Cerpen

Perempuan-Perempuan Terpilih

Cerpen Septi Rusdiyana

Kepalaku sangat ringan. Tubuhku juga menghangat. Sofa ini memang empuk, tapi aku merasa seperti dalam buaian seseorang. Suara wanita itu membuatku lena. Aku melihat bayangan-bayangan berputar seperti film. Seolah mimpi, padahal aku yakin aku tidak sedang tidur. Secara ajaib bayangan itu mulai pudar, kemudian perlahan menghilang.

***

Minggu, 17 Januari 1993

Pagi ini aku ikut ibu berbelanja. Warung yang hanya terbuat dari papan tipis beratap terpal itu dibangun di atas sungai kecil. Perutku tiba-tiba mulas. Semakin mulas ketika ibu mengizinkan aku turun bermain air. Saat ibuku sedang sibuk memilih-milih cabai rawit, aku bilang padanya kalau aku buang air besar. Ia menghampiriku, mencubit lengan, kemudian melepas celanaku. Sambil membersihkan kotoran dengan air sungai, ia berteriak mengatakan kalau aku bodoh.

Ketika sampai di rumah, ibu menyerahkanku kepada ayah untuk dimandikan. Selesai mandi, aku bermain kepompong bersama adik. Kami bangkit dan berlomba lari saat mendengar ibu minta diambilkan handuk. Aku berhasil menyerahkannya lebih dulu. Adikku menangis. Ibu menggendongnya lalu berteriak mengatakan kalau aku anak nakal dan akan dikirim tinggal bersama nenek.

Aku berlari keluar dan tanpa seorang pun tahu, masuk kembali lewat pintu belakang. Mengendap ke kamar ayah dan ibu, bersembunyi di bawah dipan. Saat menjelang magrib, ayah dan ibu mencariku keliling kampung. Mereka meneriakkan namaku tapi aku tetap diam dan bertahan. Sampai akhirnya aku dibuat terkejut melihat kepala ayah yang tiba-tiba melongok ke arahku. Ia menarikku keluar. Saat berjalan melewati meja makan, ibu terlihat memangku adik sambil menyuapinya. Ia berteriak lagi dan mengatakan kalau aku anak iblis, bukan anaknya. Sejak saat itu, aku sangat membenci ibu.

Sabtu, 19 Maret 2011

Seharian aku di rumah Lia, sahabatku, untuk membuat kue ulang tahun pacarku. Kami tidak pandai memasak, jadi Lia mengatakan pada ibunya kalau ia ingin dibuatkan kue ulang tahun untuk pacarnya. Sambil menunggu, kami menghabiskan waktu di kamar untuk bermain game atau sekadar bercerita.

Malam hari, aku diantar Lia ke kos pacarku. Sesampainya di sana, terlihat sepeda motor milik pacarku terparkir di halaman. Langsung saja aku menaiki tangga menuju lantai dua. Setelah pintu kubuka, tanpa sengaja aku menjatuhkan kue saat melihat pacarku mencium seorang perempuan. Mereka terkejut, lalu menarik selimut untuk menutupi tubuh polos keduanya. Padahal, akulah yang sebenarnya dibuat terkejut usai tahu siapa perempuan di samping pacarku. Sejak saat itu, aku sangat membenci adikku.

Rabu, 21 November 2018

Aku menemani bosku menjalankan tugas dinas di Bandung. Sudah hari ketiga. Rencananya kami baru akan pulang satu minggu lagi. Ketika sudah di luar jam kerja, aku biasanya meminta izin untuk keluar. Sekadar jalan-jalan sendiri, atau menghabiskan waktu bersama teman yang kebetulan tinggal di Bandung. Tapi malam ini aku lelah dan memilih untuk beristirahat saja setelah mandi. Sebelum aku terlelap, sempat kulihat jarum jam masih menunjukkan pukul sembilan.

Aku merasa seperti ada yang menyentuh tanganku. Tubuhku juga berat seperti ada sesuatu yang menimpa. Aku terbangun saat merasakan geli di leherku.

“Tetap diam atau aku akan hilang kendali dan menyakitimu,” ancam orang itu. Suara khas dan aroma parfum Miss Dior Absolutely Blooming Woman dari tubuhnya sangat familier. Seketika bulu kudukku merinding. Sambil mengunci tubuhku, ia berusaha melepas satu per satu pakaianku. Waktu terasa berhenti saat aku melihatnya tersenyum menatapku sambil melepas bra, juga celana dalam miliknya. Lalu aku menjadi lebih ketakutan lagi saat ia mulai mencium bibir dan semua bagian tubuhku dengan kasar serta membabi buta. Sejak saat itu, aku sangat membenci bosku.

***

“Minumlah.” Wanita itu menyodorkan segelas air putih saat aku tiba-tiba terbatuk. Aku meraihnya lalu seketika gelas itu pun kosong. “Istirahatlah dulu. Kita bisa melanjutkan lagi kapan pun kamu siap,” lanjut wanita itu.

Aku menggeleng dan kembali merebahkan tubuh ke sofa. “Aku tidak apa-apa. Tenggorokanku hanya kering.”

“Baik. Sekarang apa yang ingin kamu ceritakan?”

Aku berusaha mengatur napas sebelum akhirnya melanjutkan cerita. “Setelah aku memergoki mantan pacar dan adikku, Lia-lah yang semalaman membiarkan aku menangis di pelukannya. Bahkan esok paginya, ia berniat membuat perhitungan dengan mantan pacarku. Seandainya aku terlambat, mungkin mantan pacarku sudah habis di tangan belati kecil yang selalu disimpan Lia di dompetnya.”

Wanita itu mendengarkan ceritaku sambil sesekali menulis di buku yang dipegangnya.

“Apalagi…,” dadaku sesak. Rasanya seperti tercabik-cabik. “Sejak pelecehan oleh mantan bosku malam itu, aku merasa tidak berharga lagi. Peristiwa itu menjijikkan. Setiap kali mengingatnya, rasanya aku ingin mati saja.”

Wanita itu terlihat menulis lagi.

“Aku pernah hampir melukai diriku sendiri. Tapi Lia datang menyelamatkanku. Ia tidak peduli dengan apa pun yang sudah terjadi dan berjanji akan selalu ada bersamaku. Bahkan karenanya, kini aku sudah bisa menghilangkan trauma itu,” lanjutku.

Wanita itu mengangguk lalu bertanya, “Apa yang sudah dilakukan Lia untuk menghilangkan traumamu?”

Aku sedikit menjeda bicara. “Awalnya aku marah karena kupikir ia akan melakukan hal yang sama dengan apa yang mantan bosku lakukan. Tapi ia memperlakukanku dengan sangat lembut. Aku menikmatinya. Bahkan aku menjadi sangat tergila-gila dan tergantung padanya.” Kulihat wanita itu mengangguk dan memperbaiki letak kacamatanya.

“Lia tahu bagaimana cara memperlakukanku dengan baik. Ia juga tahu kalau aku sangat menyayanginya. Tapi sekarang ia menghilang. Aku tidak tahu ia di mana dan itu membuatku ketakutan,” lanjutku lagi.

Ingatanku kembali di waktu itu. Saat aku dan Lia ke Semarang. Di tengah perjalanan, kami memutuskan beristirahat di pom bensin. Lia antre ke kamar kecil, sedangkan aku masuk ke minimarket untuk membeli beberapa camilan dan minuman dingin. Setelahnya aku duduk di dekat motor dan menikmati sepotong roti.

Cukup lama aku menunggu. Tanpa sadar, mungkin sudah terlalu lama aku menunggu. Aku kesal. Kuputuskan menyusul Lia di toilet. Aku memanggil-manggil namanya. Berharap ada sahutan dari salah satu pintu yang tertutup. Karena tidak ada balasan, aku menunggu di dekat wastafel. Sembari merapikan riasan, satu per satu perempuan keluar. Aku melihat dari pantulan cermin di depanku. Tapi aneh, hingga pintu terakhir terbuka di lorong itu, tidak satu pun wajah kukenali. Lia ke mana? Mungkinkah ia sudah meninggalkan toilet dan pergi ke tempat lain?

Aku mulai panik. Aku bertanya ke petugas kebersihan, sembari memperlihatkan foto Lia.

“Oh, perempuan rambut pendek yang tadi memakai jaket biru? Dia sudah lama keluar dari toilet. Kalau tidak salah saya melihatnya menyeberang jalan,” jelas petugas kebersihan itu.

Gegas aku meraih ponsel dan menghubungi Lia. Beberapa kali panggilan tak terjawab. Aku mengirim banyak pesan WhatsApp. Langsung centang biru. Tapi tanpa balasan. Aku mengumpat karena Lia mengabaikanku. Aku kembali menelepon dan sekarang sudah tidak tersambung. Pesan kembali kukirim, tapi kini menyisakan centang satu.

Aku ingat beberapa hari lalu Lia bilang kalau sesekali akan mengajariku cara agar aku tak mudah tersesat. Aku yakin ia hanya ingin mengerjaiku. Maka kuputuskan pulang ke rumah bermodalkan maps.

Tapi Lia tidak ada di rumah. Lia tidak ada di mana pun. Semua orang sudah mencari ke mana-mana. Daftar orang hilang juga sudah disebar. Nihil. Lia seperti ditelan bumi. Atau meledak hingga menjadi butiran debu dan melayang terbang ke udara. Hingga sekarang, Lia tak pernah lagi kembali.

“Apa yang kamu takutkan?” tanya wanita itu, membuyarkan lamunanku. Entah, pertanyaannya seperti membuka luka lama.

“Aku khawatir tidak akan bisa melanjutkan hidupku lagi.” Aku terisak. Wanita itu tak lagi menanggapi. Ia seolah membiarkanku menumpahkan isi hati.

“Tapi, Dok.” Setelah cukup lama aku meratap dan bisa kembali menguasai diri, membayangkan kembali kesan saat pertama kali wanita di depanku ini menyambutku hangat. Bahkan melihat caranya berbicara dan menatapku dengan begitu lembut, “Mungkin kemarin-kemarin aku merasakan sakit yang luar biasa. Sampai aku lupa bagaimana rasanya tidur dengan lelap. Tapi setelah ini, aku rasa aku akan bisa sembuh. Bukankah begitu, Dok?” tanyaku kemudian.

Wanita itu tersenyum memandangku, seperti hendak mengatakan sesuatu tapi diurungkan.

“Tolong sembuhkan saya, Dok,” sambarku kemudian.***

____________________

Septi Rusdiyana. Penulis tinggal di Yogyakarta Penyuka cerpen

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *