Cerpen

Yang Berganti Nama di Buku Sejarah

Cerpen Erna Surya

Terakhir kali kulihat wajah itu bukan ketika kami masih bersembunyi di kolong jembatan dekat Kali Code, menunggu iring-iringan truk tentara berlalu. Bukan juga saat kami menggenggam erat tangan masing-masing di tengah gelap, berharap fajar tak datang membawa peluru. Wajah terakhir itu kulihat di ruang interogasi, bertahun-tahun kemudian, di antara bau darah yang belum kering dan suara logam memukul tembok. Ia tersenyum, entah kepada siapa. Dan aku tahu, di detik itu, seseorang sedang mencatat dosa terakhirku di buku yang tak bisa kubaca.

“Tuhan tidak akan menaruh belas kasihan pada bajingan sepertimu,” katanya pelan.
Kalimat itu menghantamku lebih keras dari popor senapan.

Ya, memang.

Bukankah terlalu banyak wajah yang sudah kulenyapkan atas nama sesuatu yang kusebut ideologi? Bukankah terlalu banyak tubuh yang kubenamkan di lubang-lubang tak bernama yang bahkan tikus pun enggan singgah di sana? Aku tak pernah menghitung berapa nyawa yang kutarik keluar dari jasadnya. Kalau ada yang mau membangun monumen dari tulang belulang itu, mungkin satu bukit di pinggir Bantul akan penuh sesak dengan kepala manusia.

Kau tahu, dulu kami tak menyebutnya pembunuhan. Kami menamai itu “pembersihan.” Kata yang manis, rapi, dan terdengar seperti tugas mulia. Tapi malam-malam di kepalaku masih meneteskan darah hingga hari ini.

***

Aku dijuluki Gatot, bukan karena aku gagah, tapi karena aku yang paling cepat menusukkan bayonet tanpa perlu perintah dua kali. Tahun-tahun itu, udara Jogja penuh dengan bisik-bisik tentang pengkhianat, dan aku seorang pemuda yang baru lepas dari barisan rakyat dan dipilih jadi tangan kirinya negara.

Setiap malam, aku dan dua orang lainnya, Gendon dan Wiryo, menjemput orang-orang yang dituduh simpatisan. Kami membawa mereka dengan truk ke tepi sungai atau sawah yang sudah kering, lalu suara tembakan menjadi tanda berakhirnya urusan. Kadang tak perlu tembakan; cukup sebuah cangkul yang menghantam tengkuk.

Kami tidak diberi nama, hanya nomor. Nomorku 23. Aku tak tahu siapa 1 sampai 22, tapi aku tahu nomor 24 adalah Sulastri, perempuan yang kemudian mengubah segalanya.

Dia bukan tawanan. Dia juru ketik di pos komando, sering membawa termos kopi dan senyum kecil. Di antara bau keringat tentara dan lumpur, senyumnya seperti air yang menetes di batu panas. Aku mencintainya dalam diam yang bodoh. Mungkin itu satu-satunya hal manusiawi yang masih tersisa di dalam diriku saat itu.

***

Suatu malam, setelah menuntaskan “pembersihan” terakhir di daerah Klaten, aku kembali ke barak. Sulastri duduk di meja ketik, menggigit bibirnya, menyalin laporan tentang berapa kepala yang hilang hari itu. Aku membaca sekilas: 23 orang.
Angka yang kebetulan sama dengan nomorku.

“Kau tidak lelah, Las?” tanyaku.

“Kalau lelah, untuk siapa aku bekerja, Gatot?” jawabnya, tanpa menatapku.
Suaranya serak tapi lembut, seperti serat daun pisang yang digesek angin.

Malam itu kami bicara banyak hal, tentang rumahnya di Kulon Progo yang terbakar, tentang adik laki-lakinya yang ditangkap di Surakarta, tentang keyakinan bahwa Tuhan pasti tahu siapa yang benar dan siapa yang berdosa. Aku ingin mengatakan padanya bahwa Tuhan mungkin sudah mati di lubang tempat kami mengubur para lelaki itu, tapi bibirku kelu.

Sejak malam itu, aku berhenti menghitung berapa mayat yang kuurus. Aku mulai menghitung berapa kali Sulastri tersenyum padaku.

***

Lalu, sebuah laporan datang: Sulastri dicurigai membocorkan nama-nama ke pihak seberang.

Aku menertawakan kabar itu. Tapi tawa itu berhenti ketika Letnan memanggilku dan memerintahkan aku sendiri yang menginterogasinya.

“Kau yang paling dekat dengannya. Kau tahu bagaimana memancingnya bicara,” katanya.

Aku menolak. Tapi perintah adalah perintah. Malam itu aku duduk di seberang Sulastri, di ruang sempit berlampu pijar. Meja di antara kami basah oleh keringat dan kopi tumpah. Ia menatapku seperti menatap seseorang yang sudah ia siapkan di dalam doa: bukan untuk keselamatan, tapi untuk pengampunan.

“Kau harus bicara, Las. Mereka akan datang jika aku tak mendapatkan pengakuan.”

“Apa yang harus kuakui, Gatot?”

“Apa pun yang mereka mau dengar.”

“Kalau begitu aku akan mengaku semuanya, termasuk dosamu sendiri.”

Dan di situlah, aku untuk pertama kalinya merasakan takut. Bukan takut pada peluru, tapi pada kebenaran yang bisa menghancurkan diriku sendiri.

“Aku tidak pernah membocorkan rahasia. Tapi aku mencintaimu,” katanya kemudian. “Dan itu sudah cukup untuk membuatku mati di sini, bukan?”

Suaranya pecah. Aku menunduk. Tanganku gemetar di atas meja.
Di luar, suara jangkrik bersahutan seperti nyanyian pengantar ke liang kubur.

Keesokan harinya, Sulastri “dihilangkan.” Aku tidak hadir dalam eksekusi itu, tapi aku tahu siapa yang memegang pistol. Dan entah kenapa, sejak saat itu, aku berhenti bermimpi.

***

Lima belas tahun kemudian, ketika orde yang dulu kami bela runtuh oleh orde yang baru, aku masih hidup. Rambutku memutih, tanganku gemetar, tapi bayangan Sulastri tetap jernih di kepalaku.

Aku tinggal di rumah tua di pinggir Kali Gajah Wong. Setiap kali hujan datang, air sungai naik dan menyeret sisa-sisa lumpur yang seperti masih menyimpan suara jeritan malam. Orang-orang bilang aku gila karena sering berbicara sendiri di tepi air. Mereka tak tahu, aku sedang berbicara dengan masa laluku.

Suatu sore, seorang lelaki muda datang mengetuk pintuku.
Namanya Rama, wartawan dari Jakarta. Katanya, ia menulis buku tentang mereka yang hilang di masa lalu. Di tangannya ada map cokelat, dan di dalamnya ada foto Sulastri muda, tersenyum.

“Kami menemukan kuburan massal di Bantul,” katanya pelan.

“Ada sepotong tulang dengan gelang perak bertuliskan Las.”

Aku hampir roboh. Gelang itu pernah kuberikan padanya, malam sebelum ia lenyap.

“Apakah Anda mengenalnya, Pak Gatot?”

Aku tidak menjawab.  Aku menatap foto itu lama, seolah wajah di sana bisa berbicara.

Rama lalu menyalakan perekam dan berkata, “Boleh saya dengarkan cerita Anda?”

Dan sejak itu, percakapan ini dimulai. Entah ia sadar atau tidak, aku bicara bukan hanya padanya. Mungkin juga pada Sulastri, pada Tuhan yang dulu diam, pada setiap arwah yang masih gentayangan menuntut nama mereka disebut.

***

“Jadi, Bapak membenarkan semua tuduhan itu?” suara Rama bergetar.

“Tidak perlu dibenarkan. Itu sudah terjadi.”

“Berapa orang yang Bapak habisi?”

“Cukup untuk membuat sejarah tak bisa tidur.”

Aku tersenyum getir. Kadang-kadang dosa memang terdengar seperti humor yang gagal.

Rama mencatat dengan cepat. “Mengapa Bapak mau bicara sekarang?”

“Karena aku ingin mati dengan wajah Sulastri menatapku, bukan punggungnya yang menjauh.”

Ia diam. Di luar, hujan mulai turun deras. Butir-butir air menimpa genting seperti langkah kaki ribuan orang yang kembali dari liang.

“Tapi, apakah Anda menyesal?”

Aku tertawa pendek. “Penyesalan itu cuma hiburan bagi mereka yang tidak sempat menebus apa pun.”

“Lalu apa yang Anda harapkan?”

“Pertemuan.”

“Dengan siapa?”

“Dengan dia yang terakhir tersenyum padaku.”

Rama menatapku lama. Mungkin ia pikir aku sudah pikun. Tapi aku tahu, di matanya ada rasa takut yang sama seperti dulu kulihat di mata para tawanan sebelum peluru menembus kepala mereka.

***

Malam itu, setelah Rama pergi, aku duduk di depan jendela. Lampu minyak menyala redup. Di meja, foto Sulastri tergeletak, separuh basah oleh air hujan yang menetes dari atap bocor. Aku menatapnya lama, wajah yang tak berubah meski waktu sudah berkarat.

Kau tahu, kadang Tuhan memilih cara yang aneh untuk menghukum manusia. Ia memberiku umur panjang agar aku sempat menonton ulang semua perbuatanku tanpa bisa menghapus satu pun adegan.

Di luar, kali meluap. Airnya hitam, berbau lumpur dan besi.
Aku berdiri, melangkah ke halaman, membiarkan air menyentuh mata kakiku. Hujan masih turun seperti tirai yang menutup panggung dosa.

Di tepi air, aku mendengar suara perempuan memanggil namaku. Lembut, jauh, tapi jelas.

“Gatot…”

Aku menoleh. Tidak ada siapa-siapa. Hanya pantulan wajahku sendiri di permukaan air dan di belakangnya, samar, seolah ada bayangan perempuan berkebaya, tersenyum.
Senyum yang sama, yang terakhir kulihat di ruang interogasi.

***

“Jadi, apa yang akan kau lakukan jika Tuhan datang malam ini?” suara itu bergema di kepalaku.

“Mungkin aku akan minta Ia menukarkanku dengan satu tulang Sulastri.”

“Kau pikir Tuhan peduli pada transaksi seperti itu?”

“Kalau Ia tak peduli, kenapa Ia biarkan aku tetap hidup sampai sekarang?”

Suara itu tertawa. Tawa yang getir, seperti ranting patah di musim kering.
Aku tak tahu apakah itu suara nuraniku, atau Sulastri, atau bahkan Tuhan sendiri yang sedang menyamar dalam pikiranku.

Malam semakin pekat. Aku melangkah ke tengah halaman, air kini setinggi lutut. Di kejauhan, petir menyambar, menyingkap sejenak siluet pepohonan seperti bayangan orang-orang yang pernah kukubur. Mereka berdiri berbaris, menatapku.
Aku memejamkan mata.

“Las,” bisikku, “Kalau kau di sana, maafkan aku.”

Angin menjawab dengan desir lembut, seolah jari-jari halus menyentuh wajahku. Lalu sunyi. Aku kembali ke rumah, menyalakan rokok terakhir, duduk di kursi bambu. Di meja, foto itu masih menatapku.

***

Pagi belum datang ketika pintu rumahku diketuk. Rama berdiri di luar, wajahnya pucat. Di belakangnya, dua polisi berpakaian sipil.

“Mereka ingin bicara dengan Bapak,” katanya lirih.

Aku tahu apa artinya. Mungkin mereka baru menemukan lagi lubang lain, mungkin namaku tercantum di catatan lama yang baru dibuka.

Aku tersenyum. “Akhirnya giliran saya.”

Sebelum mereka sempat berbicara lebih jauh, aku mengambil langkah ke dalam, membuka laci meja, dan mengeluarkan sepucuk pistol tua. Mereka berteriak, tapi aku tidak menodongkan senjata itu ke arah mereka. Aku menatapnya sebentar. Itu besi dingin yang dulu menjadi perpanjangan tanganku untuk mencabut nyawa orang lain.

Tiba-tiba, aku mendengar lagi suara itu. “Tidak perlu buru-buru, Gatot. Kematian akan menemukanmu tanpa bantuanmu sendiri.”

Aku menurunkan pistol. Menyerahkannya ke polisi yang mendekat.
“Ambil saja. Aku sudah terlalu tua untuk menembak siapa pun.”

Mereka menggiringku ke mobil. Rama menatapku dengan mata yang tak bisa kutafsirkan, antara kasihan dan jijik.

Sebelum mobil beranjak, aku berkata pelan, “Kalau nanti kau menulis buku itu, jangan lupakan Sulastri. Katakan padanya, aku masih menunggu di seberang.”

Rama tidak menjawab.

***

Kini aku duduk di ruangan sempit ini, temboknya lembap, atapnya bocor. Aku menulis di selembar kertas yang mungkin tidak akan pernah sampai ke mana pun.
Sulastri, kalau kau masih ada di udara, datanglah malam ini. Bawa kembali senyummu, meski aku tahu itu akan membakar mataku sendiri.

Aku tidak tahu apakah besok aku masih hidup. Aku tidak tahu apakah Tuhan benar-benar mendengarkan pengakuan seorang algojo yang menyesal setengah hati.

Yang kutahu hanya satu: di luar sana, hujan belum berhenti. Dan di antara suara air yang jatuh di genting, aku masih bisa mendengar bisikanmu. Pelan, nyaris hilang. Ia mengulang kalimat yang sama:

“Tidak ada yang benar-benar mati, Gatot. Kita hanya berganti nama di buku sejarah.”

Aku tersenyum. Dan malam pun menutup wajahnya perlahan, menyembunyikan segalanya di balik tirai air.

____________________

Erna Surya. Penulis yang berprofesi sebagai seorang guru.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *