
Mari kita mulai dari ironi paling klasik, kita bilang menulis itu cuma iseng, hobi ringan, atau sekadar pelarian. Tapi lihat bagaimana mata kita berbinar ketika cerpen kita dimuat. Lihat bagaimana tangan kita memotret halaman koran dan mengunggahnya ke story dengan caption: Ah, nyempil dikit. Padahal kita tahu, kita senang bukan main. Kita bangga, tapi sok kalem. Kita pura-pura tidak berharap apa-apa, padahal refresh email tiap sepuluh menit nunggu balasan.
Contoh lain pakai kata-kata sakti ini: Aku banyak ide buat cerpan. Tapi buat apa? Sesungguhnya itu kalimat pelindung dari rasa takut. Takut gagal, takut dicemooh, takut berharap. Jadi kita pakai tameng sinis, supaya tidak terlihat rapuh. Kita suka bohongin diri, tapi pakai kata-kata mewah.
Kita suka bilang, “Aku tak peduli dimuat atau tidak.” Tapi esoknya, kita tetap buka laman media itu, stalking siapa yang dimuat minggu ini. Dan ketika bukan nama kita, kita bilang, “Ah, mungkin selera redakturnya aneh.” Atau lebih ekstrem, “Kayaknya karya penulis itu dimuat karena kenal ordal.”
Padahal siapa tahu memang tulisan kita belum kuat. Tapi mengakui itu lebih pahit dari kopi tanpa gula. Maka kita pilih yang nyaman, menyalahkan dunia, menyalahkan sistem, menyalahkan algoritma langit. Kita nyaman menipu diri demi terlihat tangguh.
Ini dia penyakit akut, ingin dipuji, tapi takut dibilang berharap pujian. Ingin karya direspons, tapi takut disebut cari perhatian. Padahal bukankah setiap karya memang lahir untuk dilihat? Kalau ingin benar-benar pribadi, simpan saja dalam diary dan kunci dengan gembok.
Kita bilang, “Gak papa kok kalau gak ada yang baca.” Tapi ketika satu orang komen, “Bagus banget cerpennya.” Kita langsung screenshoot dan kirim ke lima grup WhatsApp. Iya kan? Kita mau diakui, tapi kita suka malu mengakuinya.
Ada juga gaya pura-pura intelek: cerpen absurd, puisi tak berima, paragraf melompat-lompat. Lalu ketika orang bingung dan bertanya, “Maksudnya apa?” kita jawab, “Kalau kamu paham, kamu nggak akan nanya.”
Padahal kadang kita juga bingung ini tulisan tentang apa. Tapi daripada jujur, lebih enak bersembunyi di balik kabut ke-nyeni-an. Lebih aman jadi misterius daripada dibilang dangkal. Lebih keren jadi penulis yang tak terjangkau daripada yang salah ketik koma.
Ada tipe penulis yang suka mem-branding diri sebagai makhluk sengsara: “Menulis itu penderitaan. Inspirasi datang di antara luka dan darah.” Tapi faktanya, ia nulis di kafe mahal, pakai laptop terbaru, sambil upload foto latte art dan caption: Trying to bleed on paper.
Menulis memang tak selalu mudah, tapi menyiksa diri demi citra estetik juga tak perlu. Kita boleh bahagia saat nulis. Kita boleh tertawa. Kita tak harus selalu murung di bawah lampu kuning redup. Tapi kadang kita suka dipandang sebagai penulis yang sok tersiksa.
Kalau kita akui menulis membuat kita bahagia, maka kita harus akui bahwa kita menginginkannya. Tapi masalahnya ketika kita menginginkannya, kita takut tidak bisa memilikinya. Maka kita buat benteng: “Aku nulis cuma iseng.” Itu cara kita merendahkan nilai kerja kita sendiri agar kalau gagal, sakitnya tidak terlalu dalam. Tapi justru di situ kita kehilangan arah. Menulis bukan lagi tempat pulang, tapi jadi ajang pura-pura kuat. Kenapa kita suka takut ngaku kalau kita memang bahagia saat nulis?
Coba duduk sejenak dan tanya diri sendiri, benarkah kita hanya iseng? Atau sebenarnya kita menemukan rumah di kata-kata? Kita mungkin tidak punya pembaca ribuan, tidak punya royalti jutaan, tapi setiap selesai nulis satu cerita, kita merasa hidup sedikit lebih utuh.
Mungkin bukan kaya atau terkenal yang kita kejar. Mungkin kita hanya ingin dimengerti. Dan menulis adalah cara kita mengajak dunia berbicara tanpa harus bersuara. Marilah kita Jujur bahwa kita memang suka menulis, kita merasa nyaman ketika menulis.
Pernahkah kita merasa bahwa karakter yang kita buat ternyata menyindir diri kita sendiri? Tokoh yang sok kuat, sok bijak, ternyata cerminan dari kita yang sedang rapuh. Dialog tokoh yang galak padahal kita ingin memarahi diri sendiri.
Di sinilah lucunya menulis, kadang kita merasa sedang bercerita tentang orang lain, padahal sedang membongkar laci hati kita sendiri. Ironis, menyenangkan, kadang juga menyakitkan. Tapi tetap, kita kembali lagi. Karena di situ kita merasa jujur. Dan di situlah kita nyaman. Kadang memang konyol tapi sungguh manis. Ketika kita diam-diam bercermin di cerita sendiri.
Menulis itu bisa jadi bentuk kejujuran yang paling telanjang, atau justru yang paling berkedok. Tapi mari kita mulai dari yang sederhana, akui saja bahwa kita suka menulis. Akui saja kita ingin karya kita dibaca, akui saja kita ingin karya kita disukai, bahkan akui saja bahwa kita ingin dipuji. Tidak usah malu. Yang penting jangan menulis demi tepuk tangan semata.
Kejujuran itu melegakan. Dan dari situlah kenyamanan lahir. Karena sejujurnya, kita menulis bukan hanya karena bisa, tapi karena memang ingin. Karena kita bahagia saat melakukannya. Dan itu tidak perlu ditutupi dengan sinisme atau sikap sok tak peduli. Sungguh tidak apa-apa kita ingin diakui, asal jangan menggadaikan kejujuran.
Menulis bukan sekadar soal produktivitas, prestasi, atau penerbit besar. Tapi tentang keberanian mencintai prosesnya, dan mengakui bahwa kita menikmatinya, tanpa harus merasa berdosa. [] Redaksi
