Cerpen

Seta dan Sang Khodam

Cerpen Septi Rusdiyana

Di sebuah desa bernama Goragaru, hampir seluruh penduduk wanitanya kerja di luar negeri sebagai TKI. Biasanya, bagi yang masih perawan akan memilih menetap di negeri rantau, lalu menikah dengan lelaki warga negara bersangkutan. Sedangkan untuk yang sudah menikah, tidak akan pulang sebelum tujuan duniawi yang dikejar tercapai. Rata-rata mereka akan bertahan selama tiga sampai lima belas tahun. Tentu saja, hal ini berpengaruh pada kehidupan para lelaki di desa itu.

Bagi perjaka, mereka cenderung memilih bekerja di luar kampung. Selain lapangan pekerjaan yang beragam, jumlah gadisnya pun jauh lebih banyak. Meski, pada akhirnya hal itu hanyalah sebuah siasat belaka. Setelah gadis itu berhasil dinikahi, maka roda akan berputar lagi sesuai dengan tradisi Goragaru. Anak pertama lahir, istri berangkat ke luar negeri, dan suami menjadi bapak rumah tangga. Banyak bocah yang tidak mendapat perhatian dari ibunya, hingga muncul kabar kasus penculikan oleh Wewe Gombel di desa itu. Namun sejak menimpa Seta, bocah delapan tahun yang juga pernah menjadi korban, sudah tidak lagi terdengar berita anak hilang di Goragaru.

***

Seta masih bermain gundu di pekarangan rumah temannya, Bayu. Seakan terlalu asyik, tanpa disadari matahari sudah hampir tenggelam.

“Bocah tidak tahu waktu, hampir magrib masih saja di luar rumah,” seru ibu Bayu memperingatkan. Seketika keduanya menengok ke arah sumber suara dan segera memungut gundu yang berceceran di tanah.

“Aku pulang dulu ya,” pamit Seta.

Bayu mengangguk.

“Awas, jangan sampai ketemu Wewe Gombel,” pesan Bayu. Ia bergegas masuk ke rumah menyusul ibunya.

Sementara, Seta berlari kecil sambil menggembol beberapa gundu dengan kausnya. Rumahnya tidak terlalu jauh, cukup melewati kebun rambutan dan jembatan kayu di atas sungai kecil. Sial, kaki telanjangnya tanpa sengaja menginjak ranting yang membuatnya terluka. Terpaksa ia melanjutkan sisa perjalanan dengan berjalan pincang.

Hari mulai gelap, suasana menjadi cukup mencekam karena tidak ada satu pun lampu penerangan di sepanjang jalan. Perasaan Seta mulai tidak enak. Ia merasa seperti diikuti. Ada suara-suara aneh yang membuat bulu kuduknya meremang. Sebenarnya ia sudah sangat takut, tapi karena penasaran, ia malah mencari-cari sumber suara itu dan tatapannya terpaku pada sosok perempuan berambut panjang dengan payudara yang menggantung sampai ke lutut. Wajahnya penuh bopeng dan luka basah. Seta terkejut, lalu berlari sekencang yang ia bisa, tanpa memedulikan telapak kakinya yang sakit. Begitu hampir mencapai jembatan kayu, sosok itu tiba-tiba berada tepat di depannya. Ia sempat berteriak minta tolong sebelum akhirnya pingsan.

***

Seta terbangun dan sadar kalau tempat ini bukanlah kamarnya. Ia bangkit lalu memandang sekeliling. Rumah kecil ini tanpa sekat. Selain dipan yang sedang ia duduki, ia hanya menemukan satu bangku panjang dan lemari.

“Kamu sudah bangun rupanya.” Seorang wanita dewasa tiba-tiba muncul dari pintu. Rambutnya tergelung ke atas memperlihatkan lehernya yang jenjang. Kebaya dan jarik yang dikenakan membuat setiap lekuk tubuhnya tercetak jelas. Pipi tembam dan kulitnya yang putih membuat Seta kagum.

“Ayo makan dulu, ibu sudah membuatkanmu masakan yang enak,” lanjut wanita itu, sembari duduk di sebelah Seta. Ia memegang sepiring makanan, lalu dengan telaten menyuapi Seta sampai habis.

Seta ingin bicara namun lidahnya kelu. Ia kaget ketika mendadak wanita itu menarik tubuh untuk bersandar di dadanya, sesaat setelah meletakkan piring kosong di lantai. Jemari yang lentik membelai-belai rambutnya. Selama beberapa saat, Seta terbuai dengan perlakuan itu. Sejak berusia lima belas bulan ia sudah ditinggal ibunya ke luar negeri. Meski hidup bersama seorang ayah, tidak lantas membuat hidupnya senang. Ia tetap kesepian karena ayahnya memiliki kebiasaan memancing dan bersenang-senang di kampung sebelah. Situasi itu memaksanya untuk lebih mandiri. Mungkin seperti ini rasanya memiliki seorang ibu, batin Seta.

“Oh iya, gundumu.” Wanita itu melepas tubuh Seta dan bangkit menjauh untuk mengambil gundu di bangku. Seta sedikit kecewa, merasa belum puas menikmati pelukannya. “Ayo bermain di luar, ibu akan menemanimu,” ajak wanita itu.

Seta berjalan mendekat. Wanita itu meraih tangan dan menggandengnya keluar rumah. Seta bermain gundu sendirian. Tidak ada satu rumah pun selain rumah yang kini ia tempati. Sesekali ia menatap wanita yang saat ini sedang duduk di bangku kayu sambil tersenyum ke arahnya. Hati Seta menghangat. Kali pertama ia bertemu dengan wanita yang begitu menyayanginya. Rasanya ia tidak ingin kembali pulang. Ia rela selamanya hidup bersama wanita itu.

Malam tiba. Wanita itu kembali menyuapi Seta seperti sebelumnya. Setelah selesai, bocah itu dipeluk dan dibelai lagi selama beberapa saat, lalu diminta untuk bersiap tidur. Wanita itu berjalan ke arah lemari, membuka, lalu mengambil selembar pakaian. Ia sengaja tidak menutup kembali pintunya karena akan digunakan sebagai sekat. Sayang, pintu lemari tidak sepenuhnya bisa melindungi tubuh. Tanpa sengaja Seta melihat pemandangan saat wanita itu telanjang ketika berganti pakaian. Tidak lama, wanita itu menyusul Seta, dan memeluknya seperti bayi. Ia bahkan melantunkan tembang jawa sambil menepuk-nepuk paha Seta.

“Sayang, besok aku akan mengantarmu pulang. Ayahmu janji padaku kalau akan mengurusmu dengan baik nanti,” gumam wanita itu, sesaat setelah Seta terlelap.

***

“Makanan sudah siap, Le. Ayo makan dulu,” ajak ibu Seta membuyarkan lamunannya.

Ibu Seta memutuskan kembali ke rumah saat usia Seta tujuh belas tahun. Kini usia Seta sudah tiga puluh lima. Sebagian teman-temannya sudah menikah, termasuk Bayu. Bahkan, Bayu sudah memiliki tiga orang anak. Seta merasa kurang beruntung dalam urusan asmara. Secara fisik, ketampanannya di atas rata-rata. Tubuhnya yang tinggi tegap seharusnya mudah memikat gadis mana pun. Sayang, setiap kali ingin menjalin hubungan dengan gadis yang disukai, selalu saja berakhir sia-sia. Ada-ada saja penghalangnya.

Pernah, Seta hampir melamar seorang gadis yang juga mencintainya, namun secara misterius gadis itu berubah sikap. Gadis itu marah-marah tak jelas, bahkan menolak berada di dekat Seta seolah Seta memiliki penyakit menulatr.

Pernah juga saat hendak dijodohkan dengan putri seorang kepala desa, tiba-tiba gadis itu menjerit-jerit saat melihat wajah Seta. Padahal, sebelumnya mereka sudah sepakat untuk menerima perjodohan tersebut. Kini, Seta sudah pasrah, seandainya Tuhan memang menakdirkannya menjadi bujang lapuk.

Seta sudah lama tinggal di perantauan. Sekarang ia memutuskan untuk tinggal di Goragaru saja. Turut membantu ayahnya mengurus sawah.

Di suatu sore, Seta duduk di teras, pandangannya lurus jauh ke atas pohon randu. Ia menarik napas tiga kali sebelum akhirnya masuk ke dalam rumah.

Tanpa sepengetahuan siapa pun, ada sesosok makhluk di atas pohon randu, pohon yang sama dengan yang Seta tatap sebelumnya, sedang tersenyum bahagia. Sudah bertahun-tahun ia bertapa di pohon itu, tidak pernah lagi mau menculik bocah. Pertemuannya dengan Seta dua puluh tujuh tahun silam membuatnya jatuh cinta. Tujuannya saat ini hanya satu, menyingkirkan semua wanita yang hendak merebut kekasihnya. Seta hanya miliknya, dan sekarang jalannya akan jauh lebih mudah karena ia sudah kembali ke desa itu.***

____________________

Septi Rusdiyana. Penulis tinggal di Yogyakarta. Penyuka cerpen.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *