Cerpen

Bunga Kertas di Atas Rel

Cerpen Erna Surya

Jangan buka peta Delanggu hari ini. Bukalah peta Delanggu tahun 1925, ketika udara masih diselimuti bau tanah basah, dan sinar matahari menimpa rel-rel kereta seperti bilah pisau mengiris air. Waktu itu Delanggu belum seramai kini. Di ujung jalan tanah yang berdebu, berdirilah sebuah stasiun kecil beratap seng, dua jalur besi menghubungkan Solo dan Yogyakarta. Suara peluit kereta bukan sekadar tanda keberangkatan, melainkan doa pagi dan ratapan sore. Di sebelah barat, berdiri pabrik karung goni: bangunan besar dengan cerobong hitam yang memuntahkan asap ke langit, seperti perpanjangan dada orang-orang yang tak sempat menangis.

Para perempuan pribumi datang setiap pagi dengan kain kebaya basah peluh, membawa tubuh yang belum sempat menua tapi sudah letih. Dari fajar hingga senja, tangan mereka menenun serat-serat goni menjadi karung yang akan membawa biji kopi dan gula ke kapal-kapal di Batavia. Mereka jarang bicara. Di pabrik itu, suara mesin lebih keras daripada suara manusia.

Selasa, 4 Agustus 1925.

Kereta dari Batavia berhenti di Stasiun Delanggu pukul tiga sore. Dari gerbong kelas satu turun seorang lelaki Belanda bertopi jerami, membawa koper kulit hitam dan selembar surat tugas dari pemerintah Hindia Belanda. Namanya Johan van Dijk, insinyur muda lulusan Delft, dikirim untuk mengawasi pembangunan gudang baru di pabrik karung goni Delanggu.

Usianya tiga puluh dua, rambutnya pirang pucat, kulitnya seputih abu cerutu yang tertiup angin sore. Wajahnya tenang, tapi matanya tajam seperti penggaris baja — mata yang terbiasa menghitung jarak dan ketepatan. Ia percaya hidup bisa diatur seperti skema mesin: rapi, pasti, tanpa gangguan perasaan. Namun satu hal yang tak bisa ia ukur adalah mata seorang perempuan yang menatapnya sore itu.

Perempuan itu berdiri di peron, kebaya hijau tua membungkus tubuhnya yang mungil. Di tangannya ada bakul berisi pisang rebus, di bibirnya ada senyum yang tidak dipelajari dari siapa pun. Sarinah, namanya. Ia bukan gadis yang mencolok. Kulitnya sawo matang, rambutnya disanggul seadanya. Tapi ada sesuatu pada caranya berdiri, cara ia menunduk setengah malu, seolah tahu bahwa dunia sedang menatapnya tapi ia tak tahu harus ke mana menghindar. Johan menatapnya sebentar, cukup lama untuk menanam duri kecil di hatinya.

Goedemiddag,” sapanya. Sarinah tak menjawab. Ia hanya menunduk, tersenyum sekilas, lalu berlalu dengan langkah yang nyaris tanpa suara.

***

Sejak sore itu, Johan selalu berhenti di stasiun setiap sepulang dari pabrik. Ia berpura-pura menunggu kereta yang tidak pernah ia tumpangi. Ia berdiri di bawah atap seng yang panas, menyalakan rokok, dan menunggu gadis dengan bakul pisang itu lewat. Kadang Sarinah menatapnya sekilas, kadang tidak. Tapi setiap pertemuan meninggalkan sesuatu di udara — seperti aroma kayu manis yang tertinggal lama setelah bara padam.

Di pabrik, Johan menjadi pengawas baru yang berbeda dari insinyur-insinyur Belanda sebelumnya. Ia tidak berteriak. Ia menatap pekerja pribumi seperti manusia yang berpikir. Para buruh heran; lelaki asing itu jarang marah, bahkan sesekali ikut membantu menarik gulungan serat yang macet.

Een vreemde meneer,” bisik salah satu mandor, “orang Belanda aneh yang tak suka memerintah.”

Suatu sore, Johan melihat Sarinah di halaman belakang pabrik. Ia sedang mencuci tangan di ember air berwarna cokelat muda. Johan mendekat, dengan bahasa Melayu patah-patah.

“Kau kerja di pabrik ini?”

“Iya, Tuan,” jawab Sarinah, menunduk.

“Bagian apa?”

“Penggilingan.”

“Kau tahu…” — Johan menatap air cucian yang beriak — “matamu seperti air sumur. Dalam dan tak bisa kuukur.”

Sarinah tak mengerti seluruh kata, tapi nada suaranya membuat dada bergetar. Ia tersenyum. Johan ikut tersenyum, kikuk, seperti bocah yang baru belajar arti kebingungan. Hari-hari berikutnya mereka mulai berbicara. Sedikit-sedikit. Johan belajar kata-kata Jawa sederhana.

“Mangan, ngantuk, tresna.”

Sarinah terkekeh setiap kali Johan salah ucap. “Bukan tresno, tapi tresna, Tuan,” katanya pelan.

“Ah, ja… tresna,” ulang Johan dengan logat Belanda yang berat.
Suara mereka tenggelam di antara dengung mesin dan bau serat goni yang dibasahi air garam.

***

Cinta, di negeri jajahan, selalu punya aroma yang rumit. Ada getar yang lembut, tapi juga rasa bersalah yang samar. Johan tahu: menyukai perempuan pribumi bisa menjadi aib bagi sesama kulit putih. Tapi setiap kali ia melihat Sarinah tertawa, dunia seolah mengecil menjadi halaman pabrik itu saja. Segala yang ia pelajari di Delft — tentang logika, efisiensi, ras — hilang dalam cara Sarinah menatapnya.

Suatu sore, Johan memberanikan diri duduk di peron bersama Sarinah. “Je naam is mooi. Sarinah. Klinkt zacht,” katanya.

Sarinah mengerjap. “Apa artinya, Tuan?”

“Namamu indah. Lembut.” Sarinah tertawa kecil. “Nama saya biasa saja. Wong cilik, Tuan.” Johan memandangi rel yang memanjang ke arah timur. “Rel ini seperti hidup, ya? Lurus, tapi selalu membawa kita ke tempat yang tak kita pilih.”

Sarinah menatap wajahnya. “Tuan seperti kereta,” katanya lirih. “Datang dan pergi. Tapi saya tetap di sini.”

Kata-kata itu menancap dalam. Johan tak menjawab. Ia hanya memegang topinya erat-erat, menahan sesuatu yang tidak berani ia beri nama.

***

Minggu-minggu berikutnya, Delanggu menjadi kecil di mata Johan. Ia mengenal pasar dengan bau tembakau dan jagung bakar. Ia belajar menyapa anak-anak yang berlarian di sawah: “Sugeng enjing!” dan mereka tertawa, menirukan lidahnya yang kaku. Malam-malamnya ia habiskan di rumah sewaan dekat pabrik, menulis catatan tentang proyek gudang yang tak pernah selesai. Tapi di antara angka-angka itu, ada nama yang selalu ia tulis tanpa sadar: Sarinah.

Di rumahnya yang berdinding papan, Sarinah juga sering memikirkan lelaki asing itu. Ia tahu Johan berbeda — cara bicaranya, cara matanya tak merendahkan. Tapi ia juga tahu, perbedaan mereka lebih besar daripada samudra. Ibunya pernah berkata, “Nduk, ojo melu wong Londo. Wong Londo kuwi ora duwe rasa kasihan.” Namun Sarinah melihat sesuatu yang lain. Johan tidak seperti tuan-tuan Belanda yang suka berteriak. Johan menunduk ketika berbicara dengannya. Dan malam-malam, di kamarnya yang sempit, Sarinah menatap langit-langit dan berbisik pada dirinya sendiri: opo tresna kuwi salah yen mung kaya swara sepur sing liwat, ora tau mandeg?

***

Tapi cinta di bawah bayang kolonialisme tak pernah punya masa depan yang jernih.
Pabrik karung goni mulai merugi. Mesin-mesin tua berkarat, buruh-buruh sering sakit. De Vreede — pemilik pabrik yang kasar dan congkak — menuduh pekerja pribumi malas.
Suatu malam, terjadi kebakaran kecil di gudang serat. Asap mengepul ke langit, membungkus bulan seperti kain kabung. De Vreede berteriak, menuduh pekerja pribumi sengaja membakar pabrik. Johan menolak.

Het komt van de oude machine, niet van opstand!” seru Johan.
De Vreede mendengus. “Van Dijk, je bent te zacht! Orang pribumi itu tak tahu berterima kasih. Mereka seperti karung goni — kuat tapi bodoh.”

Johan menggenggam surat tugasnya. “Ze zijn niet dom. Ze zijn moe,” katanya pelan — mereka bukan bodoh, mereka hanya lelah.
De Vreede menatapnya tajam. “Hati-hati, Van Dijk. Siapa berpihak pada mereka, akan kehilangan tempat di negeri ini.”

Malam itu Johan tidak tidur. Di meja kecilnya, ia menulis surat pengunduran diri. Tinta hitam menetes seperti darah yang enggan berhenti. Ia tahu, besok ia akan kembali ke Batavia.

***

Sebelum pergi, ia berjalan ke rumah Sarinah di pinggir sawah. Bulan separuh menggantung di langit. Suara jangkrik terdengar seperti napas panjang bumi. Sarinah membuka pintu dengan wajah yang sudah tahu kabar buruk.

“Tuan akan pergi?”

“Ya,” suara Johan nyaris bisikan. “Mereka tak suka aku di sini.” Sarinah menunduk.

“Ini untukmu.” Johan menyerahkan selembar kain sutra biru. “Beli di Solo. Aku tak tahu mengapa kupilih warna ini. Mungkin karena mirip matamu.”
Sarinah memegangnya lama. “Tuan,” katanya, “sepur bakal lunga, ning rel tetep ana.”
Johan terdiam. Ia ingin memeluk, tapi dunia tidak memberi izin.

***

Keesokan sore mereka bertemu di peron. Kereta belum datang, tapi peluitnya sudah terdengar dari arah timur. Angin sore berbau debu dan besi panas. Sarinah menggenggam tangan Johan. Tangannya kecil, dingin, tapi kuat.

“Kalau Tuan kembali, lihatlah ke arah rel,” katanya. “Kalau ada bunga kertas di atasnya, itu tandanya saya masih di sini.”

Johan menatap wajahnya lama. “Ik zal kijken,” katanya pelan. “Aku akan melihat.”
Kereta datang, membawa suara berat yang memotong udara. Johan naik tanpa menoleh lagi. Sarinah berdiri diam, seperti patung dari air yang tak sempat membeku. Ketika kereta menghilang di tikungan, ia menunduk, menatap tanah. Di tangannya, kain sutra biru itu terasa dingin seperti janji yang tak akan ditepati.

***

Delanggu kembali sunyi. Pabrik goni berjalan dengan mesin-mesin setengah rusak. Upah buruh semakin kecil. Sarinah tetap bekerja — tubuhnya makin kurus, tapi matanya tetap memegang sesuatu yang Johan tinggalkan: keberanian untuk menatap hidup, walau dunia tak berpihak. Ia tak tahu apakah Johan benar sampai ke Batavia. Ia hanya tahu, setiap kali peluit kereta terdengar, dadanya bergetar, seperti mengenali suara yang pernah ia cintai.

Tahun berganti. 1928. Orang-orang mulai bicara tentang “pergerakan.” Tentang bangsa, tentang kemerdekaan, tentang harga diri. Tapi di sudut-sudut seperti Delanggu, yang berubah hanyalah warna debu. Sarinah tetap menjual pisang rebus di peron, menunggu kereta datang dan pergi. Di suatu sore, ia menaruh setangkai bunga kertas merah muda di atas rel. Bukan untuk siapa-siapa. Hanya untuk mengingat dirinya sendiri.

***

Tiga tahun setelah kepergian Johan, seorang laki-laki berjas lusuh turun dari kereta di Delanggu. Rambutnya sudah beruban di sisi, matanya redup tapi tajam. Johan van Dijk kembali ke Jawa sebagai konsultan teknik jalur kereta. Ia bilang pada rekannya di Surabaya, kunjungannya hanya inspeksi rutin. Tapi sebenarnya, ia datang karena mimpi yang berulang: mimpi tentang seorang gadis berkebaya hijau berdiri di peron, menatapnya tanpa suara.

Stasiun Delanggu tampak sama, hanya cat dindingnya lebih pudar. Di kejauhan, bekas pabrik goni masih berdiri dengan jendela-jendela bolong. Angin membawa bau lembap dan serat tua. Johan berjalan pelan ke arah peron. Di bawah atap seng itu, waktu seakan berhenti. Ia berdiri di tempat Sarinah dulu menjajakan pisang. Tak ada siapa-siapa.
Hanya rel yang berkarat dan setangkai bunga kertas yang tumbuh liar di sela besi.

Ia menatapnya lama.

Ben je hier, Sarinah?” bisiknya.

Angin lewat. Tidak menjawab. Ia duduk di bangku kayu tua, membuka topi, dan memandangi langit yang separuh mendung. Dalam hati ia tahu: beberapa cinta memang tidak perlu akhir. Cukup menjadi jalan yang selalu membawa seseorang kembali, meski tak ada siapa pun yang menunggu di ujungnya.

Kereta dari Solo terdengar mendekat. Johan berdiri, menatap rel yang membujur lurus, seperti garis waktu yang tak bisa ia ubah. Di tanah dekat kakinya, ada serpihan kain berwarna biru — entah dari mana datangnya. Ia tersenyum kecil. Lalu melangkah masuk ke gerbong, tanpa menoleh lagi.

Kereta melaju, meninggalkan Delanggu dengan debu, bunga kertas, dan satu nama yang terus bergema di hatinya: Sarinah.

Dan bila ada yang datang ke Delanggu hari ini, mungkin mereka hanya akan melihat stasiun kecil yang sepi, rel berkarat, dan gerimis yang turun seperti rahasia. Tak ada nyanyian, tak ada arwah. Hanya waktu yang berjalan pelan, menyimpan jejak dua manusia yang pernah berpapasan di tengah sejarah — lalu diam, selamanya.

___________________

Erna Surya. Penulis yang berprofesi sebagai seorang guru.

Cerpen

Permen-Permen dan Gugusan Bintang di Kepala Ken

Cerpen Erna Surya

Ken bercita-cita menjadi seorang penulis di mana ia nanti bisa bercerita tentang galaksi-galaksi di jagad raya yang bisa ia tempati bersama permen-permennya. Mamanya bertanya, mengapa permen. Ken yang tahun depan akan masuk Sekolah Taman Kanak-Kanak menjawab bahwa ia butuh ruang yang sangat luas untuk menata permen-permennya itu. Dan satu-satunya ruang yang paling luas adalah galaksi. Ken teringat dongeng papanya di suatu malam. Waktu itu, papanya bercerita tentang galaksi dan gugus bintang yang sangat luas sekali sehingga mata manusia tak akan sampai untuk menjangkaunya. Dan di sanalah ia nanti bisa bertemu Tuhan.

Tentang mengapa permen, Ken sangat mencintai mamanya yang lihai membuat permen aneka rasa. Bagi Ken, mama adalah segalanya. Pernah di suatu hari, mamanya pergi seharian sampai pulang larut malam. Ken di rumah bersama pengasuh. Sepanjang hari itu juga ia menunggu di pagar rumah dan selalu memandang ke ujung jalan, berharap mamanya segera muncul. Ketika pulang, pengasuh bercerita bahwa sepanjang hari itu, Ken tidak mau makan dan tidur siang. Untung masih bisa dibujuk untuk mau minum susu. Dan mulai saat itu, mamanya berjanji bahwa ia tak akan lagi meninggalkan Ken pada keadaan apapun. Termasuk ketika ia harus berhari-hari di rumah sakit untuk menjalani serangkaian operasi pengangkatan rahim karena ada sesuatu yang tumbuh di dalamnya, ia meminta Ken tetap ada di dekatnya. Ken dan mamanya tak terpisahkan.

Di suatu malam yang gerimis, Ken terbangun lantaran haus. Ia berjalan sendirian menuju dapur. Ketika melewati kamar mamanya, Ken mendengar suara lirih tangisan mamanya. Ken ingin masuk. Namun langkahnya terhenti ketika ia mendengar suara papanya.

“Tolong, jangan paksa aku untuk memilih,” ucap papa Ken lirih sekali.

Ken kembali ke kamarnya degan perasan sedih. Ia tak bisa melihat mamanya menangis. Namun ia tak berani mendekat. Malam itu, Ken tertidur dengan mata yang basah. Dalam tidurnya, Ken bermimpi tentang gugusan bintang dan galaksi. Ken tengah terbang bersama papa dan mamanya, bernyanyi, lalu menyelinap di antara planet-planet. Ken merasa bahagia, sayangnya itu hanya dalam mimpi.

Paginya, pundak Ken diguncang oleh mamanya. Ia terbangun dan melihat mama sudah berada di sampingnya dengan mata yang sembab. Ken pura-pura tak tahu menahu tentang tangisan mamanya semalam. Ia mengucapkan selamat pagi kepada mamanya, lalu memeluk perempuan lembut itu, sama seperti pagi-pagi biasanya.

“Ken, kita harus pindah rumah.”

“Kemana, Ma?”

“Ke Jogja, di rumah Eyang.”

Ken kecil girang. Ia mengemas semua pakaian dan mainannya ke dalam kardus-kardus dan kotak plastik yang sudah disiapkan mamanya. Sudah terbayang di kepalanya bahwa ia nanti bisa mandi di sungai bersama kakek dan sepupunya. Lalu menggiring bebek dan ayam pulang ke kandang. Malamnya ia bisa menghabiskan waktu di mushola depan rumah bersama anak-anak tetangga seusianya. Mereka bisa bermain apa saja.

Kebahagiaan Ken kecil makin menjadi-jadi ketika mamanya menyampaikan bahwa ia akan bersekolah di Jogja dan akan terus tinggal di rumah eyangnya. Namun ketika Ken mendapati cerita bahwa papanya tak akan ikut bersamanya lagi, kesedihan menyerang Ken kecil dengan tba-tiba. Ia nyaris menangis. Namun mama segera memeluknya.

Semenjak itu Ken tak bertemu papanya lagi.

***

“Ma, kalau hari ini aku bisa ketemu dosen pembimbing dan bab lima-ku di ACC, berarti aku ikut wisuda Desember,” ujar Ken kepada mamanya di suatu sore ketika mamanya tengah merajut di belakang rumah. Mama Ken menoleh kemudian tersenyum. Ia sangat bangga atas apa yang telah dilakukan anaknya. Kini nama Ken ada di berbagai macam surat kabar. Ken kecil yang dulu sangat suka permen kini telah menjadi seorang penulis meskipun belum sampai pada gelar sarjana. Ken banyak menulis cerita fiksi tentang galaksi dan gugusan bintang.

Dulu sempat terjadi perdebatan kecil sebelum Ken masuk kuliah. Mama menginginkan anaknya masuk ke jurusan mesin. Alasannya satu, biar mudah mendapat pekerjaan mengingat begitu pesatnya perkembangan otomotif di waktu belakangan ini. Namun Ken menolak. Ia tetap ingin belajar sastra. Cita-citanya masih sama, ingin menjadi penulis seperti apa yang dikerjaan papanya. Mamanya berulang kali membujuk agar ia melupakan papanya, tapi tak bisa.

“Novel papa terbit lagi, Ma. Judulnya ‘Rumput Kering’. Agak beda dari ‘Akar Pohon’. Tapi menurutku yang Rumput Kering ini lebih bagus, cerita tentang perjuangan seorang PSK. Banyak nuansa cintanya. Mama mau baca?”

Ken merasa bersalah ketika tak ada jawaban sedikit pun dari mamanya, bahkan merespons dengan ekspresi wajah pun tidak. Ken paham bahwa ia telah membuat suasana hati mamanya menjadi tidak bagus hari ini. Sebenarnya, ia sadar bahwa melihat papa dan mamanya rujuk itu mustahil. Tapi dalam hati kecil, ia masih menginginkan mamanya mau sedikit membuka hati untuk papanya, untuk sekadar mau mendengar kabar. Sejak perpisahan itu, Ken tak pernah lagi mendengar nama papanya keluar dari mulut mamanya. Meski tak paham apa yang membuat mereka berpisah, Ken tahu bahwa hati mamanya sangatlah terluka.

Hari sudah hampir petang. Ken sudah rebah di kamarnya ketika perempuan yag sedari pagi tadi merajut itu berdiri. Pipinya basah ketika memegang buku yang Ken letakkan di meja dekat ia duduk. Ada sesuatu yang mencabik-cabik hatinya kembali setelah sekian tahun ia tutup agar tak luka kembali.

Ingatannya tertuju kepada malam itu, ketika ia tengah terduduk di tepi jalan dengan make-up tebal dan seorang lelaki mendatanginya. Lelaki itu mengajaknya pergi.

“Rosa,” panggil lelaki itu.

“Tahu nama saya dari mana?”

“Aku memerhatikanmu selama enam bulan terakhir ini. Wajahmu mengingatkanku pada cinta pertamaku waktu SMP. Sudah hampir empat puluh tahun berlalu.”

Rosa terdiam.

“Mulai sekarang, kamu tinggallah di sini! Jangan jual diri lagi,” pinta lelaki itu sembari memegang kedua tangan Rosa.

“Aku sedang mengandung,” jawab Rosa lirih.

“Beri dia nama Ken. Dan biarkan dia memanggilku Papa,” ucap lelaki itu sebelum memeluk tubuh Rosa erat sekali.

***

Ketika keluar kamar, Ken mendapati mamanya terisak dengan novel di tangannya.

“Ceritanya ini tentang PSK yang dicintai seorang lelaki, Ma. Si lelaki itu tak peduli kalau anak yang dikandung perempuan itu bukan anaknya. Tapi sayangnya si perempuan itu pergi meninggalkan si lelaki. Si lelaki itu sudah punya istri sah, dan si perempuan itu ia simpan sebagai istri kedua. Tapi si perempuan itu tak tahu diri. Ia minta si lelaki meninggalkan istri sah dan menikahinya. Keputusan yang berat buat si lelaki. Di satu sisi, ia tak bisa meninggalkan keluarganya. Di sisi lain, si lelaki menemukan cinta sejatinya justru kepada si perempuan itu.”

Ken memeluk mamanya ketika tangis semakin menjadi-jadi.

“Ken, kamu masih ingat jalan pulang?”

“Kemana, Ma?”

“Ke hati lelaki yang kamu panggil Papa,” ucap perempuan itu di dada anaknya.

Ken kini membayangkan tentang deretan permen-permen di dalam galaksi, tempat ia dulu sering berfantasi ketika masih kecil.****


Erna Surya, seorang pengajar Bahasa Inggris di SMK N 1 Juwiring, Klaten. Tinggal di Klaten. Senang dengan dunia buku dan tulis menulis. Kini sedang menempuh studi Magister di Universitas Sebelas Maret, Surakarta di jurusan Linguistik konsentrasi Penerjemahan. Bisa dikontak di [email protected] atau bisa lewat Instagram @ernaasuryaa