Dunia Menulis

Baca Dunia, Bukan untuk Ditumpahkan Begitu Saja

Di dunia cerpen, ada satu nasihat tua yang sering dibisikkan dari satu penulis ke penulis lainnya, semacam mantra sakti sebelum masuk ke ruang sunyi penciptaan, gali data sebanyak mungkin, baca nonfiksi sebanyak mungkin, lalu gunakan hanya secuil saja dalam tulisan fiksi. Mengapa secuil? Bukankah jika sudah repot riset dan menyelami buku-buku serius, wajar dong jika ingin semuanya tampil dalam cerita?

Sayangnya, fiksi bukan memoar ilmiah. Ia bukan koran pagi atau laporan statistik. Fiksi, apalagi cerpen, bukan pameran data. Ia panggung rahasia tempat emosi, dilema, dan absurdnya hidup manusia ditampilkan dalam bentuk yang ringkas, mengendap, dan kadang menyesakkan. Nah, di sinilah letak ironi yang sering tak dipahami, semakin banyak yang kita tahu, justru harus semakin cerdik menyembunyikan pengetahuan itu. Kadang malah pura-pura bodoh.

Mari kita ambil contoh. Kita ingin menulis cerpen tentang seorang penjaga mercusuar di pantai selatan Jawa. Kita membaca habis-habisan sejarah mercusuar di Indonesia, arah angin muson, spesies burung laut, mekanisme kerja lampu sorot, bahkan sampai sistem shift penjaga pantai. Semua dicatat rapi, dengan coretan penuh semangat. Lalu cerpen ditulis. Paragraf pertama sudah penuh dengan istilah teknis. Lampu sorot berukuran 250 mm itu masih berputar dengan kecepatan 1,8 rpm, sesuai standar nautika internasional yang ditetapkan oleh IALA (International Association of Marine Aids to Navigation and Lighthouse Authorities).

Tunggu dulu. Ini cerpen atau makalah seminar?

Alih-alih terharu oleh kesepian penjaga mercusuar yang menanti kabar dari anaknya di kota, pembaca malah sibuk mencari arti kata nautika dan mengernyit saat dihadapkan pada informasi yang tak terasa hidup. Di sinilah jebakan itu, pengetahuan yang terlalu telanjang bisa menghilangkan getaran fiksi.

Menulis cerpen dengan dasar data itu penting, bahkan wajib. Tanpa itu, fiksi bisa melenceng seenaknya, tentang dokter yang menusuk syaraf pakai pipet, misalnya, atau penambang emas yang menyaring pasir dengan saringan teh. Tapi justru karena data penting, maka harus gunakan dengan bijak. Seperti garam dalam sup. Terlalu sedikit, hambar. Terlalu banyak, mual.

Kita tidak sedang menulis manual prosedur. Kita sedang menciptakan ilusi. Dan ilusi terbaik justru yang tak terasa sedang membohongi.

Yang menarik, beberapa penulis justru sangat bangga ketika menyisipkan istilah ilmiah atau kutipan panjang dari buku sejarah. Mereka merasa itu semacam sertifikat tak tertulis: “Saya sudah riset, lho!” Padahal, dalam fiksi, pembaca tidak peduli seberapa keras kamu riset. Mereka hanya peduli apakah mereka ikut merasa.

Ada pula yang merasa harus menghabiskan semua catatannya, seakan hal itu semacam daging beku di kulkas yang harus segera diolah sebelum busuk. Padahal, justru karena ia beku, sebaiknya dicairkan dulu, dipilih bagian terbaik, lalu diolah pelan-pelan. Sisanya? Biarlah jadi kaldu di cerita lain.

Aku pernah membaca cerpen tentang seorang perawat di rumah sakit jiwa. Penulisnya jelas riset panjang. Ia menjelaskan nama-nama gangguan mental lengkap dengan klasifikasinya, rincian terapi kognitif, sampai jadwal minum obat pasien. Sayangnya, cerpen itu malah terasa seperti brosur klinik, bukan manusia yang lelah dan ragu menghadapi pasien. Cerpen itu cerdas, tapi tak terasa. Informasi banyak, tapi hilang rasa.

Kadang kita lupa bahwa fiksi bukan tempat untuk mencerdaskan, melainkan untuk mengajak merasa, bukan podium kuliah, tapi panggung drama. Maka tak perlu mengumumkan bahwa si tokoh terkena gangguan bipolar tipe II dengan siklus hipomanik. Cukup tunjukkan bahwa ia bisa tertawa terbahak melihat matahari, lalu menangis diam-diam karena gagal membuka tutup botol minum. Itu lebih menyentuh dan tak terasa menggurui.

Dalam dunia fiksi, data harus dibungkus dalam daging emosi. Ia bukan kepala cerita, tapi tulang belakangnya. Ia menopang, bukan menonjol. Ia hadir agar tokoh tak mengada-ada, agar latar tak ngambang, tapi tetap tak menjadi pusat perhatian. Bahkan sering kali, data yang paling keras justru bekerja diam-diam. Seperti latar kota yang tak pernah disebut namanya, tapi pembaca tahu, ini pasti di Jakarta. Atau tentang konflik tambang yang hanya terasa lewat aroma logam di air sungai.

Tentu, ini bukan ajakan untuk malas riset. Justru sebaliknya. Kita harus haus baca, terutama nonfiksi. Buku sejarah, laporan jurnalistik, memoar, antropologi, bahkan catatan hukum bisa jadi tambang imajinasi. Tapi jangan lupa, tambang bukan pameran. Setelah digali, emasnya perlu dilebur, ditempa, dibentuk jadi perhiasan. Bukan dilempar ke muka mentah-mentah.

Dan inilah bagian yang menggelitik, kadang justru cerita yang terasa paling nyata adalah yang datanya paling sedikit disebutkan. Kalau kamu ingin pembaca percaya bahwa tokohmu dokter yang akan melakukan operasi, jangan banyak bicara tentang pisau bedah. Cukup buat dia gemetar ketika menyentuh kulit pasien. Mereka akan paham bahwa ia bukan hanya tahu cara memotong, tapi juga tahu risiko kematian.

Pengetahuan yang disimpan dalam-dalam justru terasa lebih kuat daripada yang diumbar. Seperti kekasih yang diam-diam mencintai, tapi tak berkata apa-apa. Ia hadir dalam tindakan kecil, bukan dalam pidato panjang.

Namun, tentu saja, kita boleh bersenang-senang juga. Sesekali menyelipkan satu dua istilah asing, jika konteksnya mendukung, bisa membuat pembaca merasa diajak naik kelas. Tapi jangan keterusan. Pembaca itu ibarat tamu, kalau kamu suguhkan hidangan yang terlalu kompleks, jangan salahkan jika mereka diam-diam googling di tengah cerita, lalu hilang konsentrasi.

Akhirnya, menulis fiksi adalah urusan meracik. Data bukan bahan utama, tapi bumbu. Bacaan nonfiksi bukan tujuan, tapi jalan. Kalau kamu baca lima buku tentang kehidupan nelayan, lalu hanya menulis satu kalimat tentang aroma garam di mata sang istri nelayan yang ditinggal tiga bulan, itu sudah cukup. Pembaca akan mencium lautan.

Untuk para penulis yang takut risetnya sia-sia, tenang saja. Tak ada yang sia-sia dengan membaca. Apa pun yang kamu baca akan jadi bagian sel-sel kreatifmu. Mungkin tidak keluar di cerita pertama, tapi siapa tahu muncul sepuluh tahun kemudian sebagai cerita pendek yang membuatmu menang sayembara.

Menulis itu seperti memasak rendang. Semua bahan harus masuk, tapi tak semuanya terlihat di saat disajikan. Yang penting, rasa menggigit. Dan ingat, pembaca tidak sedang menonton kamu bekerja di dapur. Mereka hanya ingin tahu enak atau tidak.

Jadi, selamat menggali data, baca yang berat-berat, dan nulis dengan ringan-ringan. Sejatinya, yang paling berat itu justru membuat pembaca merasa ringan setelah membaca. Bukan karena ceritanya kosong, tapi karena semua kepadatan telah kamu olah jadi sesuatu yang terasa. Yang tidak menggurui. Yang menyentuh. Yang membuat mereka tersenyum kecil, atau diam sejenak, atau bahkan ingin membaca ulang hanya untuk mengulang rasa.[] Redaksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *