
Curhat Lituhayu
Setelah menidurkan anak lelakiku, aku menyusul suamiku di ruang tengah. Saat aku duduk bersandar di bahunya, dia sedang sibuk memencet-mencet tombol remot. Mungkin karena kesal tidak menemukan saluran televisi yang menarik, remot itu diserahkan padaku. Pilihanku berhenti pada layar yang menunjukkan acara kuliner.
“Halah, apa sih enaknya makan? Bikin tambah gendut kalau cara makannya begitu,” komentar suamiku saat melihat ada banyak sekali piring tertata di meja, sedangkan hanya satu orang saja yang akan mencicipi makanannya.
Aku tidak menanggapi omelan suamiku. Dia memang selalu begitu. Baginya, makan hanya sarana untuk memenuhi kebutuhan energi, tidak penting apakah makanan itu enak atau tidak. Bahkan, tidak harus selalu kenyang, yang penting ketika lapar, ya makan. Menariknya, sebanyak apa pun makanan yang ada di piring (jika tidak sedang sakit), pasti akan selalu tandas. Salah satu keuntungan juga, karena aku tidak terlalu pandai memasak. Tentu memiliki suami dengan sensitivitas indera perasa kurang baik seperti itu menjadi berkah tersendiri untukku. Beban pikiran untuk mendapat komentar pedas hampir tidak pernah ada.
“Ngomong-ngomong, lihat orang makan nasi padang, aku kok jadi kepengin juga,” kataku.
“Nah, buruan beli. Aku juga sudah lapar,” sahut suamiku.
Gegas aku mengeluarkan ponsel untuk membuka aplikasi pesan makanan. Cukup lama aku menghabiskan waktu scrolling. Dan pada akhirnya, aku memutuskan ingin langsung ke warung saja. Rasanya lebih puas jika aku bisa melihat dan memilih langsung.
“Lah, cepat sekali. Sudah sampai?” tanya suamiku saat melihatku beranjak dari sofa.
Aku menggeleng. “Mau langsung ke depan saja, Ayah mau lauk apa?”
“Ya sudah, ayo, bareng saja,” sahutnya.
“Anakmu kalau bangun gimana? Sudah biar aku saja. Nanti Ayah kutelepon ya, ada lauk apa saja.”
Suamiku menyerah. Dia tahu kalau urusan selera, aku setingkat lebih tinggi darinya. Jika ingin selamat dari komplain, memang sebaiknya dia mengalah.
“Yawis, hati-hati kalau begitu,” balas suamiku pasrah sembari memberi selembar uang lima puluh ribuan padaku. Aku menerima ulurannya. Spontan punggung tangannya diarahkan ke mulutku. Aku meringis.
Dengan mengendarai vespa milik suamiku, aku menuju warung nasi padang. Awalnya aku ingin ke tempat langgananku, tapi belum jauh aku berkendara, aku melihat warung di sisi sebelah kiri yang terlihat sepi. Aku memutuskan berhenti.
Seorang pegawai perempuan berhijab menghampiriku. “Dibungkus atau makan sini?”
“Dibungkus,” jawabku pendek. Aku menelepon suami untuk menanyakan lauk yang tersedia dan apa yang diinginkannya. Setelah itu, dua bungkus nasi telah siap. Gulai tunjang untukku, ayam goreng untuk suamiku.
Sampai di rumah, suamiku masih saja sibuk memainkan remot di tangannya. Aku menuju dapur mengambil dua piring. Suamiku menyusul untuk mencuci tangan. Kami sempat berdebat karena dia ingin makan di meja makan saja, sedangkan aku tetap ingin makan di ruang tengah agar bisa sambil menonton televisi. Tentu saja aku yang memenangkan perdebatan itu.
Suamiku telah mulai makan lebih dulu. Aku mencari-cari saluran dengan tangan kiri dan pilihanku jatuh pada acara komedi. Sepertinya gabungan antara ajang pencarian bakat dan stand-up comedy. Salah satu yang berperan sebagai juri adalah Deddy Corbuzier. Kontestan yang muncul pertama adalah Uus bersama rekannya. Atraksi panggung yang mereka suguhkan adalah menyanyi diiringi gitar akustik. Sesekali, riuh tawa penonton terdengar. Aku pun turut tertawa kecil.
“Kenapa ya, aku selalu nggak bisa ikut ketawa lihat begituan?” Suamiku menggumam. Mungkin sebenarnya hanya ditujukan untuk dirinya sendiri.
Empuknya gulai tunjang, serta kuah berempah dengan tambahan bumbu rendang dan serundeng membuatku tidak berhenti menyuapkan nasi ke mulut. Begitu pun suamiku.
“Selera humorku terlalu tinggi kayaknya. Menuntut harus selalu lebih,” lanjut suamiku.
Aku tidak menanggapi ucapannya. Tetap makan dengan lahap, juga tetap menonton acara itu, termasuk ikut tertawa bersama penonton di studio. Sedangkan suamiku, bertahan dengan teguh menampilkan ekspresinya yang datar itu.
Pernah suatu kali kami menonton acara yang berisi cuplikan-cuplikan video lucu. Entah menampilkan seseorang yang jatuh karena ulahnya sendiri. Seseorang dengan mimik wajah terkejut yang sangat menggelikan. Atau sekelompok orang sedang berjoget lucu diiringi lagu viral. Aku sering dibuat terpingkal-pingkal hingga sakit perut. Tidak jarang sampai keluar air mata. Dan suamiku, tetap saja datar. Dia hanya menggeleng-gelengkan kepala, atau malah tersenyum mengejek melihat reaksiku.
Kadang aku menuduhnya sedang akting. Mengatakan padanya kalau sebenarnya dia ingin ikut tertawa, tapi gengsi, jadi lebih memilih menahan diri. Lalu suamiku menjawab tegas kalau itu tidak benar. Kenyataannya memang begitu. Ekspresi yang ditunjukkannya alami dan tanpa dibuat-buat.
Pernah juga, saat kami berdua menonton pertandingan badminton, aku berteriak semangat saat menyaksikan perang smash antar kedua lawan, lalu memekik girang saat poin berhasil diperoleh atlet Indonesia. Sedangkan suamiku, hanya terlihat sesekali tersenyum. Terkadang malah meledekku, mengatai aku lebay. Kalau sudah begitu, biasanya ada dua respons yang kutunjukkan. Pertama diam saja, tetap santai menonton tanpa memedulikan komentarnya. Kedua kutanggapi, entah dengan pura-pura jengkel atau balik meledek. Respons apa pun yang kupilih, ada kalanya malah bisa membuat suamiku tiba-tiba tertawa lepas, memperdengarkan suara khasnya yang besar itu.
Sebenarnya, menonton televisi hanya salah satu cara kami menikmati kebersamaan. Aku tahu meski suamiku tidak tertarik dengan tontonannya, dia tetap mau menemaniku. Termasuk saat dia sedang asyik menonton film yang mungkin saja aku tidak suka, tapi aku tetap menemaninya. Kadang ada sesuatu, entah candaan atau bahasan yang tiba-tiba muncul di sela-selanya. Itulah yang membuatku merasa tidak diabaikan dan betah berlama-lama duduk menonton televisi bersama suamiku.
“Gimana, enak tidak?” tanyaku mengalihkan topik pembicaraan. Suamiku hanya mengangguk.
“Kapan-kapan kita makan langsung di sana saja ya. Tempatnya sepi, bersih, jual teh talua juga. Tadi aku ingin bungkus, tapi mana enak minuman begitu dibungkus,” lanjutku panjang lebar yang dibalas dengan satu kata saja oleh suamiku, oke.
Aku kembali menikmati makananku yang hampir habis. Sesekali aku melirik ke arah suamiku. Tersenyum melihatnya kepedasan karena tadi aku lupa mengatakan pada mbak-mbaknya untuk menaruh sedikit saja sambal pada bungkusan suamiku. Aku agak menyesal, tapi aku diam saja. Sengaja, barangkali sebentar lagi akan ada omelan kecil dari mulutnya. Tapi sampai suapan terakhir, meski butir-butir keringat membasahi keningnya, tidak ada kalimat apa pun yang terlontar. Hal seperti itu justru menunjukkan ekspresi yang paling ekspresif dari suamiku.***
Lituhayu
Ibu rumah tangga
