Puisi

Puisi Imam Khoironi

Fragmen Subuh

Ada dua gelap yang berdiri

di dekat tempat tidurmu

Mereka menunggumu bangun

Untuk mengentaskan rindu

Yang ditabur di sekeliling rumahmu

Sebongkah gelap melaju ke arah yang riuh

Meninggalkan rindu yang rapuh

Sebelum gemericik embun menetes

Di tanah basah tempat dibangkitkannya subuh

Kau akan membaca fragmen,

menguliti doa

dari sajak-sajak yang memanggilmu pulang

tak bisa kau temui ia

dalam buku-buku

tentang hari rindu diutus

Ada dua gelap, yang tidur

di dekat tempatmu berdiri

Mereka sedang menyiapkan

Fragmen-fragmen

Untuk kau baca dengan lirih

Sehingga rindu pulang

Ke pangkal petang

Bandar Lampung, November 2022


Kembara Malam

Aku seorang musafir

Pergi ke sudut malam yang layu

Dengan tubuh lunglai menghardik sunyi

Merapihkan kegelapan

Di ruang-ruang antara kau dan aku

Aku seorang musafir

Kembali menebar benih-benih

Di bawah pijakan kakimu

Menjelang pagi yang terhunjam gerimis

Mengosongkan suara-suara gaduh

di belakang mataku

Aku seorang musafir

Mengitari rindu di lekuk-lekuk waktu

Mengirim surat rahasia

Pada jam terakhir sebelum cahaya

Ke arah laut, ke tepi langit

Aku seorang musafir

Gelap aku tempuh menuju rumahmu

Adakah pulang paling rindu

bagi ruh dan jasad

Selain pada nuraniku

Bandar Lampung, November 2022


Antara Rindu dan Pulang Tidak Mengenal Batas

Aku memeram pagi

Hingga ia beranak pinak

Menjadi tumpukan jerami

Di bawah denting jam yang lirih

Dan memutar ke arah yang dianggap baik

Bagaimana dengan nasib cinta

Yang tertinggal di meja makan malam

Pada perbincangan lusuh itu

Kutebar pilu di bola mataku

Sepahit apa rindu, setelah lepas landas

Dari tubuhmu, kucium wangi dari ribuan

Mawar, sebelum ia mekar

Di kerut keningmu itu, kudaratkan api

Sebelum semuanya padam dan hangus

Hanya saja, subuh akan datang

Menjemputmu ke dalam luka yang sulit

Untuk diurai, sebab di batas itu

Kutaruh namamu, Safira

Tak ada sesiapa dapat menjamahnya

Kecuali jalan yang telah dibuat

Oleh doa-doaku

Bandar Lampung, November 2022


Tidak Ada Maya Hari Ini

Subuh tiba terlalu cepat

Alarm di ponsel masih pulas

Sketsa di mimpi liarmu

Masih berusaha membubarkan diri

Kalender membacakan agenda

Pukul 5 di timur cakrawala

Pagi membuka notifikasi di beranda

Tugas-tugas yang sudah tertunda

Saatnya berangkat kerja

Tidak ada maya hari ini

bayang-bayangmu telah melebur

di belakang hantu resesi

kita terlalu sering sarapan

dengan fyp tiktok

atau instastory

hingga lupa, ada realita yang harus kita hidupi

Tidak ada maya hari ini

kita akan menahan lapar dan haus

dari hidangan lezat di sosial media

kita akan mencoba merindukan

ributnya suasana di lorong “comment”

kita akan menyelami arus

yang lengang dan sunyi

sambil terus memandangi worksheet

atau menyeruput latte

Tidak ada maya hari ini

kita akan menyusuri diskusi

demi menjaga progresi

Bandar Lampung, 29 Oktober 2022


Seorang Milenial kepada Ibunya

Sore pergi begitu saja

sebelum aku sempat menyeruput senja

yang hilang memasuki lorong tanpa cahaya

di beranda rumah,

ada distorsi yang menyerang

dalam bilik-bilik kosong tanpa penjaga

di kepalaku

setelah lilin membakar diri sendiri

aku berbincang dengan Ibu

tentang pendar desa yang padam

dan jalanan bersuluh temaram

tak ada temerang selain cahya api

tak ada listrik selain bau minyak

peradaban kian maju bagi kami

semakin tak beradab bagi bumi

waktu menuju hilang

dan hidup ini semakin ricuh

apakah hanya kita

yang menyingkir dari semarak hari bumi?

kita yang selalu menidurkan daun-daun

dan mengemasi botol-botol

tidakkah pantas bagimu hadiah nobel?

Ibu, konon orang-orang kota

selalu mematikan lampu

satu jam dalam siklus kalender

untuk menghemat bumi

Bagaimana dengan kita,

yang tak bisa mengurai cahaya,

apakah ada pilar setrum di luar sana?

Bandar Lampung, 30 Oktober 2022


Imam Khoironi, lahir di desa Cintamulya 18 Februari. Masih mahasiswa S1 Pendidikan Bahasa Inggris di UIN Raden Intan Lampung. Tidak terlalu suka seafood dan durian. Penggemar mi ayam dan bakso garis keras ini suka nulis puisi, cerpen kadang-kadang juga esai. Buku puisinya berjudul Denting Jam Dinding (ada di tokopedia). Karya-karyanya pernah dimuat di berbagai online dan cetak. Puisinya masuk dalam buku Negeri Rantau; Dari Negeri Poci 10 dan banyak antologi puisi lainnya. Ia bisa di-stalking di Facebook : Imam Imron Khoironi, Youtube channel: Imron Aksa, IG : @ronny.imam07 atau di www.duniakataimronaka.blogspot.com.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *