
Dunia penuh orang sibuk. Kerja, kuliah, sekolah, bermain, bahkan juga sibuk mencari kesibukan itu sendiri. Semakin sibuk, maka akan terselamatkan hidupnya. Dunia memang tidak ke mana-mana, diam, bahkan cenderung tak peduli. Tetapi banyak orang merasa jika dunia itu terlalu seksi, menggoda, dan sangat menggairahkan hingga layak untuk dikejar. Pokoknya seperti mantan terindah yang belum juga dipersunting orang. Serba salah. Kesal, tapi kok masih sering kangen.
Paragraf di atas hanya intermezo. Dunia adalah sebuah kehidupan dengan banyak perjalanan. Lalu buku, sering kali terlibat di dalamnya. Katanya sih, agar bisa membunuh waktu. Seperti seorang mahasiswa yang ketahuan membawa buku tebal berjudul berat di KRL. Tapi tidak sempat baca karena sibuk berdesak-desakan. Kadang saat berhasil dapat tempat duduk, buku justru dipegang erat-erat macam balonku ada lima. Atau berakhir sebagai bantalan kepala saking beratnya mata menahan kantuk.
Ada juga kisah seorang remaja yang berangkat sekolah dengan buku puisi tipis di tangannya. Mungkin perjalanan pulang ke rumah usai sekolah tergolong singkat, bisa jadi untuk memahami khusyuk satu judul puisinya saja tidak akan sempat. Tapi karena memang sengaja menjadi sarana mendekati teman mading yang keranjingan puisi, pada akhirnya sebuah perjalanan bus Trans yang seharusnya berhenti di halte 3, bablas menuju halte 13 sesuai pemberhentian gebetan. Bedah puisi, katanya, padahal sebenarnya pedekate.
Di pesawat, ada seorang dosen dengan niat awal ingin menyelesaikan sebuah novel sepanjang perjalanan Jakarta menuju Papua. Sayang, rencana terpaksa gagal karena mendadak ditelepon atasan untuk membuat materi presentasi. Apakah buku akan kecewa? Sepertinya tidak. Buku tidak baperan. Tidak menangis sesenggukan hanya karena merasa dimarahi pacar di chat. Padahal chat itulah yang bisa jadi tidak punya perasaan. Mereka hanya huruf yang terangkai hingga menjadi kalimat. Perkara pemakaian huruf kapital semua, atau ada tanda seru dua, sudah diterjemahkan beda, itu hal lain. Siapa yang salah? Tentu saja kamu. Iya, kamu itu.
Meski begitu, ada juga kisah seorang perempuan pekerja yang rela meninggalkan keluarga demi tugas negara. Dia menyimpan tiga buku kumpulan cerpen tebal di koper, lalu dua buku lainnya di tas ransel miliknya. Perempuan itu menikmati ratusan kilometer di atas mobil sewaan, dengan membaca buku di tangannya. Dia benar-benar memperlakukan buku sesuai kodratnya: dibuka, lalu dibaca. Bukan semata ingin membunuh waktu, melainkan mengais jejak-jejak rasa, karena buku-buku itu rupanya pemberian seseorang yang begitu dicintai. Apakah buku itu lantas bahagia? Tidak juga. Bukan karena buku tak berperasaan, tapi karena buku sanggup berperan menjadi lebih dari itu.
Buku bukan sekadar teman perjalanan. Tapi sebagai kurir yang ingin menyampaikan protes seorang aktivis pada penguasa. Atau sebagai hantu yang menakut-nakuti pembacanya hingga lebih memilih menahan kencing sampai pagi menjelang. Atau yang paling romantis, buku juga bisa menjadi agen penyalur perasaan. Jarak yang terasa jauh menjadi lebih dekat hanya karena mencium aroma buku. Bukan aroma kertas pudar, melainkan jejak-jejak kenangan yang sesekali menyeruak tajam.
Jadi, saat perjalanan manakah kamu bisa benar-benar membawa buku sebagai teman? [] Redaksi
