Oleh Erna Surya

Judul Film: Fall 2: Deadpoint
Dari awal memang saya niat banget nonton film Fall 2: Deadpoint. Itu karena saya suka Fall yang pertama, yang dua cewek manjat di tiang yang tinggi banget. Dan itu film yang keren sekali. Jadi waktu tahu ada lanjutannya, ekspektasi saya cukup tinggi. Dalam kepala saya, film kedua ini pasti akan menawarkan sesuatu yang lebih gila. Dan ternyata, saya tidak zonk sama sekali. Saya menikmati film ini hampir sepanjang durasinya.
Fall 2: Deadpoint merupakan sekuel dari Fall (2022), kali ini disutradarai oleh Peter dan Michael Spierig dan ditulis oleh Scott Mann bersama Jonathan Frank. Film ini dibintangi Harriet Slater sebagai Jax Hunter, Arsema Thomas sebagai Luce, dan Tom Brittney sebagai Jon. Durasi filmnya sekitar 98 menit.
Kalau film pertamanya membuat kita berhadapan dengan ketinggian, film kedua sebenarnya masih memainkan ketakutan yang sama. Bedanya, kali ini kita melihat ketakutan itu melalui seseorang yang sejak awal memang tidak pernah pandai menghadapinya.
Kita perkenalkan singkat tokoh utamanya ya. Jax adalah adik Shiloh, perempuan pemberani yang meninggal dalam peristiwa di film pertama. Setelah kematian kakaknya, Jax bertemu dengan Luce, teman Shiloh. Dari barang-barang peninggalan Shiloh, mereka menemukan daftar petualangan yang belum diselesaikan. Salah satunya adalah perjalanan ke Mount Kwan di Thailand. Jax akhirnya ikut dalam perjalanan itu. Namun, ketika sebuah longsoran membuat mereka terjebak di ketinggian ribuan kaki, perjalanan yang semula dimaksudkan sebagai penghormatan kepada Shiloh berubah menjadi perjuangan untuk bertahan hidup.
Tetapi buat saya, Fall 2: Deadpoint bukan terutama tentang bagaimana seseorang bertahan hidup di atas tebing. Film ini adalah cerita tentang bagaimana seseorang berusaha melawan rasa takut.
Sejak kecil, Jax selalu berbeda dengan Shiloh. Jax mudah gugup. Banyak hal yang bagi orang lain mungkin biasa saja, terasa menakutkan baginya. Sementara Shiloh justru tumbuh sebagai seseorang yang berani mengambil risiko. Ia berkali-kali berusaha membuat Jax menjadi seperti dirinya. Bahkan dalam kenangan masa lalu mereka, Shiloh mencoba memaksa Jax berhadapan dengan ketakutannya.
Di sinilah hubungan kakak-adik mereka menjadi menarik. Shiloh percaya bahwa ketakutan harus dilawan. Jax justru hidup dengan ketakutannya. Secara psikologis, manusia memang cenderung menghindari sesuatu yang membuatnya takut. Masalahnya, menghindar hanya membuat kita merasa lebih aman untuk sementara. Dalam jangka panjang, pola menghindar justru dapat mempertahankan atau memperkuat rasa takut tersebut. Konsep inilah yang menjadi salah satu dasar exposure therapy, yaitu seseorang secara bertahap berhadapan dengan hal yang ditakutinya sehingga ia belajar bahwa ia mampu menghadapi rasa takut tersebut.
Tentu saja, apa yang dilakukan Jax bukan terapi dan film ini bukan panduan psikologi. Situasi yang dihadapinya bahkan jauh dari kondisi aman. Tetapi gagasan dasarnya terasa jelas, yaitu semakin lama kita membiarkan rasa takut menentukan apa yang boleh dan tidak boleh kita lakukan, semakin besar ruang yang diberikan kepada rasa takut itu. Dan Jax akhirnya sampai pada titik ketika ia harus mengambil keputusan sendiri. Bukan lagi karena Shiloh menyuruhnya, ataupun karena Luce memaksanya. Juga bukan karena ia ingin membuktikan sesuatu kepada orang lain. Jax akhirnya memilih untuk membunuh rasa takutnya sendiri.
Menurut saya, inilah bagian yang membuat karakter Jax terasa lebih menarik daripada sekadar “perempuan yang ketakutan di atas tebing”. Ia tidak tiba-tiba berubah menjadi Shiloh. Ia tetap Jax. Ia tetap takut. Yang berubah adalah hubungannya dengan rasa takut itu. Ada definisi baru di sini, bukan berarti tidak takut, tetapi pemberani justru berarti tetap melakukan sesuatu meskipun kita takut.
Kalau secara sinematik, Fall 2: Deadpoint juga tahu betul apa yang ingin diberikan kepada penontonnya. Kamera berkali-kali mengambil sudut ketinggian yang membuat saya seperti ikut berada di sana. Kita tidak hanya melihat Jax berdiri di atas tempat yang sangat tinggi. Kita seperti ikut melihat ke bawah bersamanya. Dan ini yang menurut saya keren. Kaki saya benar-benar lemas di titik ini.
Ada adegan-adegan yang membuat tubuh ikut tegang hanya karena kamera menunjukkan jarak antara karakter dan tanah. Ruang sempit, papan yang rapuh, jurang di bawah kaki, dan pergerakan karakter semuanya digunakan untuk mempertahankan ketegangan. Film ini tidak banyak membuang adegan. Hampir setiap bagian terasa memiliki fungsi untuk membawa kita semakin jauh ke dalam situasi yang semakin sulit.
Musiknya juga membantu. Soundtrack dan tata suara tidak sekadar menjadi tempelan. Musik ikut membawa penonton masuk ke situasi Jax dan Luce. Ketika keadaan mulai genting, kita tidak hanya melihat bahaya itu. Kita ikut merasakan tekanan yang mereka alami.
Meski begitu, bagi saya, bagian Thailand justru tidak selalu sekuat bagian survival-nya. Ada potensi besar dari lingkungan, budaya, dan lokasi Thailand yang sebenarnya bisa membuat perjalanan mereka terasa lebih hidup. Sayangnya, bagian tersebut menurut saya kurang menggigit. Film seperti lebih tertarik membawa kita secepat mungkin menuju tebing dan kemudian mempertahankan kita di sana.
Namun, mungkin memang di situlah kekuatan Fall 2: Deadpoint. Film ini tidak meminta kita memikirkan terlalu banyak hal sekaligus. Ia mengambil satu ketakutan yang sangat sederhana, yaitu perasaan takut jatuh, lalu mengembangkannya menjadi sesuatu yang lebih personal.
Pada akhirnya, saya justru tidak terlalu memikirkan gunungnya, tetapi malah memikirkan Jax. Tentang bagaimana seseorang bisa bertahun-tahun hidup bersama ketakutannya sampai akhirnya sadar bahwa selama ini ketakutan itu telah mengatur terlalu banyak hal dalam hidupnya.
Barangkali kita juga punya “tebing” masing-masing. Bukan berupa ketinggian ribuan kaki, tentu saja. Bisa berupa keputusan yang terus kita tunda. Sesuatu yang ingin kita mulai tetapi selalu kita takutkan. Atau mungkin seseuatu yang pernah gagal dan membuat kita tidak berani mencoba lagi. Kita sering menunggu sampai rasa takut itu hilang sebelum berani melangkah. Padahal sebenarnya rasa takut tidak pernah benar-benar pergi. Jadi yang harus berubah bukan rasa takutnya. Tetapi kitalah yang akhirnya belajar berkata: saya takut, tetapi saya tetap akan melangkah.
____________________
Erna Surya: Penulis dan guru yang tinggal di Klaten.
