
Sabtu tak dijanjikan seru. Aku memulai Sabtu, 28 Oktober 2023, bukan dengan upacara tapi menjemur cucian. Di atas, matahari seperti memanjakan tubuh dengan sinar terlalu terang. Sabtu yang terang, belum tentu Sabtu yang seru.
Beberapa tahun lalu, aku terbiasa menulis esai-esai bertema Sumpah Pemuda. Kini, aku dikutuk jemu. Sulit menulis dengan ikhlas tentang Sumpah Pemuda meski aku khatam buku Keith Foulcher, Suwarsih Djojopuspito, Abdoel Moeis, dan lain-lain. Aku sedang kebingungan mengartikan Sumpah Pemuda saat di Jakarta diselenggarakan Kongres Bahasa Indonesia dan Kongres Kebudayaan Indonesia. Kongres-kongres masih menentukan derajat peradaban Indonesia. Di buku-buku sejarah, Sumpah Pemuda selalu teringat dengan Kongres Pemuda II (1928). Kita masih muungkin mengingat “kerapatan” tapi rasanya lawasan.
Sabtu pagi, aku meninggalkan rumah untuk sampai ke Universitas Muhammadiyah Surakarta. Lama aku tidak berkeliaran di tempat ikut membentuk biografi. Sampailah di tempat parkir, bergerak lagi untuk “memarkir” tubuh di ruangan seminar. Hari itu aku menghadiri seminar sastra diadakan oleh para mahasiswa PBSI, FKIP, UMS. Aku bukan undangan atau pendaftar sebagai peserta. Datang sebagai pengunjung ilegal. Urusanku adalah menonton Panji Sukma berperan sebagai pembicara.
Adegan yang harus dilakukan adalah naik tangga menuju lantai 4. Aku sedang melewati tangga-tangga nostalgia. Dulu, aku berulang lewat tangga untuk kuliah. Masa lalu sebagai mahasiswa di situ.
Ruangan yang tampak suram dan murung. Aku sulit mengatakan bersih dan rapi. Papan untuk pemasangan bentangan kain acara sudah rapuh. Di atas, lamat-lamat kelihatan. Tembok-tembok itu menua. Duduk di kursi, merasa sedang mengikuti perkuliahan. Di depan, dua kursi rotan untuk pembicara dan moderator. Mataku melihat benda-benda dalam ruangan kurang selaras. Tampak mimbar di panggung. Di sebelah panggung, ada angklung tanpa dimainkan menghasilkan kemerduan.
Yang hadir puluhan mahasiswa. Mereka mengenakan batik dan jas almamater. Aku sedang dalam “teater” hajatan pernikahan dicampur perkuliahan. Duduk di depan dengan ketenangan tanpa mampir mengisi buku tamu dan tanda tangan. Panji Sukma berbagi kardus berisi jajanan. Ia memastikan tampangku kelaparan. Kardus dan minuman dalam botol membuatku sah mengikuti acara.
Sabtu, 28 Oktober 2023, Panji Sukma dan para mahasiswa menyanyikan Indonesia Raya. Pemberi sambutan malah kebablasan memberi penjelasan bahwa 28 Oktober 1928 adalah peresemian bahasa Indonesia. Aku menikmati semuanya sebagai “upacara”.
Panji Sukma mulai omong. Mikrofon di tangan. Tubuhnya tidak mau duduk di kursi. Ia sedang manahan sakit. Beberapa hari sebelumnya, tubuh gagah dan bertato itu merasakan sakit. Obat-obat memasuki tubuhnya tanpa janji segera sembuh. Di hadapan para mahasiswa, lelaki kesakitan membicarakan sastra di Indonesia. Usaha agar tak bergerak terlalu jauh, ia menceritakan diri sebagai pengarang. Omongan-omongan aku anggap tak mengikuti jalan besar ditetapkan panitia menggunakan tema mengandung “multikultural”. Bagiku istilah itu susah.
Penampilan Panji Sukma moncer dengan novel Sang Keris dan Kuda tampak rapi. Ia sadar diri sedang berada di ruangan bersama kaum muda bakal menjadi pendidik. Omongan tentu ikut “rapi”, tak perlu ada ledakan atau makian. Panji Sukma memberi suguhan novel-novel gubahan para pengarang Indonesia. Ia pun mengabarkan novel-novel berpengaruh saat mengerjakan penulisan cerita.
Mulut itu berucap: Lelaki Harimau gubahan Eka Kurniawan. Di kursi, aku perlahan mengenang. Beberapa tahun lalu, ruangan itu berselera sastra saat aku masih menjadi mahasiswa. Di situ, Saut Situmorang pernah omong sastra. Aku mengundang dalam acara diskusi, setelah aku terkesima dengan puisi-puisinya. Ia datang menggunakan sepeda motor merek Honda, bergerak dari Jogjakarta. Aku ingat penampilan dan omongan Saut Sitomurang bikin berdebar para mahasiswa. Ada dosen-dosen tampak kurang senang. Aku sedang dalam masa nakal, berhak menghadirkan Saut Situmorang ke UMS. Urusan paling menyulitkan adalah “botol” untuk penyair yang berambut gimbal.
Di panggung, masa yang berbeda, yang aku lihat adalah Panji Sukma yang berambut panjang. Ia dengan kesantunan. Kehadirannya cukup menghibur dan membuat para mahasiswa rajin bertepuk tangan. Yang pasti, aku sedang menikmati omongan orang sakit. Bagiku kurang seru.
Aku kembali mengingat Eka Kurniawan. Dulu, aku mengundang Ratih Kumala ke UMS. Aku rampung membaca novel dan beberapa kali berkunjung ke rumah Ratih Kumala di Solo. Pertemuan-pertemuan kadang dengan kehadiran Eka Kurniawan. Di ruang semianr itu, Eka Kurniawan turut saat Ratih Kumala omong di depan seratusan mahasiswa, beberapa tahun lalu.
Panji Sukma belum mengetahui di ruangan yang sama, dulu hadir Eka Kurniawan yang kondang dengan Cantik Itu Luka dan Lelaki Harimau. Yang hadir di ruangan itu masih ada beberapa pengarang, yang membuatku merasa pasti menempuhi jalan sastra. Nostalgia sebagai mahasiswa yang keranjingan sastra. Di UMS itu pula aku mengenang babak-babak awal menggerakkan buletin Pawon dengan berjualan dan mencari para pelanggan. Keisengan tak terlupa adalah membentuk Jamaah Fundamentalis Sastra, selain turut dalam teater.
Panji Sukma selesai omong, para mahasiswa memberi pertanyaan-pertanyaan. Aku kadang ingin menutup telinga. Namun, kehadiranku tidak boleh hanya menuruti nostalgia. Aku mendengar pertanyaan-pertanyaan “biasa”. Panji Sukma menghormati dengan jawaban-jawaban santun. Lelaki itu kadang memicu tawa tapi tetap saja seminar sastra tak seru.
Acara selesai, aku, Panji Sukma, dan Aji W mampir sebentar ke kelas digunakan untuk pameran puisi. Mataku prihatin melihat kertas-kertas putih memuat puisi dipajang dengan tali-tali. Beberapa buku ditaruh di atas meja. Mereka terlalu berani mengadakan pameran yang justru tampak “meremehkan” sastra.
Kami bertiga lekas turun. Percakapan pendek bertema sastra saat siang mengganas. Kami wajib makan. Berjalan keluar kampus sambil aku melihat sisi-sisi auditorium, yang dulu aku gunakan berjualan buku-buku bekas. Riwayat sebagai pedagang buku dan kaset bekas dimulai di situ meski mengalami pengusiran oleh pejabat kampus.
Kami masuk warung bakso. Di atas meja, tiga mangkok bakso tetelan. Panji Sukma menjadi juragan agar lapar dan haus terjawab. Dua lelaki merokok di sampingku. Aku menyainginya dengan makan dua bungkus rambak. Keringat mengalir membuktikan bakso dan es telah bereaksi dalam tubuh.
Kami pun berpisah, berbeda arah. [] Kabut
