Ragam

RAGA DAN SUARA

Oleh: Randhan S.

Sejak kemarin, hari yang tak berubah namanya, rasa gamir merayap dalam kalbu. Ada sesuatu yang mengambang di udara. Tampaknya  bagai selubung kabut tipis membungkus kepala. Tak pekat, tetapi cukup membuat pijar masa depan tampak sayup. Aku tak sedang terganggu jasmani. Raga ini lelah, memang. Bukan lelah yang terobati oleh tidur. Ini lelah yang lain, lelah yang bersemayam di relung sukma.

Hari ini kuisi dengan kesibukan kerja. Setiap detik termakan rutinitas tanpa jeda untuk sekadar bernapas lega. Kuselesaikan semua tugas secara mekanis. Tubuhku adalah mesin yang telah diatur programnya. Sepulangnya, seluruh urat saraf terasa tertarik hingga ke ujung. Aneh! Kepayahan tak kunjung menjelma menjadi kantuk. Ada sesuatu yang lebih dahsyat menanti di balik pintu kamar. Sepi. 

Yang kudamba ringan saja, yakni mendengar suaranya. Suara milik perempuan yang belakangan menjadi tumpuan rasa. Tak perlu lama, satu menit saja cukup. Waktu sebentar yang meyakinkanku bahwa dunia tak sesepi ini. Sialnya, ia pun habis diterpa derasnya pekerjaan, siang tadi. Ia telah lebih dulu larut dalam lelap. Terlelap tanpa sempat menghadirkan kata-kata manis yang selama ini bagai candu.

Memandangi layar ponsel yang kelam bagai wajah bulan terhalang awan. “Sunyi lagi,” bisikku dalam hati. Kepala menunduk lesu. Sambil merebahkan badan, ingatan melayang tanpa kendali. Masa silam yang pernah kujejak berkelebatan menghampiri. Wajah-wajah lama muncul, peristiwa berdebu yang ternyata masih menyisakan parut samar.

Konon, beberapa saat sebelum mati menjelang, otak kembali memutar segala kenangan masa lalu.  Entah, siapa yang berbicara demikian.  Mustahil. Bukankah mati itu pengalaman sendiri saja. Artinya, tidak bisa dibagi.  Tampaknya orang yang gagal mati  saja yang bisa berkata demikian.  Di lain sisi, bayang masa depan turut mendesak, menghadirkan gambaran ketidakpastian yang mencemaskan. Kupertanyakan dalam hati: ke manakah langkah ini sesungguhnya tertuju? Adakah yang menanti di ujung jalan? Aku hanya berputar pada orbit yang sama?

Rasa gelisah dalam dada kian menjadi. Kucoba mengikuti mantra The Beatles: “Take a sad song and make it better”. Dicari-cari, lagu apa yang pas.  Joan Baez. Ya aku suka suara melengkingnya. Lagu berjudul “Oh Freedom”.  Di awal, liriknya sudah meninggi, meninju langit: Oh freedom // Over me // before I’ll be slave // I’ll be burried in my grave // and go home to my Lord // and be free.

Liriknya sarat protes dan perlawanan. Nada dan makna yang memenuhi sudut ruangan. Kusimak dengan khidmat, berharap ada kekuatan yang merasuk dari setiap alunan gitarnya. Aneh, alih-alih menguat, justru duka kian mengendap.

Baez membawaku kembali untuk menjadi manusia merdeka, melakukan pembangkangan terhadap belenggu keteraturan yang menindas. Aku ingin hidup bukan sebagai hamba upah, bukan sekadar roda kecil dalam mesin raksasa yang terus berputar. Tidak punya pilihan! Ada keadaan yang membelenggu. Sadar diri, kuikuti saja roda itu. Sementara, impian kusimpan di dalam laci yang kian berkarat.

Pada titik itu, aku tak sanggup lagi menahan. Butir air mata jatuh, entah karena apa. Mungkin karena lelah. Mungkin karena rindu. Barangkali karena sesuatu yang lebih dalam: kesadaran bahwa aku sedang menjalani nasib yang “melulu”.

Kesadaran itu berat. Malam ini aku merasakannya. Aku hidup. Setiap detik juga tahu bahwa hidup ini bisa pupus kapan saja. Aku berada di dunia. Bukan aku yang memilih datang ke sini.

Ya, aku sungguh merasa terlempar, tanpa pegangan, tanpa arah.

Aku mendambakan kebebasan. Kebebasan itu hanya menggantung di langit-langit pikiran. Aku ingin melawan. Ada jerat kebutuhan yang menarikku kembali ke bumi.

Tangisku makin menjadi. Bukan tangis pilu semata. Tangis yang lahir dari kesadaran getir bahwa hidup ini anugerah, sekaligus penjara.

Di tengah rintih,  lintasan lain datang. Bukan dari filsafat Barat.tapi dari hikmah Timur. Aku teringat ucapan seorang sufi agung, Ibnu ‘Athaillah: “Ketika engkau tiba-tiba merasa sedih tanpa sebab, itu artinya Tuhan sedang memanggilmu untuk mendekat.”  Aku terpaku. Kata-kata itu bagai mengetuk dada.

Apakah kesedihanku malam ini, yang datang tanpa bisa kupahami adalah panggilannya? Apakah air mataku bukan sekadar letih atau rindu pada perempuan, melainkan undangan rahasia untuk kembali?

Kududuk lama, menatap dinding yang bisu. Untaian kata itu terus bergema. Barangkali benar bahwa kesedihan tak selalu musibah. Kadang ia adalah isyarat. Kadang ia adalah sepucuk surat undangan dari langit, yang dikirimkan lewat remuknya perasaan.

Aku mulai melihat diriku dari sisi lain. Mungkin aku terlalu sibuk menuntut keinginan hingga lupa ada jalan lain. Jalan mendekat. Tidak hanya pada manusia. Tidak hanya pada perempuan pujaan. Pada Sang Maha, yang lebih luas,  abadi.

Perasaan ingin menghilang kembali muncul setelah beberapa tahun aku kubur. Lenyap dari ingatan, sirna dari dunia. Mungkin itu lebih baik, pikirku.

“Mati dalam usia muda adalah keberuntungan,” kiranya begitu kalimat yang sering dikutip Soe Hok Gie. Tak perlu memikul beban yang tak kuasa kubawa. Tak perlu menyaksikan ketidakadilan yang tak mampu dipulihkan. Tak perlu terus merasa menjadi bagian kecil yang tak berdaya.

Dan, suara Ibnu ‘Athaillah kembali datang, lebih lantang: “Kesedihan adalah undangan Tuhan untuk mendekat.” Aku terdiam. Kalau begitu, bukankah kesedihan ini adalah semacam panggilan? Panggilan bukan untuk menghilang. Melainkan untuk hadir lebih dalam. Bukan untuk lenyap.

Di luar jendela, dunia tetap sama, penuh luka, penuh nestapa. Di kamar ini, ada sesuatu yang bergeser perlahan. Aku tak lagi memikirkan cara untuk menghilang. Aku mulai mencari cara untuk bertahan. Cara untuk tetap hidup tanpa menyerah. Cara untuk melawan, betapapun kecilnya.

Kupandang langit-langit kamar. “Oh Freedom” telah berhenti. Berpindah pada lagu berikutnya “We Shall Overcome”.  Cukup membuat hati berdansa kecil.

Suara perempuan yang kurindu belum juga terdengar.

Dan, ada suara lain yang kudengar: suara diriku sendiri yang berucap dengan tegas, “Aku akan melawan.” Sebentar. Aku berpikir, tertawa kacau. Melawan siapa?

____________________

Ramdhan S. Tukang roti di Jakarta

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *