Dunia Menulis

EGP

Ada satu jenis penulis yang menarik, bukan karena tulisannya istimewa, tapi karena ekspresi mukanya ketika membaca karya orang lain, mengernyit, meringis, lalu terkikik seperti menonton lawakan receh di televisi lokal. Bukan karena lucu, tapi karena ia menilai tulisan itu “Nggak banget.”

Penulis seperti itu bukan hanya hidup di kepala sendiri, tapi juga tinggal di menara gading yang dibangun dari ego dan tinta printer. Ia percaya, tulisannya adalah puncak dari segala pencapaian sastra. Ia tak lagi butuh kritik, apalagi membaca karya orang lain yang menurutnya tak selevel. Kalimat favoritnya: “Aku udah nemu gayaku.” Atau yang lebih sakti: “Tulisanku beda, bukan pasaran.”

Kalau dipikir, kepercayaan diri ada baiknya, tapi dalam dosis seperlunya. Kepedean yang terlalu besar bukan hanya masalah, melainkan bisa jadi penyakit: sindrom tulisan maha benar. Tulisannya sendiri dianggap patokan. Selebihnya cuma debu kata-kata yang tak layak diperhatikan.

Ironisnya, penulis seperti ini kadang sedang naik daun. Bisa jadi karena beberapa kali dimuat atau menang lomba. Hal itu langsung merasa dirinya mutlak unggul. Ia menolak tulisan lain bahkan sebelum dibaca tuntas. Lalu dengan penuh keangkuhan, ia mengutip kata-katanya sendiri dalam forum penulis: “Seperti yang saya tulis dalam cerpen saya yang berjudul Bulan di Wajahmu Bukan Purnama.”

Padahal kalau dibaca ulang, cerpen itu biasa saja. Tapi siapa yang berani berkata begitu? Sekali kamu berkomentar, ia bisa langsung bilang: “Kamu nggak ngerti gaya.”

Sialnya, yang diaku sebagai gaya kadang justru ketidaktahuan narasi, kekacauan diksi, dan ketidaksadaran plot yang muter-muter. Gaya jadi tameng untuk menghindari belajar dasar-dasar menulis yang baik.

Ada pula yang kalau diadakan diskusi, tak mau datang kecuali ia yang jadi pembicara. Kalau datang sebagai peserta, ia akan duduk dengan posisi miring 45 derajat, alis terangkat, dan tangan bersilang. Saat sesi tanya-jawab, ia akan membuka dengan kalimat “Saya bukan ingin bertanya, saya hanya ingin menanggapi.” Lalu berceritalah ia tentang tulisannya sendiri yang pernah ditolak juri lomba, tapi katanya: “Mungkin juri belum sampai di tahap pemahaman seperti saya.”

Lucu, ya? Tapi banyak. Banyak banget malah. Mari kita balik sebentar. Tidak ada yang salah dengan mencintai tulisan sendiri. Penulis harus mencintai tulisannya, sebab kalau tidak, bagaimana orang lain bisa percaya? Namun mencintai tulisan bukan berarti menikahinya lalu menceraikan tulisan orang lain. Dunia ini luas, bahkan dalam dunia fiksi yang serba mungkin, selalu ada karya lain yang bagus, atau minimal berbeda dengan kualitas uniknya sendiri.

Sebagai perbandingan, bayangkan seorang juru masak yang merasa rendangnya paling enak di dunia, lalu menertawakan orang yang bikin rendang dengan santan sedikit. Ia lupa, selera orang beda-beda. Dan kalau rendangnya itu penuh lemak ego, siapa yang tahan makan?

Penulis semacam itu juga biasanya anti diedit. Baginya, naskahnya sudah final begitu diketik. Editor? Redaktur? Itu hanya penjaga gerbang dunia yang tidak perlu meragukan kejeniusan tulisannya. Ketika naskahnya dikembalikan dengan catatan, ia merasa dipermalukan, lalu berkoar di medsos: “Media itu punya selera aneh. Tulisan picisan dimuat, sementara tulisan saya yang filosofis ditolak.”

Padahal mungkin, naskahnya hanya butuh satu-dua perbaikan. Tapi karena kadung merasa dirinya penyelamat dunia sastra, ia memilih sakit hati daripada belajar memperbaiki.

Ironinya, justru penulis-penulis yang benar-benar besar, karyanya hidup dari zaman ke zaman, selalu membuka diri. Mereka bersedia dipotong, dibedah, bahkan ditolak. Pramoedya Ananta Toer pernah dibredel, Sapardi pernah membaca ulang puisinya berkali-kali sebelum dibacakan. Goenawan Mohamad pernah menolak hasil tulisannya sendiri.

Lalu siapa kita ini, belum pernah disunting serius, tapi sudah merasa tulisan kita tak tersentuh kritik?

Yang paling menggelitik adalah ketika penulis-penulis semacam ini berkumpul dan saling memuji satu sama lain. Seperti geng SMA yang merasa mereka lebih dewasa dari gurunya. “Tulisanmu gila sih.” “Kau juga, anjir, dalem banget.” Tapi saat dibacakan di forum umum, audiens mendengus, bingung harus kagum di mana. Yang tertawa hanya mereka yang nulis. Yang haru hanya mereka yang merasa. Sisanya? Merasa disuruh nonton sinetron tanpa subtitle.

Menulis adalah proses panjang. Bukan hanya soal nemu gaya sendiri, tapi juga soal menerima bahwa gaya kita tak selalu cocok untuk semua. Kita menulis, lalu belajar, lalu menulis lagi, lalu belajar lagi. Kita menulis, lalu mendengar tanggapan, lalu menimbang ulang. Kadang kita menyadari bahwa yang kita anggap bagus itu hanya cocok di kepala, tidak di hati pembaca.

Tentu, setiap penulis punya suara unik. Tapi keunikan tidak bisa dijadikan alasan untuk menolak berkembang. Bahkan pelukis abstrak tetap belajar menggambar anatomi manusia sebelum mencoret kanvas dengan imajinasi liar.

Paling menyedihkan adalah ketika penulis terlalu mencintai tulisannya hingga tak bisa membedakan kritik dan hinaan. Begitu ada orang komentar, “Ceritanya agak lambat ya,” ia langsung menganggap si pengkritik iri. Padahal mungkin, pembaca hanya ingin cerita itu lebih dinamis. Tapi ya bagaimana? Dalam kamusnya, kritik adalah ejekan.

Cobalah menulis dengan rendah hati. Tanyakan pada pembaca biasa, bukan hanya sesama penulis. Ajak teman awan untuk membaca. Lihat responsnya. Apakah ia menangkap maksud ceritamu, atau bingung dengan metafora yang terlalu tebal seperti kuah soto tanpa garam?

Pada akhirnya, tulisan bukan untuk disembah. Tulisan itu untuk dihidupi. Kalau tulisan kita bagus, orang akan datang sendiri. Tapi kalau kita yang maksa orang membaca lalu berkata, “Ini harus kau baca, ini berat, tapi dalem banget,” kemungkinan besar tulisan itu memang dalem tapi karena tenggelam.

Menulis bukan kompetisi adu paling jos. Menulis adalah komunikasi, yang berlaku bagi segala gaya, bahkan untuk tulisan paling puitik sekalipun. Kalau orang tak mengerti, jangan-jangan bukan karena mereka bodoh, tapi karena penulis terlalu sibuk mendengar suara diri sendiri.

Jadi, mari sama-sama turun dari menara gading. Duduk bareng, baca karya orang lain, pelajari yang baik, peluk yang masih belajar, dan yang paling penting, jangan terlalu jatuh cinta pada diri sendiri. Karena kalau tulisanmu memang bagus, pujian tak perlu dicari. Ia datang sendiri. Dan kalaupun tidak datang, ya tidak apa-apa. Kamu tetap menulis, bukan?

Ingat, di atas langit masih ada pembaca. Dan pembaca tidak peduli, bahkan bisa dengan mudah bilang: “EGP (Emang gue pikirin)!” sembari matanya melirik sadis, bila kamu menganggap tulisanmu yang paling keren. Ia hanya peduli satu hal, apakah tulisanmu bisa sampai. [] Redaksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *