimuat dengan pujian. Redakturnya sama. Nah, sekarang, mau kamu simpulkan apa dari sini? Bahwa kadang yang ditolak bukan tulisanmu, tapi namamu. Atau mungkin gaya sapaanmu di surelmu. Bisa jadi. Apa pun bisa. Tapi semua itu tidak penting untuk dibahas sampai kamu lupa apa yang ingin kamu tulis sejak awal.

Menulis adalah kerja senyap. Kadang hasilnya bersinar, kadang terkubur. Kadang dibaca jutaan orang, kadang hanya dibaca dirimu sendiri saat bosan. Dan itu tidak apa-apa. Karena sesungguhnya, yang membuatmu jadi penulis bukan berapa kali dimuat, tapi berapa kali tetap menulis meski ditolak.

Jangan menulis untuk dimuat. Menulislah untuk menemui dirimu yang utuh. Menulis bukan soal siapa yang membaca, tapi bagaimana kamu membaca diri sendiri. Dan kalau tulisanmu akhirnya dibaca orang lain, itu bonus. Kalau dimuat media, ya bagus. Kalau tidak, ya sudah. Media bukan surga, redaktur bukan dewa, dan penolakan bukan kiamat.

Maka, setiap kali kamu menerima penolakan, cukup balas dalam hati: Terima kasih, saya akan menulis lagi. Dan lanjutkan menulis. Bukan demi balas dendam, tapi demi menjaga waras.

Karena harga diri penulis tidak ditentukan oleh redaktur mana pun, tapi oleh keputusan sederhana,  tetap menulis atau berhenti. Dan semoga kamu memilih yang pertama, berkali-kali, tanpa perlu drama. [] Redaksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *