
Tak Ada Pintu Setelah yang Ke 28
:matroni moserang
Setelah menyudahi
Huruf-huruf dengan gelombangnya masing-masing
Tak ada pintu lain
Selain semua yang sudah tertutup
Dengan knop yang terkatup
Perjumpaan rasa dan samudera
Berada di titik paling terang
Antara pertemuan gelombang dan puisi
Kuharap tak ada pintu lain
Di mana-mana, kecuali pintu kembali
Ke puisi dan alam imaji
: pertemuan kembali, tentang pisah
Yang secara perlahan terbaca
Pangabasen, 2023
Kata Si Penyair
/I/ lantas apa selain kata
Yang akan menciptakan dingin
Menjadi hangat dalam tulisan
/II/ sedangkan kalimat
Dapat Menafkahi hidup
Di saat surat-surat dari pejabat
Tak ada yang menyokong tenagaku
/III/ haruskah bait ini disia-siakan
Untuk semua andai-andai
tanpa ada bait yang terlahir
Dari metafora mimpi malam ini
Malam sebelumnya dan selanjutnya
:Maka si penyair
Berada pada pilihan
Yang tak pernah ada dunianya
Pamgabasen 2023
Hakikat Pertemuan di Dhamar Korong
Di tengah penyair berkepala puisi
Kita mendiamkan diri
Dengan tubuh yang hilang kata
Hanya mengunci tatap yang menggigil
Di lautan yang sama-sama pasang
Di mata kita.
Tanpa mereka tahu,
Kita dalah perjanjian yang ingkar
Nyeri yang bertemu untuk sebuah sembuh yang gagal
Emtah kita sudah sama-sama melupakan
Atau memperbaiki dengan sebuah perdebatan
(dalam batin kita yang masih sama lukanya)
Dan di bagian mana kita bahagia?
: ya! Saat dunia masih setia
Dengan kepalanya yang sepi
20 februari 2023
Kembali yang Hampir Sama
Dari sebuah jamuan tak diundang
Kita berada di atas alas hitam
Dengan puisi yang melatarbelakangi pertemuan
Tanpa sengaja, tanpa ada kontak kata
Kita sama-sama menyepikan ramai
Merangkai ucapan, hingga mengambang
Menjadi awan yang menggumpal di
Kepala kita masing-masing
Masihkah kau memiliki peran yang sama
Di dunia baruku?
21 februari 2023
Kepada yang Khianat
Kepada lambungmu yang menyimpanku
Menjadi problematik hidup yang tandus
Aku menjadi liar dalam laut
Yang segalanya tawar,
(sebab ucapan yang rahasia di balik mata bumi)
Menjelma bayang di ruang kosong
Membawa matamu yang tanpa tubuh
Dari balik jendela yang terkatup
Oh, pemilik rupa-rupa
Dan kaubiarakan segalanya hancur
Menjadi gemeretak waktu yahng tak terkendali.
Jika diriku api di dadamu,
Maka jadikan aku kobar paling bara,
Yang setelah padam
Otakmu tak dapat melahirkanku Kembali
Dalam pujian yang kau haturkan pada Tuhan.
Ruang Tengah, 2023
Selepas Menidurkanmu
Setelah kususun bantal-bantal
Di kepalaku yang kosong
Kutimang kau di depan wajahku yang pucat
Sesekali termenung,
Dengan bibirku yang gemetar.
Harapan semua tanggal
Sisa tubuhmu yang tak bernyawa, Kaku dalam rengkuhanku.
Baju-baju yang kupakai
Sudah serupa daun yang lusuh
Di tanah yang tanpa wajah
Hai malaikat kecilku
Kulepas tubuhmu Bersama maut
Dengan Nasib yang abadi
:dan selepas menidurkanmu
Tak ayal mimpiku kambuh
Tentang kau yang pergi
Saat jam berkelana
Tak sesuai keinginanannya sendiri.
Gapura, 2023

Lailah Nurdiana, lahir di Sumenep juruan laok batu putih, sekarang masih duduk di bangku Ma Al-Huda, merupakan santri aktif di PP Miftahul Huda Gapura Timur, penggiat sastra di komonitas sanggar 7 KEJORA dan komunitas sanggar Dhamar Korong, mulai menulis sejak duduk di bangku MTs Al-Huda II. Karyanya bisa ditemui di media nasional dan lokal. Email: [email protected] dan Instagram: @_xdynaaa

Puisi yang kerennn…