Puisi

Puisi Tjahjono Widarmanto

Serenada Hitam

hari itu, orang-orang lupa tanggal berapa

mereka bernyanyi memanggil arwah-arwah

ketakutan berlari tersuruk-suruk mencari ceruk

pepohonan gemetar debu-debu bertuba

siapa bisa menggambarkan maut menyentuh pundak kanak-kanak?

seperti lilin-lilin redup menyala

menyanyikan happy birthday

lantas padam begitu saja

namun serenada-serenada hitam itu tetap saja kita lagukan

sambil membayangkan perjalanan tamasya ke kubur kelam

serenada hitam dinyanyikan, ikan-ikan menangis

burung-burung gagak memekik, sajak-sajak menggelepar

membayangkan wali-wali suci sembunyi di perut paus hitam

2023


Siapa yang Dimuliakan, Siapa yang Dilupa

            siapa yang dilupa?

Saat waktu berkelok begitu lembut dan syahdu melaju

dengan meneteskan peluh seperti tetes air mata duyung

keramat menyesali usia

menuju entah perbatasan mana

: disitulah mereka berbaring, mendelik dalam gelap

menangisi puisi-puisi meratapi bunyi.

tinggal doa samar yang gemetar

tersesat di wilayah senja kala.

siapa yang dimuliakan?

segala sunyi, segala yang luruh atau segala yang kembali ke subuh?

matahari sepanjang hari, bulan sepanjang awan

di jalanan masih terdengar raung klakson bersahutan

daun-daun rontok, ranting-ranting berpatahan, segala angin mendesing

: tak ada bilik lain, cuma sepetak ruang membeku dan keraskan

seluruh frase, bunyi dan kilat matamu.

menyerpih tanpa suara hanya desah

mendesiskan kenangan yang segera melapuk

dan putus di tengah-tengah bait sebelum sempat ditulis!

ini bukan akhir puisi sebab segala kata telah dipingit dan disingitkan

tak hanya di kitab-kitab wasiat nan keramat tapi juga disematkan di pusara-pusara

bahkan daun-daun di cecabang sudah menuliskannya sebagai penanda musim

puisi telah menjadi bayang-bayang raksasa menguntit siapa saja

yang melenggang atau bergegas

pun pada sumuk yang mengambang di udara

puisi tak lahir untuk mati namun berpikir untuk jalan kekal yang abai pada waktu

boleh saja semua tak peduli atau menumbuhkannya seperti pohon hayat

yang berbenih dan akarnya berurat ke pusar semesta dan runcing rantingnya

tempat hinggap burung-burung keagungan menyanyikan misteri zaman.

                                                                        Ngawi, maret 2023


Memoria  Desa

/1/

ingin kulihat kembali kisah-kisah lama berikut peta-petanya

tempat para brahmana dan petapa-petapa sakti menuliskan

coretan-coretan usang serupa relief pada dinding ingatan

di sinilah muasal sejarah ditafsir, dicatat, dan dirajut waktu dengan gemericik air sungai mengarus jauh menuju muara hati menjalar ke akar-akar pohon jati, berdenyut ke batang, dahan, ranting, hingga putik daun-daun melangitkan harapan lewat cericit emprit dan bekur dekukur merentang lantangkan doa-doa mumbul ke langit

/2/

: ah, peta-peta itu tak lagi bisa kubaca

seperti arus tak mungkin bakal kembali ke hilir

cuma sisa bekas ingatan, seperti lagu-lagu cengeng tempo dulu

memuja-muja rindu yang bergegas berlalu

kali-kali jernih tak lagi jadi rumah meditasi

tak akan ada lagi wali  menjagai gemericiknya

batang ranting pohon kaku sendiri menatap langit asing  dengan matahari lain.

tembang-tembang kinanti dan asmaradana dikubur bersama dalang-dalang silih berganti mati

kidung-kidung selawat dan barjanji telah dilipat lampu

: semua bagai tamu mencakapkan masa lalu

lantas berdiri satu-satu beranjak pergi tanpa melambai

apalagi bertukar cinderamata

/3/

kebekuan asing merongga di pelupuk mata dan ingatan

rembulan tak lagi menyimpan kemurnian

hutan-hutan tak lagi jadi pohon hayat

semua hanya milik masa silam

seperti aksara-aksara purba di primbon kuno.

Ngawi, 2023   


Hujan dengan Garis Putus-Putus

langkah tersaruk-saruk

kita tetap enggan menepi

dari hujan dengan garis putus-putus

sore terperangkap sabda-sabda gaib

milik para penyair penuh rindu kemarau

menghirup aroma apu di jalan-jalan mengabu

hujan tak reda-reda

kita tetap enggan menepi

dari hujan sore hari

terperangkap sabda-sabda

gaib para penyair mengerang pada kemarau

di sana kepedihan terus berulang

tercipta dari reruntuhan kota

seperti piatu tanpa

cinta

                                    2023


Sepanjang Malam Pintu Diketuk

sepanjang malam pintu diketuk

tamu-tamu asing membawa oleh-oleh

sekeranjang air mata

: inilah ranum untuk penanda mereka yang diabai waktu!

hujan tak lagi tumbuhkan benih yang disemai

di jarum arloji bau peluhmu bertik tok

meratap-ratap pada doa yang sia-sia

seperti perempuan renta tak berdaya

di depan jendela termangu memintal kalender

seperti menjahit luka menyambut dengus si maut

Nov, 2023  


Tjahjono Widarmanto, lahir di Ngawi, 18 April. Tulisannya berupa puisi, esai, artikel dan cerpen dipublikan berbagai media. Beberapa kali menerima penghargaan di bidang kesastraan, antara lain: Penghargaan Seniman dan Budayawan Berprestasi Jatim dari Pemprov. Jatim (2002), Sayembara Penulisan Buku pengayaan Tingkat Nasional dari perpusbuk (2003, 2007, 2010, 2016, 2017), Penghargaan Sutasoma, Kategori Guru Sastra Berdedikasi dari Balai bahasa Jatim (2013), Penghargaan Sastrawan Pendidik Tingkat Nasional dari Pusat Pembinaan bahasa (2013), Sayembara Buku Puisi Terbaik  Nasional versi HPI 2016, dll. Buku puisi terbarunya SULUK PANGRACUTAN dari KAMPUNG PARA ARWAH (2023), QASIDAH LANGIT, QASIDAH BUMI (2023) dan buku tunggal lainnya. Selain menulis juga pernah bekerja sebagai Pembantu Ketua I dan Dosen di STKIP PGRI Ngawi, serta menjadi guru di  SMA 2 Ngawi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *