Cerpen

Seribu Ekor Tikus

Cerpen Erwin Setia

Semuanya dimulai dari kamar, ketika ia melihat seekor tikus berderap cepat di sela rak buku. Tikus itu gesit sekali, lekas lenyap dari pandangan sebelum ia benar-benar melihat keseluruhan wujud si tikus. Yang jelas tikus itu besar dan hitam. Dua keterangan itu sudah cukup untuk membuat siapa pun mengerti kejijikan sekaligus kemuakan macam apa yang ditanggungnya. Dengan mata mendelik, melangkah hati-hati menuju rak buku, ia menggebrak-gebrak rak seraya memperhatikan sekeliling kamar. Tikus itu tidak kelihatan di mana pun. Hanya dari atap kamarnya yang punya banyak celah (dari sanalah tikus-tikus keluar-masuk) ia mendengar samar-samar cericit tikus. Ia kembali ke kursi, mengempaskan bokongnya sambil tetap memendam kekesalan kepada si tikus, dan ia terlompat dari tempat duduk saat mendapati si tikus sedang melata di atas meja kerjanya, meniti lembaran kertas catatannya tanpa rasa bersalah, lalu melesat ke kolong meja, dan kembali lenyap dari pandangan. Satu-satunya yang ia syukuri adalah ia tidak mematahkan punggung kursinya.

Jika kau berpikir itu adalah satu-satunya hari Eriko mengalami nasib sial macam itu, kau keliru. Tapi jika kau berpikir pengalaman semacam itu mengubah hidupnya, kau agak benar. Sebab sejak itulah ia menjalani hidup dengan lebih hati-hati dan mawas diri. Ia tidak lagi sembarangan berjalan lurus tanpa menengok kanan-kiri-atas-bawah. Ia tidak lagi mengabaikan dunia seperti sebelumnya. Ia kini begitu peduli pada dunia, pada hal-hal di sekelilingnya. Dan karena ia terlalu peduli pada dunia ia jadi tahu hal-hal yang seharusnya tak perlu ia ketahui. Misalnya fakta bahwa di area tempatnya tinggal yang terdiri atas 300 rumah, setidaknya ada 1.000 ekor tikus! Dari mana ia tahu soal itu? Tentu saja dari pengamatannya pada dunia.

Ketika ia pergi ke luar rumah, dengan berjalan kaki ataupun mengendarai sepeda motor, matanya ia gunakan lebih maksimal daripada yang sudah-sudah. Ia melihat banyak orang asing. Ia melihat tanaman-tanaman yang tak ia ketahui namanya, tapi ia kagumi bentuknya. Ia melihat rumah-rumah berderet, rumah-rumah yang sejak bertahun-tahun lalu tetap di situ-situ saja, padahal para penghuninya berpindah-pindah. Saat melihat rumah-rumah inilah, Eriko memperhatikan dinding luar rumah dan tempat sempah beton yang biasanya terletak di tepi luar pagar. Di salah satu rumah yang dindingnya dirambati oleh tanaman keriting dengan tata letak berantakan ia melihat seekor tikus besar dan hitam merambat di dinding seperti atlet panjat tebing. Ia mengalihkan pandangan ke arah lain, ke sebuah tempat sampah di rumah seberangnya. Kali ini muncul seekor tikus besar dan hitam (lagi-lagi besar dan hitam) sedang menggerogoti sesuatu di dalam tempat sampah. Segera ia memalingkan matanya ke arah lain, tapi ke mana pun matanya menuju, yang ia lihat adalah tikus-tikus! Tikus-tikus yang ia lihat memang tidak berkumpul berombongan seperti sekumpulan tentara sedang berbaris. Ia hanya melihat tikus itu satu per satu, tapi di berbagai tempat, di semua tempat yang dicapai matanya. Ia yakin tikus-tikus yang ia lihat itu—walaupun bentuk dan ukurannya mirip—adalah tikus-tikus yang berbeda. Ia menaksir dalam sebuah rumah pasti ada setidaknya 3-4 ekor tikus yang menetap. Jika dikalikan 300 (yaitu jumlah rumah di area perumahan ini), berarti ada sekurangnya 1.000 ekor tikus di area tempatnya tinggal! Pemikiran itu membuatnya bergidik. Waktu itu ia bergegas kembali ke rumah dengan kepala menunduk dan sesekali memejamkan mata. Tapi tetap saja, sebelum tiba di rumah, ia sempat melihat beberapa ekor tikus melintas di jalanan atau menclok di tembok sebuah rumah yang tak sengaja ia lihat.

Apakah ini adalah halusinasi? Apakah ini adalah mimpi? Eriko sempat menduganya demikian. Namun ia mengonfirmasi apa-apa yang dilihatnya kepada ibu, bapak, tetangga, dan anak-anak yang biasa bermain di sekitar rumahnya.

“Kau tidak salah lihat, Eriko. Ibu juga belakangan ini lihat tikus di mana-mana.”

“Betul! Bapak juga lihat tikus setiap hari, bahkan di televisi! Ini bukan majas, Eriko. Bapak sungguh-sungguh lihat ada tikus lewat di atas TV waktu bapak nonton acara debat politik!”

“Ya, Mas Eriko. Saya bahkan langsung beli perangkap tikus ketika sadar ada banyak tikus mondar-mandir di dalam rumah. Percaya nggak, Mas Eriko, di malam pertama saya pasang perangkap tikus, saya langsung dapat tiga ekor tikus! Tiga ekor, Mas Eriko. Besar-besar dan hitam-hitam.”

“Aku juga liat tikus, Kak Eriko. Aku kejar tikus itu, terus tikus itu malah kabur. Aku pukul tikus itu pake sapu, tikus itu lari ketakutan. Aku ingin habisi tikus-tikus itu, Kak Eriko. Tapi tikus-tikus itu kok nggak abis-abis ya? Malah makin banyak.”

Tanggapan ibu, bapak, tetangga, dan anak kecil itu cuma membuat hati Eriko makin dongkol. Sebab semua itu menambah terang segalanya, menambah jelas kenyataan yang terhampar di hadapan Eriko. Ini bukan halusinasi. Ini bukan mimpi. Tikus-tikus itu benar ada. Semua orang menyadarinya. Semua orang mengetahuinya. Dan tikus-tikus itu ada dalam jumlah banyak. Bahkan kini Eriko merasa seribu adalah perkiraan jumlah yang terlampau sedikit. Namun ada satu hal yang mengganjal bagi Eriko. Kenapa orang-orang di sekitarnya tampak biasa-biasa saja dengan kehadiran 1.000 ekor tikus (kemungkinan besar lebih dari itu) di area ini. Mereka tidak terlihat gelisah atau ketakutan dengan kenyataan itu. Mereka seakan-akan menganggap keberadaan tikus-tikus itu wajar belaka, sama wajarnya dengan matahari yang terbit tiap pagi. Padahal, bagi Eriko ini sama sekali bukan hal wajar. Seribu ekor tikus! Bagaimana mungkin itu bisa dianggap hal biasa?

Lantas muncullah sebuah gagasan di kepalanya. Eriko berpikir orang-orang di sekelilingnya tidak menganggap serius maraknya tikus karena mereka tidak mengetahui fakta sebenarnya. Ia yakin tak banyak di antara mereka yang sadar bahwa jumlah keseluruhan tikus yang ada di area ini mencapai 1.000 ekor, bahkan lebih. Soal jumlah, Eriko beberapa kali mendebat dirinya sendiri. Tidak mungkin sampai 1.000 ekor, sebab boleh jadi tikus yang dilihatnya di rumah-rumah yang berbeda adalah tikus yang sama. Katakanlah seekor tikus bisa menyatroni empat sampai lima rumah dalam sehari. Dengan total 300 rumah, jadi, paling banyak hanya ada 60-75 ekor tikus di area ini. Pikiran alternatif itu sempat membuat kengeriannya berkurang sampai suatu siang ia pergi ke luar rumah untuk membeli lauk pauk. Ia mengendarai sepeda motor. Ia terkejut saat mendapati tiga sampai empat ekor tikus berdiam seolah menontonnya di setiap muka rumah yang ia lewati. Meskipun untuk pergi ke warung makan ia hanya perlu melewati beberapa rumah, Eriko melewati semua rumah untuk memverifikasi pikiran buruknya. Dan di tiap muka rumah yang ia lewati, memang betul-betul ada tiga sampai empat ekor tikus! Ia memutari perumahan sampai dua kali dan menghitung ulang jumlah tikus yang ada di tiap muka rumah. Tidak salah lagi. Jumlahnya memang 1.000 ekor tikus!

Lantaran semua sudah jelas, ia melakukan gagasan itu: memberitahu orang-orang bahwa ada 1.000 ekor tikus di area ini.

Tak ada yang menganggap serius kata-kata Eriko. Bahkan saat Eriko menceritakan soal ia melihat tiga sampai empat ekor tikus berdiam di muka setiap rumah pada suatu siang, semua orang tertawa, menganggapnya sedang melontarkan lelucon. Ibu dan bapaknya juga tertawa, tawa mereka lebih keras dari orang-orang lain.

“Kau tidak perlu membawa cerita-cerita yang kautulis ke dalam kehidupan nyata, Eriko.”

“Betul! Sebaliknya, seharusnya kehidupan nyata inilah yang kaubawa ke dalam cerita-cerita yang kautulis, Eriko.”

Demikian ucapan ibu dan bapaknya kepada Eriko setelah tawa terbahak-bahak mereka berhenti.

Eriko ingin menyahuti ibu dan bapaknya, menjelaskan kepada mereka bahwa apa yang ia katakan bukanlah karangan, apalagi khayalan. Semua yang ia ceritakan adalah kenyataan, senyata dirinya dan benda-benda di sekelilingnya. Tapi tak mudah bagi Eriko untuk memberikan penjelasan semacam itu. Apalagi peristiwa tikus-tikus berdiam di depan muka setiap rumah cuma terjadi sekali dan anehnya saat itu tak ada orang yang menyadari kejadian itu selain dirinya sendiri. Seolah-olah pada siang itu semua orang disibukkan oleh perkara lain sehingga tak sempat menyaksikan keajaiban—atau tepatnya keanehan—itu.

Karena semua orang memilih untuk menertawakannya, Eriko tak mau merepotkan diri memaksa mereka untuk memercayai matematikanya, bahwa ada 1.000 ekor tikus (boleh jadi lebih, mengingat tikus-tikus itu lebih cepat beranak-pinak daripada mati) di area ini. Seandainya mereka mau setuju pada hitung-hitungan Eriko, pastilah mereka akan menjadi lebih hati-hati dan waspada. Mereka tidak akan menganggap sepele keberadaan tikus-tikus itu. Mereka tidak akan hanya sebatas memasang perangkap atau menyebar racun. Mereka akan melakukan lebih dari itu. Mungkin melakukan pemusnahan massal dengan alat penyemprot atau kerja bakti membersihkan lingkungan supaya tikus-tikus pergi ke tempat lain. Tapi kalaupun tikus-tikus itu berkurang, atau bahkan menghilang, lantas kenapa? Apa bedanya 1.000 ekor tikus dengan 100 ekor tikus atau 10 ekor tikus atau 1 ekor tikus atau tidak ada tikus?

Pikiran filosofis itu menggelayuti kepala Eriko malam ini, di tempat dari mana semuanya berawal. Ia sedang duduk di atas kursinya, menatap laptop yang baru saja dimatikan, dan kini matanya melirik ke arah rak buku yang berada di samping meja kerjanya. Apa itu benda hitam-besar yang bergerak-gerak di bawah rak? Apakah seekor tikus? Ia tidak mengeceknya. Ia memalingkan mata dan membayangkan bisa jadi itu cuma halusinasinya, atau perasaannya, atau mungkin itu cuma kaleng, sebuah bola, kantong plastik, seekor kucing, meskipun tidak tertutup kemungkinan bahwa itu adalah… tiba-tiba Eriko terlonjak dari kursinya, dan kali ini punggung kursinya patah. Tentu saja Eriko telah melihat sesuatu melintas di atas meja kerjanya. Tapi sebaiknya kita tak perlu tahu itu apa.***

Tambun Selatan-Bekasi, 16 November 2023


Erwin Setia lahir pada 14 September. Penulis lepas. Aktif menulis karya fiksi dan esai. Tinggal di Bekasi. Bisa dihubungi di Instagram @erwinsetia14 atau melalui surel: [email protected].

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *