Cerpen Kesit H. Setyadji

Jika ada kesempatan mengulangi hidup, maka aku akan melakukan satu hal yang barangkali juga dipikirkan para lelaki yang sudah menikah, yaitu mengganti istriku. Ya, telingamu tidak salah dengar. Memang terdengar banal. Namun, jika mengikuti kisahku, kau akan mengerti, lalu memahami, dan akhirnya setuju dengan pilihanku.
Aku sebenarnya ragu untuk menceritakan kepadamu. Ada yang bilang, tidak baik mengumbar borok rumah tangga. Segala permasalahan rumah tangga harus tersimpan rapat dari balik pintu rumah. Pun dinding-dinding rumah tidak boleh mendengar. Bahkan katanya angin juga bisa menyebarkannya. Bisa saja kau menduga ada permasalahan besar di rumah tanggaku. Tidak, justru rumah tanggaku sangat harmonis dan romantis. Kalau riak-riak kecil tentu ada, sewajarnya kehidupan rumah tangga.
Perselisihan kecil akan menjadikan hubungan suami istri terasa semakin intim dan mesra. Itu salah satu isi ceramah Ustaz Mukino di pengajian ibu-ibu, di masjid ujung jalan desaku, setiap Minggu pagi. Ia sering kali menggunakan tema-tema domestik keluarga dalam khotbahnya. Aku memang jarang ke masjid, tetapi suaranya dari pengeras yang dipasang di atap bangunan itu sampai di rumahku, bersanding dengan dangdut koplo yang terasa lebih enak di telingaku. Oh ya, ada sedikit cerita tentang Ustaz Mukino yang menurutku lucu. Barangkali kau butuh sedikit hiburan di sela-sela penatmu menghadapi hidup yang semakin ruwet setelah presiden kita dipegang Pak Anu, yang pidatonya tidak jauh dari antek-antek asing, nye-nye, ndasmu, dan emang gue pikirin. Sebagai warga negara yang baik, seyogyanya kita selalu sabar saja. Terpenting, hari ini kita tetap bisa makan dan kerja lembur di ranjang jalan terus.
Bangsat! Sampai mana tadi? Gara-gara Presiden Anu, ceritaku malah melantur.
Jadi begini. Di suatu pagi yang cerah, waktu itu aku sedang menyapu halaman, ketika Ustaz Mukino datang ke rumahku. Ia mengutarakan maksud dan tujuannya yang berputar-putar hingga setengah jam lebih, berakibat aku dimarahi istriku. Sampai di ujung celotehnya, ia ingin meminjam duit. Asu! umpatku dalam hati. Katanya, jadwal ceramahnya sedang sepi, karena ada ustaz muda dan ganteng yang lebih disukai ibu-ibu pengajian. Wajahnya memang terlihat memelas waktu itu. Katanya juga, semalaman istrinya mengunci di luar rumah, karena belum memberi jatah uang bulanan. Hatiku terketuk mendengar ceritanya. Aku memberikan beberapa lembar merah tanpa sepengetahuan istriku. Setelah menerima uang itu, ia berjanji, paling lambat dua minggu akan mengembalikan utangnya. Senyum kecilku mengiringi punggung Mukino yang mulai menjauh dari rumahku. Seorang ustaz yang sering berdiri gagah di mimbar, tetap bertekuk lutut di hadapan istrinya. Ada-ada saja.
Bagaimana ceritaku tadi, lucu bukan? Tapi, dari raut wajahmu, rasa-rasanya kau tidak begitu suka dengan ceritaku. Maaf, jika aku terkesan seperti melecehkan Ustaz Mukino, tapi itu kenyataan yang kualami. Oke, aku akan fokus kembali ke perihal mengganti istriku.
Pernikahanku sudah berjalan sepuluh tahun. Setiap pagi, istriku selalu membuatkan secangkir kopi. Itu pesan ibunya, seorang istri harus menyajikan minuman kepada suaminya, sebelum melakukan pekerjaan rumah tangga. Dengan begitu, suami akan selalu betah di rumah dan tidak akan menyeleweng dengan perempuan lain. Padahal kau tahu, isi otak laki-laki tidak akan jauh dari leher, dada, bokong, paha, dan selangkangan perempuan. Bisa jadi laki-laki tidak akan selingkuh, tapi aku sangat yakin jika ada kesempatan pasti ia akan melakukannya. Kau pernah selingkuh? Belum pernah? Ah, kau jangan mengingkari batinmu. Aku tahu kau menyembunyikan pesan-pesan nakal yang kau hapus setiap kali selesai percakapan itu. Jujur saja! Aku akan menyimpan erat. Jangan khawatir. Memang sih, mulutku terkadang sedikit ember, seperti menceritakan kisah Ustaz Mukino tadi.
Aku juga pernah melakukan hal itu. Untungnya kesadaranku masih boleh dibilang cukup bagus, sehingga aku tidak berlanjut ke hal-hal yang diinginkan. Maksudku, hal-hal bodoh yang akan merusak rumah tanggaku. Kenapa aku bilang begitu, karena aku pernah mendapati bapakku, orang-orang mengenalnya sebagai sosok yang penuh kharisma, sabar, pokoknya bapak dan suami yang baik, sedang berduaan dengan teman kerjanya di sebuah warung makan. Bapakku duduk berdempetan dengan perempuan itu. Matanya sungguh genit memandang selingkuhannya. Ia mengira aku masih kecil dan polos melihat gelagat orang dewasa yang sedang dimabuk asmara. Padahal sejak kecil aku sudah mengenal cinta dan hal-hal yang dianggap tabu. Aku jadi ingat, suatu malam, di desaku yang sepi, bersama teman-teman mengintip dari lubang dinding bambu. Tetanggaku, laki-laki paruh baya sedang menindih istri temannya, ketika suami perempuan itu sedang bertugas jaga malam di balai desa. Dan itu menjadi hal biasa di desaku. Jantungku berdegup kencang, melihat adegan dewasa itu. Ketika mereka sedang terengah-engah bergulat dalam gelora berahi, salah satu temanku kentut. Suaranya yang cukup keras membuat laki-laki di balik bilik itu kalang kabut. Segera mengenakan celananya. Tergopoh-gopoh bertelanjang dada, keluar dari pintu belakang rumah itu.
Sekali lagi maaf, aku melantur lagi. Sesungguhnya aku sangat sebal dengan jalan pikiran otakku. Selalu saja tidak fokus. Apakah karena aku pendiam, sehingga ketika berbicara ingin menyampaikan banyak hal. Aku mohon, kau jangan bosan dan tekun mendengarkan ceritaku. Jika ingin menyeruput minumanmu yang sudah mulai dingin atau menyalakan rokok, aku persilakan. Namun, tolong tetap letakkan pantatmu di kursimu. Bolehlah kiranya jika kau ingin melirik sebentar kepada wajah ayu penjual warung ini. Tetapi, perempuan itu masih kalah dibandingkan istriku. Aku tidak akan tergoda dengannya, meskipun dibayar jutaan rupiah. Kau pasti bingung, lalu apa alasan yang menyebabkan aku ingin mengganti istriku. Meskipun kau tidak mengatakan, tapi instingku kuat dalam membaca mimik dan gerak-gerik tubuhmu.
Perkara masakan, tidak perlu ditanyakan lagi. Istriku adalah juaranya. Dan, kau juga mengamini hal itu. Ia menjadi koki dalam setiap acara hajatan di desaku. Jika istriku berhalangan tidak bisa rewang, maka sajian di hajatan itu akan terasa kurang mantap dan sedikit hambar. Makanya, aku jarang makan di warung. Terlebih, istriku pasti akan memberikan penilaian-penilaian tentang masakan itu. Kurang bumbu ini, kurang lama masaknya, kurang anu, kurang itu, dan kurang memakai hati dalam memasak. Meski agak menjengkel di telinga, tapi aku tidak menyangkal perkataannya, karena memang begitulah rasanya. Kemampuan memasaknya diturunkan dari neneknya yang juga koki kondang di desaku. Aku sungguh beruntung mendapatkan istriku. Sampai detik ini, aku belum pernah mengecap makanan seperti masakan istriku. Kalau mendekati sih, memang ada, tapi sayang agak jorok masakannya. Aku pernah mendapati tai kambing dalam tumis kangkung. Coba bayangkan. Ketika mengangkat sendok dan hampir masuk ke mulutmu, sebutir srintil hitam berada di atas nasi putih. Aku tidak peduli. Melahap makanan itu sampai tak bersisa. Sayang uangnya. Jangankan perkara tai kambing, makan di samping orang sedang muntah pun, sudah pernah aku lakukan.
Urusan merawat anak, nah itu yang membuatku bingung. Sejauh pengamatanku, istriku tidak pernah marah kepada anak-anakku, tapi entah jika aku sedang bekerja. Aku akui ia sangat cerdas. Hasil pembelajarannya selalu membuat anak-anakku mendapatkan nilai tertinggi di kelasnya. Segala mata pelajaran, ia kuasai dengan baik. Dan cara ia mendampingi anak-anakku di meja belajar, sungguh sangat mengagumkan. Mungkin saja, jika orangtuanya kaya, ia dapat menempuh sampai tingkat S3, menjadi dosen bahkan profesor. Namun, untungnya tidak demikian, sehingga aku yang hanya seorang buruh pabrik berani menikahinya. Kau jangan mengira aku pergi ke dukun untuk mengguna-guna istriku agar mau denganku. Hal itu semata-mata karena aku telah membaca banyak bacaan tentang cara mendekati perempuan di majalah-majalah perempuan. Jurus itu telah aku praktikan ke beberapa perempuan, dan tidak pernah ada yang menolakku. Ya, aku memang bajingan. Sungguh kasihan istriku, mau hidup dengan laki-laki sepertiku.
Nah, ini bagian yang kau suka. Aku tahu isi kepalamu. Kau pasti ingin mendengar ceritaku, kalau kami sedang berdua di ranjang. Ah, dasar otak cabul. Tapi tak mengapa. Sudah sepuluh tahun ini, tanpa kuminta, istriku selalu mempersiapkan dirinya sebelum menghabiskan malam syahdu berdua. Ia selalu berdandan cantik, menyemprotkan parfum ke seluruh lekuk tubuhnya, dan memakai baju yang membangkitkan geloraku. Entah dari mana ia membeli baju itu. Aku tidak pernah memberikannya. Boro-boro membeli, untuk merokok saja, aku memilih melinting tembakau. Dua hari sekali istriku merawat tubuhnya dengan lulur dan meratus bagian kewanitaannya. Kau boleh membayangkan bagaimana harum baunya. Dan kupikir memang seharusnya begitu. Setiap wanita harus merawat tubuhnya, bukan untuk suaminya saja, terlebih sebagai cara mencintai dirinya. Cukup sampai di sini, ceritaku melewati malam penuh gairah di ranjang yang sering berderit ketika kami bermandi keringat. Hal-hal lain tentu tidak akan kuceritakan. Tidak baik. Cukup aku, istriku, ranjang, dan bilik kamarku saja yang mengetahui. Nanti istriku malah kau buat sebagai fantasimu.
Aduh, aku hampir lupa, malam ini jadwal bercinta dengan istriku. Maaf, aku harus segera pulang. Kasihan, ia pasti telah menunggu. Tolong bayari dulu kopiku, besok kuganti. Oh ya, perihal rencana yang kuceritakan di awal, sebetulnya ketika tadi aku bercerita panjang lebar tentang istriku, banyak kelindan di kepalaku yang akhirnya membuatku mengubah pemikiran untuk tidak pernah mengganti istriku, jika ada kesempatan mengulangi hidup lagi. Selamat malam.***
____________________
Kesit H. Setyadji. Tinggal di Sukoharjo. Aktif menulis di Yeka, ruang kecil untuk berkarya.
