Cerpen Kesit H. Setyadji
[i]Henri MacLaine Pont, Arsitek Hindia Belanda berdarah Indonesia di era tahun 1910-1971.

Jumat pertama pertengahan tahun 1919, ketika matahari mulai beringsut, empat bibit beringin telah tertanam di tengah lahan seluas 30 hektar, bekas area persawahan yang telah ditimbun ratusan kubik tanah padas. Lahan itu berbatasan dengan Sungai Cikapundung dan Dagoweg[1]. Penanaman pohon itu sebagai penanda dimulainya pembangunan Gedung Technische Hoogeschool te Bandoeng[2]. Berturut-turut Tuan Bertus Coops sebagai Burgemeester[3] Bandung dan Tuan J.W. IJzerman sebagai perwakilan dari KIHTONI[4], memberikan sambutan pada acara tersebut. Puncak acara itu ditandai dengan penguburan selembar piagam yang telah dimasukkan ke dalam looden[5] oleh Prof. Kloper, pimpinan sekolah sebagai salah satu tokoh yang namanya tertulis dalam piagam itu. Pont membungkukkan badannya ketika diperkenalkan sebagai arsitek bangunan itu dan juga pimpinan proyek.
Orang-orang telah beranjak. Langit senja oranye keunguan menghampar di cakrawala dan semilir angin dingin semakin membuat Pont enggan segera meninggalkan tempat itu. Noor, istrinya masih berdiri di samping Pont, menemani dan menunggu sampai suaminya itu mengajaknya pulang. Tangan mereka saling menggenggam erat. Sementara itu, anak-anak mereka berlarian menikmati suasana syahdu petang itu.
“Pandanglah langit di sana, Lieverd[6]. Indah sekali bukan? Negeri ini selalu membuatku rindu ketika kembali ke Belanda. Cintaku kepada negeri ini mungkin melebihi kepadamu,” kata Pont sembari memandang wajah Noor yang rambutnya berkibar disapu angin.
“Aku tidak cemburu, Pont,” jawab Noor.
“Kamu kedinginan?” Pont memanggil anak-anaknya setelah sebuah kecupan lembut di punggung telapak tangan Noor.
***
Pont sudah menjejakkan kakinya di lokasi pembangunan proyek Gedung Technische Hoogeschool te Bandoeng, ditemani mentari yang mulai mengintip di ufuk timur. Hawa dingin menembus jaket, menyusup ke pori-pori kulit, dan berakhir menusuk tulang-tulangnya. Ia tidak menghiraukan hal itu. Sudah tidak sabar memulai pekerjaan. Sembari menunggu para pekerja datang, ia mengambil buku dari tas kulit. Sketsa ilustrasi gedung yang akan dibangun, tergores di kertas itu dengan bentuk atap seperti rumah Minangkabau menjulang begitu megah. Matanya tajam mengamati detail-detail bangunan, ketika tangannya membuka lembaran-lembaran satu demi satu. Ia mengingat kritikan-kritikan dari sesama arsitek ketika Pont mempresentasi gambar rancangannya. Menurut temannya itu, penggunaan bentuk atap itu cenderung membuat masalah. Kebocoran yang mengakibatkan rangka atap cepat menjadi rapuh. Tapi, ia tidak menganggap hal itu sebagai permasalahan besar. Hanya sekadar perkara teknis biasa yang dapat dengan mudah dicari cara penyelesaiannya. Ia tetap mempertahankan desain rancangannya agar tetap bisa terwujud. Kecintaan dan kekaguman pada budaya lokal membuatnya ingin mendobrak gaya arsitektur kolonial yang lebih dulu hadir di Hindia-Belanda.
Pont mengalihkan pandangan dari sketsa bangunan kepada lahan pembangunan sekolah. Ia mulai membayangkan bangunan itu akan hadir dengan keramaian mahasiswa dari segala penjuru Hindia-Belanda. Kemudian ia melihat empat beringin yang telah tertanam di tengah-tengah lahan. Pohon itu akan tumbuh begitu rindang, membuat kawasan itu begitu asri, burung-burung beterbangan dengan berselimut hawa dingin Kota Bandoeng.
Beberapa jam kemudian, para pekerja proyek berdatangan. Material-material bangunan satu-persatu juga mulai tertata bertumpuk, batu kali, pasir, bata merah, dan besi-besi struktur. Gulungan-gulungan kertas kalkir berisi gambar bestek dibukanya. Ia berdiri gagah. Jas rapi, kaca mata hitam, dan topi laken menambah kewibawaan. Ia mulai mengarahkan kepala tukang untuk memulai tahapan persiapan pembangunan. Tukang mulai menarik meteran mengukur rencana bangunan, memaku papan bouwplank, dan menarik benang sebagai acuan as fondasi bangunan.
“Dicek sekali lagi! Jangan sampai meleset barang satu senti pun,” tegas Pont mengingatkan kepala tukang.
Detail lokalitas menjadi kekuatan desain rancangan Pont. Ia sangat berhati-hati dalam pengawasan proses pembangunan. Pekerjaan yang tak sesuai ukuran dan pedoman kerja, pasti dimintanya dibongkar. Ia juga tidak segan memecat pekerja yang tidak disiplin dan hasil pekerjaan yang berantakan. Cara kerjanya menjadi bumerang karena mengakibatkan progres berjalan lambat. Meskipun penuh ketegasan, dia juga murah hati membagikan ilmu-ilmu yang dimiliki. Keahliannya dalam teknik pertukangan selalu diajarkan kepada para tukang.
Oktober 1919
Hari telah berganti. Begitu pula bulan berjalan terasa cepat. Pont tidak menyadari waktu pelaksaan pembangunan sekolah telah sampai di penghujung tahun. Sedangkan progres konstruksi masih jauh dari harapan. Masih ada beberapa bangunan yang belum tersentuh. Barakgebouw A[7], Barakgebouw B[8], dan bangunan penghubung di sekitar gerbang utama belum terlihat bentuknya.
Profesor Klopper, salah satu petinggi Technische Hoogeschool te Bandoeng, risau jika pembangunan gedung tidak selesai tepat pada jadwal yang telah ditentukan. Ia memutuskan secara sepihak tanpa meminta pertimbangan dari Pont sebagai pimpinan proyek. Ia meminta insinyur zeni untuk membangun Hulpgebouwen[9] di sebelah timur Barakgebouw B. Pont tidak terima dengan tindakan yang dilakukan Profesor Kloper.
“Prof Klopper. Apa yang engkau lakukan itu merupakan sebuah pemerkosaan karya arsitektur. Engkau sudah melangkahiku sebagai pimpinan proyek.”
“Bukan begitu, Tuan Pont. Bangunan ini harus sudah siap tahun depan. Aku tak ingin jadwal pembukaan sekolah ini akan gagal di hari yang telah ditentukan. Hulpgebouwen itu segera akan dibongkar jika semua bangunan utama sudah selesai.”
“Verdomme.”[10]
Keputusan Prof. Klopper tetap saja berjalan tanpa mengindahkan pendapat Pont. Ia merasa tugasnya sebagai arsitek dan pimpinan proyek sudah tidak dihargai. Sejak saat itu semangatnya mulai mengendur dalam membidani gedung yang ia rancang.
Tepat setahun pembangunan Gedung Technische Hoogeschool te Bandoeng, berlangsung acara pembukaan di gedung utama Barakgebouw B. Bangunan itu belum sepenuhnya selesai. Baru terpasang rangka-rangka konstruksi kuda-kuda atap. Rangkaian daun beringin hijau tergantung menghiasi lengkung parabola rangka struktur kayu. Panggung sudah tertata rapi dengan tanaman-tanaman hias sebagai dekorasi. Tulisan nama acara warna-warni sudah terpasang pada kain latar hitam.
Para pimpinan Technische Hoogeschool te Bandoeng dan pimpinan tokoh Hindia-Belanda hadir dalam acara itu.Anggota Raad van Indië[11], para direktur departemen, Direktur Javasche Bank[12], anggota Volksraad[13], Resident der Preanger Regentschappen[14], Dewan Kota Bandung, dan berbagai pejabat pemerintah. Tokoh-tokoh keraton dari Yogyakarta dan Solo juga turut diundang. Kemeriahan dan pesta pora merayakan mulai diresmikan penggunaan Gedung Technische Hoogeschool te Bandoeng untuk proses belajar-mengajar. Konser musik dengan artis-artis yang didatangkan langsung dari Negeri Belanda, semakin menambah semaraknya acara itu.
Namun Pont, sang Arsitek, tidak menampakkan batang hidungnya. Ia tidak setuju dengan pergelaran acara itu. Baginya, sebuah karya arsitektur ibarat janin bayi yang dikandung. Pipinya basah mengingat malam-malam jauh sebelum dimulainya pembangunan. Di antara malam-malam dingin dan perlawanan tubuhnya terhadap penyakit yang malaria yang menyerangnya, ia harus menyelesaikan rancangan Gedung Technische Hoogeschool te Bandoeng. Seperti halnya saat ini, ia tergeletak di ranjang jauh dari hingar bingar peresmian bangunan itu. “Och, wat jammer voor je, M’n kind” ucapnya dalam hati.
____________________
Kesit H. Setyadji. Tinggal di Palur, Sukoharjo. Bekerja sebagai tukang gambar di Omah Pandan Studio. Aktif menulis di Yeka (Ruang Kecil untuk Berkarya).
[1] Sekarang namanya menjadi Jl. Dago dan terakhir menjadi Jl. Ir. H. Juanda.
[2] Kelak akan berubah menjadi Intitut Teknik Bandung (ITB).
[3] Walikota.
[4] Koninklijk Instituut voor Hooger Technisch Onderwijs in Nederlandsch-Indië – KIHTONI (Institut kerajaan bagi pendidikan teknik tinggi di Hindia Belanda) selaku pemilik Technische Hoogeschool te Bandoeng.
[5] Kotak timah
[6] Panggilan sayang.
[7] Aula barat.
[8] Aula timur.
[9] Bangunan sementara.
[10] Ungkapan marah.
[11] Dewan Hindia.
[12] Bank era pemerintahan Hindia-Belanda, cikal bakal Bank Indonesia.
[13] Dewan Rakyat Hindia-Belanda.
[14] Gubernur Parahyangan
