Cerpen

Cicak yang Mengapung di Dalam Gelas

Cerpen Eli Rusli

Mata Udin tersentak. Bibir keringnya yang baru bangun dari tidur tidak jadi diolesi air putih menurut kebiasaannya. Sebelum menempelkan permukaan gelas ke bibirnya, matanya terlebih dulu menelanjangi badan gelas. Tampak seekor cecak sebesar jari kelingking anak taman kanak-kanak mengapung di atas air gelas. Dugaan Udin, cicak itu terjun dari langit-langit kamar ketika dirinya terlelap dalam mimpinya.

Tidak seperti biasa, malam tadi Udin tidak menutup permukaan gelas sebelum tidur. Mahasiswa tingkat tiga itu terlalu sibuk mengerjakan tugas yang seperti tidak kelar-kelar sehingga lupa menutup gelas. Tutup gelas warna biru satu-satunya miliknya tergeletak dengan tutup menghadap ke atas beberapa senti di samping gelasnya. Udin benar-benar lelah tadi malam, tubuhnya langsung merapat dengan tempat tidur setelah membolak balikkan tugasnya.

Dada Udin berguncang hebat. Tiba-tiba dia berasa telah melakukan perbuatan dosa besar atas kematian cicak di dalam gelasnya. Bagaimana pun, dia adalah pemilik gelas. Apa yang terjadi di dalam gelas adalah tanggung jawabnya. Cicak, makhluk kecil tidak berdaya itu tewas di tangannya. Dia yang menuangkan air ke dalam gelas dan menyimpannya di atas meja. Seandainya gelas itu tidak disimpan di sana, peluang reptil kecil itu hidup sangat besar. Terlintas kisah Nabi Sulaiman yang meminta pasukannya berhenti supaya tidak menginjak semut. Nabi Sulaiman sangat memperhatikan makhluk kecil meski bukan bangsanya sendiri.

Isi kepala Udin mundur ke belakang saat unjuk rasa bareng teman-temannya tempo hari. Dia dan ribuan mahasiswa yang tidak bersenjata diserang habis-habisan polisi anti huru hara. Mahasiswa itu kecil, tidak membawa senjata. Apa yang Udin teriakan di depan gedung dewan perwakilan rakyat adalah bentuk kegelisahan atas kondisi bangsa sekarang yang sekarat dihajar korupsi. Udin dan kawan-kawannya sudah muak memandang wajah-wajah politikus, birokrat, pengusaha yang tersenyum seperti badut ketika mengenakan rompi oranye di depan kamera.

Dua hari lalu, Udin baru mengantar jenazah kawannya sesama mahasiswa yang tewas saat unjuk rasa. Namanya Sarkam. Sarkam bukan anak orang yang mempunyai rumah di setiap jengkal negara ini. Ibu bapaknya orang pinggiran yang bermimpi suatu saat anaknya menjadi orang besar. Dia tewas di tangan gerombolan yang merasa mempunyai kekuasaan besar yang seharusnya melindunginya.

“Ibu jualan kecil-kecilan di depan rumah. Bapak karyawan kelas sandal jepit di perusahaan swasta. Tetapi semangat mereka menyekolahkanku sama tingginya dengan semangat para pendaki yang berhasrat menaklukkan puncak Everest.” Itu kata-kata Sarkam ketika pertama kali mengenalnya. Semangat orang-orang kecil yang mempunyai mimpi yang sangat besar.

Udin kembali menatap gelasnya. “Aku telah membunuhnya. Aku telah membunuhnya.”

Kata-kata itu nyaris tidak terdengar keluar dari sepasang bibirnya. Wajah Udin menengadah ke langit kamarnya. Dia mengadu kepada Tuhan.

“Ampuni aku, Tuhan! Telah membunuh makhluk ciptaan-Mu yang kecil. Aku sudah melakukan dosa besar. Seharusnya binatang kecil itu bertemu ibu bapaknya andai tidak tercebur ke dalam gelasku. Aku makhluk besar yang telah membunuh makhluk kecil yang tidak berdosa. Maafkan aku, Tuhan!”

Kematian cicak kecil di dalam gelasnya berubah menjadi gunung yang membebani punggungnya. Udin merasa wajib bertanggung jawab.

Matahari baru sepenggalan. Sule yang hendak pergi ke kampus curiga melihat tambang biru terlilit di kusen pintu kamar kostnya Udin. Sejak kumandang azan subuh, dia merasa janggal. Tidak ada tanda-tanda kehidupan dari kamar Udin padahal lampunya terang benderang. Setiap pagi terdengar nada-nada dakwah dari radio yang keluar dari celah-celah kamar sebelahnya itu. Sule gegas memanggil teman-teman indekosnya. Yang belum membuka mata dia kagetkan dengan lengkingan nyaring supaya bangun.

Satu… Dua… Tiga… Sule dan kawan-kawan mendobrak pintu kamar kostnya Udin. Semua terbelalak melihat sosok tubuh tergantung di balik pintu. Tubuh Udin buru-buru diturunkan dengan menggunting tali yang mengikat lehernya. Namun nyawanya kadung meninggalkan raganya.***

____________________

Eli Rusli. Penulis alumnus UPI Bandung. Menulis cerpen dalam Bahasa Indonesia dan Bahasa Sunda. Cerpennya dimuat di beberapa surat kabar dan media daring.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *