
Apakah kamu pernah menangis saat baca buku? Kalau belum, barangkali kamu belum benar-benar membaca. Atau lebih menyedihkan, belum pernah benar-benar hidup. Karena ada jenis kesedihan yang hanya bisa dimengerti ketika sebuah kalimat fiksi menampar lebih keras daripada realita. Ada kelegaan yang hanya bisa hadir ketika kita tenggelam dalam halaman demi halaman dan mendapati bahwa rasa sakit itu ternyata bukan milik kita seorang.
Buku, dalam bentuk yang paling sunyi, adalah teman sejati yang tidak pernah meninggalkan kita, bahkan ketika seluruh dunia memilih balik kanan, ia tak menuntut balasan. Tak minta pamrih. Tak mempermasalahkan apakah kita membacanya dengan wajah berantakan setelah menangis semalaman, atau dengan tangan gemetar karena hidup sedang begitu berat. Ia tetap di sana, diam, setia, menunggu. Di rak penuh debu. Di meja belajar. Di pojok perpustakaan sepi.
Tapi dunia terlalu bising. Kita sibuk mengucapkan selamat ulang tahun lewat instastory, sibuk membangun citra lewat unggahan estetika, sibuk menggulir layar demi satu validasi kecil dari orang asing. Dan dalam riuh itu, buku hanya dianggap tumpukan kertas bau yang bikin ngantuk. Sialnya, ia bahkan dijadikan alat foto, diletakkan di samping kopi demi kesan cerdas, tanpa pernah dibuka. Ironi paling nyaring adalah yang katanya kita sedang haus pengetahuan, tapi tak tahan dua paragraf tanpa distraksi notifikasi.
Orang meremehkan buku, sekadar benda mati. Padahal buku telah menyelamatkan lebih banyak nyawa daripada seminar motivasi mana pun. Kita bisa tanya kepada mereka yang tumbuh dalam keluarga yang tak mengenal kata sayang, lalu mereka menemukan pelukan dalam sebuah cerpen.
Tanya pada remaja yang nyaris menyerah karena dunia terasa begitu gelap, karena ia diselamatkan oleh kisah di novel yang diam-diam mengajarkan bahwa kehilangan bukan akhir dari segalanya, dan keajaiban bisa datang bahkan dalam bentuk sahabat yang tak sempurna.
Buku tidak menyelamatkanmu dengan dramatis. Ia tidak datang membawa sirine atau lampu sorot. Ia menyelamatkan pelan-pelan, diam-diam, dengan menyusup ke dalam pikiran dan mengubah cara pandang. Dan seringkali, itu lebih menyelamatkan daripada semua tepuk tangan dan pelukan basa-basi.
Tapi tetap saja ada yang nyinyir, “Ah, cuma buku. Mana bisa nolong orang?” Jawabannya sederhana, karena buku bisa membuatmu berpikir. Dan orang yang bisa berpikir, bisa menyelamatkan dirinya sendiri.
Kita terlalu sering menyepelekan kekuatan kata. Padahal kata-kata bisa menghidupkan harapan. Menggerakkan orang yang jatuh. Atau membangun cinta yang lebih kokoh daripada tembok manapun.
Seorang pelarian perang. Berada di ruang sempit, berteman sebuah buku harian. Buku itu bukan hanya tempat ia mencurahkan ketakutan dan harapan, tapi juga saksi sejarah yang akhirnya membuat jutaan orang paham betapa kejamnya perang. Buku menyelamatkan jiwa, dan kemudian menyelamatkan ingatan dunia.
Orang yang dipenjara, dibungkam, disiksa. Di sana ia menulis. Hasilnya adalah buku yang menjelma peluru yang membangunkan jiwa-jiwa tertidur. Bahkan dunia bisa berubah oleh kata-kata yang ada di sana.
Apa kita masih bilang buku itu remeh?
Mungkin kita harus berhenti memandang buku sebagai benda. Dan mulai melihatnya sebagai teman yang tak pernah menyela ketika kita bicara. Yang tak menuntut kita untuk baik-baik saja. Yang memeluk kita bahkan ketika kita tidak bisa memeluk diri sendiri.
Ada buku yang membuatmu tertawa. Ada yang membuatmu marah. Ada yang membuatmu ingin mencium kaki penulisnya karena betapa jeniusnya ia memahami isi hatimu, padahal kalian tak pernah bertemu. Dan diam-diam kamu menyeka air mata, tanpa kamu sadari.
Jadi, hidupmu terasa terlalu sunyi, kosong, atau terlalu bising, atau sedang terpuruk, carilah buku. Bukan untuk menghindar dari kenyataan, tapi untuk memahami bahwa kamu tidak sendiri. Bahwa yang kamu rasakan, telah lebih dulu dirasakan, dituliskan, dan diabadikan.
Karena buku tak hanya menyelamatkan masa lalu. Ia menyelamatkan masa depan, dengan menyelamatkan kita hari ini. Jadi, buku apa yang telah membuatmu menangis? [] Redaksi









