
Ada satu penyakit akut yang makin merajalela, penyakit sok tahu setelah baca setengah halaman, atau lebih parah baru baca judulnya. Iya, cuma judul. Udah langsung bikin status panjang, analisis asal, dan kasih komentar seakan dia Ketua Umum Asosiasi Pembaca Teks Suci Dunia. Ironisnya, yang lain pun ikut mengamini. Yang lebih lucu, kadang judulnya clickbait, isinya justru bantahan dari apa yang mereka percaya.
Membaca itu penting, katanya. Tapi lebih penting lagi menyadari bahwa membaca tak otomatis membuat tahu segala. Apalagi mengerti. Karena paham itu rumit. Ia butuh waktu, pengalaman, kadang juga butuh jatuh cinta, patah hati, atau ditipu dulu biar bisa bilang: Oh, ini maksudnya.
Kita hidup di zaman serba cepat, di mana membaca satu utas X dianggap sama dengan riset akademik bertahun-tahun. Cukup baca 280 karakter, langsung debat soal geopolitik, ekonomi makro, sampai etika cinta. Padahal, kadang paragraf pembukanya saja belum kelar dicerna.
Di level pemerintahan, penyakit ini jadi wabah nasional. Pejabat kita sering banget komentar soal buku yang katanya bahaya atau tidak sesuai Pancasila, padahal kalau dicek, bukunya belum beredar. Atau baru terbit satu jam lalu. Mustahil mereka sempat baca. Tapi sudah bisa ngomong soal dampak ideologis dan moral. Salut, dah. Dewa literasi pokoknya.
Dan masyarakat? Jangan tanya. Kita senang sekali ambil kesimpulan dari headline. Judul berita: Anak SD Dihukum Guru— langsung marah. Padahal isi berita: Anak SD dihukum karena bermain petasan di kelas dan nyaris meledakkan laboratorium. Tapi siapa peduli. Judul udah cukup, karena membaca isi terlalu melelahkan.
Dalam soal cinta pun sama. Banyak orang percaya bahwa baca buku filsafat cinta akan membuat kita jadi kekasih ideal. Baca Kahlil Gibran tiga halaman, lalu merasa diri adalah inkarnasi Romeo. Padahal lupa kalau dirinya hidup sendirian. Cinta itu bukan cuma kata-kata manis yang dikutip dari buku, tapi soal memahami hati yang sering kali tak tertulis. Dan itu, maaf, tak bisa didapat cuma dengan membaca teori.
Masalahnya adalah, kita mengira bahwa baca itu harus tahu segalanya. Bahwa setelah baca satu buku, kita harus bisa bicara panjang lebar, debat, dan merasa paling tahu. Padahal sejatinya, membaca itu proses menyentuh sebagian kecil dari samudera pengetahuan. Kita hanya melihat satu pantai, bukan seluruh lautan. Kalau pun kita merasa mengerti sesuatu, itu hanya hal kecil dari kenyataan.
Kadang pemahaman yang utuh datangnya belakangan. Kita mungkin baca satu buku hari ini dan merasa biasa aja. Tapi lima tahun kemudian, setelah jatuh bangun, barulah kita bilang: Ya ya ya, aku tahu sekarang. Itulah kenapa orang sering baca ulang buku yang sama. Karena bukan bukunya yang berubah, tapi kita. Perspektif kita. Luka kita. Derita kita. Kematangan kita. Cinta kita.
Membaca seutuhnya itu lebih penting daripada sekadar tahu cepat. Tapi ya itu, seutuhnya berarti sabar, terbuka, mau menerima bahwa kita belum paham semua. Dan itu berat buat mereka yang alergi terhadap kata, belum tahu. Karena mereka takut terlihat bodoh. Padahal, justru yang paling bodoh adalah yang merasa sudah tahu segala dari satu bacaan.
Buat yang suka ngomong: Aku tahu kok, aku udah baca! — sini deh, mari kita cek. Baca itu bukan mantra sakti. Baca itu awal dari proses. Bukan akhir dari segalanya. Jadi kalau habis baca buku terus kamu merasa tercerahkan, bagus. Tapi kalau kamu langsung merasa jadi pakar, jadi nabi, jadi filsuf, mungkin kamu perlu baca lagi. Atau lebih baik diem dulu, cerna, hayati. Dunia ini terlalu kompleks untuk disederhanakan dalam satu kutipan.
Akhirnya, membaca bukan untuk jadi sok tahu, tapi biar tahu kalau kita sebenarnya masih banyak yang belum kita tahu. Titik. [] Redaksi
