Cerpen

Fluktuasi Rumus Usaha

Cerpen Rudi Agus Hartanto

Panji-panji hitam yang berkibar di langit tiba-tiba berjatuhan setelah suara letupan senjata api menggelegar di udara. Orang-orang berhamburan ke berbagai sudut. Beberapa lainnya mengoleskan odol di sekitar mata untuk mengurangi perih akibat gas. Pula air mineral jualan Mamat, bertebaran di tengah jalan terkena semprotan water cannon.

Di tengah orang-orang yang berlarian dan teriakan untuk menyelamatkan diri, tangan Mamat mencoba tangkas mengais botol-botolnya. Karena di hari itu ia telah berjanji mengantarkan berobat Tarmi, ibunya.

Sejak penyakit stroke menjangkiti Tarmi, angkringan yang menjadi sumber pemasukan keluarga pun tutup. Hal itu berdampak kepada Mamat yang harus meninggalkan sekolah, meski sebenarnya ia hampir lulus.

Sulit rasanya bagi Mamat putus sekolah, tempat di mana ia menambatkan mimpi besar menjadi seorang fisikawan. Ingin sekali ia memberontak, hanya saja ia tak mengerti kepada siapa harus melakukannya. Namun di hari terakhir mengenakan seragam putih abu-abu Mamat teringat sesuatu: rumus usaha.

Pada saat itu, Indonesia Raya sedang berkumandang mengiringi Dwiwarna menaiki tiang. Di barisan siswa, Mamat menunjukkan sikap hormat tanpa daya. Pikirannya melayang-layang: ia terpaksa menanggalkan mimpi. Tak ada lagi masa muda, seperti rumus usaha dalam fisika, Mamat harus bergeser meski telah mengerahkan daya serta kekuatannya. Di tempat lain ia meyakini akan lebih berguna dan berharga.

Sejak saat itu, Mamat pergi tanpa berpamitan kepada siapa pun. Merelakan mimpi. Ia melanjutkan usaha angkringan yang sebelumnya tutup. Tetapi tidak untuk membiayainya sekolah lagi, melainkan untuk hidup keluarga dan kalau bisa membantu ibunya berobat.

Beberapa kali teman-teman sekolahnya datang ke angkringan, menanyakan alasannya tak pergi ke sekolah. Jawaban Mamat hanya memunculkan perasaan iba bagi mereka. Walhasil pertemuan-pertemuan itu hanya membuat Mamat sakit hati. Dan ia memutuskan untuk berhenti berjualan sejenak.

Malam-malam setelah itu, sehabis mengurus Tarmi yang terkulai di atas kasur. Mamat enggan berangkat, kedatangan yang ia dapati sebelumnya telah membuatnya patah. Walaupun ia telah mendapat tempat baru. Pertanyaan-pertanyaan aneh bermunculan, yang seakan merongrong kepalanya: mengapa harus aku? Apa yang kuperbuat hingga harus seperti ini?

Di suatu sore yang mendung, Mamat menengok Tarmi yang sudah hampir tidak bisa bergerak. Mereka tak membincangkan apa pun. Tarmi mengerti sesuatu yang diisyaratkan pandangan anaknya. Dalam diam kedua orang itu saling memahami. Jalan paling tepat bagi mereka mungkin menerima keadaan.

Masih di waktu yang sama, terdengar suara ketukan pintu yang menggerakan diri Mamat untuk membukanya. Ketika deritan pintu berhenti, ia melihat sosok yang mengenalkan dan memberi inspirasi untuk bermimpi. Membawanya kembali ke masa di mana ia mengenal pertama kali rumus usaha. Pengantar sederhana yang membuat Mamat berani bercita-cita. Jika ingin perubahan maka diperlukan gaya dan usaha.

“Kau masih ingat itu?” tanya Pak Bardi—orang yang mengetuk pintu. Mamat mempersilakan duduk kepada guru fisikanya itu. Meminta menunggu sebentar untuk dibuatkan teh.

Sekuat-kuatnya Mamat menahan air mata sembari mengaduk teh. Kedatangan guru itu pasti akan memintanya kembali ke sekolah. Tempat yang mungkin tak dapat ia kunjungi lagi. Terlebih teman-temannya pasti juga sudah bercerita tentang keadaanya di sekolah. Peristiwa yang membuatnya jeda berjualan.

Setelah dihidangkan, sesapan teh membasahi kerongkongan Pak Bardi. Tak banyak yang ia bicarakan, kecuali rasa kangen kepada siswa kesayanganya. Murid yang jarang sekali mengeluh menerima pelajaran fisika. Dan selama pengalamannya mengajar, hanya Mamat yang mengatakan ingin menjadi seorang fisikawan.

Pada saat mengajar di kelas, Pak Bardi membuktikan kebenaran desas-desus yang terjadi di ruang guru. Para siswa menceritakan mengenai Mamat yang berhenti sekolah karena ibunya yang sakit, dan harus berjualan di angkringan. Ia harus menghidupi keluarga, apa lagi setelah bapaknya meninggal. Bagi seorang guru, itulah kehilangan yang paling besar.

“Jika sesuai dengan yang bapak ajarkan. Saya sudah siap, Pak,” terang Mamat ketika teh bikinannya melewati tenggorokan Pak Bardi.

Kata-kata itu membawa ingatan Pak Bardi saat menjelaskan materi rumus usaha. Hanya Mamat yang mengerti, dan berani maju ke depan kelas untuk mengerjakan soal. Sebelum duduk, Mamat memberikan secarik kertas bertuliskan kemauannya belajar lebih lanjut tentang fisika.

“Saya lebih cepat membuktikan kebenaran rumus itu dengan cara seperti ini, Pak. Sekarang saya berjualan di sekitar kampus. Jika berkenan silakan datang, Pak,” tak kuasa Mamat menahan air mata yang tertahan sejak mengaduk teh sebelumnya. Tak lama setelah itu ia mendapat pelukan paling tulus dari gurunya. Kecurigaanya tak ada yang muncul satu pun.

Setelah pertemuan itu, Mamat memindahkan tempat jualannya di sekitar kampus. Ia buka menjelang siang sampai malam. Angkringan Mamat ramai dikunjungi kalangan mahasiswa. Beberapa kali Pak Bardi mengunjungi Mamat. Saat tak sedang melayani pelanggan, Mamat meminta untuk tetap diajari tentang fisika oleh gurunya itu.

Sebuah pertemuan besar diadakan oleh para mahasiswa itu di angkringan Mamat. Saat mereka mulai berkenalan, ia mengetahui tak hanya kalangan terpelajar saja yang hadir. Ada buruh, seniman, pkl, yang turut bergabung di forum itu. Mereka merencanakan sebuah aksi untuk keesokan harinya. Ada yang unik menurut Mamat, mereka harus menanggalkan identitas kelembagaan masing-masing.

Pada saat itu, Mamat berpikiran mengenai keuntungan besar jika berjualan air mineral. Terlebih banyak mahasiswa yang makan di angkringan itu kerap mengeluh tak adanya penjual air mineral di setiap demonstrasi. Padahal keadaan di jalanan panas, berdebu, dan belum lagi polusi.

Ketika pulang Mamat memberanikan diri berjanji kepada ibunya akan mengantar berobat. Tergambar binar kebahagiaan dari sorot mata Tarmi saat mendengar hal itu. Tampilan yang membuat Mamat berangkat pagi-pagi sekali untuk berbelanja bahan.

Benar bayangan Mamat, siang itu terik sekali. Air mineral yang ia jajakan laku keras. Namun, semua berubah ketika orang-orang berlarian karena tembakan peringatan. Dan yang paling naas, box yang berisi botol-botol itu tumpah terkena semprotan water cannon.

Setelah beberapa botol yang berhamburan dapat Mamat kumpulkan dalam kaosnya, ia menengok box wadah air mineralnya, seketika ia terbayang muka Tarmi. Kotak itu kelihatan pecah terinjak entah oleh siapa di balik sepatu dan tameng aparat. Pada saat itu, ibu, box dan angkringan mengingatkan dirinya perihal rumus usaha. Pecah dan membeku.***

____________________

Rudi Agus Hartanto. Bagian dari Sanggar Bima Suci Mojogedang, Ngglituk Podcast, dan Leluasa Project.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *