Cerpen

Riwayat Asmara Irvana

Cerpen Luhur Satya Pambudi

Riwayat asmara Irvana dengan sejumlah lelaki telah menjadi bagian hidupnya. Aneka perasaan telah silih berganti dijalani. Dari waktu ke waktu, perempuan itu merasakan bahagia, susah, tawa, dan tangis seperti apa adanya. Ketika meniti kembali satu demi satu cerita cintanya, sesungguhnya ia tidak menemukan sesuatu yang sia-sia.

***

Irvana yang telah berusia empat puluhan pernah dicintai lelaki yang jauh lebih muda ketimbang dirinya. Semula ia abai, terlebih karena ia enggan mengikuti kecenderungan yang terjadi di masa kini—menjadi perempuan mapan dengan kekasih di bawah umur. Namun, pemuda berusia dua puluh tiga itu memang simpatik di matanya. Ia senantiasa mampu membuat Irvana tersenyum, pun ia pendengar yang baik.

“Aku mencintaimu, apakah kau juga mencintaiku?” tanya sang pemuda suatu kali yang membuat Irvana terkejut.

“Jangan bercanda. Aku lebih tua darimu,” ucap Irvana.

“Masalahnya? Bukankah sekarang banyak yang seperti itu?”

“Justru itu, aku tak mau dibilang ikut-ikut.”

”Maksudku, kita tidak sendirian.”

”Iya, aku tahu maksudmu, tapi…” Irvana tidak melanjutkan kata-katanya.

”Tapi, apa? Tak bisakah kau jawab tanyaku? Aku serius mencintaimu dan ingin memiliki segenap dirimu.”

“Baiklah, beri aku waktu untuk menjawabnya,” sahut Irvana.

Sekian hari berselang, Irvana memutuskan menerima cinta pemuda yang selama ini membuatnya selalu merasa nyaman. Ia terkesan melihat ketangguhan hatinya. Perbedaan usia tidak menjadi masalah berarti. Mereka pun melangkah bersama sebagai dua sejoli. Sejumlah gita bahagia berkumandang mewarnai hari-hari Irvana. Menginjak tiga bulan hubungan asmara mereka, sang pemuda berhasrat menikahinya. Namun sayang, kisah kasih mereka kandas di tengah jalan. Ibu pemuda itu tidak merestui niat anaknya menikahi perempuan yang berusia dua belas tahun lebih tua. Penolakan itu membuat sanubari Irvana terluka.

“Tolong beri aku waktu agar bisa meyakinkan ibuku. Dan jika beliau tetap tidak setuju, aku siap menikahimu tanpa restu ibu,” kata sang pemuda meyakinkan Irvana.

”Aku tidak akan menikah dengan tanpa restu orangtua. Perpisahan adalah mungkin pilihan terbaik kita,” ujar Irvana ditemani derai air mata.

Ia telanjur sakit hati dengan kata-kata ibu pemuda itu. Maka lagu-lagu sendu pun mendapat giliran menemani Irvana dalam kesendiriannya kala itu.

*

Irvana sempat menjalani sehari semalam penuh cinta dengan lelaki yang dikenalnya sejak dulu. Sekolah mereka dulu sama. Sudah lebih dari dua puluh tahun silam. Mereka bertemu di ajang reuni. Kendati mereka berdua tinggal berbeda kota,  hubungan mereka tetap berlanjut setelahnya. Lelaki itu senantiasa menyediakan kamar hotel saban kali Irvana datang ke kotanya. Sesekali ia balas mendatangi kota tempat Irvana tinggal. Tapi perjumpaan dan perbincangan mereka sebatas sahabat semata. Lelaki itu sudah memiliki keluarga yang bahagia, maka Irvana tak pernah berharap apa-apa. Hal itu terjadi beberapa kali, hingga ada sebuah hari yang berbeda dari biasanya.

”Vana, bersediakah sepanjang hari ini hingga malam nanti, kau hanya menemaniku? Aku ingin mengulangi kebersamaan kita semasa masih bocah dahulu,” ajak lelaki itu ketika mengunjungi rumah Irvana.

”Senyampang waktuku luang, tentu aku mau,” jawab Irvana dengan senyuman.

Maka lelaki itu mengajak Irvana menuju daerah pegunungan. Di sana mereka berjalan-jalan di kebun teh seraya bercanda dan bergandengan tangan. Laksana sepasang anak muda yang pacaran. Irvana menikmatinya belaka karena ia percaya, hanya sehari itu mereka melakukannya. Ia masih meyakini kemurnian persahabatan dengan teman lamanya. Mereka makan siang di sebuah tempat dengan panorama alam yang sedap dipandang mata dengan sejuk udara.

”Vana, terima kasih kau sudi menemaniku. Aku bahagia sekali.”

”Aku pun sangat senang hari ini. Tapi, apa sebenarnya maksudmu? Kau paham kan, bahwa kita sebatas teman?”

”Tentu saja, Irvana. Kau adalah sahabat terbaikku. Aku hanya ingin ada hari yang berkesan… sebelum kita berpisah.”

”Hei, memang kau mau ke mana?”

”Vana, maafkan aku.”

”Maaf untuk apa?”

”Sebenarnya di salah satu sudut hatiku selalu ada namamu.”

Irvana menjadi salah tingkah mendengarkan kalimat dari sahabatnya. Kendati ia bisa merasakan pertautan hati itu, namun ia tak menduga sahabatnya itu bakal mengungkapkan sesuatu yang membuat sanubarinya tersentuh.

”Baiklah. Terima kasih kau sudah membuatku tersanjung,” ucap Irvana menahan haru.

”Dan mungkin hari ini adalah saat terakhir kita berjumpa,” sahut sang sahabat.

”Sebenarnya kau mau pergi ke mana, sih?”

Lelaki itu membisu dan menatap wajah cantik Irvana dengan sendu.

”Jangan bilang kau sakit, ya?” ujar Irvana dengan nada cemas.

”Sayang sekali, tapi kau benar. Aku sedang dalam perawatan dokter. Aku tak bisa menjelaskan separah apa sakitku, tapi dokter bilang hidupku seperti tinggal menghitung waktu,” kata lelaki itu mencoba tegar.

Irvana tak mampu berkomentar. Hanya isak tangisnya yang terdengar, sebelum akhirnya nanti mampu kembali bersuara.

”Aku akan mohon pada Tuhan agar hidupmu panjang. Kau masih bisa hidup lebih lama. Yang jelas,  aku siap menemanimu dalam sukacita di sisa hari ini.”

Mereka berdua melanjutkan kebersamaan yang berlangsung sejak pagi hingga malam tiba. Sebagai tanda perpisahan, lelaki itu mengecup kening dan memeluk tubuh Irvana dengan penuh kehangatan. Mereka paham benar, barangkali memang tak akan ada pertemuan berikutnya. Dua bulan berselang, Irvana mendapat kabar bahwa teman lamanya melakukan pengobatan di luar negeri dengan didampingi istri dan anak-anaknya. Irvana sebatas bisa mendoakan yang terbaik bagi lelaki itu.

Belum lama ini, Irvana diperkenalkan dengan lelaki yang ditinggalkan istrinya karena telah tutup usia dua bulan yang lalu. Seorang teman beritikad baik menghubungkannya dengan duda tersebut. Irvana mengucapkan terima kasih atas maksud baik temannya, tetapi ia tidak menyanggupi tawarannya itu. Di dalam dirinya kini telah punya pilihan sendiri. Dan alangkah bahagianya Irvana ketika pilihan itu ia tentukan bukan karena keterpaksaan atas keadaan dirinya. Bahkan ia sudah bisa membayangkan bakal seperti apa riwayat asmaranya. Irvana menjalani hal itu tanpa beban dan harapan berlebih. Ia percaya segala peristiwa yang dilalui adalah wujud kekayaan hidup yang nilainya melebihi harta benda. Ia bersyukur sejauh ini mampu menjalani skenario-Nya, terlebih atas pilihannya kali ini. “Menjadi perempuan lajang bukan lantas selalu sendiri saat mengarungi bumi ini,” gumamnya.***


Luhur Satya Pambudi , lahir di Jakarta dan kini tinggal di Yogyakarta. Cerpennya pernah dimuat di Horison, Suara Merdeka, Tribun Jabar, basabasi.co, dan sejumlah media lainnya. Kumpulan cerpen perdananya berjudul Perempuan yang Wajahnya Mirip Aku (Pustaka Puitika).

Cerpen

IA

Cerpen Abdullah Salim Dalimunthe

Ia ingin mati sekali lagi, tapi tidak di sini, tidak dengan keadaan seperti ini. Ia lalu pergi–setelah menandaskan bir yang tinggal setengah. Menyisakan tanya yang kini bersarang di kepala saya. Ada banyak pertanyaan, tetapi, yang paling mengganggu adalah: siapa sebenarnya lelaki itu? Dan, apa tujuannya berkata seperti itu kepada saya? Saya tidak mengenalnya. Atau, lebih tepatnya, saya tidak mengenal orang-orang yang berada di sini. Tidak seorang pun.

Saya kerap melihatnya tiap-tiap datang kemari–maksud dari “tiap-tiap” di sini hanyalah beberapa kali, paling baru empat atau lima kali, karena saya memang belum lama akrab dengan tempat semacam ini, baru sekitar dua atau tiga minggu kemarin. Ia terbiasa duduk di bar stool paling ujung, dekat dengan dinding. Di situ cahaya tidak terlalu terang. Mirip dengan meja yang selalu saya pilih. Cukup remang. Di sudut yang berseberangan dengan sudut di mana laki-laki itu terbiasa menikmati minumannya. Hanya saja, di sini lebih hening dan cukup jauh dari konter bar. Saya tidak ingin tergoda untuk meminum lebih dari segelas koktail. Ya, segelas koktail dan dua atau tiga batang rokok untuk mendengarkan beberapa buah lagu yang diputar di tempat ini. Sekadar melepas penat usai bekerja. Dan, melupakan sejenak persoalan yang terjadi antara saya dan Bastian. Hubungan saya dengan tunangan saya itu tengah mengalami kemunduran. Saya merasa, hubungan kami saat ini menjadi renggang. Sangat renggang.

***

Ia memperhatikan saya sejak saya memasuki tempat ini. Saya bisa merasakannya di setiap langkah saya. Tatapannya seakan rekat pada saya. Bahkan, setelah berada di meja yang selalu saya pilih, laki-laki itu tetap menatap saya. Ia tidak mengalihkan pandangannya sedikit pun. Laki-laki itu bukan tipe lelaki yang beraninya cuma curi-curi pandang seperti lelaki yang banyak saya temui. Ia tipe pemburu. Tatapannya bagai tatapan seekor harimau lapar dengan ketenangan yang purna. Ia masih menatap. Saya mencoba untuk tidak memedulikannya. Lagi pula, saya merasa terganggu atas sikap dan ucapannya kemarin.

Masih terekam jelas dalam ingatan, bagaimana laki-laki itu menghampiri saya. “Boleh saya duduk di sini?” tanya lelaki itu dengan raut muka yang datar. Saya tidak menjawab; hanya membalas tatapannya. Namun, ternyata, laki-laki itu memiliki kesimpulannya sendiri dalam merespons tatapan saya. Dengan santai ia menarik kursi lalu duduk. Meneguk bir yang dibawanya, kemudian menyalakan sebatang rokok. Ia tidak berbicara sepatah kata pun. Cukup lama. Sesekali ia berangguk-angguk mengikuti irama lagu yang sedang diputar. Hingga sebatang rokok yang ia sesapi akhirnya kandas. “Saya ingin mati sekali lagi, tapi tidak di sini, tidak dengan keadaan seperti ini,” katanya, lalu pergi usai menandaskan bir yang tersisa di gelasnya.

Ia berdiri. Dari gelagatnya, saya bisa menebak, ia akan datang menghampiri saya seperti kemarin. Mungkin sebaiknya saya berterus terang saja kali ini. Saya akan bilang padanya: “Saya tidak butuh ditemani siapa-siapa.” Barangkali dengan begitu ia langsung mengurungkan niatnya untuk duduk semeja dengan saya. Dan, seandainya pun ia tetap memaksa, tidak sulit bagi saya untuk mengusirnya. Saya pikir di tempat ini, akan banyak laki-laki yang bersedia menolong saya. Dua atau tiga lelaki yang sedang berada di tempat ini cukup untuk menaklukkan otot kekar laki-laki itu dan melemparkannya ke luar sana.

 “Boleh saya duduk di sini?”

 “Maaf, saya tidak….”

 “Kau pasti ingin tahu.”

“Apa? Maaf, tahu soal apa? Apa yang ingin saya ketahui?”

Ia menarik kursi lalu duduk dengan cuek; membiarkan pertanyaan saya menguap begitu saja. Ia bahkan tak menghiraukan tatapan saya yang menuntut kejelasan dari perkataannya barusan. Di benak saya pertanyaan-pertanyaan itu kembali muncul: siapa sebenarnya lelaki ini? Apa maunya?

“Dulu, saya pernah mati, sekali,” ia berbicara dengan nada yang agak gusar.

Saya diam–mencoba bersikap tenang guna mendengar penuturannya. Ia menekuri gelas yang masih terisi penuh. Saya menunggu laki-laki itu meneruskan cerita. Hingga berpuluh-puluh detik kemudian, ia belum juga melanjutkan ceritanya. Seolah-olah sedang memikirkan sesuatu. Atau, boleh jadi, laki-laki itu tengah menanti reaksi saya terlebih dahulu. Kami pun terdiam selama berpuluh-puluh detik berikutnya. Dan, ponsel saya tiba-tiba berbunyi; sebuah pesan masuk.

Ia tampak gelisah. Jemarinya sibuk merogoh-rogoh saku kemeja.

“Rokok?”

Ia menolak sekotak rokok yang saya sodorkan. “Ini saja,” dengan cepat ia raih sebatang rokok yang masih menyala dan tergeletak di atas asbak–sebatang rokok yang saya letakkan tadi ketika hendak membalas pesan. Terpaksa saya cabut lagi sebatang kemudian menyalakannya.

“Bukan kematian itu yang saya sesalkan,” ujarnya seraya menatap saya, “karena setiap orang pasti akan mati.”

Ia menghentikan penuturannya sewaktu seorang pelayan mengantarkan pesanan. “Terima kasih,” sambut saya lantas berdehem ke pelayan tersebut. Saya menginginkan pelayan itu segera pergi–saya kurang nyaman dengan tatapan pelayan yang penuh tanda tanya itu.

“Seharusnya dia berterima kasih pada saya, bukan malah membunuh saya,” lanjutnya lagi setelah pelayan itu menjauh.

“Kau dibunuh? Kenapa?”

“Menurutmu apa yang menyebabkan seseorang ingin meledakkan kepala orang lain jika bukan karena cemburu?”

“Cemburu?”

“Ya, sejak dia menyadari saya dan kekasihnya itu saling menyukai.”

Mendadak saya tertawa. Bukan karena apa yang baru saja ia katakan, melainkan lebih dikarenakan laki-laki itu jadi terlihat lucu. Ia yang mengaku-aku pernah mati, dan kini ia mengomel karena kematiannya itu disebabkan oleh rasa cemburu orang lain? Ternyata penilaian saya kemarin salah, ia bukan seekor harimau. Ia cuma seekor anjing kurap yang coba-coba bermain dengan perasaan orang lain. Dan mengeluh selepas merasakan akibatnya.

“Saya bersungguh-sungguh,” laki-laki itu lebih mencondongkan badannya ke arah saya; seakan tidak terima dengan reaksi saya barusan, “seharusnya dia berterima kasih.”

Saya lalu diam–agar dirinya tak kehilangan selera untuk kembali bercerita.

“Karena saya telah membahagiakan perempuan yang dia cintai.”

“Dengan melukai perasaan dan harga dirinya?”

“Kenapa harus terluka? Bukankah saya melakukan sebuah kebaikan? Saya menyukai kekasihnya dan memberikan kesenangan buat kekasihnya itu. Apa itu salah? Seharusnya kaulihat betapa bergembiranya kekasihnya itu ketika saya mencumbuinya di sebuah kamar hotel. Perempuan itu menikmati setiap sentuhan yang saya berikan.”

“Hentikan! Kau terdengar menjijikkan.”

“Hei, ada apa denganmu? Kenapa kau begitu marah?”

Entah mengapa, tiba-tiba saya merasa menjadi sangat haus. Bergegas saya basahi kerongkongan saya dengan segelas koktail sampai habis. Kemudian saya memesannya segelas lagi.

“Padahal, saya hanya ingin menjelaskan, bahwa laki-laki itu harusnya berterima kasih kepada saya,” tukasnya lalu menyesapi rokok hingga tuntas.

Saya menggeram–wajah saya memanas.

“Setidaknya dia jadi tahu, kekasihnya itu tidak sesetia seperti apa yang kerap dia gembar-gemborkan pada orang-orang,” pungkasnya lantas berdiri dengan wajah kesal.

Ia beranjak meninggalkan saya yang juga merasa kesal. Bukan cuma kesal, bahkan muak. Bahkan lebih daripada itu; terlintas dalam pikiran saya untuk membunuhnya, kalau saja ia tidak segera lenyap dari penglihatan saya. Ia benar-benar lenyap setelah sebelumnya berubah menjadi segumpalan awan yang melayang-layang di udara dan lesap menerobos langit-langit. Saya tertegun beberapa saat sebelum akhirnya terkesiap tatkala pelayan tadi kembali meletakkan segelas koktail di meja saya. “Cepat tinggalkan meja ini!” bentak saya kepada pelayan itu.

Saya menenggelamkan muka pada kedua telapak tangan. Pikiran saya benar-benar kacau.

“Maaf, saya terlambat. Kamu sudah dari tadi di sini?” seorang perempuan duduk di hadapan saya. “Kamu tampak kusut. Kamu baik-baik saja?”

Perempuan itu Shasha, sahabat saya sejak lama–sejak kami sama-sama kuliah.

“Sepuluh tahun kenal sama kamu, saya baru tahu kamu suka ke tempat seperti ini.”

Ia mengamati sekeliling. Ia juga memperhatikan apa-apa yang ada di atas meja. Memandangi satu per satu: segelas bir yang tersisa setengah, segelas koktail yang telah kosong, dan, segelas koktail yang masih terisi penuh. Ia juga melihat ke arah asbak.

“Sejak kapan kamu merokok?”

“Belum lama.”

“Kamu lagi ada masalah?”

“Sepertinya begitu.”

Ia mengernyit, kemudian menatap saya cukup lama.

“Kamu ingin cerita?”

Saya menggeleng, lalu meraih wristlet. Ia menatap saya dengan heran.

“Kenapa?”

Saya tidak menjawab. Akan tetapi, demi mengurangi kecemasan Shasha, saya tersenyum. Kendati pikiran saya kembali sesak. Apalagi ketika indra pencium saya mengendus sesuatu yang sangat saya akrabi. Sesuatu yang selalu membuat saya bergairah. Sesuatu yang senantiasa saya ingat. Dan, sesuatu itu menguar dari tubuh Shasha. Saya tetap tersenyum. Perlahan-lahan tangan saya menyelinap masuk ke dalam wristlet. Membelai sebuah revolver yang terasa dingin di ujung jemari saya, sambil menimbang-nimbang apakah saya harus berterima kasih padanya, atau….

*******

Catatan:
Bar stool         : kursi berkaki tinggi
Wristlet           : tas berukuran kecil menyerupai dompet

Abdullah Salim Dalimunthe,tinggal di Bandung. Gemar menulis cerpen.