Film, Resensi

Ibu Tidak Selalu Bisa Menjelaskan Cintanya

Oleh Erna Surya

Judul Film:  Insidious: Out of the Further (2026)

Dua hari yang lalu, saya ke bioskop dan menonton Insidious: Out of the Further. Niat awal saya sederhana: ingin ditakut-takuti. Namanya juga Insidious. Saya sudah siap dengan The Further, suara-suara aneh, sosok yang muncul tiba-tiba, dan adegan yang membuat kita refleks menoleh ke belakang ketika berjalan menuju parkiran.

Tapi ternyata saya pulang membawa pikiran yang lain. Bukan tentang hantunya. Bukan tentang makhluk-makhluk menyeramkan di dalamnya. Saya justru terus memikirkan seorang ibu. Tentang betapa jauhnya seorang ibu bisa pergi ketika anaknya berada dalam bahaya. Dan tentang satu hal yang kadang baru kita pahami setelah dewasa: cinta seorang ibu tidak selalu terlihat seperti cinta.

Film ini tetap menyajikan apa yang kita harapkan dari sebuah Insidious. Ada teror, ada The Further, ada ketegangan, dan tentu saja ada beberapa momen yang membuat jantung bekerja sedikit lebih keras. Tetapi bagi saya, bagian paling menarik justru ada di balik semua itu. Hubungan antara ibu dan anak.

Saya tidak ingin membocorkan banyak cerita karena menurut saya film ini lebih enak dinikmati tanpa mengetahui terlalu banyak sebelumnya. Namun ada satu tema yang menurut saya layak dibawa pulang dari bioskop: pengorbanan seorang ibu.

Kita sering menganggap pengorbanan ibu sebagai sesuatu yang indah. Ibu memasak untuk anak. Ibu bekerja untuk membiayai sekolah. Ibu terjaga ketika anak sakit. Ibu rela tidak membeli sesuatu untuk dirinya sendiri karena kebutuhan anak lebih penting. Semua terdengar manis.

Tapi pengorbanan yang sebenarnya tidak selalu manis. Kadang pengorbanan berarti kehilangan. Kadang berarti membuat keputusan yang tidak dimengerti anak. Bahkan dalam keadaan tertentu, pengorbanan bisa berarti memilih dirinya sendiri untuk menjadi korban. Dan di situlah saya merasa film ini menjadi lebih manusiawi.

Seorang anak hanya melihat apa yang terjadi. Ia melihat ibunya mengambil keputusan. Ia mungkin melihat ibunya pergi lalu merasakan kehilangan. Tetapi ia belum tentu tahu alasan di balik keputusan itu. Anak tidak selalu melihat ketakutan yang disimpan ibunya. Tidak tahu berapa malam ibunya tidak tidur, tidak tahu berapa banyak kemungkinan buruk yang berputar di kepala. Yang anak tahu hanya: “Ibu meninggalkanku. “Padahal bisa saja yang sebenarnya terjadi adalah: “Ibu pergi supaya kamu tetap bisa tinggal.” Ini yang membuat saya berpikir tentang hubungan kita dengan ibu masing-masing.

Ketika kecil, ibu yang melarang kita bermain terlalu jauh terasa menyebalkan. Ibu yang menelepon berkali-kali terasa mengganggu, lalu bertanya kita pergi dengan siapa terasa seperti polisi. Ibu yang meminta kita pulang sebelum malam terasa terlalu banyak aturan. Lalu kita dewasa. Kita mulai memiliki seseorang yang harus kita lindungi. Barulah kita mengerti. Oh, ternyata takut kehilangan seseorang memang bisa membuat manusia menjadi cerewet.

Kita sering menilai kasih sayang dari bentuknya. Padahal setiap orang punya cara berbeda dalam mencintai. Ada ibu yang lembut, keras. Ada yang pandai mengatakan “I love you”.Ada yang bahkan tidak pernah mengucapkannya. Tetapi setiap pagi tetap bangun lebih dulu  untuk memastikan anaknya makan.

Cinta tidak selalu pandai berbicara. Kadang ia hanya bekerja diam-diam. Dan yang lebih menyedihkan, pengorbanan seorang ibu kadang baru dipahami setelah semuanya terlambat. Kita baru mengerti mengapa dulu ibu begitu takut. Mengapa ia melarang. Mengapa ia menangis. Mengapa ia mengambil keputusan yang dulu kita anggap tidak masuk akal. Sayangnya, tidak semua ibu mendapatkan kesempatan untuk menjelaskan dirinya. Tidak semua anak mendapatkan kesempatan untuk bertanya.

Mungkin karena itu kisah ibu dalam Insidious: Out of the Further terasa cukup menempel di kepala saya. Film ini mengingatkan bahwa ketakutan terbesar seorang ibu sebenarnya bukan kematian. Melainkan kemungkinan anaknya terluka. Dan ketika seorang ibu sudah sampai pada titik harus memilih antara keselamatan dirinya sendiri dan keselamatan anaknya, mungkin jawabannya tidak pernah benar-benar sulit. Anaknya. Selalu anaknya.

Saya datang ke bioskop untuk melihat film horor. Tapi saya pulang membawa pertanyaan yang jauh lebih menakutkan: Berapa banyak cinta seorang ibu yang baru kita pahami ketika kita sudah tidak punya kesempatan untuk mengucapkan, “Ibu, sekarang aku mengerti”?

Mungkin itulah horor yang sebenarnya. Bukan tentang sesuatu yang datang dari The Further. Tetapi tentang kemungkinan bahwa seseorang yang paling mencintai kita pernah berkorban begitu besar, sementara kita tidak pernah benar-benar menyadarinya. Dan mungkin, di situlah seorang ibu menjadi makhluk paling berani sekaligus paling menyedihkan di dunia. Ia bisa takut mati. Tetapi untuk anaknya, ia bisa memilih mati lebih dulu.

____________________

Erna Surya. Penulis dari Klaten, juga seorang guru.