
Dunia kini sedang menulis. Semua orang, dari yang baru bisa mengetik dua jari hingga yang sudah mengunyah KBBI sebagai camilan sore, merasa terpanggil untuk menulis. Di media sosial, di platform penerbit digital, bahkan di kolom komentar dagangan online, semua orang menulis cerita. Namun, di tengah gegap gempita itu, terselip satu tanya yang terus menyentil: Apakah menulis cerita harus berkelas sastra?
Pertanyaan ini tampaknya sederhana, tapi ia membawa dua kubu saling mencibir diam-diam. Di satu sisi, ada penulis sastra yang merasa berada di menara gading. Mereka menulis dengan metafora rumit, kalimat berlapis, dan simbolisme yang kadang membuat pembaca merasa harus lulus ujian filsafat dulu sebelum bisa menikmati satu cerpen. Di sisi lain, ada penulis cerita yang menulis biasa saja, seperti sedang ngobrol, cepat, to the point, tidak bertele-tele, dan relatable. Dan di tengah-tengah ada pembaca yang hanya ingin baca sambil minum kopi, bukan diajak semadi panjang untuk mencari makna kursi kosong di sudut ruang.
Mari kita luruskan dulu: Menulis cerita tidak harus berkelas sastra. Tapi juga, tidak haram menjadi sastra. Yang keliru adalah ketika menulis dengan tujuan mengesankan, bukan mengisahkan. Ada yang menulis bukan karena punya cerita, tapi karena ingin menunjukkan bahwa ia mampu menulis dengan gaya rumit. Seakan kesulitan membaca adalah indikator kualitas. Padahal, dalam banyak kasus, itu hanya kegagalan menyampaikan, yang dikemas dengan istilah eksplorasi estetika.
Lihat ironi yang terjadi. Orang menulis cerita tentang kemiskinan rakyat jelata, tapi menerbitkannya menjadi buku mahal berbahasa melangit yang hanya bisa dibeli oleh kaum atas. Atau penulis yang membela suara marjinal, tapi kalau ada pembaca mengkritik gaya bahasanya bertele-tele, ia balas dengan merendahkan: “Kamu belum cukup bacaan.” Hal itu bukan sastra, itu arogansi berjubah diksi.
Lalu, apakah cerita populer lebih mulia? Tidak juga. Banyak cerita populer hanya mengulang formula basi: tokoh ganteng jatuh cinta pada gadis biasa yang ternyata cucu konglomerat. Narasi ini terus dijual karena laku. Dan selama bisa viral, jalan cerita boleh seperti jalan tikus, berliku tanpa arah, asal ramai. Ironinya, banyak cerita seperti ini diklaim sebagai representasi masyarakat, padahal lebih mirip hasil survei algoritma.
Sastra atau tidak, menulis cerita seharusnya tentang menyampaikan makna. Cerita yang baik bukan diukur dari seberapa sulit dicerna, tapi seberapa dalam bisa dirasa. Sebuah cerita anak yang sederhana bisa menggedor kesadaran lebih dari cerpen yang dipenuhi anak kalimat yang kompleks. Cerita cinta bisa tajam tanpa harus vulgar. Cerita misteri bisa cerdas tanpa harus membuat pembaca merasa bodoh.
Sekarang zaman algoritma lebih cepat dari pikiran manusia, di mana penulis sering kena dua jebakan maut: menjadi terlalu pintar untuk dimengerti atau terlalu dangkal untuk diingat. Keduanya bukan kesalahan, tapi pilihan. Hanya saja, jangan sampai yang satu merasa lebih murni dibanding yang lain. Karena yang sesungguhnya kotor bukan gaya menulis, tapi niat menulis.
Mari kita beri kejutan pada dunia menulis hari ini, menulis cerita yang jujur. Cerita yang tidak malu menjadi sederhana, tapi juga tidak takut menjadi dalam. Cerita yang tidak harus mencatut kutipan penulis legenda agar terasa berkelas, tapi juga tidak takut memakai kata-kata sunyi yang mengendap. Cerita yang tahu kapan harus berbisik, dan tahu kapan harus teriak.
Dan jika masih ada yang tanya, “Apakah ceritamu sastra?” Jawab dengan santai, “Tergantung siapa yang baca, dan apa yang mereka rasa.” Karena yang membuat cerita jadi penting bukan label sastra atau populer, tapi napas manusia yang ia sentuh, diam-diam, tanpa perlu tepuk tangan. So, menulislah. Tapi jangan menulis demi jadi penting. Menulislah karena ada yang penting untuk ditulis. [] Redaksi
