Cerpen

Hanya Saya yang Berhak Menentukan

Cerpen Indarka PP

Sebelum hari pernikahan, saya memutuskan pindah agama.

Sebelumnya saya sudah bicara dengan mama dan papa, Puji Tuhan mereka memberi keyakinan bahwa apapun pilihannya, hanya saya yang berhak menentukan. Air mata saya mengalir tiris mendengarnya. Satu hal yang akan saya ingat selamanya ialah ketika mama mendoakan saya, “Semoga kamu jadi muslim yang baik,” katanya, lalu saya spontan memeluk mama. Erat sekali.

Saya pun semakin menangis.

Boleh dibilang saya belum terlalu lama mengenal Hasbi. Kami saling mengenal secara tak sengaja. Entah hari apa saya lupa, waktu itu Hanum meminta saya menemaninya bertemu Badru, teman lamanya sewaktu SMA. Di sanalah saya berjumpa Hasbi yang kebetulan juga menemani Badru. Perkenalan kami kemudian berbuntut panjang. Empat bulan sesudahnya, Hasbi mengutarakan niat ingin menikahi saya. Perasaan kaget lebih dulu mencuat, sebelum sekilas lindap oleh rasa bahagia.

Ada kilau gemintang di pandangan saya, seperti lampu disko menyala-nyala tiada henti di setiap malam pesta. Namun itu berlangsung singkat karena saya harus segera kembali ke kenyataan rumit perihal keyakinan kami. Saya nasrani, sedangkan Hasbi muslim.

Setahu saya, pernikahan beda agama acap kali berjalan terjal. Saya tahu, meski yang akan menikah adalah saya dan Hasbi, saya juga mesti berurusan dengan adat-istiadatnya, keluarga besarnya, kebiasaan-kebiasaan keagamaan mereka. Dan yang demikian bukan perkara gampang. Saya harus mengawini paket itu sekaligus.

Saya merasa dilema. Selalu.

Akan tetapi sejak kali pertama Hasbi bilang ingin menikahi saya, ia senantiasa meyakinkan saya tentang kesungguhan hatinya. Dari caranya memperlakukan saya, saya bisa melihat sebentuk ketulusan. Selain pengertian, Hasbi juga pemerhati yang baik. Beberapa kali ia memberitahu saya tentang ini dan itu, tentang hal yang perlu saya lakukan atau sebaiknya saya hindari. Mengajari saya cara memandang kehidupan sebagai tempat lahirnya pilihan-pilihan yang tak bisa dimungkiri sedikit pun. Sikapnya yang hangat kerap mengajak saya tamasya ke suasana rumah tangga tenteram-sejahtera, bertabur berkah bersama anak-anak kami kelak. Sikap seperti itu belum pernah saya jumpai dari laki-laki yang pernah mendekati saya selama ini.

Hasbi sosok ideal yang saya dambakan.

Suatu malam, kami makan di kafe pinggiran kota. Seusai beres dengan menu masing-masing, hal yang saya pikirkan selama ini akhirnya tiba juga. Saya tidak terkejut sama sekali ketika Hasbi mengajak saya ikut dengannya: menjadi muslim. Sesudah malam itu saya langsung bicara dengan mama dan papa, Puji Tuhan mereka memberi keyakinan, bahwa pilihan apapun itu, hanya saya yang berhak menentukan. Selain mama dan papa, saya juga sempat menemui Hanum dan meminta pendapatnya. Sebagai teman aku hanya bisa mendukung, karena kamulah yang paling berhak menentukan, ucap Hanum. Ia tersenyum lalu memeluk saya.

Entah mengapa saya merasa kami seperti akan berpisah dalam waktu yang lama sekali.

“Bagaimana dengan keluargamu?”

“Mereka malah senang,” kata Hasbi.

“Senang aku jadi istrimu?”

Ia mengangguk. “Ditambah bonus bisa mengajakmu masuk ke agama kami.”

“Oh…” saya menirunya mengangguk.

Begitulah mula-mula pernikahan kami, dua tahun tujuh bulan yang lalu. Sekarang kami menjalani hari-hari penuh suka dan cita. Sebagai seorang mualaf, sudah tentu saya belajar banyak dari Hasbi.

Perubahan demi perubahan mulai terasa. Tentu saja saya tak sanggup, atau mestinya tak boleh, membendungnya.

Beberapa pekan setelah akad nikah, Hasbi menyarankan saya untuk membiasakan diri berjilbab. Saya berkata jujur bahwa saja saya belum siap, lagi pula banyak juga perempuan muslim tidak berjilbab. Tetapi ia bilang kalau mengenakan jilbab bukan masalah siap atau tidak, melainkan kewajiban. “Memang nggak kasian? Aku nanti yang nanggung dosanya.” Lantaran bingung maksud pertanyaan tersebut sehingga tidak paham harus menjawab apa, sejak saat itu saya mulai mengenakan jilbab.

Di kesempatan lain, Hasbi menyuruh saya belajar sembahyang dan mengaji. “Nanti Mas ajari, Sayang.” Ketika saya mulai hafal gerakan dan bacaan sembahyang serta sedikit-sedikit bisa mengaji, Hasbi kembali menuntut hal baru pada saya. Ia ingin saya mengganti model jilbab yang selama ini saya kenakan. Saya tanya, memang kenapa? Ia bilang aurat saya belum tertutup sempurna. Lagi-lagi karena tidak tahu harus menjawab apa dan bagaimana, saya hanya menurut.

Kadang saya sering mencari-cari sendiri maksud di balik permintaan-permintaan Hasbi itu. Saya membaca artikel-artikel di ponsel saya. Dari sanalah saya mulai tahu, walau belum paham benar, ke arah mana cara beragama kami ini. Dan benar saja, sekitar dua bulan setelah itu, Hasbi pun meminta saya untuk berpuasa. “Bukannya Ramadan masih lama?” Hasbi menjawab bahwa yang ia maksud puasa Senin-Kamis. “Pahalanya luar biasa, Sayang. Mudah-mudahan kita bisa cepat dikasih momongan,” katanya, sambil membelai lembut kepala saya.

***

Seperti biasa, saya terbangun di subuh buta. Namun, terus terang kali ini berat sekali rasanya menyeret kaki untuk pergi sembahyang. Saya tidak bergerak. Tatapan saya mengarah ke sisi kosong ranjang yang sudah ditinggal empunya enam malam belakangan. Meski baru enam hari Hasbi pergi, sejatinya kekacauan rumah tangga kami sudah tercium setengah tahun terakhir.

Teringat kembali di pusaran kepala puncak keributan kami enam hari yang lalu. Saya dan Hasbi berseteru hebat. Saya tegaskan ke sekian kalinya pada dia, kalau semua cara sudah saya tempuh supaya saya bisa lekas hamil. Saya juga tidak sudi kalau terus-menerus disudutkan, seolah masalah utama terletak pada saya. Karena kesal dan tak terima, saya balikkan keadaan. Saya bilang kalau dialah biang keladinya. Saya tantang Hasbi bersama-sama pergi ke dokter untuk membuktikan saya atau dia yang sebenarnya bermasalah.

Alih-alih setuju, tubuh Hasbi justru cepat sekali menegang. Dia bangkit lalu menghampiri saya. Persis di depan muka saya, mulut Hasbi fasih menyebut anjing serta rupa-rupa binatang lain. Dikatailah saya sebagai istri nusyu. Perempuan tak kaya iman. Istri durhaka dan durjana. Saya tugur menahan nyeri mendengar serapah itu. Rupanya iblis sudah bersemayam di bola matanya. Saya tidak tinggal diam. Saya balas kata-kata jahaman itu tak kalah pedasnya. Sekian detik sesudahnya, sebuah sabetan menjilat pipi kiri saya, disambung luncuran air liur yang muncrat ke sekujur badan.

Seakan tunai segala amarahnya, laki-laki itu cepat-cepat berjalan keluar rumah. Mesin motor mulai berderu laju, lantas lekas menghilang.

Iblis itu meninggalkan rumah kami. Rumah tangga kami.

Saya kian menangis. Betapa saya ingat laki-laki yang mengajari saya sembahyang dan mengaji, menuntut saya berpuasa seminggu dua kali, juga menyuruh saya supaya sempurna menutup aurat demi menjauhkan dia dari kubang dosa, telah berlaku bengis menghujam batin saya demikian jahatnya. Tidak pernah terlintas di bayangan saya kalau Hasbi bisa bertindak demikian menyimpang dari ajaran agama yang selama ini dia imani.

Mata saya kembali basah. Tetapi saya buru-buru mengusapnya. Saya tak mau jadi istri yang lemah, maksud saya, perempuan lemah.

Rupanya putaran jam sudah jatuh di angka tujuh. Saya bangkit dari ranjang demi memulai hari. Saya menuju dapur, meracik sisa-sisa sayur seadanya. Sembari menyiapkan sebongkah kubis, wortel, seunting seledri, dan aneka bumbu rempah, alam pikir saya mengantarkan saya bertamu ke rumah mama dan papa.

Akankah mereka ke gereja di Minggu yang suntuk ini? Apakah mama dan papa masih mengasihi saya? Apakah keputusan saya menyisakan luka di hati mereka?

Saya ingin mengetahuinya.

Maka saya harus menyusun beberapa rencana. Hari ini saya harus mulai mengemasi semua pakaian. Lalu besok saya akan pulang ke rumah mama dan papa dan menginap tiga malam di sana. Kamis-nya saya akan mendatangi kantor pengadilan agama. Dan hari Minggu saya akan turut mama dan papa ke gereja, lalu saya…

Suara motor dari luar tiba-tiba membuat saya berhenti memikirkan rencana-rencana. Saya mengenal betul raung motor itu. Akan tetapi saya tidak ingin mengenal lagi siapa yang datang dengan motor itu. Saya harus segera memulai rencana yang pertama. Kemudian saya juga tidak akan menunggu besok untuk menjalankan rencana kedua.

Demikianlah mesti saya hadapi kenyataan ini sekalipun menyedihkan. Sebab, hidup yang saya jalani sesungguhnya hanya berisi pilihan-pilihan. Dan sebagaimana yang sudah-sudah, hanya saya yang berhak menentukannya.***

____________________

Indarka PP, lahir di Wonogiri (Jawa Tengah). Saat ini mukim di Tana Paser, Kabupaten Paser, Kalimantan Timur.  

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *