Dunia Buku

Zine

Kalau kamu pernah menemukan selembar atau beberapa lembar kertas fotokopian dengan layout terlihat asal, huruf ketik miring-miring, ilustrasi aneh, dan isinya penuh ocehan nyeleneh, selamat, kamu sedang memegang sesuatu yang lebih jujur dari sebagian besar media arus utama: zine.

Zine, atau majalah mini yang sering dijajakan di pojok acara musik, lapak buku indie, atau bahkan dibagikan gratis lewat amplop bekas, sering dianggap cuma pelampiasan kaum sambat, alias mereka yang hidupnya penuh keluh. Tapi, ah, betapa meremehkannya. Zine bukan cuma kumpulan tangis emosional remaja yang baru diputusin pacar sambil dengar The Smiths. Ia adalah bentuk perlawanan paling murah, paling sederhana, dan anehnya paling mencerahkan.

Bayangkan, di zaman ketika semua orang berlomba menulis konten agar masuk page di Google, penulis zine malah sibuk menyusun kalimat yang bahkan tidak peduli dengan EYD. Lha, wong mereka lebih tertarik menyempurnakan logika sosial daripada tanda baca. Mereka tak sedang cari adsense, mereka sedang cari akal sehat.

Zine tidak butuh like, tidak peduli views. Zine lahir dari rasa gelisah yang malas dirapikan. Ia tidak menawarkan solusi lima langkah menuju hidup produktif, tapi menawarkan pertanyaan-pertanyaan yang tidak dijawab oleh talkshow televisi: kenapa upah buruh masih di bawah harga skincare? Kenapa ruang seni penuh pujian kosong? Kenapa mahasiswa demo dianggap pengganggu?

Penulis zine, dengan segala keterbatasannya, menuliskan kritik yang tak mungkin lolos redaksi koran nasional. Karena jelas, mana mungkin kamu bisa menulis esai tentang Mengapa Dosen Lebih Takut Reputasi daripada Kebenaran di media yang sponsornya adalah institusi pendidikan itu sendiri? Zine-lah tempatnya.

Dan ironi yang menyenangkan, meski sering dicap tidak profesional, isi zine justru sering lebih tajam daripada editorial surat kabar yang sudah diedit tujuh kali. Lho, profesional itu yang mana? Yang tulisannya aman, atau yang tulisannya bikin mikir?

Kita sering dikibuli oleh ukuran. Buku tebal dianggap serius. Koran besar dianggap penting. Tapi zine? Ah, kertas fotokopian dua warna. Kelihatan kayak tugas akhir anak DKV semester dua. Padahal, justru dari kertas-kertas kecil ini, kita bisa membaca hal-hal besar yang ditutupi oleh hal-hal resmi.

Ada zine yang membahas kegelisahan pekerja kantoran yang tiap hari harus senyum di depan klien tapi menangis di kamar mandi. Ada yang menyoroti absurditas peraturan kampus yang melarang mahasiswa nongkrong di kampus tapi membiarkan pungli berjamaah. Ada yang isinya puisi bukan soal cinta, tapi tentang kesedihan kelas menengah yang pura-pura bahagia.

Dan yang paling ajaib, semuanya ditulis tanpa pura-pura. Penulis zine tidak pakai jargon akademik. Tidak pakai kutipan Pramoedya yang dipelintir seenaknya. Mereka menulis dari perut, bukan dari catatan kaki. Dari emosi yang dimasak pelan-pelan, bukan dari algoritma medsos.

Humor di zine bukan jenis humor yang bisa kamu tonton di prime time. Ini humor yang muncul dari keputusasaan yang terlalu dalam untuk ditangisi, jadi ya ditertawakan saja. Misalnya, sebuah zine pernah menulis: Negara bilang kita harus optimis, padahal kita baru bisa beli Indomie setelah utang ke warung.

Atau kutipan yang satu ini: Kita semua punya hak sama. Sayangnya, hak di sini seperti sandal hotel: yang hanya bisa dipakai oleh yang nginep di sana. Jikapun di luar ada yang memakai itu sandal bekas.

Itu bukan cengengesan semata. Itu sarkasme yang cerdas. Karena zine tahu, kalau marah-marah tanpa selipan lelucon, kamu cuma akan dicap baper. Tapi kalau marah sambil bikin orang ketawa, nah, di situ letak kekuatan zine. Ia membuat orang berpikir sambil nyengir. Dan itu lebih efektif daripada orasi satu jam yang biasanya bikin ngantuk.

Yang paling mengagumkan dari zine adalah ia tidak tunduk pada siapa pun. Tidak perlu izin cetak. Tidak perlu restu penerbit. Bahkan tidak butuh ISBN yang sering dianggap sebagai tanda keseriusan sebuah publikasi. Padahal, banyak buku ber-ISBN yang isinya seperti status yang gagal.

Zine percaya satu hal, kebenaran tidak perlu didistribusikan oleh jaringan toko buku. Cukup lewat amplop bekas, selipan di paket kopi, atau ditinggalkan diam-diam di halte. Ia menyebar seperti virus idealisme, menulari siapa pun yang cukup penasaran untuk membaca.

Zine adalah pembangkangan yang tidak mengangkat senjata, tapi pena bekas. Ia bukan bacaan yang menjanjikan harapan palsu. Tapi ia menawarkan sesuatu yang lebih berharga, kesadaran.

Di dunia yang isinya penuh motivasi murahan: Cara cepat jadi sukses, zine hadir seperti sepiring sambal terasi di restoran, menyengat, tak sopan, tapi jujur dan bikin nagih.

Jadi, lain kali kalau kamu melihat lembaran kertas aneh tanpa sampul mengilap dan tata letak kacau, jangan buru-buru buang. Boleh jadi itu bukan sampah, tapi nurani yang menyamar. Dan jika ada yang merasa tersindir oleh isi zine, mungkin dia bagian dari masalah. [] Redaksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *