Film, Resensi

Ketika Semua Pilihan Sama-Sama Buruk

Oleh Erna Surya

Judul Film: Above and Below (2026)

Jam 20.30. Saya duduk sendirian di dalam bioskop. Benar-benar sendirian. Pemutaran film terakhir di hari itu. Sempat ragu apakah harus tetap menonton film, atau pulang saja. Tapi karena melihat trailer filmnya kok rasanya menarik, ya sudah. Saya lanjut nonton meskipun 1 studio cuma saya sendiri yang nonton.

Awalnya saya kira menonton film sendirian akan terasa agak menyedihkan. Ternyata tidak. Malah menyenangkan. Saya jadi fokus dengan setiap adegan dan dialog-nya. Bahkan bisa merasa seolah-olah saya yang ada di situasi dalam film itu. Dan itu asyik sekali.

Oke, sekarang kita lanjut ke filmnya ya. Judulnya Above & Below. Singkatnya, film ini bercerita tentang 5 orang yang sedang berwisata ke Meksiko. Mereka memutuskan untuk ikut tour penyelaman ke tengah laut demi bisa melihat langsung ikan hiu. Edan sih menurut saya. Orang waras mana yang menantang malaikat maut seperti itu?

Spoiler sedikit ya. Lalu dalam penyelaman itu, akhirnya mereka terjebak dalam dua situasi bahaya. Di atas, ada bos mafia narkoba yang siap membunuh mereka. Di bawah, ada sekelompok hiu yang siap menerkam, ditambah lagi tabung oksigen yang semakin menipis. Film ini membuat saya berpikir satu hal: bagaimana kalau saya sendiri yang berada dalam situasi seperti itu? Ketika semua pilihan yang tersedia sama-sama buruk. No way out.

Ternyata, itulah salah satu hal paling ‘enggak banget’ dalam hidup. Saya sering mengira bahwa masalah itu muncul karena saya yang memang salah memilih dari awal. Padahal kalau dicermati lebih dalam, tidak sesederhana itu. Kadang masalahnya justru karena tidak ada pilihan yang benar-benar baik.

Mau memilih A, ada risikonya, dan sepertinya berat. Memilih B, risikonya juga ada, sama-sama berat juga. Tidak memilih pun juga masalah. Dan menurut saya, di sinilah film ini menjadi lebih menarik, tentang membuat pilihan yang sama-sama buruk dan salah.

Sebab dalam kehidupan sehari-hari pun saya beberapa kali menghadapi versi kecil dari situasi seperti itu. Bukan tentang mafia narkoba dan hiu laut seperti dalam film ya pastinya. Tetapi ada keputusan yang kadang membuat saya harus memilih di antara beberapa kemungkinan yang semuanya memiliki risiko. Ini berlaku dalam banyak konteks ya.

Saya, atau mungkin kita semuanya, ingin pilihan yang aman-aman saja. Sayangnya, hidup tidak selalu menyediakan pilihan seperti itu. Dan ketika keadaan sudah darurat, manusia ternyata bisa melakukan hal-hal yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.

Dalam psikologi dikenal istilah fight, flight, or freeze. Ketika menghadapi ancaman, manusia bisa melawan, melarikan diri, atau justru diam membeku. Respons ini berlangsung sangat cepat. Tubuh seolah mengambil alih sebelum kita sempat berpikir panjang. Ada hormon stres seperti adrenalin yang membuat tubuh lebih siaga. Detak jantung meningkat, perhatian tertuju pada ancaman, dan energi tubuh diarahkan untuk menghadapi keadaan tersebut. Menariknya, orang yang biasanya terlihat paling lemah pun bisa melakukan sesuatu yang luar biasa ketika keadaan memaksanya. Bukan karena tiba-tiba menjadi pemberani. Sebenarnya dia tetap takut, tetapi ada sesuatu yang pada saat itu lebih kuat daripada rasa takutnya. Yaitu keinginan untuk bertahan hidup.

Itulah yang saya lihat dari para tokoh dalam Above & Below. Mereka bukan sekumpulan manusia super yang sejak awal sudah siap menghadapi bahaya. Tetapi orang biasa yang mendadak berada dalam situasi luar biasa. Dan justru karena itulah saya bisa ikut merasakan ketegangannya. Saya tidak pernah benar-benar tahu seperti apa diri saya ketika berada dalam keadaan paling burut.

Ini rumusan anomalinya: Orang yang selama ini mudah panik mungkin saja menjadi orang pertama yang mengambil keputusan. Orang yang terlihat paling lemah mungkin justru menjadi orang yang paling keras berusaha bertahan. Sebaliknya, orang yang awalnya terlihat paling berani juga bisa kehilangan kendali ketika tekanan semakin besar. Keadaan darurat memang punya cara aneh untuk memperlihatkan manusia yang sebenarnya. Ia bisa membuat seseorang menjadi lebih buruk. Tetapi bisa juga membuat seseorang menemukan kekuatan yang selama ini tidak pernah ia tahu ada. Dan mungkin itu pula yang membuat saya menikmati film itu. Bukan semata-mata karena ada hiu dan adegan menegangkan. Saya justru tertarik pada manusia-manusia yang harus mengambil keputusan ketika waktu mereka sedikit dan pilihan mereka terbatas. Sebab dalam keadaan seperti itu, manusia tidak selalu bisa memilih yang terbaik. Kadang hanya bisa memilih yang menurut mereka masih memberi kesempatan untuk selamat.

Menonton film itu selama 90 menit ternyata terasa seperti pengalaman yang pas. Saya datang sendirian, duduk sendirian, dan pulang membawa satu pertanyaan: Kalau semua pilihan sama-sama buruk, apa yang akan saya pilih? Saya tidak tahu jawabannya. Dan mungkin memang tidak perlu tahu sebelum benar-benar berada di sana.

____________________

Erna Surya. Penulis dan seorang guru di Klaten