Dunia Buku, Dunia Menulis

Menangislah, Jika Kamu Ingin Menangis

Ada semacam godaan abadi dalam dunia resensi buku, menempel pada nama besar, lalu berharap reputasi ikut mengalir, seperti aroma parfum mahal yang menempel di kerah baju setelah pelukan singkat. Kita tahu itu bukan dosa besar, tapi bukan juga kebajikan agung. Meresensi buku Pramoedya, Ayu Utami, Eka Kurniawan, atau Leila S. Chudori bisa jadi terasa seperti ritual wajib bagi yang ingin tampak serius di sastra. Tapi mari jujur, apakah kita membaca mereka karena memang benar ingin baca, atau karena ingin diakui sebagai pembaca keren?

“Wah, kamu resensi buku Eka ya? Keren banget!”

“Enggak juga sih, cuma biar dikira keren.”

“Lho, kok jujur?”

Ironi ini sering terjadi, buku dari penulis yang kita kenal secara pribadi, yang bahkan bisa kita sapa dengan emot senyum di WhatsApp, malah diabaikan. Padahal isinya tak kalah menggugah, tak kalah gatal di pikiran, kadang justru lebih segar karena lahir dari pergumulan yang masih mentah, berani, dan lepas dari pretensi.

Tapi siapa yang mau meresensi buku kawan sendiri? Nanti dikira tak objektif. Nanti dikira nyari muka. Nanti dikira ah, terlalu banyak dikira-dikira yang justru membunuh niat baik. Kita lebih suka menoleh ke arah nama-nama berlabel sudah mapan, atau buku-buku yang sudah jadi bahan diskusi nasional. Resensi, bagi sebagian orang, adalah panggung. Dan panggung tak butuh suara baru, hanya perlu nama besar yang sudah memancing tepuk tangan.

Coba kita renungkan. Seorang teman menerbitkan kumpulan cerpen indie, dengan dana pas-pasan, desain seadanya, tapi semangat sebesar Gunung Semeru. Ia mengirimkan satu eksemplar ke kita, berharap sebuah catatan kecil. Bukan pujian bombastis, cukup sepatah dua patah kesan. Tapi kita malah menyimpannya di rak, lalu memosting resensi setebal delapan paragraf tentang buku terbaru penulis kelas festival.

Ironi macam apa ini? Kita merayakan yang jauh, mengabaikan yang dekat.

Sebut saja penulis muda bernama Q, menerbitkan novel debutnya. Ceritanya soal cinta, patah hati, dan jalan-jalan ke Yogya. Biasa, kata orang. Tapi justru dari yang biasa itu terasa jujurnya. Q mengirim bukunya ke lima belas teman. Hanya dua yang membuat resensi, dan satunya lagi baru menulis setelah Q dapat penghargaan. Resensi dadakan yang lahir dari kewajiban sosial belaka.

Tentu, tidak ada yang mewajibkan kita menjadi promotor teman sendiri. Tapi tidakkah terasa aneh jika kita lebih cepat mengulas buku orang yang tak pernah tahu kita ada, daripada buku teman yang pernah meminjami kita payung saat hujan?

Sarkasme kecilnya begini, bahkan dalam dunia resensi, gengsi kadang lebih menentukan daripada isi. Kita sering lupa, bahwa resensi bukan soal siapa yang ditulis, tapi mengapa kita menulis. Jika alasannya hanya agar tampak pintar, relevan, atau terlibat dalam percakapan besar, maka tulisan kita hanya akan jadi gema kosong, bergema tapi tak pernah menyentuh.

Sebaliknya, saat kita menulis tentang buku kawan, dengan jujur, dengan kritis, tapi juga dengan cinta, maka tulisan itu punya denyut lain. Ia bukan hanya sekadar analisis, tapi juga apresiasi. Ia bukan hanya soal apa yang kurang, tapi juga apa yang layak dirayakan.

Saya pernah menulis resensi untuk buku puisi seorang teman. Bukunya tipis, dicetak terbatas, dengan cover yang seperti desain PowerPoint tahun 2005. Tapi isinya? Waduh, tiap bait seperti bisikan yang tak enak ditinggal tidur. Saya tulis resensinya, saya unggah ke blog pribadi. Tak viral, tentu. Tapi teman saya menangis. Katanya, itu lebih bermakna daripada lima bintang dari akun anonim di toko buku online.

Kadang yang kita perlukan bukan popularitas, tapi keberpihakan. Bukan tepuk tangan massa, tapi anggukan diam dari satu sahabat.

Resensi, jika kita jujur, bisa jadi bentuk cinta paling elegan. Kita membaca dengan sungguh-sungguh, menilai dengan adil, menyampaikan dengan lembut tapi tak mengurangi ketajaman. Dan ketika kita memilih buku teman sebagai objeknya, kita juga sedang berkata: “Aku melihatmu. Aku membaca perjuanganmu. Aku peduli.”

Tentu saja, tak semua resensi harus tentang teman. Tapi kalau semua resensi kita hanya tentang mereka yang sudah punya nama, apakah kita sedang benar-benar membaca, atau sekadar ingin ikut kecipratan tenar.

Sekali waktu, resensilah buku teman yang naskahnya masih bau tinta, atau yang bahkan belum masuk toko. Tulis betapa alurnya membingungkan, tapi idenya segar. Ungkapkan bahwa tokohnya kurang kuat, tapi ending-nya menyentak. Tunjukkan bahwa kita membaca bukan untuk memuja, tapi untuk menemani.

Mungkin tidak akan banyak yang baca resensi itu. Mungkin tidak akan di-repost penerbit besar. Tapi yakinlah, satu hati teman akan mengingat seumur hidupnya. Apakah hal itu tidak cukup?

Dan bukankah itu yang sebenarnya kita cari dalam dunia menulis? Bukan ketenaran instan, tapi hubungan yang hangat dan tulus. Bukan sanjungan sesaat, tapi jejak yang tinggal lama.

Jadi lain kali, saat kamu selesai baca buku dari temanmu yang menulis cerpen tentang perempuan penyapu jalanan atau novel remaja berbau fiksi ilmiah, jangan buru-buru menyimpannya. Tulis kesanmu. Tak usah takut dikira sok objektif atau malah terlalu subyektif. Bukankah kita semua menulis dari ketulusan yang selalu agak subyektif?

Kalau mau tetap keren, ya resensilah juga buku penulis besar. Tapi jangan jadikan itu satu-satunya. Dunia literasi kita tak akan tumbuh kalau semua orang hanya memuja yang sudah dipuja. Kita butuh lebih banyak ruang untuk suara-suara baru, dan salah satu caranya adalah dengan memberi perhatian lewat resensi, meski hanya di status Facebook, utas di Instagram, atau catatan blog yang sepi pengunjung.

Sebab sering kali, buku-buku kecil dari penulis yang masih biasa itu menyimpan ledakan yang tak terduga. Mereka hanya menunggu satu hal, dibaca dengan sungguh-sungguh, lalu dibicarakan dengan penuh hormat.

Dan siapa tahu, sepuluh tahun dari sekarang, nama temanmu itu justru yang akan kau cari di toko buku, sambil berharap: “Aku pernah meresensi bukunya dulu, waktu masih belum siapa-siapa.”

Lalu kalian bertemu lagi, bukan sebagai pembaca dan penulis, tapi sebagai dua orang yang pernah saling percaya di antara halaman-halaman yang nyaris tak terbaca. Terakhir, menangislah jika kamu ingin menangis setelah baca ini. Tidak perlu malu. [] Redaksi

4 thoughts on “Menangislah, Jika Kamu Ingin Menangis”

  1. Saya belum pernah menulis resensi, merasa tidak mampu menyampaikan pikiran-pikiran dari hasil pembacaan. Sejak kuliah, saya senang beli buku, dan lebih menggembirakan lagi bisa minta tanda tangan penulisnya secara langsung, baik penulis yang terkenal maupun yang belum banyak orang kenal. Tapi, yang lebih membahagiakan lagi adalah mendapatkan tanda tangan dan foto dari penulis yang saya kenal dan mengenal saya.
    Setelah membaca tulisan ini, saya tergugah. Mungkin, suatu hari saya akan menulis resensi, dimulai dari buku para penulis yang mengenal saya.
    Terima kasih atas tulisannya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *