Cerpen Andri Saptono

Aku mengunjungi perpustakaan kota hampir seminggu berturut-turut. Perjalanan dari rumah aku capai dengan naik ojek online. Kebetulan karena memang sepeda motorku sedang rusak. Dan di musim penghujan ini hal itu kurasa lebih menguntungkan. Aku biasa pulang kalau hujan sudah reda dengan memesan ojek online langgananku.
Hujan sebenarnya membuatku lebih betah di perpustakaan ini. Sambil membaca buku dan sesekali kusempatkan menulis cerita yang harus segera kurampungkan ini. Dengan begitu hujan mengurungku tetapi sekaligus memberikan waktu lebih banyak agar bisa bercengkrama dengan ceritaku. Maksudku, kau tak akan bisa merampungkan cerita jika kau tak selalu berhadapan dengannya. Mimpi fiksi, ya, kukatakan ini adalah mimpi fiksi yang jika terpenggal kau akan kehilangan banyak hal dengannya.
Ah, ya, penulis fiksi macam aku ini harus punya cara untuk mentriger diriku sendiri agar bisa menulis segera. Terkadang penulis lain, dia bisa melakukan cara-cara yang ekstrim agar bisa segera menulis. Menghisap ganja, atau triger lainnya yang kadang bisa sangat ekstrim untuk orang biasa.
Nah, hari ini aku tak mendapatkan triger apa pun di meja perpustakaan ini. Bengong menghadapi jendela perpustakaan. Dan buku yang seakan mengambang di depanku. Sampai tiba-tiba seekor katak pohon melompat tepat berada di buku terbuka di depanku.
Jantungku berhenti karena kaget melihat katak hijau itu. Pun katak itu juga menatapku dengan waspada. Ada selama 10 detik kami berpandangan. Kami saling mengunci dengan tatapan mata. Dan barulah ketika telepon genggamku di meja bergetar –kami juga saling terkejut karena bunyi tiba-tiba itu- katak hijau melompat menuju ranting yang menjulur dekat mejaku.
Kuambil telepon dan sambil kuedarkan pandangan pada katak hijau itu.
“Han, kau di mana?” Suara Esti, pacarku yang menelpon.
“Aku di rumah,” kataku berbohong.
Oh, soal berbohong ini nanti kau pasti tahu maksudku. Tidak setiap hari atau setiap saat aku berbohong. Toh, ini lebih bermanfaat bagiku karena aku membutuhkan banyak waktu agar bisa segera merampungkan ceritaku ini.
“Kamu longgar, kan? Aku ingin ketemu…”
“Entahlah, tapi kayaknya aku harus segera pergi karena ada acara lainnya…”
“Kita ketemu di sana saja…”
“Tidak bisa… acaraku itu tidak memungkinkan kita bicara panjang lebar. Aku ada pengajian…”
“Ha… pengajian.. beneran? Sejak kapan kau ikut pengajian segala…”
“Itu tidak penting.. tapi memang aku tidak bisa…”
“Aku kok merasa kamu ingin menghindariku…?”
“Bukan begitu….”
“Iya, aku merasa begitu kok. Akhir-akhir ini….”
Telepon kututup segera! Tak peduli dengan telepon yang berdering lagi. Ia pasti kesal sekali. Dan kalian jika menganggapku ini brengsek karena kelakuanku itu, aku tak keberatan sama sekali. Ada hal yang prioritas yang harus kukerjakan. Dan kalau begitu itu juga bukan kesalahanku. Toh, aku tidak mungkin bisa menerima segala yang orang lain inginkan padaku.
Ah, sial! Gara-gara telepon sialan itu aku kehilangan fokus dengan ceritaku. Dan kepada siapa kusalahkan hal ini kalau bukan gara-gara telepon sialan tadi.
Sialnya lagi, ada larangan merokok di perpustakaan ini. Jika ada rokok, kurasa akan lebih baik keadaannya.
Sambil bengong ternyata kudapati katak hijau itu masih bertengger di tempatnya. Hanya posisinya sekarang ia berubah. Tidak tampak sedang ingin melarikan diri. Tapi kini berhadapan denganku. Dan bisa saja, ia barusan melihatku dengan telepon sialan itu. Entah ia menertawakanku atau sedang ingin mengejekku.
“Hei, aku tahu yang ada dalam pikiranmu?”
Kudengar katak itu berbicara padaku. Ya, benar-benar berbicara.
“Kau bicara barusan?”
“Iya, kami –katak dan hewan lainnya- punya kekuatan semacam itu. Jika kami menginginkan bicara dengan manusia kami bisa melakukannya. Dan kau kupilih memang. Hanya yang kami pilih yang bisa melakukannya.”
“Benarkah?”
Aku benar-benar tidak tahu soal ini. Bahkan kurasa di kitab suci tidak ada yang membicarakan hal ini, kecuali kisah Sulaiman yang punya kemampuan bicara dengan hewan. Tapi, sulaiman adalah nabi. Itu beda persoalannya.
“Hei, tidak perlu bingung soal aku bicara padamu. Aku bahkan juga tahu apa yang ada di pikiranmu sekarang?
“Memangnya kau tahu?” Aku mengernyitkan dahi.
“Kau barusan berbohong bukan?”
Aku benar-benar terkejut.
“Benarkah kau tahu itu…”
“Ya, aku bisa melakukannya. Pun aku tak peduli soal apa pun denganmu. Dan kalian orang-orang yang datang silih berganti ke perpustakaan ini.”
“Oh, kau ternyata katak skeptis ya?”
“Itu bukan urusanmu!”
“Siapa bilang bukan urusanmu. Gara-gara kamu datang ke mejaku jadi membuyarkan konsentrasiku menulis. Aku kehilangan momen itu. Jadi, apakah itu bukan karena kesalahanmu?”
Aku berusaha menekannya. Dengan begitu ia akan merasa bersalah.
“Aku tidak lihat kau menulis. Kau pembohong murahan!”
“Hei jangan menyebutku pembohong. Kau juga sok tahu.”
Entah mengapa aku merasa tersindir. Walaupun dalam konteks kejadian yang kualamai, memang benar sih aku berbohong tadi pada pacarku.
“Kalian manusia perlu tahu, sebelum tempat perpusatakaan ini dibangun, nenek moyangku sudah tinggal di sini. Dan kalian manusia menggeser habitat kami untuk bangunan-bangunan semacam ini.”
“Hei, kau harusnya bangga. Ini perpustakaan. Bermanfaat untuk mencerdaskan bangsa.”
“Ya, kau dengan segala tipu daya kalian soal pembangunan. Tapi merendahkan semua makhluk hidup selain kalian. Termasuk menggusur habitat kami.”
“Soal itu benar! Dan mungkin saja kami lakukan. Tapi kami juga punya pertimbangan hidup dan maslahat. Kau paham maksudku, kan katak?”
Ya, aku sendiri sebagai penulis memang terlihat berjarak dengan persoalan semacam itu. Targetku sekarang adalah menulis novel dan terus menulis novel. Kalau bisa minimal sebulan sekali aku harus merampungkannya. Kalian juga pasti tahu alasanku ini mengapa. Persaingan dalam novel semakin ketat. Banyak penulis bermunculan seperti cendawan di musim hujan. Sementara dunia perbukuan semakin ditinggalkan peminatnya. Lebih banyak orang memilih membaca buku di wattpad atau platform semacamnya. Senja kala dunia buku, begitu Bre Redana pernah mengatakan.
Toh, persoalan tata kota dan bangunan semacam ini atau persoaalan lingkungan hidup, memang aku tak concern padanya. Aku lebih suka mengulik tentang masalah psikologis dalam tokoh-tokohku. Bagaimana mereka menyelesaikan masalah mereka, affair mereka, dan bagaimana mereka bangkit dari keterpurukan. Dengan cara beginilah para pembacaku akan terus memuji dan mengikuti novelku. Dengan begitu juga nasib ekonomiku tidak akan memburuk.
Dengan ini juga aku memutuskan harus berjarak dengan pacarku. Perempuan kau tahu mempunyai tabiat yang terkadang posesif. Mereka suka dengan pemujaan, perhatian, kelembutan, alih-alih menjadikan para lelaki menjadi tidak adil pada dirinya sendiri. Ya, itu pendapatku. Kau bisa keberatan atau berbeda pendapat. Tapi aku harus konsisten dengan sikapku, kan…
“Hei, kalau boleh aku minta tolong padamu?”
“Maksudmu?”
“Aku ingin menyampaikan keberatan dari katak-katak yang berkoloni denganku. Yang jumlahnya sekarang tidak sebanyak dulu lagi. Dan beberapa harus terbunuh karena memutuskan pindah dari tempat ini.”
Aku tahu memang di sekitar tempat ini tidak banyak lahan hijau. Ada taman yang dibangun dengan air mancur yang jaraknya sekitar 100 meter dari tempat ini. Mungkin kalau pindah ke sana, sebenarnya lebih bagus untuk mereka.
“Ada satu kebun di belakang bangunan perpustakaan ini. Aku dengar kemarin ketika insinyur itu berbicara di balkon ini dengan kepala perpustakaan yang berkepala botak itu. Mereka akan membuat tempat monumen untuk seorang perempuan yang konon sastrawan terkenal di kota ini. Siapa namanya, aku lupa…”
“Benarkah? Aku tidak tahu ada sastrawan perempuan yang terkenal di sini?”
“Aku tidak peduli dengan namanya. Tapi yang penting adalah monumen itu tidak kemudian menggusur lahan kami hidup.”
“Aku tidak terlalu kenal dengan pimpinan perpustakaan ini. Tapi kudengar gosipnya, kepala pimpinan itu baru terjerat skandal dengan seorang perempuan. Maksudku, untuk membuat dia berubah pikiran kau harus punya cara sesuatu. Seperti begini misalnya, kau bisa mencari seorang perempuan yang cantik ada di sini, dan kau bicara dengannya agar bisa membujuk kepala perpustakaan ini. Siapa tahu hal ini bisa berhasil. Seorang yang kalah dengan perempuan, selamanya dia lebih mudah ditundukkan dengan perempuan.”
“Kau bisa membantuku mencari perempuan semacam itu? Pacarmu mungkin…”
“Oh, jangan pacarku… aku baru ingin menghindarinya…”
“Oh, kau selingkuh ternyata?”
“Bangsat kau menuduhku seperti itu. Aku tidak berselingkuh. Kukatakan aku ingin menghindarinya.”
Lalu kuceritakan kalau aku sedang menulis novel. Novel itu harus selesai akhir tahun ini. Dan aku tak boleh diganggu.
“Perempuan terkadang rempong.. dan mereka harus dihindari itu. Btw, kau punya pacar juga.”
“Pacarku banyak. Kami tidak mengenal pacar dan hubungan biologis semacam itu…”
“Wah, menarik…. Hehe…”
“Ya, dan kau bisa bercinta dengan siapa pun… itu menyenangkan… hahaha…”
Aku ikut tertawa…
“Dan untuk katak, yang perlu kau lakukan adalah pandai melompat setiap malam untuk mendatangi setiap katak betina yang sudah birahi itu…”
“DRDRDREEEEK…” Teleponku bergetar di meja.
“Sebentar… aku ada panggilan…”
“Ya, silakan. Mungkin itu pacarmu yang sedang birahi juga. Hahaha …”
Tak kudengarkan katak yang mengejekku itu. Tak lama kudengar suara di seberang yang tersambung. Suaranya pelan, tapi penuh tekanan. Ingin meminta perhatianku.
“Ya, bagaimana?”
“Aku membutuhkan pendapatmu. Tapi kita harus bertemu.”
“Tidak bisa ditelepon saja.”
“Brengsek. Aku hanya butuh ketemu. 15 menit saja. Setelah itu aku tidak akan menganggumu.”
Aku menghela napas. Berpikir sebentar. Amat susah jika aku menolaknya kali ini. Mungkin dia akan benar-benar marah. Dan itu sesuatu yang tidak menguntungkan buatku.
“Baiklah, kau bisa temui aku di perpustakaan. Di balkon atas. Aku tunggu…”
Kumatikan telepon agar tidak ada lagi telepon masuk. Aku membutuhkan konsentrasiku sekarang. Setidaknya lima belas menit sebelum Esti datang untuk bisa melihat tulisan dan membubuhkan beberapa hal catatan kelogisan di sana. Itu yang menjadi kekurangan dalam ceritaku yang banyak orang sebut. Mau tak mau aku harus mengakomodir hal itu.
“Apakah pacarmu akan datang?” katak itu bertanya padaku.
“Iya, lima belas menit lagi. Dan kau harus pergi. Karena ia tak suka dengan katak. Maksudku bukan karena jijik, tapi karena geli… kau tahu kan maksudku?”
“Oke, tak masalah. Tapi sebelum pergi. Aku hanya titip pesan tadi, soal rencana pembangunan itu, aku butuh bantuanmu. Setidaknya, hanya manusia kau saja yang pernah kuajak bicara.”
Tak lama kemudian, Esti datang. Kuamati sekilas, matanya agak bengkak. Ia mungkin barusan menangis kurasa.
“Ada apa?” tanyaku setelah ia duduk di depanku.
“Aku memutuskan akan pergi dari rumah. Ayah dan ibu terus bertengkar. Aku takut kau juga akan pergi dariku.”
Esti menunduk. Terisak.
“Aku tidak akan meninggalkanmu. Aku selalu memikirkanmu.”
“Benarkah?”
“Percayalah.”
Aku merangkulnya sambil memastikan katak itu tidak melihatku. Ia tahu pastilah aku sedang berbohong, katak sialan itu. Tapi, mungkinkah, katak atau hewan apa pun bisa melihat kebohongan pada manusia. Tapi, biarpun begitu, kebohongan ini kulakukan agar Esti tenang menghadapi keadaannya sekarang.
“Apakah aku boleh tinggal denganmu?”
“Apa maksudmu?”
“Setidaknya, setelah persoalan ibu dan ayah selesai. Aku tak mau mendengar mereka terus terusan bertengkar.”
Aku tak bisa segera menjawab. Ya, kau tahu aku membutuhkan waktu untuk segera merampungkan tulisanku.
“Tapi aku tak yakin. Aku sedang dikejar deadline tulisan. Kau tahu pekerjaanku kan?”
“Aku hanya perlu tinggal di rumahmu saja. Boleh kan?”
Aku tak tahu, apakah bisa melakukannya. Dengan demikian dia akan masuk ke dalam hidupku. Sementara novelku tidak akan bisa selesai dengan cara seperti itu.
“Bagaimana? Aku tidak tahu tempat aku tinggal jika pergi…”
Ya, mengapa semua orang kini meminta tolong padaku soal urusan tempat tinggal ini. Yang pertama katak itu, dan sekarang pacarku. Apa yang bisa kulakukan. Apa mungkin katak itu bisa bertukar tempat denganku. Dengan begitu aku bisa menghindar dari Esti, tapi aku tidak akan bisa merampungkan tulisanku. Sementara katak itu mungkin nanti bisa mengatasi masalah penggusuran habitatnya itu jika berubah menjadi manusia. Tapi, apa mungkin itu bisa terjadi.
Aku akhirnya memang tak memberi jawaban seketika itu. Esti tampak tertekan ketika nanti aku akan mengabarinya. Mungkin ia berharap aku akan membolehkannya seketika itu sebagai tanda sayangku. Alih-alih aku membiarkannya pergi dengan keadaan yang sedih seperti itu.
Ketika katak itu muncul lagi, aku ceritakan kisahku dan kisah Esti itu padanya. Ia tampak mendengarkan dengan saksama.
“Hei, aku bisa membantumu. Dan kau juga mendapat keuntungan dengan ini?”
“Apa maksudmu?”
“Kau tahu kita bisa bertukar tempat. Ya, kau jadi aku hidup dengan koloni katakku. Kau bisa bercinta dengan betina mana saja yang kau suka, asalkan kau bisa melompat dengan cepat dan tangkas. Dan aku akan berusaha menyelesaikan permasalahanku jika aku bisa menjadi manusia untuk mendekati kepala perpustakaan itu.”
“Itu gila, dan aku tak ingin bercinta dengan katak. Itu menjijikkan sekali.”
“Haha.. kau belum pernah mencobanya. Kau tahu itu akan membuat moodmu menulis kembali lancar. Bahkan lebih dahsyat dari sebelumnya. Sama-sama adil, kan?”
“Lalu, ketika kau jadi aku, kau juga akan bercinta dengan pacarku?”
“Tergantung situasinya… apa kau keberatan?”
Hanya mataku yang meradang. Tapi bibirku terdiam menahan diri untuk tidak menyumpahinya alih-alih orang-orang di perpustakaan ini akan melihatku sebagai orang gila yang tiba-tiba bersumpah serapah sendirian.***
____________________
Andri Saptono. Penulis yang lebih banyak menghabiskan waktunya di antara naskah, buku, dan kata-kata yang menunggu dilahirkan. Selain menulis, ia aktif bergerak di dunia penerbitan dan terus menyertai perjalanan banyak naskah hingga menemukan bentuknya sebagai buku. Baginya, kata-kata bukan sekadar untuk ditulis, tetapi juga untuk dirawat, ditumbuhkan, dan diberi kesempatan menemukan pembacanya. Sesekali ia menulis untuk dirinya sendiri, tetapi lebih sering membantu tulisan orang lain menjelma menjadi buku. Mungkin, begitulah cara ia tetap percaya bahwa dunia masih bisa diselamatkan—satu buku demi satu buku.
