Dunia Buku

Menangis

Apakah kamu pernah menangis saat baca buku? Kalau belum, barangkali kamu belum benar-benar membaca. Atau lebih menyedihkan, belum pernah benar-benar hidup. Karena ada jenis kesedihan yang hanya bisa dimengerti ketika sebuah kalimat fiksi menampar lebih keras daripada realita. Ada kelegaan yang hanya bisa hadir ketika kita tenggelam dalam halaman demi halaman dan mendapati bahwa rasa sakit itu ternyata bukan milik kita seorang.

Buku, dalam bentuk yang paling sunyi, adalah teman sejati yang tidak pernah meninggalkan kita, bahkan ketika seluruh dunia memilih balik kanan, ia tak menuntut balasan. Tak minta pamrih. Tak mempermasalahkan apakah kita membacanya dengan wajah berantakan setelah menangis semalaman, atau dengan tangan gemetar karena hidup sedang begitu berat. Ia tetap di sana, diam, setia, menunggu. Di rak penuh debu. Di meja belajar. Di pojok perpustakaan sepi.

Tapi dunia terlalu bising. Kita sibuk mengucapkan selamat ulang tahun lewat instastory, sibuk membangun citra lewat unggahan estetika, sibuk menggulir layar demi satu validasi kecil dari orang asing. Dan dalam riuh itu, buku hanya dianggap tumpukan kertas bau yang bikin ngantuk. Sialnya, ia bahkan dijadikan alat foto, diletakkan di samping kopi demi kesan cerdas, tanpa pernah dibuka. Ironi paling nyaring adalah yang katanya kita sedang haus pengetahuan, tapi tak tahan dua paragraf tanpa distraksi notifikasi.

Orang meremehkan buku, sekadar benda mati. Padahal buku telah menyelamatkan lebih banyak nyawa daripada seminar motivasi mana pun. Kita bisa tanya kepada mereka yang tumbuh dalam keluarga yang tak mengenal kata sayang, lalu mereka menemukan pelukan dalam sebuah cerpen.

Tanya pada remaja yang nyaris menyerah karena dunia terasa begitu gelap, karena ia diselamatkan oleh kisah di novel yang diam-diam mengajarkan bahwa kehilangan bukan akhir dari segalanya, dan keajaiban bisa datang bahkan dalam bentuk sahabat yang tak sempurna.

Buku tidak menyelamatkanmu dengan dramatis. Ia tidak datang membawa sirine atau lampu sorot. Ia menyelamatkan pelan-pelan, diam-diam, dengan menyusup ke dalam pikiran dan mengubah cara pandang. Dan seringkali, itu lebih menyelamatkan daripada semua tepuk tangan dan pelukan basa-basi.

Tapi tetap saja ada yang nyinyir, “Ah, cuma buku. Mana bisa nolong orang?” Jawabannya sederhana, karena buku bisa membuatmu berpikir. Dan orang yang bisa berpikir, bisa menyelamatkan dirinya sendiri.

Kita terlalu sering menyepelekan kekuatan kata. Padahal kata-kata bisa menghidupkan harapan. Menggerakkan orang yang jatuh. Atau membangun cinta yang lebih kokoh daripada tembok manapun.

Seorang pelarian perang. Berada di ruang sempit, berteman sebuah buku harian. Buku itu bukan hanya tempat ia mencurahkan ketakutan dan harapan, tapi juga saksi sejarah yang akhirnya membuat jutaan orang paham betapa kejamnya perang. Buku menyelamatkan jiwa, dan kemudian menyelamatkan ingatan dunia.

Orang yang dipenjara, dibungkam, disiksa. Di sana ia menulis. Hasilnya adalah buku yang menjelma peluru  yang membangunkan jiwa-jiwa tertidur. Bahkan dunia bisa berubah oleh kata-kata yang ada di sana.

Apa kita masih bilang buku itu remeh?

Mungkin kita harus berhenti memandang buku sebagai benda. Dan mulai melihatnya sebagai teman yang tak pernah menyela ketika kita bicara. Yang tak menuntut kita untuk baik-baik saja. Yang memeluk kita bahkan ketika kita tidak bisa memeluk diri sendiri.

Ada buku yang membuatmu tertawa. Ada yang membuatmu marah. Ada yang membuatmu ingin mencium kaki penulisnya karena betapa jeniusnya ia memahami isi hatimu, padahal kalian tak pernah bertemu. Dan diam-diam kamu menyeka air mata, tanpa kamu sadari.

Jadi, hidupmu terasa terlalu sunyi, kosong, atau terlalu bising, atau sedang terpuruk, carilah buku. Bukan untuk menghindar dari kenyataan, tapi untuk memahami bahwa kamu tidak sendiri. Bahwa yang kamu rasakan, telah lebih dulu dirasakan, dituliskan, dan diabadikan.

Karena buku tak hanya menyelamatkan masa lalu. Ia menyelamatkan masa depan, dengan menyelamatkan kita hari ini. Jadi, buku apa yang telah membuatmu menangis? [] Redaksi

Dunia Buku

Sok Tahu

Ada satu penyakit akut yang makin merajalela, penyakit sok tahu setelah baca setengah halaman, atau lebih parah baru baca judulnya. Iya, cuma judul. Udah langsung bikin status panjang, analisis asal, dan kasih komentar seakan dia Ketua Umum Asosiasi Pembaca Teks Suci Dunia. Ironisnya, yang lain pun ikut mengamini. Yang lebih lucu, kadang judulnya clickbait, isinya justru bantahan dari apa yang mereka percaya.

Membaca itu penting, katanya. Tapi lebih penting lagi menyadari bahwa membaca tak otomatis membuat tahu segala. Apalagi mengerti. Karena paham itu rumit. Ia butuh waktu, pengalaman, kadang juga butuh jatuh cinta, patah hati, atau ditipu dulu biar bisa bilang:  Oh, ini maksudnya.

Kita hidup di zaman serba cepat, di mana membaca satu utas X dianggap sama dengan riset akademik bertahun-tahun. Cukup baca 280 karakter, langsung debat soal geopolitik, ekonomi makro, sampai etika cinta. Padahal, kadang paragraf pembukanya saja belum kelar dicerna.

Di level pemerintahan, penyakit ini jadi wabah nasional. Pejabat kita sering banget komentar soal buku yang katanya bahaya atau tidak sesuai Pancasila, padahal kalau dicek, bukunya belum beredar. Atau baru terbit satu jam lalu. Mustahil mereka sempat baca. Tapi sudah bisa ngomong soal dampak ideologis dan moral. Salut, dah. Dewa literasi pokoknya.

Dan masyarakat? Jangan tanya. Kita senang sekali ambil kesimpulan dari headline. Judul berita: Anak SD Dihukum Guru— langsung marah. Padahal isi berita:  Anak SD dihukum karena bermain petasan di kelas dan nyaris meledakkan laboratorium. Tapi siapa peduli. Judul udah cukup, karena membaca isi  terlalu melelahkan.

Dalam soal cinta pun sama. Banyak orang percaya bahwa baca buku filsafat cinta akan membuat kita jadi kekasih ideal. Baca Kahlil Gibran tiga halaman, lalu merasa diri adalah inkarnasi Romeo. Padahal lupa kalau dirinya hidup sendirian. Cinta itu bukan cuma kata-kata manis yang dikutip dari buku, tapi soal memahami hati yang sering kali tak tertulis. Dan itu, maaf, tak bisa didapat cuma dengan membaca teori.

Masalahnya adalah, kita mengira bahwa baca itu harus tahu segalanya. Bahwa setelah baca satu buku, kita harus bisa bicara panjang lebar, debat, dan merasa paling tahu. Padahal sejatinya, membaca itu proses menyentuh sebagian kecil dari samudera pengetahuan. Kita hanya melihat satu pantai, bukan seluruh lautan. Kalau pun kita merasa mengerti sesuatu, itu hanya hal kecil dari kenyataan.

Kadang pemahaman yang utuh datangnya belakangan. Kita mungkin baca satu buku hari ini dan merasa biasa aja. Tapi lima tahun kemudian, setelah jatuh bangun, barulah kita bilang: Ya ya ya, aku tahu sekarang.  Itulah kenapa orang sering baca ulang buku yang sama. Karena bukan bukunya yang berubah, tapi kita. Perspektif kita. Luka kita. Derita kita. Kematangan kita. Cinta kita.

Membaca seutuhnya itu lebih penting daripada sekadar tahu cepat. Tapi ya itu, seutuhnya berarti sabar, terbuka, mau menerima bahwa kita belum paham semua. Dan itu berat buat mereka yang alergi terhadap kata, belum tahu. Karena mereka takut terlihat bodoh. Padahal, justru yang paling bodoh adalah yang merasa sudah tahu segala dari satu bacaan.

Buat yang suka ngomong: Aku tahu kok, aku udah baca! — sini deh, mari kita cek. Baca itu bukan mantra sakti. Baca itu awal dari proses. Bukan akhir dari segalanya. Jadi kalau habis baca buku terus kamu merasa tercerahkan, bagus. Tapi kalau kamu langsung merasa jadi pakar, jadi nabi, jadi filsuf, mungkin kamu perlu baca lagi. Atau lebih baik diem dulu, cerna, hayati. Dunia ini terlalu kompleks untuk disederhanakan dalam satu kutipan.

Akhirnya, membaca bukan untuk jadi sok tahu, tapi biar tahu kalau kita sebenarnya masih banyak yang belum kita tahu. Titik. [] Redaksi

Dunia Buku

Situ Waras?

Hadiah itu momen orang suka cita, betul? Kado berkilau, amplop tebal, senyum penerima mengembang. Pokoknya, suasana penuh bahagia dan, tentu saja kejutan menyenangkan. Tapi coba bayangkan, di tengah euforia itu, ada orang yang tiba-tiba nyodorin  buku. Bukan uang, bukan ponsel, bukan barang mewah yang bisa langsung dipakai. Tapi buku. Buku! Situ waras?

Di negeri ini, buku sebagai hadiah masih dianggap nyeleneh. Hadiah itu lambang cinta? Iya. Tapi cinta dalam pemahaman umum, ya berupa sesuatu yang langsung bisa dinikmati. Hadiah kok bacaan? Hati-hati, nanti dibilang sok pinter. Ngasih buku tuh mirip kayak ngajak diet pas lagi pesta all-you-can-eat. Mau niat baik, tetap saja tampak tidak pada tempatnya.

Lebih nyesek lagi kalau penerima hadiahnya anak-anak. Bocah udah ngarep dapet mainan keren dari  om, tante, kakek, nenek. Eh, malah disodori buku. Bukan buku dongeng, bukan komik, tapi buku yang katanya membangun karakter. Seketika ekspresi bocah berubah. Awalnya senyum, lalu mendadak bingung, terus lirik kanan-kiri seakan bertanya, “Prank nih?”

Jangan salahkan mereka. Masyarakat kita terbiasa menyamakan hadiah dengan sesuatu yang instan: uang, makanan, atau barang yang bisa langsung dipakai. Buku? Itu investasi jangka panjang. Dalam budaya yang lebih doyan kepuasan instan, investasi jangka panjang itu terasa tidak seksi.

Padahal, kalau mau tengok sejarah, peradaban maju selalu ditopang kebiasaan baca. Buku fondasi kemajuan, dari zaman manuskrip kuno sampai era digital. Dari membaca, lahir ilmuwan hebat, filsuf cemerlang, pemikir yang namanya abadi hingga kini.

Tapi apa sekarang? Budaya baca kalah telak sama budaya scroll. Buku berdebu di rak, sementara gawai selalu update. Tempat diskusi dan literasi sepi, tapi promo belanja selalu ramai. Begitu pun saat memberi hadiah. Orang berburu barang mahal, makanan, ponsel, fashion. Buku? Nanti dulu.

Coba perhatikan, kapan terakhir kita melihat orang membungkus buku sebagai hadiah dan dengan bangga memberinya? Mungkin ada, tapi jarang. Jauh lebih sering kita lihat antrean di kasir mall untuk beli kado mewah dan itu bukan buku.

Ironis lagi, kita kasih hadiah buku, risikonya besar. Bisa dianggap sok pinter, dianggap menggurui, dan bisa-bisa malah bikin orang tersinggung. “Kamu ngasih aku buku ini maksudnya apa? Nyindir aku?” Padahal kalau dikasih duit, nggak ada yang tersinggung. Heran, kan?

Buku itu nasibnya mirip pemerintah: diagung-agungkan dalam teori, tapi diabaikan dalam praktik. Semua orang tahu membaca itu baik, sama seperti tahu negara harus adil dan sejahtera. Tapi begitu sampai eksekusi? Tidak dulu. Mirip janji kampanye, janji membaca sering tinggal janji. Dibeli, ditumpuk, dilupakan.

Pejabat pun sering curiga dengan buku. Nyatanya kadang ada buku-buku disita. Kenapa? Waduh, bahaya. Kebanyakan baca, rakyat kritis. Bisa-bisa nanti nanya, “Ini pejabat kerja nggak sih?” Makanya, mereka lebih suka ngasih janji. Hahaha

Cinta pun sama. Banyak yang bilang cinta itu soal memberi yang terbaik. Tapi coba kasih buku sebagai tanda cinta? Wah, risikonya besar. Bisa dibilang kurang romantis, dibilang kurang effort. Padahal, buku itu tidak layu kayak bunga, tidak basi kayak cokelat, dan tidak bikin kantong jebol kayak perhiasan.

Tapi tetap saja, ngasih buku ke pasangan, harus siap mental. Ada yang terharu, ada juga yang  tersinggung. “Ini maksudnya aku kurang pintar?” Padahal kalau dikasih skincare, tidak ada yang tersinggung, dan tidak mengatakan, “Ini maksudnya aku nggak cantik?”

Tapi justru karena itulah, memberi buku adalah tindakan revolusioner. Ini bentuk perlawanan terhadap tren konsumtif yang makin menggila. Cara halus untuk mengatakan: “Saya peduli kamu, dan saya ingin kamu mendapat sesuatu yang lebih dari sekadar barang fana.”

Bayangkan kalau tiap keluarga, minimal satu orang, mulai tradisi ini. Misalnya, si paman yang biasanya kasih uang, kali ini ngasih buku. Bisa jadi, tahun pertama dijadikan ganjal meja. Tahun kedua, mungkin dipindah ke rak biar tidak berdebu. Tapi siapa tahu, tahun ketiga, ada tangan yang iseng membuka. Dari situ perjalanan baru dimulai.

Sama seperti amplop atau kado yang selalu ditunggu, bayangkan jika suatu saat ada anak kecil yang excited bukan karena uang atau mainan, tapi karena buku. Karena dia tahu, buku adalah tiket ke dunia yang lebih luas.

Tentu, tidak semua orang bisa langsung menerima. Kita hidup di tengah masyarakat yang masih menjunjung tinggi simbol material sebagai bentuk sayang. Tapi bukan berarti kita menyerah. Justru itu tantangan.

Memberi buku sebagai hadiah bukan sekadar memberi barang, tapi memberi kesempatan. Kesempatan untuk berpikir, untuk merenung, untuk melihat dunia dari perspektif yang lebih luas. Kalau kita benar ingin melihat perubahan, mungkin sudah waktunya kita mulai langkah kecil ini.

Jadi, kalau tahun ini kamu ingin memberikan sesuatu yang berarti, cobalah bungkus sebuah buku. Siapa tahu, tahun depan, giliran kamu yang menerima buku. Kalau terjadi, percayalah, itu hadiah terbaik yang bisa kamu dapatkan. [] Redaksi

Dunia Buku

BBS

Bukan, Buku Best Seller, melainkan Biarpun Buruk, Sikat. Kita hidup di zaman ketika label “best seller” lebih sakti daripada isi bukunya. Begitu satu buku dilabeli “paling laris,” orang berbondong membeli, seakan takut kehilangan momen emas dalam sejarah dunia. Padahal, kalau ditelisik, banyak buku best seller yang tak lebih dari fast food, cepat saji, nikmat sesaat, tapi minim gizi.

Ambil contoh buku self-help yang bertebaran di rak toko. Isinya penuh motivasi ala trainer seminar: Jangan Menyerah, Jadilah Versi Terbaikmu, atau Kamu Bersyukur, Rezeki Datang. Seperti dengar nasihat ibu di rumah, tapi kali ini harus bayar seratus ribu untuk baca. Lebih konyol, setelah beli, baca 10 halaman pertama lalu merasa tercerahkan, lebih tepatnya cukup tergugah lalu mengunggahnya di Instagram.

Di sisi lain, buku-buku ini menyingkap betapa rakyat sebenarnya sudah tak percaya pada pemerintah. Kalau negara bisa menjamin kehidupan layak, orang tak akan butuh buku yang mengajarkan cara bertahan hidup di tengah keterpurukan. Tapi karena janji politik lebih sering berending seperti drama Korea yang menggantung, rakyat pun cari buku motivasi di minimarket.

Lalu, ada fenomena buku best seller yang isinya curhatan pejabat. Pernah lihat buku biografi politisi yang penuh kalimat seperti: Saya berjuang dari nol, atau Saya hanya ingin mengabdi negeri? Lucunya, buku-buku ini sering terbit menjelang pemilu. Seakan mereka ingin bilang, “Pilih saya, saya orang baik.” Ironisnya, yang menulis buku tidak benar-benar menulis. Itu kerjaan ghostwriter yang gajinya lebih kecil dari anggaran parkir rapat mereka.

Masyarakat, tentu saja, punya peran dalam meramaikan pasar buku ini. Kita suka yang mudah dikunyah. Novel romance best seller, sering datang dengan pola sama: gadis miskin bertemu cowok kaya, konflik dramatis, lalu bahagia. Entah kenapa, skenario ini terus diulang, seolah semua orang diam-diam berharap hidupnya seperti telenovela. Padahal, realitanya, cowok kaya lebih mungkin jatuh cinta pada sesama pewaris tahta, bukan gadis biasa yang tersandung bata.

Dan ada cinta bentuk lain, cinta terhadap tren. Banyak orang beli buku bukan karena ingin baca, tapi karena takut ketinggalan. Ada fenomena Fomo (Takut Ketinggalan), yang begitu buku viral, orang gegas beli, entah dibaca atau tidak. Kalau buku itu difilmkan, cukup nonton filmnya. Buku masih di rak, masih terbungkus.

Jadi, apakah buku best seller sungguh keren isinya? Tidak selalu. Best seller hari ini seringnya bukan hal mutu, tapi momentum. Seperti junk food, kemripik dan lezat, tapi tak kenyang. Layaknya soda, menggelegak dan geter, tapi sendawa. Bak balon gas, menggelembung dan melayang, tapi kosong. Tak ubahnya mi instan, kilat dan sedap, tapi sekejap. Bagai pop corn,  renyah dan gurih, tapi kopong. Namun jangan lantas kalian menangis, karena tetap ada, buku best seller karena isinya memang jos. [] Redaksi

Dunia Buku

Mbahmu Kiper

Ada dua hal yang biasa dianggap sakral tanpa alasan jelas, gelar di belakang nama dan ISBN di sampul belakang. Ini zaman ketika angka lebih dihormati daripada makna. Mau bukti? Lihat saja ISBN. Nomor yang seharusnya hanya kode katalog, jadi stempel suci.

Buku ber-ISBN dianggap lebih mutu, lebih sah, lebih berhak dibaca. Sebaliknya, buku tanpa ISBN? Ah, pasti sampah. Padahal, ISBN tidak menilai isi. Ia hanya memberi nomor urut, seperti antrean beli nasi bungkus di warung padang.

Syarat untuk mendapat ISBN, tidak ada hubungannya dengan mutu isi, tapi lebih ke hal remeh seperti legalitas penerbit atau kelengkapan dokumen. Mau buku setebal ensiklopedia atau sekadar kumpulan curhat perihal mantan, selama syarat admin terpenuhi, ISBN siap cetak.

Pejabat kita, seperti biasa, sangat cinta angka. Kalau bisa dihitung, bisa dilaporkan, bisa dipamerkan, maka dianggap penting. Begitu juga ISBN. Berapa buku yang terbit dengan ISBN setiap tahun? Itu sekadar statistik. Tapi apakah buku-buku itu layak dibaca? Ah, itu soal lain. Yang penting ada angka.

Seorang pejabat budaya membuka acara literasi, “Tahun ini kita telah menerbitkan 10.000 buku ber-ISBN!” Semua tepuk tangan. Tapi tidak ada yang tanya, “Berapa buku yang benar-benar bagus?” Tidak penting. Yang penting ada data untuk laporan tahunan.

Kalau ada buku yang tajam mengkritik kebijakan? Bisa tetap mendapat ISBN. Tapi terkadang, buku seperti itu hilang dari peredaran. Apakah ISBN bisa menjadi semacam gerbang pengawasan?

Sebagian masyarakat kita juga lucu. Mereka menganggap ISBN sebagai simbol serius. Kalau ada buku bagus tanpa ISBN, mereka ragu. “Ini buku beneran atau fotokopian?” Padahal, buku itu bisa saja ditulis dengan riset bertahun-tahun, tapi karena tak punya nomor ajaib, dianggap kurang berharga. Sebaliknya, ada buku yang isinya hanya copas Wikipedia, tapi punya ISBN, ia dipajang di rak toko dengan bangga. Ditambah endors dari selebgram, lengkaplah sudah keagungan.

Dan ada pula orang yang membeli buku hanya untuk pamer. Mereka tak peduli isi, yang penting ada kode di belakang untuk dipindai. “Lihat dong, koleksi bukuku asli semua!” Seolah ISBN tanda kecerdasan. Padahal, buku itu masih segel plastik, belum pernah dibuka sejak dibeli.

Di dunia cinta pun tak mau kalah, ISBN bisa menjadi metafora menarik. Cinta yang murni, tanpa label resmi, sering dianggap abu. Sama seperti buku tanpa ISBN. “Kalian pacaran udah lama, tapi belum nikah, kok mirip buku nggak ada ISBN-nya?”

Padahal, sah atau tidaknya cinta bukan ditentukan oleh kertas. Sama seperti mutu buku bukan ditentukan nomor. Banyak pernikahan hampa, seperti buku ber-ISBN tapi isinya motif basi. Sebaliknya, ada cinta tak terikat admin tapi penuh makna, seperti buku underground yang mengguncang dunia.

Jadi, apakah ISBN penting? Tentu, sebagai alat data dan distribusi. Tapi apakah menjamin mutu? Tentu tidak sama sekali. Jika ingin tahu seperti apa sebuah buku tetap harus dibaca, apakah ia mampu menghapus dahaga atau justru membuat muntah.

Menyamakan ISBN dengan mutu adalah konyol. Sama seperti mengira orang bergelar panjang pasti lebih pintar, atau berpikir restoran mahal pasti lebih enak. Dunia ini tidak sesederhana itu, Ferguso. Jadi, jika lain kali ada orang yang bilang, “bukumu nggak ber-ISBN, pasti nggak serius,” sahutlah, “nggak serius, mbahmu kiper!” [] Redaksi

Dunia Buku

GGS

Bukan, Ganteng-Ganteng Serigala, melainkan Gemerlap, Gelap, dan Semu. Kita hidup di zaman ketika orang memilih buku bukan karena isinya, tapi karena siapa yang menerbitkan. Kalau dari penerbit besar, langsung dikira berkualitas. Kalau dari penerbit kecil, langsung dicurigai abal-abal. Ini mirip seperti melihat orang dari baju yang dipakai, padahal banyak orang berseragam rapi tapi pikirannya kusut.

Di rak-rak toko, buku berjejer dengan sampul gemerlap. Judul menggoda, desain mewah, promosi di mana-mana. Tapi begitu dibuka, isinya tak lebih dari daur ulang gagasan yang dikemas baru. Semu, seperti kue ultah mewah tapi rupanya hanya maket yang tak bisa diiris.

Penerbit besar punya modal besar. Bisa bayar editor, desainer, distributor. Buku-buku mereka mudah ditemukan, menjulang di etalase utama. Tapi di balik itu, ada yang sering lupa, mereka harus cari untung. Maka yang diterbitkan buku-buku aman. Aman bagi pasar, bagi selera, bagi siapa pun yang bisa tersinggung.

Lihatlah rak buku di toko-toko besar. Judul-judulnya mirip iklan motivasi: Jadi Kaya dalam 7 Hari, Rahasia Sukses Tanpa Usaha, atau Bertahan di Kantor dengan Senyum Palsu. Kalau bukan buku motivasi yang isinya pengulangan, ya buku selebriti yang baru terkenal seminggu. Isinya hanya curhat yang dibungkus dengan kata pengantar orang yang lebih terkenal.

Di sisi lain, penerbit kecil lebih bebas. Tidak dibebani target jual yang fantastis. Mereka bisa menerbitkan buku yang lebih tajam, lebih berani, lebih menggigit. Buku yang mungkin tidak mencolok di etalase, tapi menyala di pikiran. Tapi kebebasan ini kadang juga bumerang. Banyak yang berpikir, asal bisa cetak dan jual, itu cukup. Maka lahirlah buku tak disentuh editor, dengan tata bahasa berantakan, dan isi yang lebih mirip pesan panjang di grup WhatsApp keluarga.

Sialnya, masyarakat lebih sering tertarik gemerlap tampilan ketimbang isi. Buku dari penerbit besar, meski isinya cetek, tetap dipuja. Buku dari penerbit kecil, meski isinya luar biasa, tetap dicurigai. Begitulah cara kita memperlakukan sesuatu, lebih menghargai kemasan semu daripada esensinya.

Dan ini bukan cuma soal penerbit. Ini soal bagaimana kita memperlakukan buku.

Pejabat kita? Mereka lebih suka buku pujian. Kalau ada buku yang mengkritik kebijakan, mereka tidak baca, tapi berusaha menariknya. Tidak perlu jauh-jauh, lihat saja daftar buku yang dilarang negeri ini, kebanyakan buku yang terlalu banyak bertanya.

Pembaca kita? Banyak yang beli buku bukan untuk dibaca, tapi untuk dipajang. Lebih tepatnya, untuk difoto. Buku bukan lagi jendela, tapi properti. Mau buku berat atau ringan, yang penting bisa diletakkan di sebelah secangkir kopi dengan filter estetik. Pencitraan semu.

Dan yang lebih menggelikan: cinta pun ikut-ikut. Dulu, membaca buku tanda orang punya wawasan luas. Sekarang, baca buku jadi kriteria eksotis dalam mencari pasangan. “Kamu suka baca buku? Wah, langka banget!” Seakan-akan baca buku itu selevel dengan memelihara dinosaurus.

Jadi, apa yang sebenarnya membuat buku bagus? Bukan siapa yang menerbitkan. Tapi apakah buku itu bisa mengubah cara kita melihat dunia. Apakah ia bisa mengguncang, menggedor, atau setidaknya membuat kita berpikir ulang tentang sesuatu yang selama ini kita anggap biasa saja.

Karena gemerlap tampilan tak selalu sejalan dengan terang isi. Yang besar belum tentu bernilai, dan yang kecil belum tentu remeh. Yang beredar luas belum tentu sarat makna, yang sulit dicari belum tentu tak berharga. Tapi jika kita terus menilai buku hanya dari kemasannya, maka kita tak lebih dari sekadar pembaca kilau, bukan pencari cahaya. [] Redaksi

Dunia Buku

Sememangnya

Di dunia buku ada dua jenis manusia, mereka yang berburu buku untuk dibaca dan mereka yang berburu buku bertanda tangan penulisnya. Yang pertama membeli karena haus isi, yang kedua membeli karena lapar prestise. Dua-duanya sah, tapi yang kedua lebih ribet.

Tanda tangan penulis di buku katanya seperti jimat. Seketika menaikkan kasta buku dari biasa menjadi yang limited edition. Harga melonjak, gengsi terangkat. Pemiliknya pun merasa istimewa. “Eh, bukuku ada tanda tangan penulisnya, loh!” katanya, dengan nada tak sekadar memberitahu, tapi menuntut dikagumi.

Dulu, tanda tangan punya magis. Ada ritualnya. Pembaca datang ke acara peluncuran, berdiri antre, tangan gemetar saat salaman dengan penulis, lalu menerima coretan itu dengan hati berbunga. Ada interaksi, ada momen yang bisa diceritakan. Tapi sekarang? Tinggal buka e-commerce, cari yang ada label signed copy, bayar lebih mahal, beres. Tidak ada interaksi, tidak ada cerita. Magisnya hilang, dan sekadar transaksi.

Lebih ironis, banyak yang membeli buku bertanda tangan bukan untuk dibaca, tapi dipajang. Mereka memperlakukannya seperti artefak museum, disimpan rapi di rak kaca, diberi penerangan khusus, dijaga dari debu dan tangan jahil. Mungkin nanti kalau butuh dana, bisa dijual. Kalau ditanya apa isi bukunya, mereka jawab, “Belum baca, sih. Tapi ini edisi spesial!”

Dan paling lucu di Indonesia, buku bertanda tangan dan tidak, sama saja. Di luar negeri, tanda tangan bisa melipatgandakan harga, meningkatnya aset koleksi seiring waktu. Di sini? Tetap bisa ditemukan di rak obral, bertumpuk dengan buku lain yang tidak laku. Kenapa? Karena di sini, buku bukan barang berharga. Literasi bukan investasi. Buku dianggap hobi mahal yang tidak memberi keuntungan.

Kita ini bangsa yang lebih menghargai tanda tangan di dokumen proyek ketimbang di halaman buku. Pejabat bisa menandatangani kontrak pengadaan fiktif, langsung cair miliaran. Tapi tanda tangan penulis di buku, tidak ada yang peduli. Mana yang lebih bernilai? Jelas yang bisa menghasilkan duit cepat.

Bicara soal tanda tangan pejabat, mereka adalah spesies yang paling gemar menandatangani sesuatu tanpa membaca. RUU? Teken. Anggaran? Teken. Surat keputusan? Teken. Tidak perlu repot memahami isinya. Yang penting ada tanda tangan, urusan selesai. Lalu rakyat disuruh rajin membaca, katanya demi meningkatkan kecerdasan bangsa. Ironi yang terlalu nyaring.

Lihatlah, buku yang serius, yang isinya membongkar kebusukan sistem, yang penuh dengan pemikiran kritis, justru sering tidak laku. Yang laris justru buku motivasi instan, buku self-help yang menjanjikan kesuksesan dengan cara cepat, atau buku yang viral di medsos karena sampulnya estetik. Tak heran, pejabat pun lebih gemar membaca laporan keuangan yang sudah dimanipulasi daripada membaca kebijakan yang disahkan sendiri.

Tapi mungkin memang begitulah dunia. Termasuk hal cinta. Ada yang benar mendalami dan memahami, ada yang hanya tertarik pada kemasan. Nikah tanpa cinta, sebatas tanda tangan di kertas. Sah hukum, tapi kosong rasa. Begitu juga buku, ada tanda tangan penulis, tapi tidak dibaca.

Dan lebih menggelikan, fenomena ini bukan hanya terjadi di kalangan pembaca biasa. Bahkan di dunia akademik pun, buku sekadar simbol status. Pernah melihat rak buku pejabat atau akademisi yang penuh dengan buku tebal dan serius? Terlihat mengesankan, sampai kamu sadar bahwa sebagian besar dari buku masih tersegel plastik. Tidak pernah dibuka, apalagi dibaca.

Jadi, mari kita buat lebih jujur. Apa yang sebenarnya kita cari dari buku bertanda tangan? Apa benar karena kita ingin menyimpan sesuatu yang berharga, atau hanya ingin menunjukkan bahwa kita memiliki sesuatu yang lebih dibanding orang lain?

Buku bertanda tangan tetaplah sebuah buku. Jika isinya tidak dibaca, tanda tangan itu tidak lebih dari sekadar coretan tak berarti. Sama seperti tanda tangan pejabat di proyek-proyek bodong, sah secara admin, tapi kosong makna.

Mungkin sudah waktunya kita kembali ke akar. Tidak perlu mengagungkan tanda tangan, tidak menjadikan buku sebagai aksesoris. Buatlah sememangnya, memberi makna bukan siapa yang menandatangani, tapi siapa yang membaca dan memahami. [] Redaksi

Dunia Buku

Gengsi, Kuasa, dan Ilusi

Ada kepercayaan aneh di dunia buku, ukuran buku menentukan nasibnya. Katanya, buku terlalu besar jadi malas dibawa, yang terlalu kecil diremehkan. Kalau tebal dianggap berisi, kalau tipis dibilang kurang dalam. Sebuah logika yang entah datang dari mana, tapi dipercaya banyak orang, termasuk mereka yang sok intelek. Padahal, ukuran buku itu cuma perkara teknis. Harusnya tidak perlu jadi bahan perdebatan. Tapi, begitulah, hal sepele bisa jadi ajang unjuk kepintaran.

Kamu pernah ketemu orang beli buku cuma karena tebalnya? Mereka pikir semakin tebal, semakin cerdasnya terlihat. Maka mereka beli buku setebal bantal, difoto, diunggah ke medsos, lalu ditinggal berdebu di rak. Toh, tujuannya hanya pamer.

Sebaliknya, buku tipis sering dianggap ecek-ecek. “Ah, cuma 50 halaman? Pasti tidak berbobot.” Lucu, seakan jumlah halaman otomatis menentukan kedalaman isi. Manifesto revolusi bisa cuma 30 halaman, tapi isinya cukup mengguncang pemerintah. Sementara, ada biografi pejabat setebal kitab suci yang isinya cuma gombalan dan kisah hidup yang sengaja dibagus-bagusin.

Ukuran buku bukan cuma soal gengsi, tapi juga bisa jadi alat penguasa untuk mengontrol cara orang berpikir. Diktator tahu betul bahwa buku itu bahaya kalau ringkas dan mudah dibawa. Makanya, mereka takut sama buku kecil yang bisa masuk saku, gampang diselundupkan, dan lebih cepat menyebar. Buku-buku semacam ini sering jadi sasaran sensor karena berpotensi menyebarkan gagasan liar.

Di sisi lain, penguasa suka membuat buku biografi setebal batu bata tentang dirinya. Kenapa? Biar kelihatan monumental, seolah pemimpin itu manusia raksasa yang pantas dikagumi. Isinya? Ya, itu tadi, puja-puji membosankan yang hanya dibaca pegawai negeri yang terpaksa.

Ada juga buku yang sengaja dibuat raksasa biar tidak bisa dibaca sambil tiduran atau diangkut ke kafe. Harus dibaca serius di meja kerja. Seolah membaca itu harus jadi kegiatan berat, bukan sesuatu yang santai. Sebaliknya, ada buku yang dibuat sekecil mungkin, font mungil membuat mata perih. Mungkin biar orang kapok baca dan berhenti cari ilmu. Sebuah penghinaan halus, “Kalau kau benar mau belajar, ya tahan siksaan.”

Ukuran buku juga menciptakan kesenjangan sosial. Buku besar, hardcover, mahal, konsumsi kaum elite. Buku saku, kertas buram, murah, untuk rakyat jelata. Bahkan di dunia penerbitan, ukuran buku jadi semacam alat seleksi sosial, penulis pemula disuruh membuat buku tipis dulu, sementara penulis terkenal bisa mencetak buku setebal novel klasik Rusia.

Ironisnya, justru buku kecil yang sering membuat perubahan besar. Pamflet revolusi, manifesto bawah tanah, selebaran perlawanan, semuanya kecil, ringan, gampang dibawa, tapi dampaknya luar biasa. Revolusi sering kali lahir bukan dari buku megah yang dipajang di perpustakaan mewah, tapi dari secarik kertas yang bisa diselipkan di bawah pintu.

Ukuran buku, yang kelihatannya remeh, ternyata mencerminkan cara kita memperlakukan ilmu. Kalau kita masih percaya buku besar lebih penting dari buku kecil, berarti kita masih terjebak dalam mentalitas besar berwibawa.

Seorang pejabat yang membaca buku tebal belum tentu lebih cerdas dari seorang buruh yang membaca pamflet politik. Profesor dengan koleksi ensiklopedia belum tentu lebih tercerahkan dari seorang mahasiswa yang membaca selembar puisi kebebasan.

Dan bagaimana dengan kisah cinta terkait hal ini? Ah, juga tak lepas dari gengsi dan ilusi. Orang sering berpikir bahwa kisah cinta megah, penuh tragedi, dan berlembar-lembar seperti novel klasik adalah yang paling berharga. Seperti Romeo dan Juliet, roman yang tebal dengan kematian tragis di akhir. Tapi benarkah begitu?

Cinta tak selalu cerita panjang. Kadang, ia cukup jadi catatan kecil di buku harian, selembar puisi yang terselip di dompet, atau tulisan singkat di belakang tiket bioskop, pendek, padat, tapi menghujam dalam.

Tapi seperti biasa, ada yang suka terjebak gengsi. Mereka pikir kisah cinta panjang adalah paling berarti. Mereka ingin surat cinta yang berhalaman-halaman, bukan pesan singkat tapi penuh makna. Mereka ingin cerita yang bisa difilmkan, bukan momen sederhana di halte bus. Ironisnya, kisah cinta yang terlalu panjang sering membosankan. Seperti buku tebal yang isinya bertele-tele.

Jadi, ukuran buku dan cinta ternyata tak jauh beda. Yang besar belum tentu hebat, yang kecil belum tentu remeh. Pada akhirnya, yang penting bukan seberapa panjang, tapi seberapa dalam menetap di hati. Karena pada akhirnya, buku diukur bukan dari seberapa besar fisik, tapi seberapa besar dampaknya. Ada buku kecil yang bisa mengguncang dunia. Ada buku besar yang isinya cuma formalitas belaka. Jadi, kalau ada yang bilang ukuran buku menentukan nasibnya, tanya balik,  Apa yang sebenarnya menentukan, ukuran atau isi? [] Redaksi

Dunia Buku

Buku Tak Selamanya Dibaca

Ada berbagai macam cara untuk menikmati buku. Bagi orang dewasa, tentu cara menikmati buku ya dengan membaca. Tidak melulu harus paham isinya. Seperti halnya minum kopi, tidak wajib tahu jenis kopi dan bagaimana cara pengolahannya, siapa pun bisa menyesap kopi. Dengan atau tanpa gula. Disajikan panas atau dingin. Semua kembali pada kesukaan, kebiasaan dan tingkat pengetahuan si penikmat kopi atau buku itu sendiri.

Tapi pernahkah kamu melihat bagaimana dunia anak-anak bekerja? Murni, bebas dan tanpa aturan. Pada dasarnya mereka tidak suka dibatasi. Ada haus akan penasaran yang selalu ingin dituntaskan. Maka tak heran jika buku bagi anak-anak haruslah menarik secara penampilan. Fullcolour dan penuh dengan gambar.

Ada contoh seorang anak balita yang belum bisa membaca, ketika ada buku yang menurutnya menarik, maka dia akan meminta dibacakan oleh ibunya. Entah itu dongeng, atau cerita anak lainnya. Selama belum bosan, bisa jadi anak itu akan meminta ibunya untuk terus menerus membacakannya. Meski ada banyak buku lain yang juga bisa dibaca. Hal itu bukan karena si anak suka dengan ceritanya, tapi mungkin tertarik dengan cara ibunya membaca: suara, intonasi, dan ekspresi saat membacakan cerita. Itulah kenapa buku bisa menjadi jembatan untuk mendekatkan hubungan antara orangtua dengan anaknya. Anggaplah dunia dongeng berada di level 1 cara anak menikmati buku.

Berikutnya, masuk ke level 2. Anak itu bosenan. Biasanya, semakin besar, maka anak sudah tidak terlalu tertarik lagi dengan dongeng sebelum tidur. Rasa penasarannya sudah mulai ingin di-explore sendiri. Buku-buku cerita anak yang biasanya tertata dan tersimpan rapi, mendadak tersebar memenuhi lantai. Ada yang dicorat-coret, digambar, diwarnai, bahkan ada juga yang menggunting-gunting tokoh dan hewan yang ada di buku, lalu ditempel di tembok, kulkas, dan perabot-perabot lain yang ada di rumah. Di sinilah biasanya istilah Rumah Bak Kapal Pecah akhirnya muncul. Buku sudah bukan lagi dibaca atau dibacakan. Mereka ingin sesuatu yang lebih. Termasuk merobek-robek dan menciptakan ulang bentuk baru dari kertas. Misal: menjadi kapal, pesawat, atau yang lainnya.

Begitulah cara anak menikmati buku. Kesenangan mereka tidak hanya didapat dari sekadar membaca dan mendengar. Mereka belum mengenal istilah rapi, bersih, dan tertata. Dan memang seperti itulah dunia mereka. Justru para orangtua yang membuat anak menjadi tidak tertarik dengan buku. Kalimat: Jangan sampai kotor! Jangan dicorat-coret! Jangan sampai rusak! Dan berbagai jangan jangan lainnya yang sebenarnya menjadi mantra sihir yang membuat anak malas berdekatan dengan buku.

Karena itu, menikmati bacaan adalah hal yang sangat relatif. Tidak sepantasnya diatur, dihujat dan dibanding-bandingkan. Apakah membaca novel terjemahan jauh lebih terpelajar dari membaca novel lokal. Membaca komik lebih terkesan malas dibanding membaca biografi tokoh sejarah. Semua tidak ada yang lebih unggul dari yang lain. Karena setiap buku, memiliki pembaca dan cara menikmatinya sendiri-sendiri. [] Redaksi

Dunia Buku

Bercak

Ada buku yang bersih, disampul plastik bening, berjilid rapi, disusun simetris di rak kaca dengan pengharum ruangan aroma kayu manis. Dan ada buku yang bercak, sudut halamannya keriput, ujung kertasnya menggulung, tintanya memudar terkena air, atau lebih brutal lagi, bercak kecokelatan yang tak sanggup kita yakini berasal dari kopi atau kotoran adik. Ironisnya, sering kali buku yang paling bercak itu justru yang paling hidup.

Mari kita mulai dari bercak paling populer: kopi. Membekas bundar di halaman 47 novel murahan yang dibaca di warung saat menunggu hujan reda. Jejak cangkir itu tampak seperti stempel resmi dari waktu, pengukuhan bahwa buku ini telah dibaca dengan tergesa tapi penuh harap. Ini bukan sekadar tumpahan. Ini bukti bahwa pengetahuan, cerita, bahkan cinta, bisa tumbuh di tengah kebisingan tukang parkir dan isak hujan di atap seng.

Kita pernah punya buku pelajaran bersampul kalender bekas, dengan bercak saus tomat dari nasi bungkus makan siang. Anak-anak sekolah dari keluarga pas-pasan tahu betul, belajar dan lapar itu dua sisi dari satu koin yang dilempar secara sembrono. Dan ketika saus itu menodai halaman, itu bukan kecelakaan. Itu pernyataan, pengetahuan tidak tumbuh di ruang steril, tapi di sela-sela perut keroncongan dan PR yang dikerjakan sambil jaga warung.

Lalu ada bercak lumpur. Buku korban banjir. Yang kertasnya merekah seperti luka lama yang terbuka lagi. Bau busuk lembabnya seperti nostalgia yang basi, tentang negara yang tak pernah belajar menata drainase, tapi selalu sibuk menata narasi keberhasilan. Buku-buku itu disusun ulang di emper rumah, dijemur di bawah matahari yang malas, dan tetap dibaca, meski huruf-hurufnya kabur, seperti janji kampanye yang mencair bersama air comberan.

Namun, bercak paling menyakitkan adalah kotoran adik. Simbol kekacauan yang tak bisa disensor. Bayi itu tidak tahu bahwa ia menodai halaman cerpen Pramoedya yang sedang kita baca diam-diam di kolong ranjang. Tapi justru di sanalah letak puisi sejatinya, saat sastra agung dan feses domestik bersatu dalam satu halaman. Bukankah hidup juga begitu? Harapan dan kehancuran berdempetan, saling mencemari. Kadang cinta juga begitu, mulia dan jorok dalam napas yang sama.

Lucunya, para pejabat negeri ini lebih takut pada bercak sejarah ketimbang bercak saus. Mereka cuci tangan dari lembar-lembar masa lalu, menyelipkan revisi di kurikulum, dan menyemprotkan parfum pembangunan di arsip yang berjamur. Tapi tak pernah sungguh membersihkan kebenaran. Mereka ingin kita membaca buku sejarah yang bersih, tapi tak pernah menjelaskan mengapa darah petani dan tinta jurnalis menodai catatan-catatan itu. Mereka takut pada bercak karena bercak mengingatkan, ada yang pernah salah, dan belum ditebus. Padahal, bercak adalah pengingat bahwa kita hidup. Bahwa kita menyentuh sesuatu, bahwa sesuatu menyentuh balik.

Dan di titik ini, mari kita bicara tentang bercak yang lebih halus, lebih personal, lebih kejam, bercak cinta. Ada satu buku, novel usang yang kamu beli di pasar loak. Di halaman 23, ada bekas lipstik. Sudutnya terlipat. Entah siapa yang meninggalkannya, tapi kamu tahu: buku itu pernah menjadi alat rayu. Atau medan perang. Mungkin ada seseorang yang diam-diam menyelipkan buku itu ke tas kekasihnya, berharap satu paragraf dari kisah fiksi itu bisa menggantikan keberanian yang tak pernah ia miliki.

Lalu ada bercak yang lebih basah, bekas air mata. Air mata yang jatuh di halaman surat terakhir dari tokoh utama. Mungkin itu air mata kekasih yang sedang membaca di halte, menunggu seseorang yang tak pernah datang. Atau air mata seorang istri yang menemukan puisi tentang perpisahan di halaman buku suaminya yang telah lama dingin. Buku itu menjadi saksi yang tak pernah dipanggil ke pengadilan rumah tangga. Cinta itu jorok, kata orang yang pernah patah hati. Tapi justru di situlah ia bersenyawa dengan buku: dua-duanya menyimpan bercak. Dan bercak itu abadi, meski orangnya sudah lama pergi.

Dan kita belum bicara soal cinta yang gagal. Buku yang dikembalikan dalam keadaan hancur, sampul terkelupas, halaman penuh coretan, ada bekas nama yang disilang pakai spidol hitam. Itulah cinta yang berubah menjadi dendam literer. Tapi tetap saja, buku itu disimpan. Karena kadang kita lebih takut kehilangan kenangan buruk ketimbang tak punya kenangan sama sekali.

Kita hidup di zaman di mana cinta ingin dituliskan dalam format PDF, dikirim lewat emoji, ditandai dengan centang biru. Tapi cinta yang membekas, yang betulan mengubah hidup masih ada dalam buku-buku bercak itu. Yang kertasnya mengerut karena pernah basah. Yang baunya tengik karena disimpan terlalu dekat dengan bantal. Yang tulisannya pudar, tapi kenangannya tajam.

Karena cinta yang paling jujur tidak hadir dalam kalimat sempurna. Ia hadir dalam bercak. Yang diam-diam bertahan. Yang tak bisa dijelaskan. Tapi juga tak bisa dilupakan. [] Redaksi